Sunday, March 25, 2012

Gadis Hujan


Oleh: @tantri_shu


Cerita hari ini dimulai pada cuaca mendung, gerimis seharian saat aku pertama kali melihatnya dari jendela toko rotiku. Berdiri di halte bercat merah di seberang jalan. Tubuh ramping dengan struktur tulang yang serupa model rupanya menjadi daya tarik gadis itu. Beberapa orang yang melintas menoleh ke arahnya. Bahkan pelangganku yang tengah menikmati sarapan bagel pun melakukan hal yang sama. Sekumpulan kecil pemuda  memperhatikan gadis  itu kemudian saling berbisik dan tertawa perlahan penuh rasa ingin tahu.

Beberapa minggu berikutnya, gadis bermantel itu kerap hadir di tempat yang sama. Seolah menanti sesuatu atau mungkin juga seseorang. Entahlah. Namun ada yang istimewa pada kedatangannya. Ia selalu menggunakan mantel panjang berwarna gelap dengan potongan yang melekat sempurna pada tubuh rampingnya. Dengan rambut coklat yang diikat seadanya. Penampilannya menjadi mencolok diantara para gadis yang berseliweran dengan gaun tipis. Berwarna cerah atau bermotif bunga-bunga. Ini musim panas. Dimana matahari berbaik hati melimpahkan kehangatannya pada kota kami. Tapi bukan penampilan yang berbeda itu yang menjadi keistimewaannya. Melainkan pada hujan yang setia mengiringi gadis itu.

Seapik apapun mantel yang tengah kau kenakan, jika di musim panas tentu akan mengundang cibiran. Begitulah. Beberapa orang memandang gadis itu dengan tatapan aneh ketika ia melangkah dengan anggun di trotoar menuju halte tempatnya duduk menunggu. Sepertinya gadis itu sadar penampilannya mengundang rasa ingin tahu. Tapi ia begitu tenang seolah tahu matahari akan berpihak padanya. Dan itulah yang kemudian terjadi. Matahari berkomplot. Ia menyilakan hujan turun kendati cuaca terang benderang. Sungguh aneh melihat gerimis turun dengan ritmis dihantar tiupan lembut angin yang terasa dingin di musim panas yang cerah.

Semenjak itu orang-orang memanggilnya dengan Gadis Hujan.

Kedatangan gadis hujan tak bisa ditebak. Ia hadir sesukanya, berdiri atau duduk menunggu di tempat yang sama. Beberapa pelangganku menjadikan kemunculannya dengan gurauan. Namun kebanyakan dari mereka lebih suka memandang dari kejauhan. Lalu saling berbisik mereka-reka cerita tentangnya. Seperti angin dingin yang mengikutinya, cerita rekaan itu menelusup keluar melewati celah pintu dan jendela toko rotiku. Perlahan menyebar merasuki pikiran setiap penduduk kota ini. Tak penting lagi apakah kisah itu rekaan semata, ketika semua orang meyakininya, itulah kebenaran.

Gadis hujan itu adalah seorang peri.

Itulah alasan kenapa tak seorang pun dari kami berani bertanya atau sekedar menyapa gadis itu. Ia seolah diselimuti aura magis yang membuat kami segan untuk mendekat. Kendati tak seorang pun dari kami memiliki firasat berbahaya atas kehadirannya. Begitu juga dengan diriku. Aku bahkan mulai menyukai gadis itu. Menyukai caranya melangkah datang, gayanya yang tenang juga wajahnya yang tak pernah jelas terlihat tertutup oleh riap rambut yang tertiup angin. Namun toh, aku lebih memilih melihatnya dari kejauhan. Pada awalnya.

Sampai suatu sore sesaat setelah ia datang, hujan turun. Lebih deras dari biasanya. Terlalu deras. Angin bahkan menerbangkan beberapa pot perdu rosemary milikku. Aku menatap cemas ke arah seberang jalan. Tempat dimana gadis itu duduk seorang diri. Masih dengan ketenangan yang sama seperti biasanya. Namun kini kancing mantelnya tertutup rapat. Ia kedinginan! Lantas dengan kecekatan yang mengalahkan barista aku segera meracik segelas latte dan membungkus beberapa bagel hangat ke dalam kantong kertas. Menyambar satu payung di ujung ruangan kemudian bergegas melangkah keluar menuju ke halte.

Hujan mendadak berubah menjadi gerimis dan angin tak lagi garang ketika aku melewati trotoar dan menyeberang jalan.

“Halo,”sapaku.

Gadis itu mengangkat wajahnya. Kami bertatapan. Aku terpesona pada sepasang bening yang berwarna coklat madu yang tengah menatapku dalam-dalam. Seolah sarat kerinduan. Aku tercekat.

“Ini untukmu. Kau pasti kedinginan.” Aku menyorongkan segelas latte dan kantung kertas berisi bagel yang kubawa.

“Terima kasih.” Gadis itu tersenyum. Garis bibirnya lembut. Senyumnya manis seperti senyum kanak-kanak yang tak berdosa. Kali ini aku benar-benar tersihir.

Untuk beberapa saat aku masih terpaku pada senyumannya. Gadis itu lebih mirip peri daripada manusia. Mungkin aku akan terus berdiri menatapnya tak berkedip kalau saja Mario, suamiku tak berteriak memanggilku dari seberang jalan.

Masih terpukau pada wajah perinya, aku hanya berpamitan dengan mengangguk dan tersenyum kecil.

“Tunggu.”suaranya yang jernih seperti lonceng itu menahanku.

“Carla, aku senang akhirnya kita bisa bertemu.”

Senyumku melebar. Dan kubalikkan tubuh bergegas pulang ke toko rotiku.

Berminggu-minggu berikutnya, aku baru menyadari satu hal, kami tak pernah saling mengenal. Darimana ia tahu namaku?

Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya semenjak pertemuan kami, gadis hujan tak pernah lagi datang. Beberapa saat lamanya beredar cerita rekaan versi menghilangnya gadis itu. Namun lambat laun kisah gadis hujan itu terlupakan. Tergerus oleh kisah-kisah baru yang lebih fenomenal. Seperti kisah tentang gadis biasa dari kota kami yang dipersunting menjadi anggota kerajaan. Kisah baru ini begitu membuai. Hingga para ibu mendadak menambahkan list permohonan dalam doanya. Agar anaknya memiliki nasib baik seperti putri baru itu.

“Aku tak akan pernah menjadi seorang putri, Mama.” Kata Inez, putriku yang lahir setahun setelah gadis hujan itu menghilang. Gadis kecil yang hari ini berusia lima tahun itu memandangku dengan sorot wajah prihatin.

“Sudah kukatakan berulang kali, aku seorang peri.” Wajahnya kini seolah putus asa. Ia memandang keluar jendela. Jemarinya mengetuk-ngetuk kaca yang penuh dengan butiran tempias hujan.

“Aku mencintai hujan. Mereka selalu datang di setiap ulang tahunku. Benarkan, Ma?!”
Tanganku berhenti menguleni adonan roti. Inez benar, tak peduli di musim, hujan selalu datang saat ia berulang tahun.

“Mama. Aku sangat menyayangimu sejak pertama kali kita bertemu.”suara kekanakan Inez menyentuhku. Hatiku penuh oleh rasa haru.

Kubersihkan jemariku dari sisa adonan dan kudekati Inez. Aku ingin memeluknya.
“Mama tak mengenaliku?”Inez mengerjapkan kedua matanya. Matanya tiba-tiba terlihat begitu bening. Ia menatapku tak berkedip. Aku seolah pernah melihatnya di suatu tempat.
“Mama juga sangat menyayangimu, Nak.”ujarku lembut.

“Aku tahu. Aku tahu sejak dulu. Itu sebabnya aku selalu menunggu mama di sana. Di seberang jalan itu.” Inez mengarahkan telunjuknya ke arah halte di seberang jalan.
Aku terkesiap. Tanganku terkembang ingin memeluknya.

“Aku senang kita bisa bertemu kembali, Carla. Latte buatanmu enak sekali.” Inez tersenyum. Senyum yang sangat manis dan membius. Yang sangat kukenali.

Tanganku sontak membeku di udara. Di luar, gerimis turun dengan ritmis.

Dunia Lirang, 21/03/2012

@tantri_shu | http://akusanglirang.wordpress.com/2012/03/21/gadis-hujan/

Senja


Oleh: @deapeni 



Aku melihat lagi kerlingan mata cokelat tua yang membara di antara bulu-bulu mata yang lentik dan panjang, alis yang tebal dan senyum yang melukis cita-cinta harapan yang dia sembunyikan ragu-ragu , sedih dan malu. Sekilasku tatap wajahnya sekali lagi sebelum berpisah untuk jangka waktu yang tidak dapat ku pastikan.

“Dara, apa kau yakin dengan pilihan-mu? Ku rasa kau terlalu cepat mengambil keputusan.” Kataku sebagai sahabat baiknya.

“Aku sudah memikirkannya lama, Ernes. Anak ini… Anak ini bukan dosa, bahkan disaat ini terjadi tanpa cinta.” Dara mengelus perutnya yang masih rata, namun aku tahu jauh di dalamnya ada bayi tanpa dosa yang suatu hari akan membuat Dara menangis tiada henti dan menyesalinya.

“Tidak, Dara. Aldo tidak mencintai-mu dan dia tidak akan bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi padamu. Tolong Dara, sekali ini saja buang sifat pembangkang-mu. Dengar kan aku, Dara! Dengarkan aku!” Pintaku sambil meraih tangannya yang lembut.

Dara menggeleng dan mencoba melepaskan tanganku darinya. “Ernes, kau laki-laki yang baik. Kelak kau akan mendapatkan seseorang yang yang akan tulus mendengarkanmu. Tapi bukan aku.” Ia berkata pelan, air matanya turun perlahan.

“Kau masih 20 tahun. Jalanmu masih panjang, dan bayi ini kelak akan menghambatmu.” Kataku sinis.
“Tidak. Aku percaya, suatu hari nanti, ia kan membawa senyum sejuta warna, untukku dan untuk orang lain.”
“Tapi kau akan malu… bahkan laki-laki itu tidak akan bertanggung jawab sama sekali atas…” Ucapanku terputus, Dara menggenggam tanganku erat.
“Aku akan bahagia. Dengan atau tanpa Aldo.”

Itulah terakhir kalinya aku menatap wajah cantik Dara. Sore itu di Semarang, waktu aku masih duduk di tingkat pertama kuliah. Aku tak pernah bertemu Dara dan sungguh akupun kehilangan kontak dengannya. Terakhir ku dengar dia pulang ke kampung halamannya di Manado dan aku tidak tahu pasti kemana dia.

#CeritaHariIni bermula 20 tahun sejak perpisahanku dengan Dara. Aku mentap kota Jakarta dari atas gedung tempat kerjaku dan mengingat kembali kisah-kisah tentang aku dan sahabatku yang diam-diam aku cintai.

Senja menanungiku dengan sinarnya yang nila dan ungu. Tiba-tiba seorang laki-laki, pegawai baru berdiri di sampingku dan menyalakan rokoknya dan kemudian menghembuskannya.

“Pak Ernes, ini pemandangan yang bagus ya, Pak.” Katanya.
Aku tersenyum pada pegawai baru itu. Ia pindahan dari cabang di Manado.
“Eh, kok kamu tau tempat ini?” Tanyaku bingung. Setahuku, hanya aku dan beberapa teman akrab-ku yang tahu tempat ini.
“Kemaren saya iseng-iseng Tanya ke OB, soalnya kata Ibu saya, pemandangan Jakarta itu bagus kalo sore apalagi kalau dilihat dari atas gedung yang tinggi.” Katanya sambil tersenyum.

Wajahnya begitu familiar dan sangat akrab di benakku.

“Almarhum Ibu saya suka sekali waktu senja. Saya juga.” Katanya lagi.
“Dulu saya juga punya teman yang suka sekali sama sore hari. Dulu waktu saya di Semarang.”
“Oh, Bapak asli Semarang?!”
“Enggak, kuliah aja disana.” Kataku.
“Ibu saya juga dulu kuliah di Semarang, tapi gak sampe lulus.”
“Oh ya?”
“Mungkin dia setua bapak sekarang kalau masih hidup.”
Jantungku berdegup, aku semakin mengenali siluet anak ini. Hatiku menyebut nama seseorang yang sangat ku kasihi.
“Oh, ya? Jangan-jangan dia dari universitas yang sama kayak saya.” Kataku.
“Bisa jadi. Beliau tapi ambil Hukum di Universitas Diponegoro.”
“Saya juga lulusan Undip.” Kataku semakin terheran-heran ini sebuah kebetulan atau Tuhan yang memang menuntunku.
“Ah, universitas itu kan besar, belum tentu juga bapak kenal.”
“Betul juga. Omong-omong, kalau saya boleh tahu kenapa Ibu-mu bisa meninggal?”
“Tahun lalu beliau meninggal karena kanker serviks. Sebelum dia tahu saya akan ke Jakarta. Sepertinya dia meramal. Dia tahu saya akan kemana dan menjadi apa. Kata Ibu, yang penting saya bisa menorehkan senyum di wajah orang lain, itu sudah lebih daripada cukup.” Ceritanya dengan tegar dan bijaksana.
“Jadi, sekarang kamu tinggal sama Ayah-mu?” Tanyaku tak yakin.
Tommy hanya tersenyum tegar. “Saya gak pernah kenal ayah saya. Tapi yang saya tau, Ibu sudah mengasuh saya lebih daripada saya punya tiga orang tua sekaligus. Ibu orangnya baik, Pak.”
“Apa nama ibu-mu…”
“Dara Amelda.” Ucapan kami hampir berbarengan dan kami saling bertatapan dan tersenyum.

Aku tahu jauh disana, diatas senja yang hampir gelap, ada seorang malaikat tersenyum melihat kami. Dara akan selalu ada dihatiku, dan mengukir senyum ditiap waktu-waktu yang menetes. Aku mencintai Dara, bahkan sampai hari ini.

Tuntas sudah kegalauan hatiku dan kini bahkan langit sudah beranjak gelap. Bintang tersenyum malu-malu diatas bumi, seiring dengan pergolakan waktu, Dara yang selalu penuh semangat dan cinta yang tercurah pada diri Tommy, anaknya yang dikasihinya.
Aku tersenyum lagi pada Tommy dan segera menghabiskan puntung rokok yang terakhir.

Jakarta, Maret 2012

Tuesday, March 20, 2012

Mari Menulis #CeritaHariIni

hallo! apa kabar dunia penulisan saat ini? nah, berhubung antusiasme dalam dunia tulis-menulis makin meningkat, PlotPoint membuat satu program seru untuk kamu semua, yaitu #CeritaHariIni. nggak jauh-jauh dari kompetisi menulis di blog dengan format yang asik dan simple. tujuannya jelas untuk membiasakan diri dengan menulis, dan kamu bisa tuliskan apapun yang bisa diceritakan. dari sedih hingga senang pasti bisa dijadikan suatu cerita yang menarik. 
#CeritaHariIni dilangsungkan selama sebulan. terhitung tanggal 20 Maret 2012 hingga 20 April 2012. lebih jelasnya bisa tengok keterangan di bawah ini, guys!

1. Setiap satu minggu sekali ada tema yang PlotPoint tentukan untuk kamu. PlotPoint akan share temanya via twitter (@_PlotPoint) setiap jam 11 siang di hari Senin, dan saat itulah kamu mulai bisa kirim tulisan dalam format yang ditentukan.
2. Jenis cerita bebas. fiksi ataupun non-fiksi bukan masalah. font Arial 12 dan maksimal 3-5 halaman dengan spasi 1,5.
3. Pastikan tidak mengandung unsur SARA dalam tulisan kamu.
4. Selipkan satu kata #CeritaHariIni di awal kalimat atau paragraf yang menurut kamu asik sebagai pengantar.
5. Post cerita yang kamu tulis ke dalam blog. lalu kasih linknya ke PlotPoint melalui twitter dengan format:

#CeritaHariIni "judul ceritamu" (link blog kamu) oleh @akuntwitterkamu kepada @_PlotPoint

contoh:
#CeritaHariIni "Tentang Langit" http://blablabla.blablabla.com/lalala oleh @ayumanis kepada @_PlotPoint

6. Setiap jam 19.00 WIB di hari Jumat, kompetisi #CeritaHariIni akan ditutup.
7. Semua cerita yang masuk akan diseleksi oleh redaksi dan dipilih 10 cerita menarik yang akan masuk dalam blog plotpointkreatif.blogspot.com.
8. Redaksi akan memilih satu cerita terbaik yang akan dapat hadiah asik berupa pulsa. lumayan lho buat modal PDKT ke gebetan. hehehe...
9. Bagi 10 orang terpilih akan di mention secara khusus oleh admin. sedangkan pemenang mingguan diinfokan setiap hari Minggu Sore via mention dan DM twitter. pastikan kamu sudah follow @_PlotPoint ya!
10. Setelah sebulan, redaksi akan memilih kembali satu cerita terpilih dari empat orang terbaik yang telah menang di tiap minggunya. sudah pasti ada hadiah menarik yang didapat lho!

gimana udah jelas belum? kalau ada yang mau ditanyakan bisa langsung colek di @_PlotPoint, dan jangan ragu untuk tulis cerita kamu sekarang juga!

cheers :)

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan