Showing posts with label wawancara. Show all posts
Showing posts with label wawancara. Show all posts

Friday, July 12, 2013

#KamisKreatif Bikin Cerita Lebih Hidup Dengan Ilustrasi!

Cover Blue Romance dan Pintu Harmonika, illustrated by Diani Apsari

Kalau kamu seorang penikmat buku, tentu sering melihat dan terkagum-kagum dengan berbagai ilustrasi menariknya. Gambar-gambar itulah yang menjadi penguat cerita dalam sebuah buku. Meskipun komposisinya tidak sebanyak tulisan, tapi ilustrasi inilah yang memanjakan pembaca dari sisi visual. Ternyata, ilustrasi gunanya banyak lho.

Pada Kamis Kreatif kali ini kita akan kenal lebih dekat sama profesi illustrator. Buat kamu yang tertarik dengan ilustrasi, jangan sampai ketinggalan sesi tanya jawab PlotPoint bersama dua illustrator kece berikut ini - Diani Apsari dan Diela Maharanie, yang keduanya merupakan ilustrator untuk beberapa buku PlotPoint.



Apa ya perbedaan kedua ilusrator ini? Kita simak yuk!

Cakupan kerja illustrator itu, apa aja?

Diela
Pekerjaan seorang illustrator memang khusus dalam pembuatan ilustrasi, gambar, atau segala bentuk visual yang dapat membantu menjelaskan sebuah narasi atau cerita yang mungkin akan lebih mudah ditangkap oleh pembacanya dengan bentuk visual. 

Diani
Ilustrator itu cakupan pekerjaannya sebenarnya banyak banget, basicnya bisa dari menggambar, tapi kita juga harus mengerti komposisi dan layouting.

Kenapa bisa menjalar sampe ke komposisi dan layouting?

Diani
Soalnya pekerjaan ilustrator ini sangat berkaitan dengan berbagai bidang, seperti misalnya desain grafis dan seni rupa. Seperti misalnya kalau kita mengerjakan ilustrasi untuk cover buku, kita harus mengerti layout tulisan bukunya nanti ditaruh dimana, jadi tidak hanya menggambar saja.

Kalian punya tujuan khusus nggak setiap membuat ilustrasi?

Diela
Ya gunanya itu untuk membantu menjelaskan sebuah narasi atau cerita yang mungkin apabila ada bantuan bentuk visualnya cerita tersebut menjadi lengkap dan dapat memberikan gambaran yang lebih visual kepada pembacanya.

Diani
Tujuan saya dalam membuat ilustrasi adalah menyampaikan pesan, dan juga mewujudkan imajinasi. Misalnya, saya buat ilustrasi di naskah penulis untuk bisa dinikmati secara visual.

Punya inspirasi tertentu mungkin setiap mau bikin ilustrasi?

Diani
Inspirasi saya dari kehidupan sehari-hari, selalu memperhatikan detil-detil kecil yang terjadi. Oh iya, saya juga suka sejarah, dan terinspirasi oleh masa kecil saya dan benda-benda antik, oleh karena itu mungkin gaya ilustrasi saya cenderung klasik.


Contoh ilustrasi oleh Diani Apsari

Diela
Untuk mengilustrasikan sebuah cerita jelas inspirasinya dari cerita tersebut dan mungkin ada pengembangan-pengembangan dari ilustratornya sendiri. Kalau saya sendiri, inspirasi dalam menggambar atau dalam proses membuat suatu ilustrasi banyak saya dapat dari menonton film dan dari buku-buku yang saya baca.

Jenis ilustrasi yang paling sering Diani bikin, seperti apa?

Diani
Sekarang saya sering mengerjakan ilustrasi cat air J Menurut saya, fokus dalam satu gaya gambar itu perlu, supaya kita menjadi ilustrator yang distinctive dan punya ciri khas. Tapi bisa berbagai macam style tanpa melupakan ciri sendiri, itu lebih baik lagi karena selain cakupan kerja kita menjadi lebih luas, juga menambah banyak pengalaman. Saat ini saya banyak mengerjakan ilustrasi untuk cerita-cerita yang lebih dreamy dan dekat dengan dunia anak-anak, tapi tidak menutup kemungkinan untuk terbuka untuk klien-klien yang lain.

Kelihatannya desain Diela itu khas sekali, itu apa genrenya?

Diela

Kalau ilustrasi yang seringnya saya buat mungkin lebih ke arah fantasy dan gloom walau tetap dengan penggunaan warna2 yang vivid. Untuk genre buku tertentu sih nggak ada, saya tidak membatasi diri.

Contoh ilustrasi oleh Diela Maharanie

Penasaran tentang proses kreatif Diani dan Diela? Ini dia…

Diani
Dari dulu saya suka sekali menggambar, jadi pelan-pelan project ilustrasi pasti datang. Pertama mulai dari sering menggambar untuk cover buku, lalu berlanjut ke project-project lainnya.

Diela
Awalnya nggak tahu ada profesi ilustrator karena saya dulu backgroundnya bukan dari art / design tapi karena suka sekali dengan menggambar dan hampir setiap hari posting gambar yang saya buat di blog, kemudian saya dapat tawaran membuat ilustrasi ini itu jadi saya mengulik profesi ini secara otodidak belajar dan terjun langsung ke dunia ilustrasi.

Saat membuat ilustrasi, perlu nggak untuk memposisikan diri sebagai pembaca?

Diani
Perlu. Dengan cara ini, pembuat ilustrasi sehingga bisa memahami apa maunya pembaca. Caranya, seperti dengan terus mengasah ide dan teknik menggambar kita.

Nah, apa sih yang ditonjolkan dalam ilustrasi sehingga pembaca bisa tahu pesan yang disampaikan?

Diela
Berusaha membuat ilustrasi yang mungkin sekali lihat langsung dapat 'feel' dan membuat 'curios' pembacanya.

Kalau di antara teman-teman ada yang kepingin jadi illustrator gimana sih caranya?

Diani
Bagi saya, tetap produktif dan rajin meng-compile karya-karya kita. Pastikan semua karya terarsip dengan bagus, dan jangan takut untuk mencoba teknik baru setiap harinya.

P.s: Sebelumnya, Diani pernah diwawancara juga oleh PlotPoint. Silahkan baca profilnya lebih lengkap  di sini .

Diela

Membekali diri dengan pengetahuan yang banyak mengenai dunia ilustrasi, yang pasti sebagai ilustrator ya yang harus kita kuasai adalah menggambar dan mungkin melatih cara bertutur lewat gambar. Untuk teknis juga dilatih dan eksplor segala macam media menggambar dan paling penting have fun in making an illustration :D hehe..
Cover ilustrasi Cherish Cheri oleh Diela
Dari kedua cerita tersebut terbukti kalau ilustrasi perannya amat besar dalam sebuah karya, utamanya buku. Sang illustrator secara nggak langsung memunculkan imajinasi tersendiri kepada pembaca. Tapi, ilustrasi nggak hanya untuk buku lho. Kalau kamu mau tahu info lengkap mengenai perkembangan ilustrasi di Indonesia, bisa cek di sini

"Even if you can't draw, do a little doodle or rip an illustration from a magazine - these visuals will help bring your ideas to life" - John Emmerling

Thursday, July 4, 2013

[#KamisKreatif] Books: Not Just About Writers


"Saat sebuah buku muncul, pengaranglah yang berhak dapat pujian. Tapi kalau tidak ada editing/penyuntingan, tidak ada buku yang layak dipuji"

- Blake Morrison, penulis Inggris, penerima Dylan Thomas Award


Kamis Kreatif edisi Juli ini kita akan mengangkat profil dari sebuah profesi yang paling berpengaruh di balik kesuksesan sebuah buku. Ia adalah Ninus D. Andarnuswari, editor PlotPoint! :D



Mbak Ninus, seorang editor itu kerjanya apa aja?
Jadi, editor ini adalah orang yang membantu penulis menyiapkan bukunya supaya bisa dinikmati orang banyak. Proses kerja editor nggak cuma soal tanda baca, tapi juga mencakup hal yang lebih luas lagi. 

Oh, gitu... Contohnya gimana?

Editor dituntut untuk memberi gagasan sebuah buku, mengelola struktur tulisan, menambah masukan untuk memperkuat elemen-elemen naskah, menghilangkan kelemahan tulian, dan seterusnya sampai tahap proofreading (naskah siap naik cetak dan diperiksa untuk terakhir kalinya). Editor juga harus mengetahui desain dan layout (walaupun bagian ini bukan ditangani editor). Bisa dibilang, peran editor adalah bertanggung jawab atas buku yang berkualitas, serta mengeluarkan potensi yang sesungguhnya dari penulis

Wah, seru! Kualitas yang kayak gimana?

Yang bagus dong, dan perlu dibaca oleh orang banyak :)

Buku seperti apa yang dianggap bagus?

Masalah bagus atau nggaknya buku, itu soal taste (selera). Tapi, taste bisa dibentuk. Taste yang baik didapat dari bacaan yang baik. Kalau bacaan kita banyak, kita akan punya referensi untuk tahu mana yang kita suka, mana yang nggak; mana yang efektif bikin kita nangis berhari-hari, mana yang bertele-tele dan membosankan; mana yang bagus buat kita dan mana yang jelek. 


Ada tipe orang tertentu gitu nggak sih yang biasanya jadi editor?

Kalau dari pengalaman, kebanyakan orang yang jadi editor adalah pembaca yang "rakus", yang baca buku memang karena dia senang. karena bacaannya banyak, dia jadi lebih tau tentang mana naskah yang layak terbit, mana yang nggak. 
  
Lho, kalo dari penulisnya sendiri?
Penulis yang baru selesai dengan naskahnya, kemungkinan besar jadi nggak punya objektivitas; dia terlalu "tenggelam" sama naskahnya. Nah, di sini pentingnya editor. Mereka bisa melihat apa aja yang kira-kira akan mengganggu, nggak tepat, nggak seru, membosankan atau salah kalau naskah itu langsung diedarkan. Karena itu, editor perlu mendiskusikan sama penulis tentang masukan-masukan yang bisa digarap oleh penulis.

Editor lebih sering bekerja sendiri atau dalam tim? 
Umumnya, editor bekerja dalam tim. Di dalamnya ada proses diskusi, tukar referensi dan informasi sehingga ada perbandingan yang bisa memperkaya wawasan editor.

Kalo dari segi keterlibatan editor dalam proses penerbitan buku, sejauh apa sih Mbak?
Beda-beda. Di Indonesia tergantung kebijakan penerbitnya. Terus terang, di Indonesia rata-rata masih banyak penulis yang perlu dipoles. Soalnya, jarang banget penulis baru yang naskahnya benar-benar sudah 'jadi'. Seringkali tulisan karus dipertajam lagi, plot juga mesti diperbaiki, karakterisasi tokoh-tokohnya juga perlu diperkuat. Ini juga nggak kalah penting: hubungan antara penulis dan editor juga harus dijaga baik. Siapa tau, kerjasama mereka melahirkan karya-karya yang keren terus? ;)

Dulu, Mbak Ninus gimana ceritanya bisa ikut nyemplung di profesi ini?
Awalnya, saya melamar sebagai editor/penerjemah ke penerbit Marjin Kiri - di situ sempat jadi penerjemah lepas (freelance). Saya juga pernah gabung dengan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) selama dua tahun. Sebenarnya nggak cuma editor yang dibutuhkan oleh penerbitan. Ada juga posisi pengulas (reviewer), yang pernah saya jalani juga untuk penerbit Serambi.

Jadi editor, ada nggak enaknya?
Tentu ada. Di Indonesia belum ada asosiasi profesi editor dan nggak ada standar gaji editor. Menurut saya, industri buku di Indonesia masih berantakan. Pemerintah belum punya kebijakan buku nasional dan belum mau memberi insentif untuk pelaku dalam indutri buku, padahal ini perlu supaya buku-buku berkualitas bisa tersebar ke seluruh penjuru Indonesia.
Kamu sendiri mungkin tahu, hidup sebagai penulis aja nggak dianggap sebagai jaminan yang baik bagi banyak orang sekarang. Padahal buku penting sekali untuk bikin kita mampu berpikir kritis, pintar menganalisis, bersikap rasional, dan punya empati besar serta menghargai keragaman, khususnya buku fiksi. 
Bayangin kalau masyarakat kita suka baca semua, kayaknya canggih ya?

Kalo enaknya, pasti ada dong? 
Enaknya, kita punya privilege untuk dibaca banyak orang, hehehe. Kita juga jadi tahu banyak hal karena kita dituntut untuk paham isi naskah terus-menerus. Terus memahami sesuatu yang baru menurut saya, fun! Intellectual orgasm itu candu :p

Mungkin ada sedikit tips untuk jadi editor yang bagus?
Yang jelas bacaannya harus banyak, jadi punya banyak referensi. Harus ngerti dan tahu buku-buku penting, dalam arti buku yang dugarap secara baik, baik fiksi maupun non fiksi. 

Oh iya, di PlotPoint Mbak Ninus menangani beberapa buku, di antaranya novel Anak-Anak Angin dan Stasiun.

Semangat untuk kalian semua!

Gimana, tertarik jadi editor?

"Your work is to discover your work and then with all your heart to give yourself to it" - Buddha

Friday, June 28, 2013

[#KamisKreatif] Nurul Ulfah: Dubbing Itu Seni


foto: http://images4.fanpop.com

Pasti familiar kan dengan karakter suara tokoh Doraemon yang sedikit serak atau suara karakter Shincan yang berat? Mungkin di antara kamu juga ada yang sering menirukan suara mereka. Ya, suara-suara unik itu adalah hasil kreativitas para pengisi suara atau sering kita kenal dengan dubber. Nah, di antara kamu ada yang tertarik menjadi dubber nggak? Kalau tertarik, atau penasaran dunia isi suara itu kayak apa, mendingan kamu simak dulu deh wawancara PlotPoint dengan Nurul Ulfah, pengisi suara yang sempat mengisi suara Shizuka. Yuk!

Bisa dijelasin dulu dong Mbak,  dubber itu apa sih?
Dubber itu kegiatan menyulihsuarakan film dari bahasa di film itu (bisa Inggris, Korea, India, Mandarin dan sebagainya ke bahasa Indonesia atau bahasa lain yang diinginkan).

Tugas dubber itu apa aja sih Mbak? Apakah hanya sebatas mengisi suara aja?
Tugas seorang dubber tidak hanya sebatas mengisi suara saja, tapi juga sebagai peran yang diisi, memakai bahasa yang lugas dan enak penyampaiannya. Karena terkadang dan sering sekali kita dapat naskah yang belum diselaraskan..

Proses sulih suara itu seperti apa sih?
Prosesnya selalu menggunakan naskah yang udah dibuat oleh penulis naskah, lalu ada seorang pengarah dialog yang bertugas mengawasi proses dubbing, dan 1 orang operator.
Nah, proses Mbak Nunu sendiri bisa sampai kayak sekarang gimana tuh?
Aku dubbing itu start awal kuliah tahun 2003, aku nggak kursus di mana-mana, nekat aja belajar sendiri dan pede aja. Dari cuma disuruh ikut suara crowded kebakaran, di pasar, bahkan nggak dapet bayaran apa-apa, hehe. Sampai akhirnya tahun 2004 aku dapat peran pertamaku di Dora The Explorer jadi ransel..masih sampai sekarang. Yang paling berkesan waktu aku kepilih jadi peran Shizuka kira kira tahun 2006, bisa dibilang itu yang ngebuka jalan lebih luas sampe sekarang.


Proses mendalami peran yang Mbak dapatkan gimana?
Biasanya pada saat ada kartun atau film baru selalu ada pengcastingan suara dulu. Nah kalau jam terbang sudah banyak, akan lebih mudah mengisi suara peran yang diinginkan. Yang memutuskan biasanya klien, dalam hal ini stasiun TV atau PH (production house), apakah suara A cocok dengan peran X. Ketika kita dapat sebuah peran biasanya preview dulu  untuk melihat karakternya seperti apa.. Apakah riang? Dingin? Jahat atau baik? Ngomongnya lambat, cepet, atau bagaimananya, semua ada di preview.  Semakin banyak jam terbangnya, dengan melihat sebentar dia udah tau harus gimana..

Suara tas ransel Dora yang lucu dan Shizuka yang lembut juga ternyata diperankan oleh Mbak Nunu lho
Ada latihan khusus nggak untuk punya suara yang berkarakter?
Latihan khusus sih nggak ada, tapi yang harus dijaga adalah nggak makan gorengan dan minum es supaya suara tetep fit karena suara adalah modal utama..

Proses sampai jadi sebuah paket suara itu berapa lama dan sifatnya pra atau berbarengan dengan film tersebut tayang?

Misalnya 3 hari sebelum tayang, malahan untuk Korea yang tayang di stasiun TV berlogo ikan terbang itu seminggu sebelumnya dikerjakan, karena stripping hehe. Standarnya sih 1 hari 2 episode.


Untuk jadi dubber itu harus kursus dulu nggak sih Mbak?
Iya sekarang memang banyak sekali kursus seperti itu, tapi nggak menjamin untuk job yang akan didapat. Karena selera suara kan tentu beda-beda ya. Biasanya juga link sangat berpengaruh. Recruitmentnya seringkali tertutup, tapi ada juga yang terbuka. Karena, sekarang kan tuntutannya industri. Lebih banyak PH meminta dubber yang sudah ‘jadi’. Makanya, biasanya kalau ada yang mau terjun jadi dubber harus rajin datang ke studio, langsung belajar, learning by doing lah, hehe.

Sampai sekarang Mbak Nunu menguasai berapa suara dan apa aja?
Sekarang Alhamdulillah bisa suara anak kecil, dewasa, ibu-ibu dan suara karakter gitu. J

Yang paling susah dari mengisi suara itu apa?
Hmm..susahnya itu apa ya.. Kalo aku sih nggak bilang susah, tapi mungkin tantangan di setiap film itu beda beda. Beda lho ngerjain film realis macam film orang gitu, India, Korea, sama film kartun. Jangan sampai ngerjain realis tapi tone nya kayak kartun (nggak lucu kan? Hehe). Harus ngepas lipsync, apalagi kalau karakter yang kita isi itu omongannya cepet. Kalau bisa kita memotong kalimat yang kepanjangan itu tapi maknanya harus sama. Kayak film Korea, itu mengartikan dari bahasa Korea ke bahasa Indonesia kadang suka jadi panjang banget. Apalagi sekarang penggemar Korea kritis-kritis, hehe suka dapet feedback juga saat lagi salah.

Gimana sih Mbak cara menjaga konsistensi suara kita tetap pada satu tone untuk karakter tertentu? Kan suara karakter beda ya sama suara asli kita?
Nah sebenarnya itu adalah bagian dari tugas pengarah dialog, dia mengawasi kalau kita mulai geser dari karakternya.. Tapi, kalau aku pribadi sih ya fokus aja, jaga nafas, bawa air minum dan nggak boleh bawa HP!

Karakter yang paling menarik buat Mbak Nunu sejauh ini apa?
Mmm..apa ya? Banyak sih, mungkin kalau yang terbaru sekarang ini ada kartun di Disney Junior “Henry Hugglemonster”.. Aku jadi Henry nya. Itu suara monster anak kecil dengan tone yang tinggi. Wihh sampe tepar kalau ngerjain 1 episode aja. Kalau yang lain sih banyak yang menarik.

Ini dia, Henry :D
Apa aja sih yang bikin asik dari profesi dubber?
Profesi dubber ini tidak terikat, jadi kita bebas mau jual suara di studio mana aja dan jadwal bisa atur sendiri.

Di sulih suara ini ada proses penulisan nggak?
Sebenarnya sih kalau penulisan nggak ada, karena kita terima naskah dari si penulis naskah. Tapi kadang proses penulisan itu ada saat dibutuhkan improvisasi akan suatu karakter, tapi dengan catatan tidak melenceng dari maknanya.

Nah, kalau acuan Mbak Nunu suara siapa sih Mbak?
Acuanku itu suaranya Irene Nasution, suaranya cantik banget. Karena suaranyalah aku terpacu ngasah suara bagus. Suaranya beredar di iklan mana-mana, salah satunya SGM.

Nah, kalau untuk dubber pemula nih Mbak, apa sih tahap yang harus dilalui, secara kan mungkin pengalaman dan link belum banyak?
Kenalin suara sendiri dulu, pede dengan suara sendiri. Rajin datang ke studio dub untuk lihat prosesnya dan untuk belajar. Mau susah dan korbanin waktu datang hanya untuk lihat . Kebanyakan pada menyerah di situ karena nggak sabar, maunya instan aja. Akupun dulu melalui itu kok J. Dan satu lagi yang harus diingat, attitude juga harus oke pastinya..

Nah guys, itu tadi hasil wawancara kita sama Mbak Nurul Ulfah. Gimana, pasti makin ngebuka wawasan kalian kan tentang dunia kreatif? Ternyata jadi seorang dubber itu gampang-gampang susah ya, perlu kesabaran dan ketekunan. Buat kalian yang tertarik jadi pengisi suara, bisa ditiru tips dari Mba Nunu sebagai langkah awal. Selamat mencoba guys! :D

Thursday, June 27, 2013

[#KamisKreatif] Sundea: Bermain Untuk Tulisan


"The chief enemy of creativity is good sense."
- Pablo Picasso



Menulis itu sudah biasa, jadi penulis juga mungkin sudah banyak. Tapi menulis untuk adik-adik kita? Sepintas memang gampang, karena adik-adik kita kan kerjanya cuma bermain. Ya, bermain. Kata itulah yang langsung muncul ketika seorang Ardea Rhema Sikhar atau akrab disapa Sundea berkisah tentang penulisan kreatif. 



Bermain adalah kunci proses kreatifnya. Ia selalu bermain dengan waktu ketika harus menunggu, bermain dengan kesedihan saat kesenangan sedang jauh, pun harus bermain dengan ketidaktahuan ketika harus kesasar. Layaknya saat lelah ketika bermain, kitapun harus istirahat. Demikian yang terjadi ketika Sundea sedang merasa tidak kreatif. Ia tidur, membangun mimpi dan kembali bermain dengan mimpi untuk kemudian diajaknya menjadi bahan kreativitasnya saat ia bangun. Bisa bayangkan bagaimana ramainya permainan dalam hidup Sundea?

Sundea

Buat Dea, Kreatif itu "selalu nemuin celah untuk bermain di situasi apapun. Main itu sumber energi kreatif yang paling utama."


Tiga buku karya Sundea; Dunia Adin (yang diperuntukkan untuk adik-adik kita), serta Salamatahari dan Salamatahari #2 menjadi bukti bahwa bermain, suatu hal yang buat banyak orang tidak penting, ternyata amatlah penting jika kita mau menganggapnya sebagai sahabat dalam berkarya. 

Saat ini Sundea sedang aktif menjadi “teman” untuk para ibu. Para ibu diberikan semangat tentang pentingnya mendongeng, sehingga kegiatan positif itu bisa dibudayakan di kehidupan sehari-hari. Terlebih dahulu ia menjadi ibu asuh bagi salamatahari.com dengan melahirkan zine-zine online, sebutan untuk kegiatan menulisnya yang diibaratkan seperti olahraga, tentu dengan tujuan agar tidak kendur (semangat menulisnya). Bergaul dengan adik-adik dan ibu-ibu diakui membuat Sundea lebih banyak belajar daripada mengajarkan.


Dari kiri-kanan: Dunia Adin, Salamatahari, Salamatahari #2


Bagi Sundea, menulis adalah komunikasi dua arah. Apa yang ia tulis selalu menyampaikan sesuatu kembali kepadanya. Kegiatan menulis juga membantunya untuk menyusun pikiran serta perasaan. Hal lain yang didapatkan dengan menulis yaitu lebih mengenal situasi, diri sendiri maupun orang lain. Sundeapun merasa jauh lebih tenang dan bisa belajar menerima hal apapun dengan tulisan. Sepakat ya, kita tentukan bahwa menulis adalah salah satu media terapi diri.


Menulis sudah dilakoni Sundea sejak kecil, ia dengan bebas membuat ide dan menjadikan benda di sekelilingnya sebagai tokoh untuk menghidupkan idenya. Sundea mengaku ia senang dibacakan buku cerita dan storytelling kepada orang-orang di sekitarnya. Saat usianya baru menginjak beberapa bulan, ia sudah bisa bicara, tapi bicara yang tidak biasa. Karena “Aduh Kaget” menjadi kata pertamanya di dunia. Ya, tentu seluruh keluarganya lebih kaget dengan keajaiban bayi Sundea dulu.


Sudah mulai suka bermain dengan Sundea? Mungkin akan lebih suka lagi jika tahu bahwa Sundea saat ini sedang serius menggarap zodiak gembira. Jelas gembira, karena kan isinya bermain. Silakan bermain-main bersamanya dalam zodiakgembira.tumblr.com atau @salamatahari.

Source gambar dari webnya Sundea :)

Thursday, June 20, 2013

[#AskWriter] Icha Rahmanti

Guys, udah baca novel Pintu Harmonika? :) Nah, kali ini kita akan sharing sama penulisnya, Icha Rahmanti :D

P.s: Sebelumnya, Icha juga menulis novel Cintapuccino (2004) dan Beauty Case (2005)  :) 


Kalo boleh tau, siapa sih yang menginspirasi Mbak Icha untuk menulis?

Tepatnya, ‘apa’. Soalnya, saya suka sekali baca dari kecil :) Karena suka baca, menulis jadi lahir dengan sendirinya. Sejak kecil, saya udah suka nulis cerita walaupun yang baca baru mama :)


Mbak Icha suka buku jenis apa? Ada nggak penulis yang mempengaruhi gaya penulisan Mbak?

Waktu kecil, saya penggemar berat buku-buku Enid Blyton dan Alfred Hitchcock yang serial detektifnya. Kenapa? Soalnya Cuma buku-buku mereka yang ada di toko buku waktu saya masih kecil di Samarinda :)

Tapi, buku yang paling berkesan buat saya waktu kecil itu bukunya Frances Hodgson Burnett – Pangeran yang Hilang.

Terus, buku-buku Klub Detektif plus serial detektif lainnya jadi kecanduan. Waktu kecil, bahkan saya sampe curi-curi baca Agatha Christie punya mama.

Kalo gaya penulisan chicklit, saya suka Candace B., Sophie Kinsella sama Helen Fielding. 

Waktu kecil, aku juga udah terpesona oleh karakter drakula (bukan Twilight) – tapi Si Drakula Cilik nya Angela Sommer Bodenburg. 


Ada tips buat ngendaliin ego saat kita nulis duet? Bagi-bagi dong :D

Pilih partner menulis yang punya chemistry sama kamu (kecuali kalo kamu dijodohin penerbit atau produser karena sebuah proyek). Kepercayaan juga jadi faktor penting saat memilih partner menulis: contohnya percaya taste (selera), ability, dan lain-lain. 

Kalo faktor ego menulis tandem, balik lagi ke chemistry dan trust. Untungnya, proyek duet perdanaku sama Mbak Clara Ng (@clara_ng) ;) Walaupun Mbak Clara senior dan penulis yang produktif banget, dia percaya dan generous banget sama aku. We worked in layers di #PintuHarmonika.

Tapi, prinsipnya nulis tandem bagi para penulis harus sadar supaya kolaborasi mereka utuh, pikirin karya kalian sebagai satu kesatuan. 

Kalo bikin cerita yang idenya biasa jadi menarik, gimana tuh? 

Supaya cerita biasa jadi menarik, ada banyak bumbunya: karakter, sudut pandang, setting, plot, kemasan. Cerita biasa jadi menarik karena gabungan bumbu-bumbuitu :D Intinya, “God is in details” – maksudnya, justru hal-hal kecil yang membangun cerita itu. 


Bagian yang paling sulit itu pada saat kita menyunting maskah sendiri sebelum dikirim. Gimana sih cara mengendalikan subjektivitas?

Kalo udah jadi draft, menurut saya bagian yang terpenting itu adalah re-writing, baca ulang naskah sambil mengedit sendiri.

Gimana caranya suppaya kita jadi objektif dan bisa tahu draft kita bagus atau jelek?

  1. Taste. Banyak baca buku bagus membentuk taste.
  2. Ini tips dari Zadie Smith, salah satu penulis yang aku suka: kalo udah jadi naskah dan kamu lagi nggak terlalu perlu duit, simpan dulu naskahnya di laci selama setahun atau lebih. Nah kalo ternyata setelah setahun atau lebih draft kita masih terasa bagus pas dibaca, artinya draft kita punya kesempatan :)

Strategi apa yang dilakukan untuk mengolah, menginterpretasikan ide yang lumrah menjadi orisinil dan beda?

Sepertinya sih, jaman sekarang nggak ada sesuatu yang benar-benar baru ya. Yang ada inovasi. 

Yang bisa dilakukan dalam memilih ide ada beberapa faktor, misalnya passion terhadap cerita. 

Kisah sederhana bisa tetap memikat kok kalo ditulis dengan emosi atau rasa yang pas.

Atau, bisa juga membayangkan segmen buku kamu, siapa yang akan baca bukumu. Adakah genre (golongan) pembaca baru yang dibidik?

Booming50 shades” nya E.L. James bisa jadi contoh. Ada yang bilang kalo trilogy itu mommy-porn J Padahal, dalam trilogi 50 shades itu nggak ada yang baru kok, tapi terasa beda dan “baru”. Trilogi 50 shades membidik pembaca. Let’s say, chicklit + level lebih panas buku-buku roman  = sesuatu yang “baru”. Akhirnya, karena booming 50 shades ini jadi konon ada golongan pembaca baru, yaitu wanita-wanita yang menikmati bacaan “panas” sebagai hiburan. 


Punya trik-trik caranya mempertahankan ide awal semangat dan mood saat menulis?

Cara paling gampang mempertahankan mood dan ide awal, adalah write something that you know best and love, or something you’re passionate about

Suka masak, olahraga, atau musik? Jadikan kesukaan kamu sebagai setting, atau bagian dari karakter sama plot cerita kamu. 

Trik lainnya supaya nggak ngelantur, buat dulu main plot (plot utama) cerita. Lalu, buat inti plot per bab hingga ke ending cerita. 

Tips lainnya, buat deadline! Saya termasuk orang yang kalo diburu deadline malah semangat, hahaha…

Mempertahankan semangat atau mood juga bisa dengan mentoring ke penulis lain. Bisa juga ke klub menulis :)

Kalo buat saya, ide itu saya coret-coret di buku sebagai outline (garis besar) cerita.
 
Gimana cara membuat cerita dari ide biasa jadi sebuah cerita menarik?
Supaya cerita biasa jadi menarik ada banyak bumbunya: karakter, sudut pandang, setting, plot, kemasan. Cerita biasa jadi menarik krn gabungan bumbu2 itu, intinya "God is in details". "God is in details" maksudnya justru hal2 kecil yg membangun cerita/bumbunya yg bkin cerita jd. 

Gimana sih, caranya menghipnotis banyak pembaca lewat tulisan?
Buat relasi dan koneksi. Ada bagusnya juga penulis mengenali siapa pembaca yang dituju sehingga bisa mengerti apa yang mereka bicarakan, topik apa yang berhubungan dengan segmen pembaca tersebut sehingga mereka merasa menjadi bagian dari cerita. Caranya bisa macam-macam dari karakter, plot cerita, setting dan sebagainya.

Kemudian ada istilahnya  hook, atau kaitan. Buat setiap akhir bab si pembaca merasa ingin tahu lebih jauh dan terlibat dengan ceritanya. Mengakhiri bab dengan “menggoda” memberikan teaser dan hook yang membuat pembaca ingin tahu dan terlibat jauh dengan ceritamu.
 
Buku apa yang harus kita baca untuk ngembangin ide supaya karya kita lebih indah?
Tergantung kamu mau menulis apa. Buat saya inspirasi bisa datang dari mana saja, dari membaca majalah, menonton tv, atau membaca timeline twiter. Sebisa mungkin justru perkaya diri kamu dengan bacaan non fiksi yang memperkaya pengetahuan kamu akan setting, psikologi, atau satu keahlian tertentu sehingga ketika kamu menulis, kamu punya bekal membuat sebuah latar yang believable, masuk akal, dan menarik.

Setelah duet dengan Mbak Clara, sekarang mau duet dengan siapa? Mau nulis novel dengan genre apa?
Hmmm siapa ya? Saya kok justru tertantang untuk berduet dengan yang non fiksi ya? Supaya memperkaya wawasan gitu… hahaha…  Saya kepingin seperti Mbak Clara, menulis buku anak dan menulis novel untuk pre-teen dan mommy-lit.

Kemarin sempat terpikir juga ingin menulis novel dengan latar semi sejarah… hahaha… biasa banyak pengennya, semoga sempat dilakukan. Amin.

Kalau kita menulis tanpa merhatiin metode penulisan, apakah masih bisa disebut sebagai penulis?
Metode penulisan di sini maksudnya apa ya? Apakah maksudnya tata bahasa dan ejaan? Lagi-lagi ini menurut saya tergantung menulis untuk siapa. Maksudnya begini, penulis beda dengan pengarang. Kadang penulis harus menulis skrip untuk iklan, atau blog atau artikel dan bahasanya kadang berbeda sesuai tuntutan  si media. Misal di media anak muda, kadang bahasanya walau harus benar secara struktur, tapi bisa lebih tidak formal.

Kalau metode dalam artian cara, menurut saya nggak ada yang benar dan salah, yang ada hasilnya bagus atau nggak hehehe… kalau bagus ya sah-sah aja, kalau jelek ya jangan diteruskan metoda itu. Misalnya metoda pakai outline atau kerangka, sama metoda hajar langsung nulis aja ngalor ngidul apa yang ada di kepala, nggak ada yang salah kok. Tapi parameternya adalah hasilnya

  Bagaimana caranya mempertahankan ide awal,semangat dan mood saat menulis?
Cara paling gampang mempertahankan mood & ide awal: write something that u know best & love/ passionate about. Suka masak?Suka olahraga? Suka musik? Jadikan kesukaan kamu sebagai setting, bagian dari karakter, atau plot cerita kamu. 
Trik lainnya supaya tidak ngelantur, buat plot besar cerita dulu baru bukin treatment inti per bab hingga ke ending cerita. 
Tips lainnya buat deadline! Saya termasuk orang yang kalo diburu deadline malah semangat hahaha… Mempertahankan semangat (mood) jg bisa dengan mentoring ke penulis lain, atau ke klub menulis (grup). Kalau buat saya, ide itu saya coret-coret di buku sebagai outline (garis besar) cerita.

Kalo kita lagi malas melanjutkan tulisan kita, sebaiknya kita ngapain selain baca buku?

Anything that can make you relax. Ngopi, jalan-jalan, tidur, ngobrol sama teman… apapun. Tapi jangan lupa bawa catatan coret-coret kalau-kalau tiba-tiba terpikir sesuatu yang keren.



Gimana caranya biar tetap fokus dengan outline supaya cerita nggak melebar karena keasikan nulis?
Kalo ternyata cerita melebar, nggak masalah selama hasilnya bagus. Cara untuk fokusnya adalah dengan melatih taste (rasa) sehingga ketika tahu cerita melebar bisa menentukan apakah ini akan bagus atau jelek. Kalau bagus ya kembangkan, teruskan, kalau jelek ya buang, kembali  ke plot dan outline awal.

Bagaimana kiat mengembalikan bad bood? 

Do something that make you happy.

Bagaimana cara memperoleh ide dalam penulisan? 

Dari mana saja, dengerin music, baca, nonton film, ngobrol atau bahkan ngelamun dan coret-coret atau brainstorming ide.



Apa yang paling susah dari menulis kategori non fiksi dibandingkan dengan kategori lain?

Data. Data harus dan sebaiknya akurat, perlu riset dan membaca referensi supaya paham apa yang akan ditulis.

Cerita/novel seperti apa yang paling dicari penerbit dan yang seperti apa yang disukai oleh editor?
Cerita apapun asal ditulis dengan menarik dan enak dibaca. Apalagi kalau penulis sudah bisa menentukan dengan jelas siapa pembaca yang ditargetnya dengan novelnya. Ini akan lebih mudah menarik perhatian penerbit (editor).
Ada beberapa tips untuk menembusnya selain tentunya naskah yang dikirim harus baik dan menarik, yaitu :
1. Buat cover letter, yang berisi singkatan cerita novel kamu, buat semenarik mungkin dan sesingkat mungkin
2. Buat proposal mengenai diri kamu dan buku kamu, why you, why they need to publish your book? Apa keunggulannya?

Bagaimana caranya kita membuat chemistry yang baik anatara penulis dengan karakternya dan antara karakternya?
Hmm, satu hal tentang chemistry adalah itu berjalan natural nggak bisa dipaksain. You have to feel it or you don’t. Maksudnya, membangun chemistry dengan karakternya, si penulis harus punya gambaran yang jelas dari mana si karakter ini datang, apa latarnya, bagaimana sifatnya, apa kesukaannya, apa ketakutannya. Ini namanya back story. Kadang penting kadang nggak tergantung kebutuhan karakter kamu. 
Kalau penulis bisa menjiwai ini, akan terasa di karakternya dan bagaimana dinamika antara karakter dalam ceritanya.
Misalnya kamu punya karakter namanya Retno, anak kuliah yang ngekos dari anak orang kaya yang keluarganya dekat dengan agama. Nah Retno ini anak kedua yang cenderung ekstrovert sifatnya. Berbekal pemahaman akan karakter si Retno dan back story-nya, ketika misal ada satu plot yang menceritakan si Retno ini semisalnya datang ke restoran mahal untuk membuntuti pacarnya yang diduga selingkuh, tapi datang ke sana hanya dengan jeans dan sandal jepit, menurut kamu karakter retno akan bersikap seperti apa? Cenderung cuek dan pede atau malah nggak berani masuk ke resto mahal itu?
Kira-kira gitu korelasinya.

Sudut pandang apa yang paling bagus buat penggambaran perasaan supaya ngena banget untuk pembaca? Kenapa?
Pastinya sudut pandang orang pertama, meng-aku. Karena seperti membaca, atau mendengar seorang teman bercerita langsung padamu. Kelemahannya, sudut pandang ini terbatas hanya dari si orang ini, kadang sulit kalau ada dalam cerita ini kejadiannya beririsan.Saya pribadi selalu memakai sudut pandang ini di 3 novel saya, karena merasa lebih intens menggapai pembaca dan juga mengeksplorasi perasaan. Tapi sekarang juga sedang latihan jadi narrator, sehingga bercerita dari kacamata saya sebagai pengarang, orang ke-3.


Bagaimana cara mempertahankan tulisan dari tema pertama disaat munculnya ide tema baru yang ingin di kembangkan?
Dicatat saja. Makanya penting juga penulis mempunyai buku coretan untuk mengeksplorasi kemungkinan plot atau outline cerita. Buat mencatat ide-ide brainstorming.
Setelah ada idenya kembalikan ke outline. Akankah lebih bagus atau lebih jelek? Ini subjektif, karenanya butuh banyak membaca supaya taste terbentuk atau alternatifnya bisa dilempar ke forum penulis atau pembaca informal sebagai masukan.
Kalau lebih bagus tambahkan, teruskan, kalau lebih jelek ya dibuang atau ditampung barangkali lebih cocok untuk novel lainnya.

Apa pendapat Mbak Icha tentang ghost writer?
Nggak ada masalah kok. Penulis itu hidup dari menulis apakah itu fiksi atau non fiksi dan penulis butuh hidup. Bekerja sebagai ghost writer adalah salah satunya. Hanya saja bekerja sebagai ghost writer harus konsekuen dengan perjanjian bahwa namanya tidak akan tercantum. Jangan setelah bukunya jadi terus ribut ingin pengakuan atas kerjanya. Jadi dari awal harus jelas, sejelas-jelasnya pasal kerja samanya, untuk menghindari keributan di kemudian hari.

Judul kan, salah satu penarik minat pembaca.Bagaimana cara membuat judul yang menarik?
Judul itu tricky, gampang-gampang susah. Tapi yang paling penting kamu mengerti buku kamu untuk siapa dan segmen pembaca yagn ditarget akan mempermudah elaborasi judul. Prosesnya bisa datang di awal sebelum novelnya jadi, atau bahkan di akhir-akhir, last minute sebelum bukunya terbit dan jangan ragu juga ajak teman-teman terpercaya yang kreatif untuk bantu brainstorming ide untuk judul yang keren. 
Judul yang keren mudah diingat, catchy, dan mencerminkan apa yang ada dalam cerita/isi buku tersebut.

Kadang penulis sudah berhasil membuat plot yang mengalir, tapi setelah dibaca lagi ternyata passionnya nggak terasa, kira-kira apa yang salah?
Hmm apa ya…. Barangkali teknik bertuturnya belum lancar kali ya, jadi masih agak kaku. Barangkali juga karena si penulis kurang menjiwai topik yang sedang dibahas, misal nulis tentang kehidupan rumah tangga sementara dia belum nikah. 
Saya pernah jadi juri lomba roman dan menemukan hal itu. Nggak menarik dan kerasa banget mana yagn ditulis dengan passion dan pengalaman dan yang hanya rekaan imajinasi. Memang menulis itu masalah berimajinasi, tapi kerasa kok apakah topiknya kita kuasai atau tidak dalam tulisan.





Kadang, suka speechless pas nulis opening novel... Tips menulis opening novel yang bagus itu seperti apa?
Opening novel itu penting. Buatlah sesuatu yang tidak biasa dari yang biasa. Jangan juga buat yang over klise atau dramatis kecuali cerita kamu luar biasa keren. Ini yang termasuk over klise dan dramatis : memulai di pemakaman.
Mulai dengan sebuah setting yang biasa namun tidak biasa. Misal kalau cerita tentang anak sekolah kali bisa dimulai di kampus. Tapi apa yang nggak biasa di kampus yang bikin orang tertarik tapi masih berhubungan dengan cerita?

          "Lift perpustakaan mati. Tepat di satu hari diantara 29 hari lainnya saat Mira bertekad mengembalikan buku-buku referensi yang beratnya mencapai 8 kg."

Something like that :D

Buku apa yang cocok untuk seorang penulis pemula?
Apa yaaa… tergantung kesukaannya apa. Kalau suka novel, ya baca novel. Itu pun beragam dari yang ringan hingga yang sulit sekali dicerna. Jangan ikut-ikutan arus. Harus jujur dan betulan suka bukan karena baca supaya dianggap keren :)

Apa sih penyemangat Mbak Icha untuk melanjutkan menulis walaupun udah memasuki masa stuck ide?

Membayangkan bukunya sudah selesai :)


Dalam #PintuHarmonika, ada lebih dari satu tokoh yang ‘bicara’. Mbak Icha menulis bagian yang mana?

Semuanya :)


Ada nggak pengalaman menarik dalam penulisan #PintuHarmonika? Apa Mbak Icha mengalami kesulitan selama proses penulisannya?

Saya mau diajak mengadaptasi scenario #Pintuharmonika karena yang ngajak Mbak Clara Ng dengan kata kunci, ide cerita dari aku.  I trust her so much, jadi yakin dan percaya akan kolaborasi #PintuHarmonika ini. Cara kerja kami? Seperti bikin kue lapis!

Awalnya, outline cerita dari Mbak Clara Ng bermodalkan scenario #PintuHarmonika.  Lalu, aku bikin detail cerita #PintuHarmonika. Dioper ke Mbak Clara Ng, lalu ke aku lagi. Begitu seterusnya, seperti buat kue lapis (selang-seling).

Pendeknya, semua tokoh di #PintuHarmonika kita tulis bersama.

Kesulitan selama penulisan? Nggak ada tuh :) Yang ada seru! Pengalaman menarik? Mewek bombay pas nulis ‘David’.

Book signing Pintu Harmonika :)
Ingin mengenal Icha Rahmanti lebih dekat? Follow aja twitternya, di @cintapuccino 

Nggak cuma menulis novel, Icha juga menerjemahkan buku, kontributor majalah, menulis skenario film, sampe public speaker. How cool is that? :D 

Kamu juga bisa buka website Icha di www.icharahmanti.com :)


Punyakah kamu surga di bumi? Tempatmu merasa bebas, terlindungi, dan... begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

"Cerita unik yang membahas tentang kehidupan yang tinggal di ruko. Jarang tema ini diangkat dan bisa dibaca semua umur" - Luna Maya, artis

Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surge di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ? - See more at: http://www.pengenbuku.net/2013/02/pintu-harmonika.html#sthash.ejQZ04lU.dpuf
Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surge di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ? - See more at: http://www.pengenbuku.net/2013/02/pintu-harmonika.html#sthash.ejQZ04lU.dpuf
Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surge di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ? - See more at: http://www.pengenbuku.net/2013/02/pintu-harmonika.html#sthash.ejQZ04lU.dpuf

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan