Showing posts with label 10 Bangku Sekolah. Show all posts
Showing posts with label 10 Bangku Sekolah. Show all posts

Monday, April 2, 2012

Secangkir Musik Untuk Gadis Rasyid



Oleh: @sbdrmnd 


Intro:
Dimulai dengan petikan dawai gitar dari harmoni seventh chord yang akan segera mengingatkan kita pada suatu pagi cerah dengan secangkir kopi atau teh manis hangat. Jemari menari dari akord C mayor 7 berjalan ke D minor 7 berpindah ke E minor 7 lalu melompat tiba-tiba ke F mayor 7 tanpa kehilangan tempo. Tanpa kehilangan poros. Berulang empat kali. Mengantar semua orang untuk memulai hari, perpindahannya halus sekali, seolah tiada lagi yang lebih halus. Halus namun tak lemah, terdengar begitu tajam dan kuat.



Sementara yang lain pasrah saja hendak dijadikan kertas atau gagang sapu, rangka sofa mahal atau tisu toilet murahan, seolah mereka tak memiliki pilihan lain selain pasrah. Ia justru sudah memilih jauh hari sebelum hari eksekusi. Jika Sang Eksekutor bertanya, “Mau jadi apa kamu?” ia sudah memiliki jawaban pasti, “Menjadi bangku, bangku sekolah, Sekolah Menengah Atas!”
Aneh memang, namun bukan tanpa alasan ia memilih menjadi bangku sekolah. Ada ratusan juta alasan tercipta untuk merasionalisasikan pilihannya yang irasional, setidaknya untuk bangsanya. Sebenaranya, ia hanya ingin. Lebih tepatnya ingin tahu. Hanya ingin tahu saja. Kisah aneh macam apa yang terjadi di sekolah? Seaneh apa kisah itu? Siapa? Apa? Dimana? Kapan? Mengapa? Bagaimana? Pastilah sangat aneh hingga Obbie Mesakh mengabadikannya dalam lirik lagu, lagu yang sering dilantunkan Sang Eksekutor ketika sedang bekerja. Ia hanya ingin tahu, sialnya, rasa ingin tahu tak semurah rasa ingin es krim. Ia tahu, ia harus membayar mahal untuk itu. Dan, ya, meski lebih mahal, tak semua jawaban dari rasa ingin tahu itu semanis es krim. Beberapa malah lebih pahit dari jamu brotowali. Tapi rasa ingin tahunya mengalahkan pikiran-pikiran itu, ia sudah tak peduli lagi dengan rumor tentang siswa-siswa berandal yang suka mencorat-coret, menempelkan permen karet, menendang, menginjak dan hal tak berperi-kebendamatian lainnya.
Ah, nyaris segala hal diawali dengan rasa ingin tahu bukan? Meski kenyataannya, beberapa hal lebih baik tidak perlu diketahui. Keingin-tahuan yang kerap berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang malah kadang melahirkan pertanyaan baru. Seolah membentuk siklus. Siapa? Apa? Dimana? Kapan? Mengapa? Bagaimana?


*Syair pertama:
Empat ekor burung gereja bertengger di pohon kenari. Mereka bernyanyi menimpali dentingan gitar dengan suara sopran merdu nan enerjik,
“I keep six honest serving-men, I keep six honest serving-men….”
6 ekor anak parkit di dalam sarang menjerit seperti sekumpulan pemandu sorak, “They thaught me all I knew! They thaught me all I knew!”
Seekor gajah yang sedang menyirami semak-semak menyahut dengan suara rendah lagi berat, “Their names are….”
Anak-anak parkit itu menjawab satu persatu,
“What!”
“And Where!”
“And When!”
“And How!”

“And Why!”
Belum sempat dilanjutkan, seekor kucing yang sedang mengincar anak parkit melengkapi.
“And Whoooo!” Suaranya serak-serak basah dan tangannya bersiap mencengkram. Ibu parkit datang dan mematuk kepalanya, ia kaget kemudian terjatuh.
“Meow!”

Prosesnya lumayan panjang. Tubuhnya digergaji, diukur, ditandai, digergaji lagi, ditetesi keringat Sang Eksekutor, dipaku. Paling menyakitkan itu pada proses mengamplas, dan yang paling menyenangkan adalah proses mengecat. Hingga ia berwujud bangku. Bangku sekolah. Kemudian ia dikirim ke gudang bersama teman-teman bangku sekolah yang lain. Segala keluhan didengarnya. Hampir serupa, mereka terpaksa menjadi bangku sekolah. Namun tidak baginya, ia memang bercita-cita menjadi bangku sekolah. Akhirnya aku menjadi menjadi bangku sekolah, ujarnya dalam hati.
Hari pertama selalu berkesan, dan kesan pertama yang diterimanya adalah negatif. Ia tak langsung diletakkan di ruang kelas, ia harus menunggu satu sampai dua minggu lagi dan selama itu ia harus menetap di ruang guru. Namun, bukan itu kesan negatifnya. Pagi masih terlalu muda untuk sebuah kebohongan tua. Terlalu pagi untuk berbohong.
“Sudahlah, berikan saja mereka kunci jawaban…. Apa kata sekolah lain bila ada siswa tak lulus ujian di sekolah kita?!” Suara lelaki dewasa mengisi ruang.
“Tapi, Pak…” belum sempat perempuan itu melanjutkan, lelaki itu langsung memotong kalimatnya.
“Tidak ada tapi-tapi! Ini masalah reputasi sekolah, Bu, re-pu-ta-si!” Mata lelaki dewasa itu membesar seperti ingin menyaingi mata burung hantu, “jangan terlalu naif, bu…, sekolah lain pasti juga melakukan hal yang sama. Ini sudah bukan rahasia umum lagi.”
Hari pertama, pula terlalu pagi. Ia sudah diberikan kisah yang sungguh aneh tapi nyata. Persis lirik lagu yang dulu sering dinyanyikan Sang Eksekutor. Ia bersedih. Bukan kisah seperti ini yang ku cari. Entah bersedih untuk [si]apa.
Hari berlalu. Kini ia sudah berada di dalam ruang kelas. Lantainya cantik, putih, persegi dan lurus pula wangi cemara. Temboknya putih tanpa noda, masih tercium bau cat. Ia berkenalan dengan bangku di sebelahnya. Pasangan yang akan menemaninya untuk waktu tak ditentukan.
“Hey, siapa namamu?” tanya bangku di sebelahnya.
“Nama?” itu satu hal yang belum sempat terpikir olehnya, “Bangku, namaku Bangku….” Jawabnya meragu.
“Hi-hi, kamu lucu…, perkenalkan, namaku Anna.”
“Hey Anna, senang berkenalan denganmu!” Bangku tersenyum lebar.
Kita semua tahu, cinta tak perlu diperdebatkan lagi keberadaannya. Kita juga tahu, entah pada pandangan pertama, kedua, ketiga, ke sejuta sekalipun ia tetap bernama cinta. Keduanya sudah memutuskan untuk jatuh cinta bahkan sebelum sempat bersentuhan. Aneh? Kan memang begitu cara kerjanya. Mereka segera tahu, obrolan singkat tadi akan menjadi kenangan. Melahirkan obrolan lain, di waktu lain. Berkembang menjadi oh ya? Menikahi Wah! Beranak tawa-tawa kecil, cemberut kecil dan rasa kesal. Lantas bercucu rindu. Dan cicit-cicit perasaan lain yang belum sempat diberi nama.
**Syair kedua:
Petikan gitar kini diiringi sentuhan piano.
Kelinci oranye  bernyanyi,
“Jangan pernah pergi jauh, meski hanya untuk sehari…,” sambil mengejar kelinci merah muda. Mereka berkejaran mengitari pohon jati.
Pohon jati ikut bernyanyi mengikuti nada kelinci, “Jangan pernah pergi jauh, meski hanya untuk sehari….”
Kelinci oranye bernyanyi lagi,
“karena, karena aku tak tahu bagaimana mengucapkannya…sehari adalah waktu yang begitu lama!” Sekelompok lebah mengitari kepalanya, mereka turut bernyanyi.
“Begitu lama, begitu lama, begitu lamaaa….” Harmonisasi vokal yang akan langsung mengingatkan kita pada gerombolan The Beatles.
Kelinci oranye kelelahan, beristirahat di padang rumput.
“Dan aku akan menunggumu di stasiun yang melompong ini,” dari suaranya yang melemah dan sedikit sumbang, pastilah ia kelelahan. Kelinci merah muda mendekatinya, memegang tangannya, dan dengan suara centil ia melengkapi syair di lagu ini,
“Ketika kereta-kereta tak lagi singgah disini, tertidur…” keduanya berbaring di atas rumput, menatap langit seraya mengakhiri syair kedua, “tertiduuur…”
Denting piano semakin meninggi…

Bangku semakin akrab dengan Anna.  Bulan demi bulan berlalu. Penghuni mereka adalah dua siswa nakal yang suka menginjak mereka kala jam istirahat, mereka suka duduk di atas meja sambil mengobrol. Tidak hanya itu, waktu juga membiarkan mereka menyaksikan segala kisah aneh yang terjadi di dalam ruang kelas. Guru yang baik dan menyenangkan, guru yang dingin dan jarang tertawa, hingga guru yang suka memukul siswanya. Mereka pernah sekali menyaksikan seorang murid ditampar oleh gurunya, cukup sekali saja untuk terus mereka simpan kenangan memilukan itu. Seumur hidup mereka. Seumur hidup Bangku dan Anna, juga seumur hidup siswa yang ditampar.
Dan betapa mencontek adalah bagian paling menyenangkan. Ada yang mengintip buku yang sengaja diletakkan di kolong meja, ada yang menutupi wajah mereka, mengeluarkan suara berdesis untuk memanggil teman, bersiul sebagai kode, bahkan tak jarang melempar kertas kosong yang  biasanya jatuh di kaki Bangku atau Anna, dan tangan kecil mereka bersusah payah mengambilnya. Mengendap-endap agar tak dilihat guru. Semua juga tahu, guru bukan Tuhan yang maha melihat. Semua juga tahu guru adalah manusia biasa. Pula, bukankah setiap manusia adalah pemimpin sekaligus pemberontak? Bukankah menjadi Setan atau Malaikat adalah pilihan-pilihan satir? Aku kira itu bukan hal yang perlu diperdebatkan lagi.
Ini telah tahun kelima, bermacam siswa telah Bangku lihat. Semua jenis manusia, yang nakal, yang super nakal, yang pintar, yang ini, yang itu. Semua pernah ia izinkan duduk diatasnya. Memang itulah tugasnya, diduduki. Simbiosis mutualisme telah terjadi antara yang menduduki dan yang diduduki. Bangku memberi fasilitas untuk duduk dan siswa memberi Bangku kisah-kisah baru setiap hari. Tanpa pandang, ras, suku, agama atau apapun sekat yang mungkin sengaja dibuat manusia untuk membuat dunia luas ini menjadi seperti kotak-kotak sabun membosankan. Selama lima tahun itu pula Bangku belum melihat kejadian super-aneh. Meski selalu ada kisah baru, namun semuanya terlihat biasa saja selain hubungannya dengan Anna yang kian mendekat. Mereka saling berbagi dan saling mengisi.
Foto presiden di depan kelas diganti dan tahun ajaran baru dimulai. Penghuni baru mereka pun tiba. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya , kali ini yang menduduki mereka adalah sepasang manusia berlainan jenis kelamin. Si perempuan bernama Gadis, ia menduduki Bangku. Si pria bernama Rasyid, ia menduduki Anna. Mungkin ini sebuah kebetulan. Kebetulan hanya mereka sajalah yang masih belum berpenghuni hingga Gadis dan Rasyid tak lagi punya pilihan. Atau sebenarnya, ini pilihan mereka? Guruku yang gila pernah berkata bahwa alam sadar dan tak sadar itu seperti gunung es yang terapung di mana bagian yang muncul di permukaan air (alam sadar) jauh lebih kecil daripada bagian yang tenggelam (tak sadar). Bisa saja ini adalah pilihan alam tak sadar Gadis dan Rasyid? Karena memang terlalu sederhana untuk dibilang sebuah kebetulan, namun juga terlalu berbelit untuk dibilang bukan suatu kebetulan. Ah, sama saja.
Kebetulan dan ah, iya…aku gunakan saja kata itu untuk mempersingkat cerita, sebab ini sudah 1.441 kata. Empat lembar. Mendekati batas maksimum. Awalnya, kebetulan jika Gadis adalah Amerika maka Rasyid adalah Soviet, saling berbagi sunyi. Kemudian, kebetulan jika Gadis adalah Surga maka Rasyid adalah Neraka, saling memunggungi. Kebetulan jika Gadis adalah Negara maka Rasyid adalah Si Miskin, saling tak peduli. Mendengar adalah jembatan mereka. Ketika Rasyid bertanya, “Punya pulpen dua?” maka Gadis tak menjawab, hanya memberi. Begitu pula sebaliknya. Mereka hanya saling dengar. Bertahan seperti itu hingga mereka menyadari, ya Amerika-Soviet, Surga-Neraka, Negara-Si Miskin, mereka saling membutuhkan. Hanya saja dibutuhkan sedikit kejujuran. Dan kejujuran dimulai dari Rasyid yang berkata, “Saya suka kamu, itu urusan saya, kalau kamu tak suka saya, biar itu jadi urusanmu….” Dan Gadis perlu benar-benar menjadi tuli untuk tidak mendengar teman sebangkunya, yang jarak sepatunya tak lebih dari satu jengkal. Pula, Gadis pastilah seorang penipu ulung jika ia tak jujur bahwa wangi parfum Rasyid dibawanya sampai rumah, dibawanya sampai mimpi. Dihidupkan di sana, seolah tiada tempat paling nyata selain mimpi. Dan begitulah, kebetulan mereka mau saling jujur, meski keringat dingin mengucur. Nothing is worst than lie. Mereka percaya.

***Syair ketiga:
Dibuka oleh suara Theremin yang membuatmu seketika menjadi balon udara dipermainkan angin pada ketinggian yang tak lagi ditentukan ukuran jarak. Bersiap dijatuhkan oleh suara Cello nan berat, untuk kemudian di tangkap lagi oleh petikan gitar yang kini bermain di wilayah F mayor 7 menuju akord-akord elegan dari kawanan seventh chord, sedikit Jazz, sedikit Blues, sedikit kegilaan Psikedelia 70-an. Serupa labirin musik sederhana yang pintu masuknya adalah pintu keluar itu sendiri dan kamu tak tahu hingga tersesat jauh sekali ke dalam. Tersesat yang bahagia. Berpusing.
Para hewan berkumpul di depan seekor orang utan tua berkostum badut warna warni yang menuturkan sebuah sajak lama, sebuah sajak yang dinyanyikan dengan suara tenor dan sedikit falsetto di beberapa bagian.
“Antara, daun-daun hijau…anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa berlari. Burung-burung merdu, hujan segar menyebar. Bangsa muda menjadi, baru bisa bilang ‘aku’,” orang utan bernyanyi riang. Disekelilingnya, peri-peri hutan tak bersayap melakukan gerakan pirouette mengikuti nada gitar.
“Dan, angin tajam kering, tanah semata gersang…pasir bangkit mentanduskan, daerah di kosongi” ia mengambil satu peri hutan, diletakkan di telapak tangannya, 
“Kita terapit, cintaku….” Peri hutan tersipu.
“Terbang Mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat. The only possible non-stop flight, tidak mendapat!” 
Orang utan mengangkat kedua tangannya dan seolah mengerti, seluruh hewan jadi bernyanyi bersama, 
“Tidaaak mendapaaat….” 
Semua bertepuk tangan.
Gadis dan Rasyid tidak pernah tahu bahwa Bangku dan Anna merekam setiap degup jantung mereka ketika jemari kecil mereka saling bersentuhan, di mulai dari telunjuk, jari manis hingga tergenggam sepenuhnya. Seperti simpul mati yang membentuk pola universal. Gadis dan Rasyid juga tidak pernah tahu, Bangku dan Anna bergeser perlahan. Membuat mereka semakin dekat. Mereka terlalu bahagia untuk menyadarinya. Dan, keempatnya tidak menyadari, mereka bernafas bersama, saling menjaga agar tak terengah. Namun jam dinding dan Garuda Pancasila melihat kejadian itu. Ingatlah, ketika guru serius menerangkan materi pelajaran dan semua murid sibuk dengan urusannya masing-masing, udara dan benda mati di sekeliling mereka merekamnya. Mungkin mereka lupa, dulu sekali di masa kanak-kanak, yang perempuan suka berbicara dengan boneka sementara yang lelakii sibuk main perang-perangan dengan bayangannya sendiri. Mereka hanya lupa. Dipaksa lupa. Kadang aku berpikir, hidup ini hanya mimpi dan aku adalah imajinasiku sendiri. Yang membentuk dan menjadi. Sebab hal aneh tapi nyata seperti cinta, terlalu fiksi untuk disebut nyata dan sebaliknya. Sama saja.
Jika kamu suka, pepatkan saja semesta agar cukup untuk masuk dalam partitur lagu cinta kita. Lagu cinta tentang sekolah, tentang hidup, tentang mati dan kematian lainnya atau tentang apa saja, benda mati yang kehidup-hidupan atau benda hidup yang kemati-matian. Sama saja. Begitu pula lagu cinta tentang Gadis Rasyid.

Outro:
Setelah semua instrumen telah berada dalam satu cangkir, minuman itu masih memerlukan penghias, penyempurna  sekaligus penutup. E minor 7 di pilih untuk menutup kegilaan pada lagu ini. Hanya sekali petik saja, sudah cukup. Semua hewan bertepuk tangan, tertawa, beberapa bersiul.

“Hey kecil, ayo mandi! Sudah hampir magrib lhooo…” Suara perempuan yang sudah kukenal sejak SMA itu mengaburkan pengelihatan hutan dan hewan-hewan yang bernyanyi. Perempuan yang menutup karnaval senja kami adalah Gadis. Ibu dari anak perempuanku. Ia bangkit dari bangku sekolah yang sengaja ku bawa dari bekas sekolahku dulu. Bangku kayu yang sudah tua memang sudah tak berguna untuk sebuah sekolah yang konon kini diberi julukan Sekolah Standar Internasional. Ku bawa pulang saja. Bukan tanpa alasan, ada cinta yang sama tua dengan kedua bangku itu, tertulis malu-malu…

Ini bangku Gadis, namanya Bangku.
Ini bangku Rasyid, namanya Anna.

Ku letakkan gitar akustik di atas Bangku sembari memandangi Gadis yang menuntun anak perempuan kami masuk ke dalam rumah. Anak kecil itu…selalu saja memaksaku mendongeng sambil bernyanyi setiap sore di halaman belakang rumah kami, untuk kemudian menyeret aku dan istriku ke dalam imajinasinya tentang sekumpulan hewan yang suka bernyanyi. Selalu saja berhasil mengingatkan aku dan istriku tentang kisah kami yang aneh tapi nyata. Bagaimana tidak aneh? Setiap hari di dalam kelas, kami sering mengajak kedua bangku ini dalam percakapan kami, seolah keduanya mendengar dan menyimpan cerita itu. Dan tak berubah sampai kami sudah beranak satu. Rumusnya selalu sama: Siapkan dua bangku ini dan makanan ringan, boleh juga di tambah kopi atau teh, maka aku siap mendengarkan segala celotehannya, sebagaimana ia mendengar celotahanku. Meski kadang kami tak mengerti. Sama saja.
Semua cerita kami ada di dalam dua bangku sekolah ini. Sudah pasti terjaga keamanannya. Karena bangku tak perlu kunci kombinasi; kecuali kamu memiliki tingkat khayal luar biasa seperti…ya, seperti anak perempuan kami. Anak kecil yang setiap sore kami beri secangkir musik akustik manis untuk diminumnya bagian demi bagian. Musik manis tak akan membuatnya diabetes. Anak perempuan kami yang centil dan berpipi semerah apel. Sebelum aku akhiri cerita hari ini, izinkan aku untuk memperkenalkan buah hati kami, namanya Gadis Rasyid.
*Syair pertama yang bercetak tebal: The Elephant’s Child (1902) karya Rudyard Kipling
**Syair kedua yang bercetak tebal: Kucandui Mulutmu, Suaramu, Rambutmu karya Pablo Neruda
***Syair ketiga yang bercetak tebal: Buat Gadis Rasyid karya Chairil Anwar
Dibentuk dari Chairil Anwar, Sjuman Djaya, Sigmund Freud, Syd Barrett, James Doughlas Morrison, dan Anak-anak. Dan mimpi saya kemarin malam.
| http://manuskriphujan.blogspot.com/2012/03/secangkir-musik-untuk-gadis-rasyid.html

Kisah Cinta dari Laci Meja




Oleh: @ratihWB


PENGUMUMAN
Diumumkan kepada seluruh siswa-siswi kelas XII IPA, IPS, dan Bahasa, dikarenakan adanya rehab bangunan kelas X, untuk kelas pengayaan siang persiapan UN tidak di laksanakan di ruang khusus pengayaan melainkan di ruang kelas XI IPA, IPS, dan Bahasa, karena kelas khusus pengayaan akan digunakan siswa kelas X untuk keperluan belajar-mengajar sementara. Untuk daftar kelas yang akan digunakan bisa di baca di tabel di bawah. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Kepala Sekolah


***


“Menurutku pengumuman itu biasa-biasa saja, tidak ada yang menarik, kenapa yang lain heboh?” Sambil melihat samping kiri-kanan ku aku geleng-geleng kepala melihat reaksi kebanyakan teman-temanku. “Kakak kelas kita bakal pakai kelas kita Mila! walaupun untuk sementara” terdengar nada antusias dari ucapan Karina. Aku menjawab dengan nada datar “Lalu kenapa?”.
    “Isssshhhh... Gamila kamu ga ngerti sama sekali yah? Itu artinya kakak kelas bakal nyamperin kelas kita, dan duduk selama 3 jam untuk pengayaan.”
    “Wait.. mereka kan pakai kelas kita setelah kelas kita selesai, bukannya kita sudah di rumah leyeh-leyeh dan mereka baru mulai pengayaan bukan?”
    “Iya sih... tapi kan aura mereka yang , aaaahhhhh......” Karin mendesah sambil terkagum-kagum.
    “I see, aura kak Gamal yang aaaahhhh..” sambil meniru nada Karin dan mengejeknya. Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Karin, bukannya kemarin dia bilang mengidolakan kak Ferdi, sekarang dia kagum dengan kak Gamal. Dasar, ABG ababil.
    “Mulai kapan kelas kita dipakai untuk pengayaan?” sambil mematut wajahnya di cermin compact bergambar kelinci yang selalu di bawa di tasnya Karin menjawab “Mulai hari ini Mila, dan kamu tau kan kelas XII itu selalu pulangnya lebih dulu dari kelas X dan XII, pasti mereka bakal menunggu di depan kelas kita deh.”
    “Oh ya? Kelas kita bakal dipakai sama kelas apa?”
    “Kelas XII IPA 1 Mila!!!!” Karin kembali menawab dengan antusias, aaah aku tahu apa kelanjutannya, pasti dia akan menyebutkan siapa kakak kelas yang ganteng dan terpopuler di SMA 1 Denpasar dari kelas tersebut. Aku merespon cepat sebelum Karin nyeroscos, “OK sudah jelas!” dengan cepat aku mengambil agenda ungu bercorak kulit buaya mengkilat kesayanganku, dan mengisinya. Kemarin malam aku lupa untuk mengisi agenda untuk kegiatan selama seminggu ini, aku tidak mau hari ku berantakan karena tidak sesuai dengan jadwal harian yang kubuat. Konsentrasi ku terpecah karena mendengar suara Karin yang mengoceh tentang cowok populer di sekolah, “Hari Rabu aku mesti ngapain ya? Kenapa aku bisa lupa” Sambil berpikir dan mendengarkan cerita Karin, aku cuma mengingat supermaket, “Apa yang mau aku lakukan dengan Supermarket???” Karin sekarang berceloteh tentang Nico IPA 1, “Siapa itu Nico IPA 1, kenapa dia diberi nama IPA 1??, aku harus ngapain hari rabu di supermarket??” aku mulai bingung dan malah menulis Grocery shopping with Nico IPA 1. “Iya aku haru belanja mingguan hari rabu, kenapa bisa bingung gini sih?” aku memegang agenda ku dan melhat kata-kata yang aku tulis di kolom hari rabu, “aaaargh.. Karin karena kamu nyeroscos terus aku salah tulis ni..”, Karin hanya senyum sambil memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.
    Ketika aku ingin memperbaiki kata-kata yang aku tulis di agenda ku, tiba-tiba Miss Putri guru bahasa Inggris ku datang  dan aku cepat-cepat memasukkan agenda ku di laci bangku kelas ku. Hari ini dimulai dengan pelajaran yang aku sukai Bahasa Inggris, semoga hari ini tidak terlalu buruk. Aku sealu me mainset pikiran ku agar #CeritahHariIni tiap hari tidak berakhir buruk dan tidak sesuai keinginan.
***
    #CeritaHariIni Aku cukup lelah, walaupun ini baru jam 12.30 tapi aku berkesimpulan hari ini aku lelah. Bagaimana tidak, hari ini ada 3 mata pelajaran yang perlu praktikum di laboratorium. Belum lagi jam 14.00 aku harus ke toko buku sekaligus cafe milik almarhum ibuku, karena hari ini jadwal ku mengawasi kegiatan pegawai disana. Aku ingin menghubungi kakakku Andre untuk menggantikanku tapi aku tahu hari Senin jadwal kuliahnya pasti padat dan setiap Senin dia pulang di atas jam 7 malam. Aku tidak ingin merepotkan kakakku. Ingin minta tolong adikku Anton hari ini dia ada latihan basket untuk pertandingan persahabatan antar SMP.
    Buru-buru aku membereskan buku-buku dan alat tulisku karena sebentar lagi kelas ku akan dipakai oleh kakak kelas XII IPA 1, tapi ketka aku melihat sekelilingku kenapa semua masih adem ayem di kelas, bukannya sekarang sudah jam pulang?. Aku melihat Karin yang mengobrol dengan Deri yang duduk di bangku belakang kami, “Kok ga pulang? Temen-temen cowok aja udah pada keluar kelas, kok kalian semua masih disini?” Sambil malu-malu Karin cuma bilang “Kita nunggu sampai Kakak kelas di depan kelas kita, baru deh kita buru-buru pulang.” Ekspresiku tidak bisa terbaca mungkin oleh mereka, antara bengong dan heran aku cuma mengatakan, “Hah??.” Menunggu kakak kelas sampai di depan kelas baru pulang merupakan hal konyol yang aku dengar dari Karin dan teman-teman yang lain. Bukannya Karin selalu berbalap-balap ria dengan teman yang lain supaya bisa pulang duluan. Ni kenapa kok tumben-tumbennya seorang Karin bisa duduk ayem selama 15 menit setelah bel pulang. Aku cuma geleng-geleng kepala dan dengan tenang aku melangkahkan kaki keluar dan melihat rombongan kakak kelas XII IPA 1 yang akan menuju kelasku.
***
    Hari ini BookLand tidak terlalu ramai, mungkin masih hari Senin. Kakak dan adikku pasti akan menghindar untuk menjaga Cafe sekaligus toko buku ini ketika hari Sabtu dan Minggu, bukan karena mereka memiliki jadwal Date dengan gebetan mereka, itu dikarenakan Sabtu dan Minggu merupakan hari BookLand penuh dengan pengunjung, dan mereka pasti kelimpungan dengan pembukuan keuangan, dan yang menjadi korban pasti Ayah dan Bibi. Kadang aku kasian dengan mereka dan aku pasti mengalah untuk menjaga BookLand di hari Sabtu dan Minggu.
    BBM dari kakakku mengagetkanku, “Hari Kamis tolong jaga BookLand, aku ga bisa, tukar hari Sabtu yah.. sekalian aku mau traktir temen kelompokku di cafe.” Kalau ga dibarengi sama hangout bareng teman, kakakku pasti ogah jaga hari Sabtu, tapi ya sudah lah, Kamis juga kayanya aku tidak begitu sibuk sekali. Aku cuma membalas singkat “OK”. Saatnya mengubah jadwal agenda ku hari kamis ini.
    Ketika aku mencari agenda kesayanganku, aku mulai panik, kenapa agenda ku tidak ada? Biasanya aku menaruhnya di tas. Aku berpikir keras sampai aku merasakan kedutan di kepalaku seperti Jimmy Neutron ketika dia berpikir keras. “Kapan terakhir aku tulis agenda? Kenapa aku bisa ceroboh sekali sih?” Aku mengeluarkan isi tas ku dan mengeluarkan semuanya. Aku mengingat sekali lagi dimana aku membaca agenda ku dan aku mengingatnya, terakhir kali aku membaca agenda ketika Miss Putri tiba-tiba masuk kelas dan memulai pelajaran. “Oh God! Aku tinggalkan di laci bangku sekolah!” Geramku walaupun dalam hati, semoga agenda ku aman disana dan tidak hilang. Aku tidak ingin kehilangan buku agendaku, karena buku agendaku merupakan kenangan terakhir yang diberikan almarhum ibuku. Ibuku memberikan agenda ini karena melihatku selalu lupa mengerjakan sesuatu.
***
    Aku berlari di koridor menuju kelasku, walaupun ini masih Jam 6 pagi dan sekolah masih terlihat kosong. Dengan nafas masih terengah-engah aku melihat laci bangku sekolahku, dan melihat agenda ku masih utuh disana. Aku menarik nafas lega, ternyata kakak kelas tidak memperhatikan laci bangku sekolah. Aku mencium agenda ku dan memeluknya. Au mengakhiri aksi norakku ini ketika Jimmy masuk kelas dan memanggilku, “Gamila tumben datang pagi banget” Aku menolehnya dan menatapnya bingung, “kamu juga Jim, kenapa kamu datang pagi banget” Jimmy duduk di bangkunya dan mengeluarkan roti dan 1 botol jus jeruk merek kesukaanku. “Rumahku kan jauh banget Gamila, jadi aku harus dateng pagi-pagi biar ga telat, kamu mau roti Mil?” Aku menatap roti yang diawarkan Jimmy, dan aku ingat aku belum sarapan pagi ini, karena kau terburu-buru. Aku menggeleng dan mengucapkan terima kasih.
    Aku membuka agendaku, dan menuju hari Kamis untuk melihat jadwalku dan mengubah jadwalnya. Ketika tatapanku tertuju dengan tulisan aneh di kolom hari Rabu, “Grocery shopping, oke jam berapa?, aku tunggu di depan kelasmu Rabu aku ga ada pengayaan. Nico IPA 1” Aku kaget membaca ini semua, kenapa bisa? Aku melhat tanda panah yang di tulis disitu. “OMG Aku belum mengubah tulisan yang salah di hari Rabu” Tapi kenapa bisa, apa ada kakak kelas yang iseng menuliskannya, atau ini benar Nico IPA 1 yang menuliskannya. Aku membalikan halaman berikutnya dan aku melihat tulisan-tulisan aneh di kolom  hari-hari berikutnya, “hari Jum’at Dating dengan Nico IPA 1, hari Sabtu Jaga BookLand bareng Nico IPA 1, Senin belajar bareng Nico IPA 1” Siapa yang berani menulis ini semua di agenda ku? Antara bingung dan marah aku bertanya dengan Jimmy, “Jim, kamu tau ga kakak kelas siapa yang duduk di bangku ini?” Jimmy menggeleng sambil meminum jus jeruknya.
***
    Aku tidak tahu harus bagaimana, perasaanku campur aduk antara penasaran dan marah dengan orang yang menulis seenaknya di agendaku ini. Apakah ini serius atau cuma akal-akalan kakak kelas yang ingin mengerjai adik kelas. Aku tidak berani menceritakan ini semua dengan Karin bisa-bisa ini menyebar satu sekolah, dan aku bisa malu dibuatnya. Sepertinya aku harus berani bertemu Nico IPA 1 tersebut, “Kalau bukan dia pelakunya bagaimana? Kan aku bisa malu banget menuduh orang tanpa bukti yang jelas” Tapi aku harus berani bertanya dengannya kalau ingin semua ini jelas. Tanpa pikir panajang aku bertanya dengan Karin, “Yang namanya Nico IPA 1 itu yang mana sih Rin?” Karin terlihat heran dengan pertanyaan yang aku berikan kepadanya, dan tiba-tiba Karin menarikku dan menuju lapangan basket.
    Aku bingung dengan yang dilakukan Karin kepadaku, apa hubungannya Lapangan Basket dengan Nico IPA 1, Aku melihat sekumpulan kakak kelas XII yang sedang mengobrol sambil tertawa. Mataku tertuju dengan sosok laki-laki berkacamata berkulit putih yang seharusnya dimiliki oleh perempuan sepertiku, dan tingginya sekitar 178 cm dari postur tubuhnya sepertinya dia atlet basket. Aku tidak memperhatikan wajahnya karena perhatianku tertuju ke buku yang dia pegang karena aku melihat buku itu masih tersegel plastik dan ada stiker BookLand. Aku yakin dia beli di toko bukuku.
    “Kak Nico ini yang namanya Gamila kak” Aku bingung menatap Karin. “Karin cuma berkata, tadi kak Nico nyariin kamu lho Mila, katanya kalau aku ketemu kamu kak Nico minta tolong mau ketemu kamu” Aku cuma melongo mendengar ucapan Karin. Bagaimana penampilanku sekarang? Apakah buruk? Aku lupa mencium aroma mulutku, semoga Nico tidak pingsan menciumnya. Dan tiba-tiba orang yang bernama Nico itu berdiri dan menghampiri ku. “Hai Gamila, besok jadikan Grocery Shoppingnya?” Rasanya diriku ingin terbang dan tidak ingin turun ke bumi lagi mendengar suara itu. Apakah ini mimpi? Atau cuma khayalan ku saja?, aku mencubit kulit lenganku dan aku merasakan sakit, tetapi aku bahagia. Ternyata laci bangku sekolah bisa menjadi tempat romantis untuk memulai suatu hubungan.

| http://wondervintage.blogspot.com/2012/03/kisah-cinta-dari-laci-meja.html

Cinta dalam Rindu



Oleh: @CathPuz


Cinta dan masa SMA sepertinya sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Bisa dipastikan siapaun pernah merasakan. Dan untuk cerita hari ini, saya coba menuliskan sepenggal pengalamantentang cinta pertama.

Umurku lima belas tahun saat itu. Tahun pertama memakai seram putih biru muda. Setidaknya seperti itulah seragamku, bukan putih abu-abu. Bagiku, sejak hari pertama masuk SMA, dia sudah memiliki kesan yang kuat. Tubuhnya tinggi dan putih. Wajahnya tidak bisa dibilang tampan tapi aku suka caranya berbicara, gerak-geriknya, otaknya yang cerdas dan terutama senyumnya.

Selama setengah tahun duduk di kelas satu, tidak sekalipun kami memiliki kesempatan menjalin hubungan lebih dekat. Aku juga tidak tertarik mendekatinya, hanya sebatas menganguminya tidak ada benih-benih cinta. Kurasa dia juga begitu, mengingat aku bukan seorang siswi yang menonjol di kelas.

Tapi takdir punya rencana lain. Karena suatu sebab, tempat duduk yang selama ini ku tempati selama satu cawu, tiba-tiba harus dipindah. Dan bangku baruku berada tepat di depannya. Kebetulan yang aneh menurutku.

Mengingat dekatnya jarak diantara kita, kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Aku coba mendekatinya. Mengajaknya berbicara, beramah-tamah, yang mana semua itu dibalas dengan sikap dingin dan penolakan. Pada intinya dia tidak ingin mendekatkan dirinya denganku. Sakit hati? Jelas lah! Semua bayanganku tentang dirinya runtuh sudah. Dia sama sekali berbeda dengan bayanganku dulu. Cowok yang duduk di belakangku hanya cowok sombong menyebalkan. Pelit. Merasa dirinya paling pintar. Dan yang paling menyebalkan, dia bersikap lebih ramah pada teman sebangkuku! Memang apa salahku? Tapi ya sudahlah. Apa peduliku. Toh perasaanku hanya sebatas mengagumi dan begitu mengetahui orang yang kukagumi tidak sesempurna bayanganku, aku tidka perlu mengakrabkan diriku padanya.

Tapi lagi-lagi takdir bercerita lain. Seiring berjalannya waktu kita mulai dekat. Sifatnya mulai melunak. Dia bukan cowok menyebalkan yang selalu mengusirku ketika aku mengajaknya berbicara, terkadang malah dia duluan yang mengajakku bicara. Kami mulai berbagi dalam banyak hal. Terutama saat ulangan. Terserah apa kata orang tentang mencontek itu dosa. Menurutku mencontek itu seni, butuh intrik dan keahlian tersendiri, bener loh tidak semua orang sanggup melakukannya. Perlahan dia mulai memperlakukanku dengan baik. Malahan kadang aku merasa dia terlalu baik terhadapku dibandingkan teman sekelasku yang lain.

Aku masih ingat, suatu kali ketika aku bertanya padanya tentang soal fisika yang tidak kumengerti. Dia mengijinkanku meminjam bukunya bahkan bersedia mengajariku. Melihat sikapnya yang ramah, dua orang teman sekelasku melakukan hal yang sama. Meminjam bukunya. Mungkin dia berharap akan diperlakukan sama seperti dia memperlakukan dirku. Tapi yang mereka dapat justru penolakan. Jangankan diajari, dia justru menolak meminjamkan bukunya dengan dalih dia sendiri nggak bisa mengerjakan soal itu. Bayangkan bagaimana mungkin hatiku tidak melambung tinggi. Aku merasa cukup puas, tidak bisa dikatakan terlalu puas mengingat dia juga bersikap ramah pada teman sebangkuku.

Setiap hari bertemu, setiap hari bertukar sapa, saat itu aku merasa semuanya normal. Tidak ada yang salah dalam diriku. Dalam artian, aku memang ingin dekat dengannya. Selalu mencarinya ketika sosoknya menghilang dari pandanganku, tapi aku yakin seratus persen, aku tidak sedang jatuh cinta padanya. Aku pernah menyukai seseorang waktu SD dulu. Dan rasanya tidak begini. Tapi aku juga tidak sudi mengatakan cinta SD ku itu cinta pertama. Aku hanya sebatas menyukainya. Dan antara suka dan cinta ada batasan yang sangat besar. Perasaanku hanya sebatas tahap itu.

Aku bodoh, ya aku bodoh. Aku terlalu naif mengakui kalau semua tanda-tanda yang ada selama ini menunjukkan bahwa aku sudah jatuh cinta padanya. Aku senang caranya memperlakukanku. Aku senang caranya menggangguku ketika aku sedang sibuk menyimak pelajaran. Aku suka perhatiannya yang lebih padaku. Tapi semua itu hanya aku artikan sebatas persahabatan. AKu bodoh!

Kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa manusia baru sadar apa yang mereka peroleh setelah kehilangan, itulah yang terjadi padaku. Aku benci diriku sendiri, aku benci kebodohanku dan aku baru menyadari semua itu pada suatu pagi, ketika sosoknya yang tinggi putih tidak berada di bangkunya.

Pagi itu aku melangkah memasuki pintu kelas menuju bangkuku, sama seperti pagi-pagi biasanya. Meletakkan tasku lalu sibuk mengobrol atau menyelesaikan tugas yang malas kukerjakan di rumah. Seharusnya pagi itu sama seperti pagi-pagi biasanya. Tapi aku tahu dalam diriku ada sesuatu yang hilang. Dia tidak duduk di belakangku. Bangkunya kosong. Tidak ada sapaan 'selamat pagi' yang selalu kuterima darinya. Hanya ada bangku kosong.

“Dia sakit?” tanyaku pada siswa cowok yang duduk di depanku dan teman dekatnya.
“Pindak ke Australi to? Bukannya dia sudah bilang sama kamu?” dia malah balik bertanya.
“Katanya baru pindah setelah kenaikan kelas,” bantahku.
Cowok itu tersenyum cuek sambil meletakkan tasnya, “Dia bohong sama kamu. Rencana keberangkatannya sudah ditetapkan sejak awal tahun. Nggak mungkinlah berubah segampang itu. Memangnya kenapa sih?” dan dia tersenyum jahil.
“Tanya aja,” jawabku.

Hatiku serasa teriris. Dia bodohong aku benci itu, hatiku terus berteriak seperti itu. Padahal masih ada waktu sebelum sebelum kenaikan kelas. Aku berharap masih bisa menghabiskan masa-masa indah selama sebulan sebelum dia pergi. Harapan itu tidak tertinggal sediktipun, aku hanya mendapati kekecewaan. Ya aku tahu dia tidak berbohong. Kenanganku mencoba mengigatkanku. Dia sudah mengatakan berulang kali akan pergi sebelum tahun ajaran ini berakhir. Tapi aku yang selalu menahannya hingga tahun ajaran ini berakhir. Aku terus mendesaknya, aku terus memaksanya untuk tetap tinggal. Mungkin karena tidak tega melihat rengekkanku dia berbohong padaku akan tetap tinggal sampai akhir tahun ajaran.

Hari-hari tanpanya ternyata jauh lebih berat dari apa yang aku bayangkan. Kupikir aku bisa melupakannya dalam hitungan hari seperti aku melupakan cowok yang kusukai waktu SD dulu. Kupikir aku akan baik-baik saja dan tidak akan menangis. Kupikir, kupikir dan kupikir. Pada kenyataanya semua yang kupikir tidak pernah terjadi. Aku tidak baik-baik saja. Aku menangis seperti bayi setiap malam. Aku tidak bisa melepaskan mataku dari bangku tempatnya duduk setiap kali kaki ini melangkan masuk ke dalam kelas. Aku tidak bisa menahan kepalaku untuk tidak menoleh ke belakang hanya untuk melihat sosoknya meski tahu dia tidak ada di sana. Aku merindukan tawanya, merindukan caranya memanjakan diriku, merindukan sosoknya yang tinggi menjulang di balik punggungku. Aku merindukannya. Merindukan semua tentang dirinya. Dia benar-benar membuatku kacau. Mungkin bukan dia, lebih tepatnya cintaku padanya. cinta yang baru kusadari setelah kepergiannya

Kalau kata orang first love never die dengan berat hati aku akui itu benar. Bahkan berbulan-bulan setelah kepergiannya, tanpa sadar aku masih suka menatap bangku yang berdiri di ujung kelas tersebut. kebiasaan itu terus berlangsung selama dua tahun. aku tidak pernah bisa melepaskan mataku dari tempat itu setiap kali melewati kelasku dulu.

Dulu dia ada di sana. Menyapaku setiap pagi ketika kaki ini melangkah ke arahnya. Menyapaku di lorong-lorong sekolah. Memperhatikan setiap hal kecil yang kulakukan dan mengomentarinya. Aku suka menoleh ke belakang mencuri-curi kesempatan di tengah jam pelajaran hanya untuk mengobrol dengannya. Aku merindukan semua itu.

Meski pemilik bangku itu bukan dirinya lagi. Tapi kenangan indah saat itu masih tergambar jelas dalam benakku hingga saat ini. Meksi hati ini berubah, meski waktu berlalu dengan cepat. Meski sekarang aku tidak tahu keberadaannya dan meski kerinduan yang dulu kurasakan benar-benar menyiksaku. Aku bersyukur mengenalnya dan cinta pertamaku adalah dia dan saat-saat indah itu mungkin tidak pernah terlupa. Satu yang kusesali, aku tidak pernah mengatakan perasaanku padanya. 

| http://novelku-bluebird.blogspot.com/2012/03/rindu.html

Pion Hitam



Oleh: 
@sylvanawijaya 



#Cerita hari ini bermula dari ketidaksengajaan bertemu seorang sahabat lama. Kurang lebih 15 tahun aku tak pernah bertemu dengannya. Kami pernah menjadi sahabat karib sewaktu di #bangku sekolah dulu. Namanya Alu. Lengkapnya Alundra Sasongko. Seorang murid yang paling bandel di seantero sekolah. Bagaimana tidak, dia pernah nyaris membakar laboratorium kimia kami. Itu baru satu dari sekian kenakalannya. Kala itu, tak ada yang berani berteman dengannya, seluruh sekolah memandangi dia seperti tengah memandangi monster. Tepatnya memandangi kami berdua. Entah kenapa, dari dulu aku selalu merasa Alu melebihi penampilan luarnya. Bukankah penampilan luar seseorang tergantung dari apa yang ingin dia tunjukkan kepadamu?

Dan Alu menunjukkan sisi lain dari dirinya saat memenangkan lomba catur Nasional. Siapa yang menyangka Alu mempunyai strategi dan kepiawaan dalam bermain catur? Teman-teman mulai menjulukinya Pion Hitam. Karena Alu selalu memainkan pion hitam di dalam setiap lomba. Alu tetap Alu. Tak ada yang berubah meski dia berhasil mengharumkan nama sekolah. Dia masih senang membuat onar di kelas, menggangu guru, bahkan diam-diam merokok di perkarangan sekolah. Herannya dia tidak pernah menawariku atau mencoba mempengaruhiku untuk merokok atau membolos.

Seperti pertemuanku dengannya hari ini, dia masih merokok dan aku yang menghirup kepulan asapnya. Wajahnya terlihat serius memandangi pion hitam putih yang berada di depan kami.
“Giliran loe, Jud” panggilnya dengan bibir yang menggantung sepuntung rokok.
Kali ini giliran aku berpikir keras menghadapi pion hitam Alu. Setiap celah telah di kunci pion hitam itu.
“Gua masih nggak nyangka bisa ketemu loe di persidangan...” kata Alu sambil mematikan puntung rokoknya. “Apalagi loe sekarang adalah Jaksa penuntut gua” lanjutnya sambil tertawa getir.
Lima belas tahun yang lalu, kami adalah kawan dan sekarang kami adalah lawan di mata hukum.
Setelah membobol celah, pion putih berhasil memakan pion hitam.
“Giliran kamu”
Pion hitam Alu masih berdiri di tempatnya, hanya dia kehilangan satu lagi jumlah tentaranya.
“Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu sampai nekad menjual narkoba?” tanyaku.
Alu masih menunduk memandangi papan catur, antara sedang berpikir strategi dan berpikir jawaban. Sesaat senyum mengembang di wajahnya.
“Skak Mat” katanya sambil memindahkan sebuah pion hitam ke dalam markas pion putih.
Satu titik dan pion putih tak berkutik.
“Akan sangat tidak adil kalau gua bilang, gua nggak punya pilihan lain. Pilihan itu banyak. Tapi emang ini yang gua pilih. Jualan sabu. Duitnya banyak dan cepat. Bisa untuk melunasi utang mendiang bapak dan membiayai sekolah Dinda” jawabnya enteng.
Adinda, adik perempuan Alu. Dua kali aku bertemu dengannya di persidangan. Selain menua, tak ada yang berubah darinya. Masih terlihat cantik seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Adinda berbanding terbalik dari saudaranya, dia cerdas dan lemah lembut. Satu hal yang mirip dari mereka adalah keberanian mereka.
“Sejak bapak meninggal, ekonomi keluarga gua morat-marit. Gua memutuskan berhenti sekolah. Lagi pula loe kan tahu sendiri gua gimana di sekolah. Percuma juga kalau di lanjutin. Tapi Dinda nggak boleh sampai ninggalin #bangku sekolah. Alhasil gua memutuskan buat pindah dan nyari kerja. Dan kerjaan apa yang bisa gua dapet kalau ijazah SMA aja gua nggak punya?”
Lidahku kelu mendengar jawaban Alu. Sipir penjara datang mengingatkan jam besuk tinggal hitungan menit.
“Permainan kali ini gua yang menang. Kalau boleh tolong loe berikan sedikit diskon masa tahanan” candanya sambil di gandeng oleh seorang sipir.
“Sampai bertemu di pengadilan, Lu” kataku padanya. Yang dijawab dengan seutas senyuman. Aku tahu percakapan hari ini belum tuntas.
| http://sylvanawijaya.blogspot.com/2012/03/pion-hitam.html?spref=tw

Bangku Impian

Oleh: @siskalimanto


Cerita hari ini berkisah mengenai sebuah bangku sekolah. Bangku yang menjadi pusat perhatian ketika dulu pertama kali ku jejakan kaki di kelas XII.1. Kelas ini adalah kelas unggulan dan di kelas unggulan ini terdapat bangku sekolah unggulan. Ya benar, bangku sekolah unggulan. Seluruh murid-murid di sekolah ini menyebutnya bangku impian. Karena semua murid yang pernah menduduki bangku itu selama setahun, bernasib mujur. Mungkin ini hanyalah mitos yang dikarang-karang dari jaman buyutnya kakak kelas, tapi orang-orang seperti Direktur dari Perusahaan Kilangan Minyak No. 1, Bambang Tamtaman, Politikus Muda Termasyur, Indra Irsanya, Pelukis yang Go International seperti Mirsya Arzani, dan tentu saja wali kelas XII.1 yang mendapatkan banyak penghargaan karena penemuan-penemuan benda-benda arkeolognya, Prof. Sania Ahbidab, semuanya pernah menduduki bangku impian itu selama setahun penuh di kelas ini. Prof. Sania Ahbidab atau biasa kami memanggilnya bu San (dipanggil demikian karena dia tidak mau terlihat begitu tua) adalah wakil kepala sekolah yang juga menjabat sebagai wali kelas XII.1. Dia membuat suatu kejutan kepada semua murid kelas XII.1 di hari pertama kami masuk kelas dan itu bermula gara-gara bangku impian, bangku yang terletak paling depan dan berada di urutan ke-3 dari pintu masuk.

“Eh itu bangku impian...”, seru Damian sambil berlari ke arah bangku tersebut dan bertepatan saat dia mendudukinya, James pun juga menduduki bangku itu.
“James, gue udah duluan duduk di bangku ini, lo mending cari bangku yang lain aja”
“Sorry bro, gue yang lebih dulu duduk disini, jadi mending lo aja yang cari bangku lain”
“Lo ngajak ribut sama gue? Jelas-jelas dari tadi tuh gue yang sampai ke sini duluan bukan lo”

Keributan terjadi di kelas. Perkelahian antara Damian dan James menjadi kegiatan pembuka di hari pertama kami memasuki kelas ini.

“Semuanya diam!!!”

Suara keras menggema dari ujung pintu mengheningkan suasana kelas, seorang wanita paruh baya nan cantik jelita berjalan menuju meja guru. Semua murid bersegera duduk ke tempat duduk secara acak dan Damian beserta James duduk di bangku impian.

“Saya tahu rumor itu sudah berkembang cukup lama di sekolah ini, dan saya sangat mengerti apa yang kalian ributkan disini. Saya Prof. Sania Ahbidab, wali kelas XII.1. Kalian bisa memanggil saya bu San. Saya akan membuat suatu kompetisi untuk memperebutkan bangku impian itu dan kompetisi ini berlaku untuk semua murid yang ada di kelas ini”

Semua terdiam. Hening. Sesekali kami saling menatap kepada yang lain sambil berbisik-bisik, mengenai perkataan bu San.

“Siapapun yang memenangkan kompetisi ini selain bisa menduduki bangku itu selama satu tahun pelajaran, juga akan saya berikan nilai tambahan untuk ujian akhir geografi”

‘Apa? Nilai tambahan untuk ujian akhir geografi? Ini kan baru awal tahun pelajaran’, semua membisikan kalimat itu kepada satu sama lain. Hadiah yang sangat menarik. Siapa yang tidak mau mendapatkan nilai tambahan untuk ujian akhir yang pelajarannya dimulai saja belum. Apalagi bisa menduduki bangku impian itu selama satu tahun pelajaran penuh.

“Kompetisinya mudah. Kalian harus menebak teka-teki dari saya dan saya akan memberikan waktu selama seminggu untuk menjawabnya. Jika setelah seminggu tidak ada yang bisa menjawab teka-teki ini dengan benar, maka bangku itu tidak akan ada yang boleh menempatinya selama satu tahun pelajaran.”

Bu San kemudian berjalan menuju papan tulis dan mulai menuliskan sesuatu

“Apakah aku? Ketika benang putih terpisah dari benang hitam, si bodoh datang menghampiri ku dan ketika sang raja mulai mengantuk, si pintar pergi meninggalkan ku. Aku mempunyai pasangan. Tanpa pasangan ku, aku akan sulit dipakai si pintar untuk berkarya dan tanpa aku, pasangan ku tidak akan berarti untuk si bodoh. Aku menjadi yang diperhatikan, maka perhatikanlah aku. Siapapun yang mengenal ku akan ku bantu untuk membuat mimpinya menjadi nyata.”

“Catatlah ini baik-baik. Jika ada yang sudah tahu jawabannya, silakan datang ke ruang guru untuk menemui saya dan ungkapkan jawabannya disana”

Setelah bu San menulis demikian, semua mencatatnya dan mulai memikirkan jawabannya. Tidak hanya Damian, James, dan anak-anak yang lain, aku pun juga ingin menduduki bangku itu. Berhari-hari aku memikirkan jawabannya, namun sangatlah sulit untuk mendapatkan jawabannya. Satu per satu anak-anak di kelas ini sudah mencoba menjawabnya, tapi belum ada satu pun yang menjawabnya dengan benar. Kecuali Damian dan James. Mereka sangat berhati-hati dalam memikirkan jawaban ini. Pernah suatu kali saat pulang sekolah aku melihat James duduk di bangku impian sendirian, memperhatikan bangku itu, kemudian menatap ke depan. Entah mengapa, tiba-tiba dia begitu girang, namun tak lama kemudian wajahnya berubah seperti mendapat kejutan. Aku sangat penasaran dan menghampirinya.

“James”
“Eh Kirana...”, ucapnya terkejut
“Lo kenapa melongo gitu?”
“Oh gak apa-apa. Gue udah tahu jawaban dari teka-teki bu San”
“Oh ya? Apa tuh?”
“Nanti bakal gue jelasin di hadapan semua anak-anak dan bu San”

James tersenyum. Senyumannya seperti seorang filsuf yang mendapatkan filsafat-filsafat baru. Begitu tenang dan dalam. Tidak ada lagi wajah menggebu-gebu pada dirinya seperti sebelum-sebelumnya. Keesokan harinya bu San memanggil Damian dan James untuk menjelaskan jawaban yang mereka dapatkan, tapi bukan dijelaskan di ruang guru melainkan di depan kelas atas permintaan James.

“Oke, dimulai dari Damian. Silakan kamu jelaskan jawaban mu”

Dengan penuh percaya diri Damian memaparkan jawabannya.

“Apakah aku? Ketika benang putih terpisah dari benang hitam, si bodoh datang menghampiri ku dan ketika sang raja mulai mengantuk, si pintar pergi meninggalkan ku. Benang putih terpisah dari benang hitam artinya matahari yang mulai terbit yang menandakan pagi hari, si bodoh datang menghampiri ku artinya orang yang belum punya pengetahuan datang menghampirinya, ketika sang raja mulai mengantuk menandakan yang berkuasa, jika konteksnya masih soal waktu artinya yang menguasai hari yaitu matahari dan mulai mengantuk adalah waktu dimana matahari mulai turun yaitu waktu pertengahan antara siang hari menuju sore hari, si pintar pergi meninggalkan ku artinya yang berpengetahuan pergi meninggalkannya. Jadi satu kalimat ini memperumpamakan murid baru yang bersekolah dan pulang dengan pengetahuan dari sekolah.” 

“Aku mempunyai pasangan. Tanpa pasangan ku, aku akan sulit dipakai si pintar untuk berkarya dan tanpa aku, pasangan ku tidak akan berarti untuk si bodoh. Aku menjadi yang diperhatikan, maka perhatikanlah aku. Siapapun yang mengenal ku akan ku bantu untuk membuat mimpinya menjadi nyata. Dan dari kalimat-kalimat terakhir ini sudah jelas bahwa benda yang dimaksud pasti bangku impian. Bangku impian berpasangan dengan mejanya, tentu tanpa meja dengan hanya bangku saja murid akan kesulitan untuk menulis dan tanpa bangku hanya dengan meja saja tidak akan bermanfaat bagi murid. Bangku impian juga menjadi perhatian bagi siapapun di sekolah ini dan dia bisa mewujudkan impian siapa saja yang dapat mendudukinya selama setahun.”

Penjelesan Damian diakhiri dengan tepuk tangan satu kelas. Sambil melemparkan senyum bangganya, Damian membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada kami seperti seorang dirigen yang memberikan salam terima kasih di akhir pertunjukan.

“Bagus Damian, tapi penjelasan mu kurang tepat. Dan jawaban mu salah”

Seketika setelah bu San menanggapi penjelasannya, semua murid terdiam dan terkejut termasuk Damian.

“Karena jawabannya adalah papan tulis”, sahut James tiba-tiba 

“Aku mempunyai pasangan. Tanpa pasangan ku, aku akan sulit dipakai si pintar untuk berkarya dan tanpa aku, pasangan ku tidak akan berarti untuk si bodoh. Aku menjadi yang diperhatikan, maka perhatikanlah aku. Siapapun yang mengenal ku akan ku bantu untuk membuat mimpinya menjadi nyata. Pasangan tidak selalu harus bangku dan meja, bisa juga papan tulis dengan spidolnya. Hanya dengan papan tulis tanpa spidol murid akan sulit menuliskan jawaban di papan itu jika seorang guru memintanya menuliskan jawabannya, hanya spidol tanpa papan tulis tentu tidak akan ada gunanya bagi murid yang mau mengerti pelajaran. Papan tulis selalu menjadi perhatian di kelas ini, setiap pelajaran pasti menggunakan papan tulis. Jika kalian memahami apa yang ditulis di papan itu pada setiap pelajarannya, kalian pasti bisa menjawab soal-soal dalam ujian, jika ujian kalian menjadi bagus, kalian bisa meraih cita-cita kalian”
“Well done, James. Jawaban mu benar”, ucap bu San dengan tersenyum
“Kamu berhak menempati bangku itu dan mendapatkan nilai tambahan pada ujian akhir geografi”
“Terima kasih, bu. Tapi saya rasa saya gak ingin duduk disana lagi. Saya tadinya berpikir kalau bangku ini lah yang membuat setiap yang mendudukinya bisa meraih cita-citanya. Ternyata saya salah. Siapapun yang duduk disini pasti akan terus menatap papan tulis karena letak bangkunya paling depan dan berada di tengah, sehingga mau gak mau yang selalu diperhatikan pasti papan tulis dan itulah yang membuat siapapun yang duduk disini jadi pintar, karena dia belajar. Jadi yang perlu saya lakukan adalah belajar, bukan mempercayai mitos ini”

Bu San berdiri dan memberikan tepuk tangan untuk James dan bak magnet yang menarik paku-paku berserakan, dengan serentak semua murid ikut-ikutan berdiri bertepuk tangan untuk James. Pada akhirnya bangku ini memang tidak ada yang menempati, tapi sudah menjadi sejarah yang terungkap mengapa bangku ini selalu menjadi impian semua orang.
| http://siska-limanto.blogspot.com/2012/03/bangku-impian.html

Reuni

Oleh:  

Entah siapa yang memulai. Tapi ide ini sungguh jenius. Juga para pelaksana di lapangan. Reuni. Mengumpulkan teman lama. Silaturahmi. Semoga mereka berlimpah pahala.
Aku sengaja datang sebelum waktu yang ditetapkan. Sekolah ini sudah banyak berubah. Bahkan aula tempat berlangsungnya acara adalah gedung baru yang tak terbayang akan berdiri disana. Menyusuri setiap jengkalnya. Mengais kenangan yang masih tersisa di kepala. Juga di hati.
Kakiku berhenti. Senyum mengembang. Senyum malu. Ruang BP. Entah berapa kali aku sudah keluar masuk ruang ini dulu. Aku tak pernah bersahabat dengan bel masuk sekolah. Dengan beberapa orang teman menjadi pelanggan setia ruang ini. Ah…ternyata, hal yang dulu begitu dibenci, bisa juga menjadi kenangan indah.
Aku kembali melangkah. Kali ini menyusuri koridor panjang. Dengan deretan ruang kelas satu di sisi kiri dan taman-taman mungil di sisi kanan. Tak terlalu banyak yang beda. Hanya lantai yang sekarang berganti keramik. Cantik dan bersih. Dengan memori akan anak baru yang malu-malu dan takut. Itu kesan yang tertinggal dari koridor Utara.
Aku sampai di ujung jalan. Tetiba terkikik sendiri. Kantin. Siapa yang tak kenal tempat ini? Tempat idola semua murid di muka bumi. Tempat yang pasti paling berkesan untuk semua alumni. Tempat melepas penat, lapar dan dahaga. Tempat melarikan diri dari guru dan pelajaran terkutuk. Tempat melirik sang pencuri hati. Pun tempat janji temu dengan pujaan jiwa. Hanya tempat ini yang tak akan pernah dibenci oleh siapapun. Aku meninggalkannya dengan bertumpuk kenangan manis dan lucu.
Aku berbelok ke Selatan. Barisan ruangan yang lebih kecil dari ruang kelas ada di sisi Timur, berhadapan dengan lapangan basket. Dulu tak ada. Berurutan, di pintu-pintunya tertulis ‘OSIS’, ‘UKS’, ‘KOPERASI’, dan seterusnya. Ah…, disini sekarang tempatnya. Ruang ekstrakurikuler berkumpul rapi. Andai sudah seperti ini sejak dulu. Sudahlah…
Aku menoleh. Namun kali ini terasa sendu. Ruangan di sudut Tenggara sekolah ini. Ruang kelas tigaku. Perlahan aku menyeberang ke koridornya. Menyentuh dinding luarnya. Terkelupas di sana sini. Jendelanya pun berdebu. Khas saat ditinggal penghuninya libur kenaikan kelas. Pintu kayunya pun tampak kusam. Entah kapan terakhir tersentuh cat dan pelitur.
Kucoba buka. Berhasil. Tak dikunci rupanya. Mengedarkan pandangan. Hanya gambar presiden dan wakilnya yang tak sama. Selebihnya, masih sesuai dengan rekaman otakku.
Berusaha mengingat kembali, siapa saja pemilik bangku-bangku ini. Satu per satu. Dimana mereka sekarang? Apa kabarnya saat ini? Akankah mereka datang reuni nanti? Tak sabar rasanya, ingin memanggil kembali semua kenangan bersama-sama.
Aku menghampiri deret bangku paling Selatan. Lalu berhenti di bangku nomor tiga, di depan meja guru. Ini milikku. Ini bangkuku. Dulu. Masih sama. Tak berubah. Aku tersenyum senang.
Duduk di bangku ini seperti terseret ke masa lalu. Anak sekolah dengan segenap cerita tentang dunianya. Manis, pahit, senang, sedih, hitam, putih. Semuanya. Lengkap.
Aku menoleh ke belakang. Sama seperti yang lain. Bangku kosong. Sekosong hatiku saat melihatnya. Bangku milik seseorang. Orang yang aku kenal baik. Salah satu orang luar biasa yang pernah aku temui.
Itu bangkumu. Teman baik yang dianugerahi kecerdasan luar biasa. Tak satu pun penghuni kelas ini bisa menandingi. Pun seisi sekolah. Teman yang juga murah dan rendah hati. Sempurna. Terlalu sempurna, rasanya.
Aku tersenyum. Banyak kenangan tentangmu, teman. Saat kita masih menuntut ilmu disini. Juga saat kita sudah harus menantang kerasnya hidup. Tapi hidupmu tak sesempurna yang aku kira. Perjuanganmu lebih dari luar biasa. Menghidupi lima adik tanpa seorang ayah. Membayangkan hari-harimu saja aku tak berani.
Tapi Tuhan maha adil, pemurah dan penyayang, teman. Entah apa rencana Beliau atas umat Nya, tapi kamu bisa bertahan dan berhasil. Pun semua adik-adikmu.
“Aku hanya ingin membahagiakan ibu…” begitu katamu, selalu.
Aku ikut senang melihat dan mendengarnya, teman. Sampai tiba-tiba aku kehilangan jejakmu. Tak terlacak. Sama sekali. Sudah kucari kesana dan kemari, tapi tak kunjung ditemukan. Dunia maya dan nyata telah ku telusuri. Kamu seperti lenyap ditelan bumi. Kamu dimana, teman?
Entah angin mana yang telah membawa kabarmu suatu ketika. Tentangmu yang menyerah pada takdir. Kamu, seorang pejuang hidup yang tangguh, harus kalah melawan kanker yang menggerogoti hati. Hatimu. Hati yang sudah bekerja keras untuk banyak nyawa yang lain. Kamu berhenti. Saat itu. Begitu saja.
Aku merasa sendu. Semua tak sama lagi tanpamu, teman. Kalaupun semua berkumpul lagi. Akan ada sudut kosong dalam hatiku. Dalam hati kami. Teman-temanmu. Kamu, orang yang tak tergantikan. Tak terlupakan. Teman berhati dan berotak berlian.
Aku berdiri. Sudah waktunya bergabung dengan yang lain. Dan untuk yang terakhir, kutatap lagi bangkumu. Teman, doa kami tak putus untukmu. Terima kasih sudah berkenan jadi teman kami. Aku yakin, Tuhan memberi tempat terbaik bagimu.

| http://wahyusiswaningrum.wordpress.com/2012/03/27/reuni/

Dunia Kecil



Oleh: @tiaraahere




Sekolah adalah poros dari segala rasa yang hinggap dalam hidupku. Paling tidak untuk saat ini. Aku menyebutnya: Dunia Kecil. Dunia yang selalu berwarna dan melahirkan banyak cerita untuk kita yang berada didalamnya nikmati. Seolah semua cerita sudah terangkai rapi seperti bunga di Toko Bunga, hanya tinggal memberikan pada siapa saja yang datang. Ya, siapa saja yang datang tanpa harus membawa lembaran uang ataupun kepingan berarti.

Dunia Kecil yang siap menyedotmu kedalamnya untuk kau nikmati segala sesuatu yang ada disana. Disana kau hanya diberi waktu seadanya, sesuai yang dirumuskan. Jika saatnya tiba, seperti nafas yang tak selamanya menemani rongga hidungmu, kau akan keluar. Keluar dari dunia kecil yang selalu melahirkan cerita Indah yang nantinya akan kau sebut mereka kenangan karena waktu yang tak bisa kau tahan gerakannya. Dan saat itu telah tiba untukku. Aku berharap semoga tidak ada tambahan waktu untukku untuk lebih lama lagi disini. Memang indah ceritanya, tapi aku benar-benar harus bergegas menyambut dunia yang lainnya yang juga sedang menungguku. Aku tahu itu.

#CeritaHariIni. Simaklah. 

Hari ini semua akan berbeda. Ya, semuanya. Hari ini sudah kami tunggu datangnya. Hari berarti dimana kepergian kami akan ditentukan oleh secarik kertas. Bukan. Bukan kertas itu yang akan mengubah kami, tapi sebuah kata yang tertera didalamnya yang akan mengizinkan kami pergi dari dunia kecil ini. Ya. Sebuah kata yang tersusun rapi oleh lima huruf yang tegak berdiri. Dua huruf berulang dan satu huruf mengakhiri. Kalian pasti tahu maksudku.

Kata itu yang kami semua harapkan tertera didalamnya. Hanya kata itu, tidak perlu ada kata lain yang menemani. Cukup itu saja.
Dunia kecil ini sedang diselimuti hening. Hening yang menyimpan segala cerita masing-masing dari kami. Hening yang penuh doa orang-orang tua juga para pahlawan tanpa tanda jasa. Hening yang dikelilingi harapan atas perjuangan. Hening yang berarti.
Masih ada 10 menit lagi pengumuman akan dilaksanakan. Tapi semua sudah rapi. Lantai aula yang juga kecil hari ini terlihat lebih bersih dari biasanya. Diatasnya, tertata dengan begitu rapi, sebaris dengan warna selaras, bangku-bangku itu, bangku sekolah. kemudian meja panjang didepan. Juga sound system yang akan membantu suara apapun agar terdengar lebih keras dari biasanya. Hari ini memang penting. Hanya terjadi setiap beberapa tahun sekali.

Masih ada 10 menit. Ku ajak kakiku untuk sekedar mengelilingi Dunia Kecil kami. Dalam perjalanan singkat ini, ku lemparkan pandanganku ke segala penjuru, menerobos masuk ke dalam ruangan-ruangan kecil, juga setiap sudut dimana ada kenangan menari disana, bernyanyi mengibur setiap orang yang melihatnya. Pandanganku tiba-tiba terhenti oleh sebuah pandangan menarik, kulihat ada sebuah bangku yang menyendiri dari kerumunan sesamanya. Hanya ada dia sendiri di belakang sini. Perlahan kudekati dirinya, mendudukinya, lalu kemudian memandang langit siang hari, juga dunia kecil ini sepanjang yang terjangkau oleh mataku. Kutarik napasku perlahan dengan hikmat, lalu mengeluarkannya juga perlahan. Aroma dunia ini, aku ingin menghirupnya sebelum akhirnya benar-benar pergi. Sudah waktunya. Aku berjalan kembali ke aula tempat semua bersarang memanjatkan doa didalam hati.

Kali ini aula lebih hening dari yang tadi. Lalu akhirnya, kepala sekolah selaku presiden dari Dunia kecil ini memulai pembicaraan, kemudian juga guru disebelahnya, lalu yang disebelahnya lagi. Tak ada yang membuat gaduh kali ini, tak seorangpun dari kami. Tak seperti biasanya. Ya, memang hari ini berbeda.

Acara talk-show sudah selesai. Kini tiba pada saat yang sangat dinanti. Dibagikannya orang tua dari kami sebuah amplop yang didalamnya bersembunyi secarik kertas kecil yang diatasnya tertera sebuah kata yang paling berarti dari kata apapun saat ini.

“Dalam hitungan ketiga, Bukalah!”

Kepala sekolah memimpin, dalam hitungan ketiga, kami membuka amplop itu, membuka perlahan karena sebenarnya rasa takut itu tetap bersemayam disamping rasa bahagia kami. Berdampingan.

“LULUS”

Kurasakan pelukan hangat dari ibuku, benar-benar hangat, tangisnya benar-benar melumpuhkanku. Aku pun hanya bisa menangis dalam dekapnya. Kulihat hal yang sama terjadi di aula ini. Segala bentuk ekspresi haru ada disini. Aku tidak bisa menjelaskan lagi. Kucari semua temanku, dan berpelukanlah kami. Dalam tangis bahagia. Kucari seluruh guru yang mengajariku selama tiga tahun ini, ku peluk mereka, dalam haru tak terjelaskan. Aula yang tadinya hening tanpa hingar itu, kini gaduh oleh suara-suara bahagia dari semua yang berada disini.

Semua sedang sibuk melukis seragamnya masing-masing. Kami semua. Setelah mendapati segala bentuk coretan di seragamku. Ku ajak kembali kakiku berjalan menyusuri dunia kecil ini. Kali ini dengan tatapan lebih bahagia dari yang tadi. Aku akan merindukan segalanya. Lantai ini, halaman ini, kelas ini, seragam ini, orang-orang didalam sini, semua yang terjadi disini, kenangan ini. Benar-benar menakjubkan. 3 tahun yang kupikir akan sangat lama itu kini terasa sangat singkat. Aku baru saja menerima izin untuk segera meninggalkan dunia kecil ini. Masih berjalan menyusurinya, kudapati bangku itu lagi. Masih berada disitu. Belum berpindah sedikitpun.


“Kamu benar-benar sangat berjasa.”

Ucapku pada bangku itu. Aku tahu ia mendengar, hanya tidak bisa untuk berbicara. Oh tidak. Ia bisa berbicara, hanya saja aku yang tak akan mendengarnya apalagi untuk paham.
Sebenarnya ada yang lebih berjasa dari ini, tapi aku selalu menghargai Benda mati yang satu ini. Ia sungguh sangat penolong dalam segala hal, dengan ikhlas dia terima saja diduduki kami semua, ditimpah oleh organ tubuh kami yang... yang... ah sudahlah. Ha ha ha. Bayangkan jika tidak ada dia di dalam dunia kecil ini, aku bisa apa? Penduduk di dalam dunia ini bisa apa? Tentu kami tidak bisa duduk dilantai yang bahkan bukan lantai marmer itu. Meski tua tubuhnya, ia tetap bertahan menahan beban berat tubuh kami yang jika saat duduk bertumpu pada satu yang menempel padanya. Tidak peduli ada berapa nakal atau hanya iseng saja murid-murid itu mencorat-coret tubuhnya, ia tetap selalu menjadi penopang kami. Selalu menjadi tempat yang selalu membawa “Ah-Akhirnya” saat kami lelah selesai bekerja bakti atau sekedar berjalan-jalan mengelilingi sekolah. Ia selalu menjadi tempat tujuan. Meski kadang ia ditendang, diinjak dengan telapak sepatu kotor penuh debu, ia selalu ada disana. Belum lagi kalau ada murid yang tak tahu sopan, buang angin diam-diam. Hanya dia, bangku itu, juga Tuhan yang tahu. Tidak peduli apa yang menimpanya setiap hari. Ia tetap seperti itu setipa hari. Patuh. Meski kutahu ia tak benar-benar mati. Aku percaya mereka berbicara. Dengan bahasa yang sudah pasti takan pernah kami dengar atau bahkan kami mengerti.

“Aku akan merindukanmu. Sebab diluar sana tidak akan ada yang sepertimu. Bangku Sekolah.”
| http://pintukecil.blogspot.com/2012/03/dunia-kecil.html?spref=tw

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan