Showing posts with label interview. Show all posts
Showing posts with label interview. Show all posts

Monday, May 20, 2013

Interview alumni Plotpoint: Novena Adelweis Gisela

Halo guys!

Kita share cerita lagi yuk dari alumni workshop Plotpoint. :D

Kali ini Novena Adelweis Gisela yang akan berbagi cerita tentang pengalamannya mengikuti kelas skenario. Novena ini merupakan alumni kelas skenario untuk periode September-November 2012. 




Kenapa sih kamu tertarik ikutan kelas menulis skenario?
Saya banyak meluangkan waktu untuk nonton film, membaca, sekaligus menulis. Kalo untuk menulis artikel dan cerita non fiksi, buku panduannya mudah ditemukan di toko buku. Banyak. Tapi kalo soal penulisan skenario, bisa dibilang bukunya malah jarang. Maka dari itu, saya memutuskan untuk ikut Kursus Penulisan Skenario agar lebih paham teknik dasarnya. 


Sebelum kamu ikut kelas mas Aris, gimana kamu melihat skenario dan film?
Buat saya, menonton film itu hanya untuk hiburan. Sesekali merhatiin skenario hanya ketika tokoh utama ngomong sesuatu yang ‘dalem’. Iya. Buat nge-tweet quotations. #ngaku #jujur


Ada yang berubah setelah ikut kelasnya mas Aris? Ceritain dong...
Perubahan yang paling terasa itu … Menikmati sebuah film rasanya nggak sama lagi! Entah kenapa mudah ditebak semua. Hahahahahaha. Justru dengan begitu, kita jadi lebih selektif memilih tontonan. 

Selain itu, saya jadi lebih sering nonton film Indonesia yang bermutu sebagai referensi belajar. Ternyata banyak juga yang bagus. 


Emang apa aja sih yang diajarin mas aris?
Mas Salman Aristo mengajarkan kita untuk memahami fiksi terlebih dulu, sebelum belajar menulis skenario film dari awal. Asyiknya lagi, Mas Aris juga suka berbagi tips and trick, daftar film yang bisa dijadiin referensi buat bikin film low budget, penokohan yang quirky, dan dokumenter. Jadi bisa dipastiin peserta bakalan bisa langsung praktek setelah lulus dari kelas ini.


Ada kejadian menarik selama ikut kelas mas Aris?
Ada! Jadwal kelas kami bersamaan dengan pemutaran film Jakarta Hati di bioskop. Alhasil, di kelas jadi ngebahas film tersebut. Mulai dari teknik pengambilan gambar, ide cerita, pendanaan, sampai cinta lokasi pemainnya! Dari kami berlima (saya, Memes, Benny, Daniel, dan Iman), hanya tinggal saya, Benny, dan Iman yang belum nonton. Seusai kelas, dibela-belain nonton bareng. Seru!


Selanjutnya, apa rencana kamu selepas mengikuti kelas ini?
Resolusi saya yang belum tercapai sejak tahun 2011 adalah menjadi salah satu penulis skenario film pendek di L.A Lights Indie Movie. Rencananya seminggu lagi saya akan mengikuti ‘tantangan’. Doakan ya. ☺

Setelahnya, saya akan mencoba menulis skenario FTV terlebih dahulu sebelum menulis untuk film layar lebar dan dokumenter.


Apa kegiatan kamu sekarang?
Sembari menunggu kepastian bekerja di perusahaan idaman, saya menulis artikel dan cerita pendek untuk media.


Sekian hasil interview dengan Novena. Sampai jumpa di interview alumni berikutnya! :D

Untuk kalian yang berminat mengikuti kelas Penulisan Skenario Dasar sama seperti Novena, kalian bisa menghubungi kontak di bawah ini, ya. ;) 

021 34220888/ 021 75902920 
daftar@tulissekarang.com
 
@_PlotPoint
 
YM: tulissekarang
 
www.plotpointkreatif.com

Friday, May 10, 2013

Ngobrol bareng penulis: Veronica Latifiane


Halo, 

Apa kalian sudah membaca novel CRUSH?



#NovelCrush


Novel CRUSH ini ditulis oleh penulis muda berbakat nih, yang bernama Veronica Latifiane. Pada suatu kesempatan, kita sharing dengan Vero mengenai dirinya dalam dunia penulisan, nah berikut hasil sharing dan bincang – bincang kami.


Hai Vero, mau tanya ya, kira-kira sudah berapa lama menulis?
Hhmm, berapa lama ya, sejak SD aku udah suka nulis buku harian. Tapi, yang benar-benar mulai menulis sesuatu dalam bentuk cerita itu mulai dari SMP, udah 9 tahun lebih kalo nggak salah hitung. Hehe…


Kenapa suka menulis?
Selain karena suka curhat di buku harian, pertama kali aku jadi suka menulis itu karena keseringan baca cerpen-cerpen tulisan temenku, ditambah aku suka mengkhayal. Jadi, daripada semua itu cuma ada di dalam pikiranku aja lebih baik aku tuangkan dalam bentuk tulisan.


Novel Crush, merupakan tulisan novel Vero yang ke berapa?
Crush naskah (bentuk novel) yang kedua, yang selesai aku tulis. Yang bersarang di komputer dan nggak terselesaikan aku nggak masukin dalam hitungan


Berapa lama sih ka penulisan novel Crush sampai pada akhirnya bisa diterbitkan?
Perjalanan CRUSH ini cukup panjaaang. Nulisnya sendiri draft awal banget itu aku selesaikan sekitar semester 3 atau semester 4 waktu aku kuliah. Nulisnya sekitar 9 bulan kalo nggak salah. Terus tahun 2011 waktu PlotPoint lagi mengadakan seminar penulisan dan pencarian penulis di salah satu Mal di Jakarta aku serahkan naskah CRUSH saat itu. Dua hari kemudian aku dihubungin untuk mengirimkan sinopsis naskah dan sekitar tiga bulan kemudian aku dapet kabar kalo naskahku diterima. Senangnya bukan main saat itu. Setelah itu aku meeting sama Mbak Gina diskusi naskahku yang masih kurang sana-sini. Dari hasil meeting itu aku ternyata harus mulai membangun cerita Jovan dan Kezya ini dari nol karena pergantian sudut pandang dari orang pertama jadi orang ketiga. Saat itu deadline yang aku terima sekitar 1.5 bulan dan itu berbarengan dengan pengerjaan skripsiku yang lagi mandeg di teori. Saat dapat tantangan begitu aku bertekad dua-duanya harus aku selesaikan. Saat itu aku berharap keduanya bisa diselesaikan secara bersamaan tapi ternyata skripsiku duluan yang rampung sementara CRUSH masih harus dipoles sana-sini. Perjalanan CRUSH ini bener-bener panjang. Kalo dihitung-hitung dari aku dapet kabar kalo CRUSH diterima sampe CRUSH akhirnya muncul di toko buku itu sekitar satu tahun. Lama ya?  Tapi itu namanya proses dan aku menikmatinya. Dan aku percaya semua itu nggak sia-sia karena aku yakin setiap naskah punya jodohnya masing-masing dan PlotPoint adalah jodoh CRUSH yang paling tepat.

Veronica Latifiane



Dapat inspirasi dari mana awalnya waktu menulis Crush?
Ada beberapa dari pengalaman dulu waktu sekolah dan kebiasaan mengkhayalku yang kadang nggak tahu tempat. Contohnya salah satu adegan dalam novel CRUSH  yang pas Jovan terpaksa naik kereta. Adegan itu terinspirasi karena aku kuliah setiap hari naik kereta, pernah kebayang aja, gimana ya kalo suatu hari ada seorang artis yang tiba-tiba muncul di tengah kereta yang padat sementara semua orang mengenali wajahnya pasti bakal heboh keadaannya. Nah, itu salah satu khayalanku yang aku selipin dalam salah satu adegan di naskahku. Kalo soal karakter yang muncul di CRUSH kenapa sosok Jovan muncul, alasannya karena aku pengin menghadirkan idola baru versi imajinasiku. Hehehe…




Lalu, tokoh- tokoh yang ada di dalam novel crush tersebut, seperti apa sih dalam imajinasi Vero? Mungkin bisa dikasih tau bayangan orang dalam dunia nyatanya
Haha ini pertanyaannya bisa nggak selesai kalo aku jabarin di sini. Oke aku akan jawab untuk Jovan dan Kezya. Jovan itu dalam bayanganku cowok ganteng setengah bule, kalo dalam bayanganku sosok Jovan secara fisik itu perpaduan antara ‘Si Kembar’ Chandrawinata yang punya model rambut pendek ala Taylor Lautner, dan mata Hazel Green seindah Shane Westlife. Kalo Kezya sendiri secara fisik dia nggak cantik luar biasa tapi wajahnya lebih kelihatan ayu dan cerdas. Dan sosok Kezya ini dalam imajinasiku perpaduan antara temenku waktu SMA, kuliah, dan sedikit sosok adik-adikku. Ini sosok Jovan dan Kezya yang terbentuk dalam imajinasiku. Setiap pembaca CRUSH pasti berbeda-beda dan punya Jovan & Kezya mereka masing-masing. 



Lalu, dalam proses penulisan crush, sempat terjadi stagnansi nggak? Pada saat kapan? Lalu solusi apa yang Vero lakukan?
Hhhmmm, stagnansi sih pasti banget ini terjadi dalam menulis. Buntu, nggak tahu harus nulis apalagi. Ya, biasanya kalo udah begini aku jalan-jalan atau nonton film, baca novel, atau nonton drama korea. Hehehe...



Kalau boleh tahu, siapa nih pembaca draft novel crush yang pertama kali? 
Yang baca draft pertama CRUSH itu adik-adikku. Setelah mereka baca, salah satu dari mereka langsung bilang “Kakak, kenalin aku sama Jovan.” Reaksi adikku ini yang bikin aku pede untuk masukin naskah CRUSH ke penerbit.



Lalu, bagaimana tanggapan orang tua, keluarga, sahabat dan teman sekitar Vero pada saat novel crush itu terbit?
Mereka seneng banget pastinya. Apalagi pas ngelihat Mamaku baca CRUSH sampe selesai, padahal Mamaku jarang banget baca buku, apalagi novel. Adikku yang kembar juga seneng pastinya karena mereka tau kalau naskahku terbit mereka pasti kecipratan. Hehehe… Dapet mention dan twitpic tentang Novel CRUSH dari temen-temen SD, SMP, SMA, Kuliah, dan temenku lainnya, itu sudah cukup menunjukkan dukungan mereka atas novel perdanaku ini. 



Terakhir, kita bisa dibagi sedikit tips – tips dalam penulisan ngga nih?
Tips menulis dari aku, sayangi naskah yang ingin kamu tulis beserta elemen-elemen di dalamnya misalnya karakter yang ada di dalam cerita. Anggap mereka seolah hidup dan sayangi mereka seperti orang tua sayang sama anak-anaknya. Satu lagi, jadilah pemerhati yang baik karena di sekitar kita banyak banget yang bisa dijadiin bahan cerita bahkan dengan mendengarkan curhatan temen-temen kita pun kadang bisa jadi satu tulisan loh. :)


Terima kasih banyak Vero atas sharing-nya. Ditunggu karya berikutnya ;)

Thursday, May 9, 2013

Interview Alumni PlotPoint : Daniel Salim


Guys, setelah sebelumnya kita bincang-bincang dengan Sefin, salah satu alumni kelas novel Plotpoint, sekarang kita bincang-bincang yuk dengan Daniel Salim, alumni kelas skenario Plotpoint periode Sepetmber 2012. 


 

Kenapa sih kamu tertarik ikutan kelas menulis skenario?
Karena saya tertarik dalam bidang film. Sebelum orang-orang datang ke bioskop untuk menikmati sebuah film, sebelum seorang actor memerankan perannya, sebelum kamera, lighting, visual effect audio, latar, lokasi bermain di tempatnya,semua itu dimulai dari sebuah ide cerita skenario yang baik.

Sebelum kamu ikut kelas mas Aris, gimana kamu melihat skenario dan film?
Skenario adalah sebuah cerita, plot, alur yang keren, menyentuh dan menghibur manusia.

Ada yang berubah setelah ikut kelasnya mas Aris? Ceritain dong...
pemikiranku langsung berubah saat mengikuti kelas mas Aris.  Apa yang aku dapat sesimple skenario itu sebenarnya cerita tentang manusia. Sebelum semua plot dan alur itu dibuat, kita harus memahami apa itu manusia. Memahami mengapa manusia berubah, mengapa manusia belajar. Sehingga memahami karakter adalah yang terpenting dalam menyusun skenario, bukan membuat plot yang keren atau menghibur saja.

Emang apa aja sih yang diajarin mas aris?
Selain pengembangan character, yang menarik adalah bagaimana kita diajar untuk masuk ke dalam sebuah industry penulisan skenario film. Percuma jika kita hanya mampu menulis, namun tidak tahu bagaimana kebiasaan dan prosesnya dalam industry penulisan skenario film. Mas Aris mengajarkan bagaimana kita menulis skenario sebagai sebuah produk, namun juga tidak menghilangkan nilai original penulisnya.

Ada kejadian menarik selama ikut kelas mas Aris?
Secara spesifik tidak ada. Namun dengan jumlah peserta kelas yang kecil membuat hubungan antar peserta menjadi dekat. Sampai sekarang kita masih aktif berkomunikasi.

Selanjutnya, apa rencana kamu selepas mengikuti kelas ini?
Tentu jangka panjangnya suatu saat bisa menulis skenario film layar lebar sendiri. Dan setidaknya langkah pertamaku masuk PlotPoint membuat aku sekarang bergabung sebagai salah satu penulis di Wahana Penulis.

Apa kegiatan kamu sekarang?
Produser dalam sebuah program rohani di SCTV, Assisten sutradara dan penulis cerita dalam konsep clip dan juga wedding video. Selain itu juga mulai menjadi penulis di Wahana Penulis.


Sampai jumpa di interview alumni kelas Plotpoint selanjutnya! :D

Berminat mengikuti jejak Daniel? Hubungi kontak di bawah ini, ya. ;)


021 34220888/ 021 75902920
daftar@tulissekarang.com
@_PlotPoint
YM: tulissekarang
www.plotpointkreatif.com

Wednesday, April 24, 2013

Interview Alumni Kelas Novel PlotPoint : Josefine Putri



Halo!

Kalian sudah tahu kan kalo PlotPoint secara rutin mengadakan workshop penulisan novel bersama Clara Ng? Nah, kali ini kita bincang-bincang yuk dengan salah satu alumni Kelas Novel Plotpoint periode Maret 2012 yang melalui program Clara Ng Book Project mengeluarkan buku #3BurungKecil bersama 2 orang rekannya di workshop ini. Yuk simak bincang-bincang kami dengan Josefine Yaputri atau yang akrab disapa Sefin. 



Kenapa sih kamu tertarik ikutan kelas menulis novel?
Karena aku memang sudah mencintai menulis sejak kecil, tapi untuk menerbitkan novel sendiri belum kesampaian dan harapannya dengan ikutan kelas menulis novel aku menjadi mengerti teknik menulis novel yang baik.

Sebelum kamu ikut kelas mba Clara, gimana kamu melihat novel dan film?
Aku nggak secara spesifik memilih bacaan atau tontonan untukku pribadi, tapi sejak ikut kelas menulis novel aku menjadi lebih aware bahwa bacaan dan tontonan mempengaruhi gaya tulisan dan bahasaku. Jadi aku sekarang lebih pilih-pilih bacaan dan tontonan supaya tulisanku juga berbobot.

Ada yang berubah setelah ikut kelasnya mba Clara? Ceritain dong...
Lebih gampang untuk mulai menulis karena sebelumnya aku selalu mencari-cari alasan untuk tidak menulis karena takut hasilnya jelek, tapi sekarang aku lebih berani untuk menulis dan let it flow aja. Begitu selesai, baru aku baca ulang dan revisi. Aku menjadi lebih teliti dalam menulis, sih. Nggak sekadar impulsif karena lagi kepingin menulis saja. Aku juga jadi lebih rajin ikutan lomba-lomba menulis sebagai sarana latihan menulis.

Novel "Tiga Burung Kecil"
ditulis oleh Sefiin bersama Mikha & Tj
Alumni kelas novel dasar bersama Clara Ng

Emang apa aja sih yang diajarin mba Clara?
Deskripsi karakter, plot, setting, juga konsistensi. Aku suka bagian setting karena membuatku lebih peka terhadap sekitar dan benar-benar menggunakan kelima panca indra.

Ada kejadian menarik selama ikut kelas mba Clara?
Ketemu orang-orang yang berasal dari lingkar pertemanan yang sama. Ketemu orang-orang yang memiliki passion menulis yang sama meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda.

Selanjutnya, apa rencana kamu selepas mengikuti kelas ini?
Aku baru mau memulai nulis novel lagi, terutama dari draft kelas kemarin. Karena sebelumnya masih nulis untuk proyek novel bareng Plotpoint (Clara Ng Book Project), kan... Doain ya supaya aku bisa menyelesaikan draft novelku tahun ini.

Apa kegiatan kamu sekarang?
Yang berhubungan dengan dunia penulisan, aku sekarang lebih aktif nulis blog. Selain itu aku juga menjadi Head of Editors di divisi Publication Merry Riana Campus Ambassador. Semester ini aku juga mengikuti kelas penulisan kreatif prosa supaya bisa belajar lebih banyak lagi tentang dunia penulisan. Kalau kegiatan lain sih aku kuliah dan masih berkampanye #SaveSharks bareng Riyanni Djangkaru. :)


Sekian, guys, bincang-bincang dengan Sefin. Nantikan obrolan dengan alumni kelas Plotpoint yang lain yah! :)

Minat mengikuti jejak Sefin untuk menulis novel? Silakan hubungi kontak dibawah ini, ya. ;)

021 34220888/ 021 75902920 
daftar@tulissekarang.com
 
@_PlotPoint
 
YM: tulissekarang
 
www.plotpointkreatif.com



Friday, February 1, 2013

Ngobrol bareng Penulis: Armadina

Ini dia cewek energik yang suka wara-wiri panggung fashion. Lihat wawancara kami dengan Armadina, penulis novel ABG di Balik Runway :)


Mulai kapan kamu tertarik dengan dunia menulis?

Dari kecil aku udah nulis. Waktu masih batita unyu-unyu aku udah sering corat-coret ini itu hahahaaa... Corat-coretnya bukan bikin gambar kayak anak kecil lainnya, aku dulu lebih suka nulis-nulisin nama aku di kertas pakai huruf gede-gede, Umi –panggilanku untuk Mama- yang ajarin. Kalau untuk nulis yang “beneran” itu waktu aku SD, sekitar kelas empat SD deh kayaknya. Awalnya aku suka nulis-nulis puisi karena dari SD aku sudah suka puisi. Hmmm…mungkin pengaruh dari Umi ku juga sih, Umi itu suka banget puisi, beliau yang mengenalkan aku dengan Eka Budianta, Rendra, Sutardji, Subagio dll. Tapi “cinta pertama” aku sih tetep Chairil Anwar hahahaaa.

Apa yang menjadi inspirasi kamu ketika menulis?

Inspirasi ya? Banyak! hahahaaa. Macem-macem banget yang jadi inspirasi aku, tapi kebanyakan itu apa yang ada disekitar aku dan apa yang aku suka. Aku sering juga punya muse saat menulis, biasanya muse aku adalah orang yang bagi aku sangat menarik dan punya sesuatu yang bikin aku penasaran. Tapi muse aku cuma ada saat aku nulis cerita fiksi, kalau aku lagi nulis berita, artikel, atau nonfiksi sih nggak ada muse. Musenya lebih ke apa yang ada disekitar aku aja.


Di ABG di Balik Runway, apa dari kecil kamu bercita-cita jd wartawan fashion?

Wartawan fashion? Enggak! hahahaaa. Jangankan pakai embel-embel fesyen, punya cita-cita jadi wartawan aja enggak. Aku nggak kepikiran sama sekali, buat aku, fashion itu terlalu jauh dari keseharian aku. Dulu, jangankan kepengen ada di dunia fashion  ngikutin aja enggak, tahu juga cuma seadanya dari TV yang kadang suka kasih liputan si desainer A atau si desainer B yang abis bikin peragaan busana di negara ini atau negara itu. Aku hanya sebatas itu aja taunya, selebihnya enggak. Aku juga bukan pembaca majalah atau tipe yang rajin browsing di dunia maya. Jadi, waktu awal nyemplung di fashion bener-bener masih buta banget hahahaaa. Waktu masih kecil nan unyu, cita-cita aku itu macem-macem yang paling aku inget, aku pengen jadi dokter spesialis Patologi Anatomi, tapi aku dodol banget masalah rumus dan hitung-hitungan hahahaaa. Terus yang terakhir, dan yang bertahan paling lama bahkan setelah aku jadi wartawan itu, aku pengen jadi sutradara film.

Ceritain dong pengalamanmu di ABG di Balik Runway

Pengalaman banyak banget! Kalau aku certain semua bisa-bisa jadi ada ABG di Balik Runway jilid 2 hahahaaa. Intinya sih, pengalaman aku banyak banget, dari mulai yang seneng sampe yang sedih. Seneng karena punya banyak temen baru dan sedih karena beberapa orang sering mandang sebelah mata. Tapi itu wajar aja sih, aku kan masih anak bawang juga di fashion hahahaaa.

Pengalaman apa yang paling seru ketika kamu jadi wartawan fashion?

Dikandangin di tent JFW seminggu full! Hahahahaaa. Itu kocak, seru, ajaib, dan nggak kebayang banget deh pokoknya. Waktu JFW 2011/2012 aku masih kelas XI SMA, dan moment JFW bertepatan dengan libur Sea Games selama satu minggu, dan aku berkesimpulan bahwa JFW tahun itu sangat amat berjodoh sama aku hahahaaa. Gila, nggak kebayang banget bisa pas gitu waktunya, aku libur seminggu dan seminggu itu JFW! Seru! Saat itu aku bener-bener seminggu full di JFW, aku sampe ngekost, dan untuk cerita lengkapnya bisa baca di buku aku hahahaaa. Tapi intinya banyak kejadian yang nggak pernah aku bayangin. Percaya nggak, selama beberapa hari aku sampe jadi tukang delivery sarapan para model yang bosen sama makanannya hahahaaa. Kocak! Ada yang nitip bubur ayam, nasi uduk, sampe goreng-gorengan. Terus gara-gara itu juga aku jadi bisa liat prosesi GR(Gladi Resik) fashion show di JFW. Aku pernah satu hari disana dari pagi abis anterin sarapan sampe jam 2 siang cuma pakai celana pendek, sandal jepit, kaos tidur sama jaket! Hahahaaaa parah banget ya? Ke event fashion seprestisius JFW cuma ngegembel kayak gitu, tapi aku cuek aja sih LOL.

Ada masukan untuk temen2 yang sedang menulis?

Just write what you want to write, what you love and like to write. Tulis aja dulu apa yang kamu pengen, masalah nanti-nantinya gimana itu belakangan, karena buat aku salah satu point utama untuk menulis adalah nulis. Kalau kamu hanya “Aku pengen jadi penulis, aku pengen nulis yang kayak gini, yang kayak gitu” tapi kamu nggak ngelakuin apa-apa ya sama aja bohong. Terus kalau ada pertanyaan “Tapi nanti tulisannya buat apa Kakak? Masa nulis doang?”, untuk permulaan kamu bisa posting di blog, itu yang paling simple. Kamu nggak usah mikirin dulu akan ada berapa banyak yang baca, karena percaya deh kata-kata dari para penulis keren yang bilang, “Tulisan yang bagus akan menemukan jalan sendiri ke pembaca”. Rajin-rajin nulis dan ngumpulin contoh tulisan kamu juga penting banget kalau sampai suatu saat nanti kamu mau ngelamar kerjaan dan diminta kasih portfolio. Oiya, jangan lupa belajar terus, latihan terus, banyak baca, dan tentunya banyak nulis.






Mau tau cerita lengkap Armadina wara-wiri di belakang panggung fashion? Simak ceritanya di buku ABG DI BALIK RUNWAY yang sudah bisa kamu dapatkan di toko-toko buku favorit kamu ;)


Wednesday, December 19, 2012

Ngobrol bareng penulis: Dwitasari

Halo!

Ngobrol bareng penulis kali ini, kita ketemu sama Dwitasari, si penulis yang usianya masih sangat muda dan baru saja merilis buku Raksasa Dari Jogja yang kemudian menjadi buku bestseller. 

Apa sih yang mendorong Dwita menulis novel dan bagaimana prosesnya hingga ia bisa menyelesaikan novel pertamanya sebelum lulus SMA? Baca yuk interviewnya di sini:


Gimana sih awalnya kamu mulai menulis?
Awal mulai menulis, memang sejak SD mulai suka menulis puisi-puisi yang bertemakan anak-anak, belum cinta-cintaan. :p Berlanjut di SMP malah lebih senang mendeklamasikan dan membacakan puisi. Sewaktu SMA, menulis sudah menjadi aktivitas sehari-hari. Setelah membaca banyak buku, keinginan untuk menulis semakin kuat.


Apa yang menjadi inspirasi kamu ketika menulis?
Segala hal bisa dijadikan inspirasi, bahkan hal-hal sederhana yang diabaikan dan disepelekan. Inspirasi hadir dari cara kita memandang sesuatu yang terjadi dari sudut pandang yang tak biasa dan berbeda.


Gimana dengan Raksasa Dari Jogja? Apa yang membuat kamu memutuskan untuk menulis cerita ini?
Inspirasi menulis “Raksasa Dari Jogja” sebenarnya sudah muncul sejak awal kelas 12 SMA, namun karena persiapan UN yang cukup padat; tulisan ini terhenti hanya sampai halaman 

Ketika diberi kesempatan mengikuti kelas novel dasar Plotpoint, semangat menyelesaikan Raksasa Dari Jogja semakin terpacu. Saya memutuskan menulis cerita ini karena beranggapan bahwa tak banyak novel yang mengangkat kearifan lokal dari suatu wilayah atau kota.

Kenapa memilih setting Jogja?
Saya cukup mengenal Jogja. Dengan menulis tentang Jogja, saya berharap rasa cinta saya terhadap Jogja bisa juga dirasakan oleh orang lain yang membaca tulisan saya.


Ceritain dong proses kamu menulis novel ini? Apa proses yang paling susah buat kamu lalui?
Menikmati proses tentu menyenangkan, apalagi jika hasilnya bisa membuahkan senyum di bibir setiap orang yang membaca tulisan kita. “Raksasa Dari Jogja” awalnya hanya terdiri dari 11 bab, 147 halaman. Judul awal Raksasa Dari Jogja adalah “Pacarku Gigantisme”. Setelah dibaca oleh Mas Arif, editor “Raksasa Dari Jogja”, hasil tulisan akan lebih baik jika direvisi. Mendengar pendapat tersebut, saya langsung merevisi naskah novel saya meskipun saat itu sedang sibuk-sibuknya Try Out UN 2012 dan ikut pelajaran tambahan. Hasil revisi novel menjadi 15 bab, 245 halaman.




Ada relasi personal gak sih antara kamu dan cerita/karakter  yang kamu tuliskan di Raksasa Dari Jogja?
Pasti ada, karena kadang penulis memasukan pengalaman kognitif yang telah terjadi ke dalam tulisannya.


Trus karakter si Gabriel itu unik banget. Tinggi besar gitu. Kenapa kamu memilih memuncukan karakter seperti ini?
Munculnya tokoh Gabriel adalah wujud rasa kesal saya terhadap penggambaran pria tampan yang dibangun oleh masyarakat kita. Pria tampan harus putih, harum, dan memesona. Tapi, Gabriel berbeda, meskipun fisiknya aneh; saya berusaha memunculkan ketampanan yang dimiliki Gabriel, yaitu hatinya.


Siapa penulis yang paling menginspirasi tulisan-tulisan kamu? Kenapa?
seno gumira ajidarma dan arswendo atmowiloto. mereka menulis dengan logika kalimat yang menurut saya bagus. Beberapa kalimatnya singkat tapi menyentuh :)


Gimana kamu ngebangun mood untuk menulis?
Saya pernah baca di sebuah buku milik Arswendo Atmowiloto, penulis tak bisa terus-terusan ikut mood. Jatuhnya bukan ke mood, tapi keharusan untuk menulis dan mendisiplinkan diri saat menulis. Dengan adanya niat dan mendisiplinkan diri, pasti keinginan menulis juga muncul :’)


Ini kan novel pertama kamu, dan udah berhasil jadi best seller. Gimana perasaannya?
Terharu.


Setelah Raksasa Dari Jogja Apa lagi yang ingin kamu tulis? 

Pria berantakan yang jatuh cinta dengan wanita sempurna :D ihiy!

Ada advice buat teman-teman di luar sana yang sedang memulai untuk menulis atau sedang berjuang untuk menerbitkan buku?
Jangan menyerah :)

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan