Monday, April 2, 2012

Cinta dalam Rindu



Oleh: @CathPuz


Cinta dan masa SMA sepertinya sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Bisa dipastikan siapaun pernah merasakan. Dan untuk cerita hari ini, saya coba menuliskan sepenggal pengalamantentang cinta pertama.

Umurku lima belas tahun saat itu. Tahun pertama memakai seram putih biru muda. Setidaknya seperti itulah seragamku, bukan putih abu-abu. Bagiku, sejak hari pertama masuk SMA, dia sudah memiliki kesan yang kuat. Tubuhnya tinggi dan putih. Wajahnya tidak bisa dibilang tampan tapi aku suka caranya berbicara, gerak-geriknya, otaknya yang cerdas dan terutama senyumnya.

Selama setengah tahun duduk di kelas satu, tidak sekalipun kami memiliki kesempatan menjalin hubungan lebih dekat. Aku juga tidak tertarik mendekatinya, hanya sebatas menganguminya tidak ada benih-benih cinta. Kurasa dia juga begitu, mengingat aku bukan seorang siswi yang menonjol di kelas.

Tapi takdir punya rencana lain. Karena suatu sebab, tempat duduk yang selama ini ku tempati selama satu cawu, tiba-tiba harus dipindah. Dan bangku baruku berada tepat di depannya. Kebetulan yang aneh menurutku.

Mengingat dekatnya jarak diantara kita, kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Aku coba mendekatinya. Mengajaknya berbicara, beramah-tamah, yang mana semua itu dibalas dengan sikap dingin dan penolakan. Pada intinya dia tidak ingin mendekatkan dirinya denganku. Sakit hati? Jelas lah! Semua bayanganku tentang dirinya runtuh sudah. Dia sama sekali berbeda dengan bayanganku dulu. Cowok yang duduk di belakangku hanya cowok sombong menyebalkan. Pelit. Merasa dirinya paling pintar. Dan yang paling menyebalkan, dia bersikap lebih ramah pada teman sebangkuku! Memang apa salahku? Tapi ya sudahlah. Apa peduliku. Toh perasaanku hanya sebatas mengagumi dan begitu mengetahui orang yang kukagumi tidak sesempurna bayanganku, aku tidka perlu mengakrabkan diriku padanya.

Tapi lagi-lagi takdir bercerita lain. Seiring berjalannya waktu kita mulai dekat. Sifatnya mulai melunak. Dia bukan cowok menyebalkan yang selalu mengusirku ketika aku mengajaknya berbicara, terkadang malah dia duluan yang mengajakku bicara. Kami mulai berbagi dalam banyak hal. Terutama saat ulangan. Terserah apa kata orang tentang mencontek itu dosa. Menurutku mencontek itu seni, butuh intrik dan keahlian tersendiri, bener loh tidak semua orang sanggup melakukannya. Perlahan dia mulai memperlakukanku dengan baik. Malahan kadang aku merasa dia terlalu baik terhadapku dibandingkan teman sekelasku yang lain.

Aku masih ingat, suatu kali ketika aku bertanya padanya tentang soal fisika yang tidak kumengerti. Dia mengijinkanku meminjam bukunya bahkan bersedia mengajariku. Melihat sikapnya yang ramah, dua orang teman sekelasku melakukan hal yang sama. Meminjam bukunya. Mungkin dia berharap akan diperlakukan sama seperti dia memperlakukan dirku. Tapi yang mereka dapat justru penolakan. Jangankan diajari, dia justru menolak meminjamkan bukunya dengan dalih dia sendiri nggak bisa mengerjakan soal itu. Bayangkan bagaimana mungkin hatiku tidak melambung tinggi. Aku merasa cukup puas, tidak bisa dikatakan terlalu puas mengingat dia juga bersikap ramah pada teman sebangkuku.

Setiap hari bertemu, setiap hari bertukar sapa, saat itu aku merasa semuanya normal. Tidak ada yang salah dalam diriku. Dalam artian, aku memang ingin dekat dengannya. Selalu mencarinya ketika sosoknya menghilang dari pandanganku, tapi aku yakin seratus persen, aku tidak sedang jatuh cinta padanya. Aku pernah menyukai seseorang waktu SD dulu. Dan rasanya tidak begini. Tapi aku juga tidak sudi mengatakan cinta SD ku itu cinta pertama. Aku hanya sebatas menyukainya. Dan antara suka dan cinta ada batasan yang sangat besar. Perasaanku hanya sebatas tahap itu.

Aku bodoh, ya aku bodoh. Aku terlalu naif mengakui kalau semua tanda-tanda yang ada selama ini menunjukkan bahwa aku sudah jatuh cinta padanya. Aku senang caranya memperlakukanku. Aku senang caranya menggangguku ketika aku sedang sibuk menyimak pelajaran. Aku suka perhatiannya yang lebih padaku. Tapi semua itu hanya aku artikan sebatas persahabatan. AKu bodoh!

Kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa manusia baru sadar apa yang mereka peroleh setelah kehilangan, itulah yang terjadi padaku. Aku benci diriku sendiri, aku benci kebodohanku dan aku baru menyadari semua itu pada suatu pagi, ketika sosoknya yang tinggi putih tidak berada di bangkunya.

Pagi itu aku melangkah memasuki pintu kelas menuju bangkuku, sama seperti pagi-pagi biasanya. Meletakkan tasku lalu sibuk mengobrol atau menyelesaikan tugas yang malas kukerjakan di rumah. Seharusnya pagi itu sama seperti pagi-pagi biasanya. Tapi aku tahu dalam diriku ada sesuatu yang hilang. Dia tidak duduk di belakangku. Bangkunya kosong. Tidak ada sapaan 'selamat pagi' yang selalu kuterima darinya. Hanya ada bangku kosong.

“Dia sakit?” tanyaku pada siswa cowok yang duduk di depanku dan teman dekatnya.
“Pindak ke Australi to? Bukannya dia sudah bilang sama kamu?” dia malah balik bertanya.
“Katanya baru pindah setelah kenaikan kelas,” bantahku.
Cowok itu tersenyum cuek sambil meletakkan tasnya, “Dia bohong sama kamu. Rencana keberangkatannya sudah ditetapkan sejak awal tahun. Nggak mungkinlah berubah segampang itu. Memangnya kenapa sih?” dan dia tersenyum jahil.
“Tanya aja,” jawabku.

Hatiku serasa teriris. Dia bodohong aku benci itu, hatiku terus berteriak seperti itu. Padahal masih ada waktu sebelum sebelum kenaikan kelas. Aku berharap masih bisa menghabiskan masa-masa indah selama sebulan sebelum dia pergi. Harapan itu tidak tertinggal sediktipun, aku hanya mendapati kekecewaan. Ya aku tahu dia tidak berbohong. Kenanganku mencoba mengigatkanku. Dia sudah mengatakan berulang kali akan pergi sebelum tahun ajaran ini berakhir. Tapi aku yang selalu menahannya hingga tahun ajaran ini berakhir. Aku terus mendesaknya, aku terus memaksanya untuk tetap tinggal. Mungkin karena tidak tega melihat rengekkanku dia berbohong padaku akan tetap tinggal sampai akhir tahun ajaran.

Hari-hari tanpanya ternyata jauh lebih berat dari apa yang aku bayangkan. Kupikir aku bisa melupakannya dalam hitungan hari seperti aku melupakan cowok yang kusukai waktu SD dulu. Kupikir aku akan baik-baik saja dan tidak akan menangis. Kupikir, kupikir dan kupikir. Pada kenyataanya semua yang kupikir tidak pernah terjadi. Aku tidak baik-baik saja. Aku menangis seperti bayi setiap malam. Aku tidak bisa melepaskan mataku dari bangku tempatnya duduk setiap kali kaki ini melangkan masuk ke dalam kelas. Aku tidak bisa menahan kepalaku untuk tidak menoleh ke belakang hanya untuk melihat sosoknya meski tahu dia tidak ada di sana. Aku merindukan tawanya, merindukan caranya memanjakan diriku, merindukan sosoknya yang tinggi menjulang di balik punggungku. Aku merindukannya. Merindukan semua tentang dirinya. Dia benar-benar membuatku kacau. Mungkin bukan dia, lebih tepatnya cintaku padanya. cinta yang baru kusadari setelah kepergiannya

Kalau kata orang first love never die dengan berat hati aku akui itu benar. Bahkan berbulan-bulan setelah kepergiannya, tanpa sadar aku masih suka menatap bangku yang berdiri di ujung kelas tersebut. kebiasaan itu terus berlangsung selama dua tahun. aku tidak pernah bisa melepaskan mataku dari tempat itu setiap kali melewati kelasku dulu.

Dulu dia ada di sana. Menyapaku setiap pagi ketika kaki ini melangkah ke arahnya. Menyapaku di lorong-lorong sekolah. Memperhatikan setiap hal kecil yang kulakukan dan mengomentarinya. Aku suka menoleh ke belakang mencuri-curi kesempatan di tengah jam pelajaran hanya untuk mengobrol dengannya. Aku merindukan semua itu.

Meski pemilik bangku itu bukan dirinya lagi. Tapi kenangan indah saat itu masih tergambar jelas dalam benakku hingga saat ini. Meksi hati ini berubah, meski waktu berlalu dengan cepat. Meski sekarang aku tidak tahu keberadaannya dan meski kerinduan yang dulu kurasakan benar-benar menyiksaku. Aku bersyukur mengenalnya dan cinta pertamaku adalah dia dan saat-saat indah itu mungkin tidak pernah terlupa. Satu yang kusesali, aku tidak pernah mengatakan perasaanku padanya. 

| http://novelku-bluebird.blogspot.com/2012/03/rindu.html

Pion Hitam



Oleh: 
@sylvanawijaya 



#Cerita hari ini bermula dari ketidaksengajaan bertemu seorang sahabat lama. Kurang lebih 15 tahun aku tak pernah bertemu dengannya. Kami pernah menjadi sahabat karib sewaktu di #bangku sekolah dulu. Namanya Alu. Lengkapnya Alundra Sasongko. Seorang murid yang paling bandel di seantero sekolah. Bagaimana tidak, dia pernah nyaris membakar laboratorium kimia kami. Itu baru satu dari sekian kenakalannya. Kala itu, tak ada yang berani berteman dengannya, seluruh sekolah memandangi dia seperti tengah memandangi monster. Tepatnya memandangi kami berdua. Entah kenapa, dari dulu aku selalu merasa Alu melebihi penampilan luarnya. Bukankah penampilan luar seseorang tergantung dari apa yang ingin dia tunjukkan kepadamu?

Dan Alu menunjukkan sisi lain dari dirinya saat memenangkan lomba catur Nasional. Siapa yang menyangka Alu mempunyai strategi dan kepiawaan dalam bermain catur? Teman-teman mulai menjulukinya Pion Hitam. Karena Alu selalu memainkan pion hitam di dalam setiap lomba. Alu tetap Alu. Tak ada yang berubah meski dia berhasil mengharumkan nama sekolah. Dia masih senang membuat onar di kelas, menggangu guru, bahkan diam-diam merokok di perkarangan sekolah. Herannya dia tidak pernah menawariku atau mencoba mempengaruhiku untuk merokok atau membolos.

Seperti pertemuanku dengannya hari ini, dia masih merokok dan aku yang menghirup kepulan asapnya. Wajahnya terlihat serius memandangi pion hitam putih yang berada di depan kami.
“Giliran loe, Jud” panggilnya dengan bibir yang menggantung sepuntung rokok.
Kali ini giliran aku berpikir keras menghadapi pion hitam Alu. Setiap celah telah di kunci pion hitam itu.
“Gua masih nggak nyangka bisa ketemu loe di persidangan...” kata Alu sambil mematikan puntung rokoknya. “Apalagi loe sekarang adalah Jaksa penuntut gua” lanjutnya sambil tertawa getir.
Lima belas tahun yang lalu, kami adalah kawan dan sekarang kami adalah lawan di mata hukum.
Setelah membobol celah, pion putih berhasil memakan pion hitam.
“Giliran kamu”
Pion hitam Alu masih berdiri di tempatnya, hanya dia kehilangan satu lagi jumlah tentaranya.
“Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu sampai nekad menjual narkoba?” tanyaku.
Alu masih menunduk memandangi papan catur, antara sedang berpikir strategi dan berpikir jawaban. Sesaat senyum mengembang di wajahnya.
“Skak Mat” katanya sambil memindahkan sebuah pion hitam ke dalam markas pion putih.
Satu titik dan pion putih tak berkutik.
“Akan sangat tidak adil kalau gua bilang, gua nggak punya pilihan lain. Pilihan itu banyak. Tapi emang ini yang gua pilih. Jualan sabu. Duitnya banyak dan cepat. Bisa untuk melunasi utang mendiang bapak dan membiayai sekolah Dinda” jawabnya enteng.
Adinda, adik perempuan Alu. Dua kali aku bertemu dengannya di persidangan. Selain menua, tak ada yang berubah darinya. Masih terlihat cantik seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Adinda berbanding terbalik dari saudaranya, dia cerdas dan lemah lembut. Satu hal yang mirip dari mereka adalah keberanian mereka.
“Sejak bapak meninggal, ekonomi keluarga gua morat-marit. Gua memutuskan berhenti sekolah. Lagi pula loe kan tahu sendiri gua gimana di sekolah. Percuma juga kalau di lanjutin. Tapi Dinda nggak boleh sampai ninggalin #bangku sekolah. Alhasil gua memutuskan buat pindah dan nyari kerja. Dan kerjaan apa yang bisa gua dapet kalau ijazah SMA aja gua nggak punya?”
Lidahku kelu mendengar jawaban Alu. Sipir penjara datang mengingatkan jam besuk tinggal hitungan menit.
“Permainan kali ini gua yang menang. Kalau boleh tolong loe berikan sedikit diskon masa tahanan” candanya sambil di gandeng oleh seorang sipir.
“Sampai bertemu di pengadilan, Lu” kataku padanya. Yang dijawab dengan seutas senyuman. Aku tahu percakapan hari ini belum tuntas.
| http://sylvanawijaya.blogspot.com/2012/03/pion-hitam.html?spref=tw

Bangku Impian

Oleh: @siskalimanto


Cerita hari ini berkisah mengenai sebuah bangku sekolah. Bangku yang menjadi pusat perhatian ketika dulu pertama kali ku jejakan kaki di kelas XII.1. Kelas ini adalah kelas unggulan dan di kelas unggulan ini terdapat bangku sekolah unggulan. Ya benar, bangku sekolah unggulan. Seluruh murid-murid di sekolah ini menyebutnya bangku impian. Karena semua murid yang pernah menduduki bangku itu selama setahun, bernasib mujur. Mungkin ini hanyalah mitos yang dikarang-karang dari jaman buyutnya kakak kelas, tapi orang-orang seperti Direktur dari Perusahaan Kilangan Minyak No. 1, Bambang Tamtaman, Politikus Muda Termasyur, Indra Irsanya, Pelukis yang Go International seperti Mirsya Arzani, dan tentu saja wali kelas XII.1 yang mendapatkan banyak penghargaan karena penemuan-penemuan benda-benda arkeolognya, Prof. Sania Ahbidab, semuanya pernah menduduki bangku impian itu selama setahun penuh di kelas ini. Prof. Sania Ahbidab atau biasa kami memanggilnya bu San (dipanggil demikian karena dia tidak mau terlihat begitu tua) adalah wakil kepala sekolah yang juga menjabat sebagai wali kelas XII.1. Dia membuat suatu kejutan kepada semua murid kelas XII.1 di hari pertama kami masuk kelas dan itu bermula gara-gara bangku impian, bangku yang terletak paling depan dan berada di urutan ke-3 dari pintu masuk.

“Eh itu bangku impian...”, seru Damian sambil berlari ke arah bangku tersebut dan bertepatan saat dia mendudukinya, James pun juga menduduki bangku itu.
“James, gue udah duluan duduk di bangku ini, lo mending cari bangku yang lain aja”
Sorry bro, gue yang lebih dulu duduk disini, jadi mending lo aja yang cari bangku lain”
“Lo ngajak ribut sama gue? Jelas-jelas dari tadi tuh gue yang sampai ke sini duluan bukan lo”

Keributan terjadi di kelas. Perkelahian antara Damian dan James menjadi kegiatan pembuka di hari pertama kami memasuki kelas ini.

“Semuanya diam!!!”

Suara keras menggema dari ujung pintu mengheningkan suasana kelas, seorang wanita paruh baya nan cantik jelita berjalan menuju meja guru. Semua murid bersegera duduk ke tempat duduk secara acak dan Damian beserta James duduk di bangku impian.

“Saya tahu rumor itu sudah berkembang cukup lama di sekolah ini, dan saya sangat mengerti apa yang kalian ributkan disini. Saya Prof. Sania Ahbidab, wali kelas XII.1. Kalian bisa memanggil saya bu San. Saya akan membuat suatu kompetisi untuk memperebutkan bangku impian itu dan kompetisi ini berlaku untuk semua murid yang ada di kelas ini”

Semua terdiam. Hening. Sesekali kami saling menatap kepada yang lain sambil berbisik-bisik, mengenai perkataan bu San.

“Siapapun yang memenangkan kompetisi ini selain bisa menduduki bangku itu selama satu tahun pelajaran, juga akan saya berikan nilai tambahan untuk ujian akhir geografi”

‘Apa? Nilai tambahan untuk ujian akhir geografi? Ini kan baru awal tahun pelajaran’, semua membisikan kalimat itu kepada satu sama lain. Hadiah yang sangat menarik. Siapa yang tidak mau mendapatkan nilai tambahan untuk ujian akhir yang pelajarannya dimulai saja belum. Apalagi bisa menduduki bangku impian itu selama satu tahun pelajaran penuh.

“Kompetisinya mudah. Kalian harus menebak teka-teki dari saya dan saya akan memberikan waktu selama seminggu untuk menjawabnya. Jika setelah seminggu tidak ada yang bisa menjawab teka-teki ini dengan benar, maka bangku itu tidak akan ada yang boleh menempatinya selama satu tahun pelajaran.”

Bu San kemudian berjalan menuju papan tulis dan mulai menuliskan sesuatu

“Apakah aku? Ketika benang putih terpisah dari benang hitam, si bodoh datang menghampiri ku dan ketika sang raja mulai mengantuk, si pintar pergi meninggalkan ku. Aku mempunyai pasangan. Tanpa pasangan ku, aku akan sulit dipakai si pintar untuk berkarya dan tanpa aku, pasangan ku tidak akan berarti untuk si bodoh. Aku menjadi yang diperhatikan, maka perhatikanlah aku. Siapapun yang mengenal ku akan ku bantu untuk membuat mimpinya menjadi nyata.”

“Catatlah ini baik-baik. Jika ada yang sudah tahu jawabannya, silakan datang ke ruang guru untuk menemui saya dan ungkapkan jawabannya disana”

Setelah bu San menulis demikian, semua mencatatnya dan mulai memikirkan jawabannya. Tidak hanya Damian, James, dan anak-anak yang lain, aku pun juga ingin menduduki bangku itu. Berhari-hari aku memikirkan jawabannya, namun sangatlah sulit untuk mendapatkan jawabannya. Satu per satu anak-anak di kelas ini sudah mencoba menjawabnya, tapi belum ada satu pun yang menjawabnya dengan benar. Kecuali Damian dan James. Mereka sangat berhati-hati dalam memikirkan jawaban ini. Pernah suatu kali saat pulang sekolah aku melihat James duduk di bangku impian sendirian, memperhatikan bangku itu, kemudian menatap ke depan. Entah mengapa, tiba-tiba dia begitu girang, namun tak lama kemudian wajahnya berubah seperti mendapat kejutan. Aku sangat penasaran dan menghampirinya.

“James”
“Eh Kirana...”, ucapnya terkejut
“Lo kenapa melongo gitu?”
“Oh gak apa-apa. Gue udah tahu jawaban dari teka-teki bu San”
“Oh ya? Apa tuh?”
“Nanti bakal gue jelasin di hadapan semua anak-anak dan bu San”

James tersenyum. Senyumannya seperti seorang filsuf yang mendapatkan filsafat-filsafat baru. Begitu tenang dan dalam. Tidak ada lagi wajah menggebu-gebu pada dirinya seperti sebelum-sebelumnya. Keesokan harinya bu San memanggil Damian dan James untuk menjelaskan jawaban yang mereka dapatkan, tapi bukan dijelaskan di ruang guru melainkan di depan kelas atas permintaan James.

“Oke, dimulai dari Damian. Silakan kamu jelaskan jawaban mu”

Dengan penuh percaya diri Damian memaparkan jawabannya.

Apakah aku? Ketika benang putih terpisah dari benang hitam, si bodoh datang menghampiri ku dan ketika sang raja mulai mengantuk, si pintar pergi meninggalkan ku. Benang putih terpisah dari benang hitam artinya matahari yang mulai terbit yang menandakan pagi hari, si bodoh datang menghampiri ku artinya orang yang belum punya pengetahuan datang menghampirinya, ketika sang raja mulai mengantuk menandakan yang berkuasa, jika konteksnya masih soal waktu artinya yang menguasai hari yaitu matahari dan mulai mengantuk adalah waktu dimana matahari mulai turun yaitu waktu pertengahan antara siang hari menuju sore hari, si pintar pergi meninggalkan ku artinya yang berpengetahuan pergi meninggalkannya. Jadi satu kalimat ini memperumpamakan murid baru yang bersekolah dan pulang dengan pengetahuan dari sekolah.” 

Aku mempunyai pasangan. Tanpa pasangan ku, aku akan sulit dipakai si pintar untuk berkarya dan tanpa aku, pasangan ku tidak akan berarti untuk si bodoh. Aku menjadi yang diperhatikan, maka perhatikanlah aku. Siapapun yang mengenal ku akan ku bantu untuk membuat mimpinya menjadi nyata. Dan dari kalimat-kalimat terakhir ini sudah jelas bahwa benda yang dimaksud pasti bangku impian. Bangku impian berpasangan dengan mejanya, tentu tanpa meja dengan hanya bangku saja murid akan kesulitan untuk menulis dan tanpa bangku hanya dengan meja saja tidak akan bermanfaat bagi murid. Bangku impian juga menjadi perhatian bagi siapapun di sekolah ini dan dia bisa mewujudkan impian siapa saja yang dapat mendudukinya selama setahun.”

Penjelesan Damian diakhiri dengan tepuk tangan satu kelas. Sambil melemparkan senyum bangganya, Damian membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada kami seperti seorang dirigen yang memberikan salam terima kasih di akhir pertunjukan.

“Bagus Damian, tapi penjelasan mu kurang tepat. Dan jawaban mu salah”

Seketika setelah bu San menanggapi penjelasannya, semua murid terdiam dan terkejut termasuk Damian.

“Karena jawabannya adalah papan tulis”, sahut James tiba-tiba 

Aku mempunyai pasangan. Tanpa pasangan ku, aku akan sulit dipakai si pintar untuk berkarya dan tanpa aku, pasangan ku tidak akan berarti untuk si bodoh. Aku menjadi yang diperhatikan, maka perhatikanlah aku. Siapapun yang mengenal ku akan ku bantu untuk membuat mimpinya menjadi nyata. Pasangan tidak selalu harus bangku dan meja, bisa juga papan tulis dengan spidolnya. Hanya dengan papan tulis tanpa spidol murid akan sulit menuliskan jawaban di papan itu jika seorang guru memintanya menuliskan jawabannya, hanya spidol tanpa papan tulis tentu tidak akan ada gunanya bagi murid yang mau mengerti pelajaran. Papan tulis selalu menjadi perhatian di kelas ini, setiap pelajaran pasti menggunakan papan tulis. Jika kalian memahami apa yang ditulis di papan itu pada setiap pelajarannya, kalian pasti bisa menjawab soal-soal dalam ujian, jika ujian kalian menjadi bagus, kalian bisa meraih cita-cita kalian”
Well done, James. Jawaban mu benar”, ucap bu San dengan tersenyum
“Kamu berhak menempati bangku itu dan mendapatkan nilai tambahan pada ujian akhir geografi”
“Terima kasih, bu. Tapi saya rasa saya gak ingin duduk disana lagi. Saya tadinya berpikir kalau bangku ini lah yang membuat setiap yang mendudukinya bisa meraih cita-citanya. Ternyata saya salah. Siapapun yang duduk disini pasti akan terus menatap papan tulis karena letak bangkunya paling depan dan berada di tengah, sehingga mau gak mau yang selalu diperhatikan pasti papan tulis dan itulah yang membuat siapapun yang duduk disini jadi pintar, karena dia belajar. Jadi yang perlu saya lakukan adalah belajar, bukan mempercayai mitos ini”

Bu San berdiri dan memberikan tepuk tangan untuk James dan bak magnet yang menarik paku-paku berserakan, dengan serentak semua murid ikut-ikutan berdiri bertepuk tangan untuk James. Pada akhirnya bangku ini memang tidak ada yang menempati, tapi sudah menjadi sejarah yang terungkap mengapa bangku ini selalu menjadi impian semua orang.
| http://siska-limanto.blogspot.com/2012/03/bangku-impian.html

Reuni

Oleh:  

Entah siapa yang memulai. Tapi ide ini sungguh jenius. Juga para pelaksana di lapangan. Reuni. Mengumpulkan teman lama. Silaturahmi. Semoga mereka berlimpah pahala.
Aku sengaja datang sebelum waktu yang ditetapkan. Sekolah ini sudah banyak berubah. Bahkan aula tempat berlangsungnya acara adalah gedung baru yang tak terbayang akan berdiri disana. Menyusuri setiap jengkalnya. Mengais kenangan yang masih tersisa di kepala. Juga di hati.
Kakiku berhenti. Senyum mengembang. Senyum malu. Ruang BP. Entah berapa kali aku sudah keluar masuk ruang ini dulu. Aku tak pernah bersahabat dengan bel masuk sekolah. Dengan beberapa orang teman menjadi pelanggan setia ruang ini. Ah…ternyata, hal yang dulu begitu dibenci, bisa juga menjadi kenangan indah.
Aku kembali melangkah. Kali ini menyusuri koridor panjang. Dengan deretan ruang kelas satu di sisi kiri dan taman-taman mungil di sisi kanan. Tak terlalu banyak yang beda. Hanya lantai yang sekarang berganti keramik. Cantik dan bersih. Dengan memori akan anak baru yang malu-malu dan takut. Itu kesan yang tertinggal dari koridor Utara.
Aku sampai di ujung jalan. Tetiba terkikik sendiri. Kantin. Siapa yang tak kenal tempat ini? Tempat idola semua murid di muka bumi. Tempat yang pasti paling berkesan untuk semua alumni. Tempat melepas penat, lapar dan dahaga. Tempat melarikan diri dari guru dan pelajaran terkutuk. Tempat melirik sang pencuri hati. Pun tempat janji temu dengan pujaan jiwa. Hanya tempat ini yang tak akan pernah dibenci oleh siapapun. Aku meninggalkannya dengan bertumpuk kenangan manis dan lucu.
Aku berbelok ke Selatan. Barisan ruangan yang lebih kecil dari ruang kelas ada di sisi Timur, berhadapan dengan lapangan basket. Dulu tak ada. Berurutan, di pintu-pintunya tertulis ‘OSIS’, ‘UKS’, ‘KOPERASI’, dan seterusnya. Ah…, disini sekarang tempatnya. Ruang ekstrakurikuler berkumpul rapi. Andai sudah seperti ini sejak dulu. Sudahlah…
Aku menoleh. Namun kali ini terasa sendu. Ruangan di sudut Tenggara sekolah ini. Ruang kelas tigaku. Perlahan aku menyeberang ke koridornya. Menyentuh dinding luarnya. Terkelupas di sana sini. Jendelanya pun berdebu. Khas saat ditinggal penghuninya libur kenaikan kelas. Pintu kayunya pun tampak kusam. Entah kapan terakhir tersentuh cat dan pelitur.
Kucoba buka. Berhasil. Tak dikunci rupanya. Mengedarkan pandangan. Hanya gambar presiden dan wakilnya yang tak sama. Selebihnya, masih sesuai dengan rekaman otakku.
Berusaha mengingat kembali, siapa saja pemilik bangku-bangku ini. Satu per satu. Dimana mereka sekarang? Apa kabarnya saat ini? Akankah mereka datang reuni nanti? Tak sabar rasanya, ingin memanggil kembali semua kenangan bersama-sama.
Aku menghampiri deret bangku paling Selatan. Lalu berhenti di bangku nomor tiga, di depan meja guru. Ini milikku. Ini bangkuku. Dulu. Masih sama. Tak berubah. Aku tersenyum senang.
Duduk di bangku ini seperti terseret ke masa lalu. Anak sekolah dengan segenap cerita tentang dunianya. Manis, pahit, senang, sedih, hitam, putih. Semuanya. Lengkap.
Aku menoleh ke belakang. Sama seperti yang lain. Bangku kosong. Sekosong hatiku saat melihatnya. Bangku milik seseorang. Orang yang aku kenal baik. Salah satu orang luar biasa yang pernah aku temui.
Itu bangkumu. Teman baik yang dianugerahi kecerdasan luar biasa. Tak satu pun penghuni kelas ini bisa menandingi. Pun seisi sekolah. Teman yang juga murah dan rendah hati. Sempurna. Terlalu sempurna, rasanya.
Aku tersenyum. Banyak kenangan tentangmu, teman. Saat kita masih menuntut ilmu disini. Juga saat kita sudah harus menantang kerasnya hidup. Tapi hidupmu tak sesempurna yang aku kira. Perjuanganmu lebih dari luar biasa. Menghidupi lima adik tanpa seorang ayah. Membayangkan hari-harimu saja aku tak berani.
Tapi Tuhan maha adil, pemurah dan penyayang, teman. Entah apa rencana Beliau atas umat Nya, tapi kamu bisa bertahan dan berhasil. Pun semua adik-adikmu.
“Aku hanya ingin membahagiakan ibu…” begitu katamu, selalu.
Aku ikut senang melihat dan mendengarnya, teman. Sampai tiba-tiba aku kehilangan jejakmu. Tak terlacak. Sama sekali. Sudah kucari kesana dan kemari, tapi tak kunjung ditemukan. Dunia maya dan nyata telah ku telusuri. Kamu seperti lenyap ditelan bumi. Kamu dimana, teman?
Entah angin mana yang telah membawa kabarmu suatu ketika. Tentangmu yang menyerah pada takdir. Kamu, seorang pejuang hidup yang tangguh, harus kalah melawan kanker yang menggerogoti hati. Hatimu. Hati yang sudah bekerja keras untuk banyak nyawa yang lain. Kamu berhenti. Saat itu. Begitu saja.
Aku merasa sendu. Semua tak sama lagi tanpamu, teman. Kalaupun semua berkumpul lagi. Akan ada sudut kosong dalam hatiku. Dalam hati kami. Teman-temanmu. Kamu, orang yang tak tergantikan. Tak terlupakan. Teman berhati dan berotak berlian.
Aku berdiri. Sudah waktunya bergabung dengan yang lain. Dan untuk yang terakhir, kutatap lagi bangkumu. Teman, doa kami tak putus untukmu. Terima kasih sudah berkenan jadi teman kami. Aku yakin, Tuhan memberi tempat terbaik bagimu.

| http://wahyusiswaningrum.wordpress.com/2012/03/27/reuni/

Dunia Kecil



Oleh: @tiaraahere




Sekolah adalah poros dari segala rasa yang hinggap dalam hidupku. Paling tidak untuk saat ini. Aku menyebutnya: Dunia Kecil. Dunia yang selalu berwarna dan melahirkan banyak cerita untuk kita yang berada didalamnya nikmati. Seolah semua cerita sudah terangkai rapi seperti bunga di Toko Bunga, hanya tinggal memberikan pada siapa saja yang datang. Ya, siapa saja yang datang tanpa harus membawa lembaran uang ataupun kepingan berarti.

Dunia Kecil yang siap menyedotmu kedalamnya untuk kau nikmati segala sesuatu yang ada disana. Disana kau hanya diberi waktu seadanya, sesuai yang dirumuskan. Jika saatnya tiba, seperti nafas yang tak selamanya menemani rongga hidungmu, kau akan keluar. Keluar dari dunia kecil yang selalu melahirkan cerita Indah yang nantinya akan kau sebut mereka kenangan karena waktu yang tak bisa kau tahan gerakannya. Dan saat itu telah tiba untukku. Aku berharap semoga tidak ada tambahan waktu untukku untuk lebih lama lagi disini. Memang indah ceritanya, tapi aku benar-benar harus bergegas menyambut dunia yang lainnya yang juga sedang menungguku. Aku tahu itu.

#CeritaHariIni. Simaklah. 

Hari ini semua akan berbeda. Ya, semuanya. Hari ini sudah kami tunggu datangnya. Hari berarti dimana kepergian kami akan ditentukan oleh secarik kertas. Bukan. Bukan kertas itu yang akan mengubah kami, tapi sebuah kata yang tertera didalamnya yang akan mengizinkan kami pergi dari dunia kecil ini. Ya. Sebuah kata yang tersusun rapi oleh lima huruf yang tegak berdiri. Dua huruf berulang dan satu huruf mengakhiri. Kalian pasti tahu maksudku.

Kata itu yang kami semua harapkan tertera didalamnya. Hanya kata itu, tidak perlu ada kata lain yang menemani. Cukup itu saja.
Dunia kecil ini sedang diselimuti hening. Hening yang menyimpan segala cerita masing-masing dari kami. Hening yang penuh doa orang-orang tua juga para pahlawan tanpa tanda jasa. Hening yang dikelilingi harapan atas perjuangan. Hening yang berarti.
Masih ada 10 menit lagi pengumuman akan dilaksanakan. Tapi semua sudah rapi. Lantai aula yang juga kecil hari ini terlihat lebih bersih dari biasanya. Diatasnya, tertata dengan begitu rapi, sebaris dengan warna selaras, bangku-bangku itu, bangku sekolah. kemudian meja panjang didepan. Juga sound system yang akan membantu suara apapun agar terdengar lebih keras dari biasanya. Hari ini memang penting. Hanya terjadi setiap beberapa tahun sekali.

Masih ada 10 menit. Ku ajak kakiku untuk sekedar mengelilingi Dunia Kecil kami. Dalam perjalanan singkat ini, ku lemparkan pandanganku ke segala penjuru, menerobos masuk ke dalam ruangan-ruangan kecil, juga setiap sudut dimana ada kenangan menari disana, bernyanyi mengibur setiap orang yang melihatnya. Pandanganku tiba-tiba terhenti oleh sebuah pandangan menarik, kulihat ada sebuah bangku yang menyendiri dari kerumunan sesamanya. Hanya ada dia sendiri di belakang sini. Perlahan kudekati dirinya, mendudukinya, lalu kemudian memandang langit siang hari, juga dunia kecil ini sepanjang yang terjangkau oleh mataku. Kutarik napasku perlahan dengan hikmat, lalu mengeluarkannya juga perlahan. Aroma dunia ini, aku ingin menghirupnya sebelum akhirnya benar-benar pergi. Sudah waktunya. Aku berjalan kembali ke aula tempat semua bersarang memanjatkan doa didalam hati.

Kali ini aula lebih hening dari yang tadi. Lalu akhirnya, kepala sekolah selaku presiden dari Dunia kecil ini memulai pembicaraan, kemudian juga guru disebelahnya, lalu yang disebelahnya lagi. Tak ada yang membuat gaduh kali ini, tak seorangpun dari kami. Tak seperti biasanya. Ya, memang hari ini berbeda.

Acara talk-show sudah selesai. Kini tiba pada saat yang sangat dinanti. Dibagikannya orang tua dari kami sebuah amplop yang didalamnya bersembunyi secarik kertas kecil yang diatasnya tertera sebuah kata yang paling berarti dari kata apapun saat ini.

“Dalam hitungan ketiga, Bukalah!”

Kepala sekolah memimpin, dalam hitungan ketiga, kami membuka amplop itu, membuka perlahan karena sebenarnya rasa takut itu tetap bersemayam disamping rasa bahagia kami. Berdampingan.

“LULUS”

Kurasakan pelukan hangat dari ibuku, benar-benar hangat, tangisnya benar-benar melumpuhkanku. Aku pun hanya bisa menangis dalam dekapnya. Kulihat hal yang sama terjadi di aula ini. Segala bentuk ekspresi haru ada disini. Aku tidak bisa menjelaskan lagi. Kucari semua temanku, dan berpelukanlah kami. Dalam tangis bahagia. Kucari seluruh guru yang mengajariku selama tiga tahun ini, ku peluk mereka, dalam haru tak terjelaskan. Aula yang tadinya hening tanpa hingar itu, kini gaduh oleh suara-suara bahagia dari semua yang berada disini.

Semua sedang sibuk melukis seragamnya masing-masing. Kami semua. Setelah mendapati segala bentuk coretan di seragamku. Ku ajak kembali kakiku berjalan menyusuri dunia kecil ini. Kali ini dengan tatapan lebih bahagia dari yang tadi. Aku akan merindukan segalanya. Lantai ini, halaman ini, kelas ini, seragam ini, orang-orang didalam sini, semua yang terjadi disini, kenangan ini. Benar-benar menakjubkan. 3 tahun yang kupikir akan sangat lama itu kini terasa sangat singkat. Aku baru saja menerima izin untuk segera meninggalkan dunia kecil ini. Masih berjalan menyusurinya, kudapati bangku itu lagi. Masih berada disitu. Belum berpindah sedikitpun.


“Kamu benar-benar sangat berjasa.”

Ucapku pada bangku itu. Aku tahu ia mendengar, hanya tidak bisa untuk berbicara. Oh tidak. Ia bisa berbicara, hanya saja aku yang tak akan mendengarnya apalagi untuk paham.
Sebenarnya ada yang lebih berjasa dari ini, tapi aku selalu menghargai Benda mati yang satu ini. Ia sungguh sangat penolong dalam segala hal, dengan ikhlas dia terima saja diduduki kami semua, ditimpah oleh organ tubuh kami yang... yang... ah sudahlah. Ha ha ha. Bayangkan jika tidak ada dia di dalam dunia kecil ini, aku bisa apa? Penduduk di dalam dunia ini bisa apa? Tentu kami tidak bisa duduk dilantai yang bahkan bukan lantai marmer itu. Meski tua tubuhnya, ia tetap bertahan menahan beban berat tubuh kami yang jika saat duduk bertumpu pada satu yang menempel padanya. Tidak peduli ada berapa nakal atau hanya iseng saja murid-murid itu mencorat-coret tubuhnya, ia tetap selalu menjadi penopang kami. Selalu menjadi tempat yang selalu membawa “Ah-Akhirnya” saat kami lelah selesai bekerja bakti atau sekedar berjalan-jalan mengelilingi sekolah. Ia selalu menjadi tempat tujuan. Meski kadang ia ditendang, diinjak dengan telapak sepatu kotor penuh debu, ia selalu ada disana. Belum lagi kalau ada murid yang tak tahu sopan, buang angin diam-diam. Hanya dia, bangku itu, juga Tuhan yang tahu. Tidak peduli apa yang menimpanya setiap hari. Ia tetap seperti itu setipa hari. Patuh. Meski kutahu ia tak benar-benar mati. Aku percaya mereka berbicara. Dengan bahasa yang sudah pasti takan pernah kami dengar atau bahkan kami mengerti.

“Aku akan merindukanmu. Sebab diluar sana tidak akan ada yang sepertimu. Bangku Sekolah.”
| http://pintukecil.blogspot.com/2012/03/dunia-kecil.html?spref=tw

Bangku Sekolah Joana

Oleh: @WiwitNovSusanti 


Joana bulan ini genap berusia 8 tahun. Ia tidak sabar menanti kue ulang tahun raksasa yang dijanjikan orang tuanya. Baginya perubahan usia hanyalah moment kumpul keluarga dan banjir hadiah. Namun ulang tahun Joana sekarang akan jadi ulang tahun paling berkesan. Selain kue ulang tahun, orang tua Joana sudah menyiapkan kado istimewa yang akan merubah hidupnya.
            Hari itupun datang, setelah prosesi tiup lilin dan potong kue, Joana sibuk kesana kemari menemui satu persatu sepupu. Tampak beberapa sepupu Joana sedang asyik bermain di pinggir kolam renang. Mereka sedang membicarakan sekolah masing-masing.
            “Aku biasanya kalo istirahat main sepak bola. Sekolahku lapangannya guedhe banget.” Sepupu paling besar membanggakan sekolahnya.
            “Aku ndak suka main bola. Panas, kringetan, mending nyemil di kantin.”
            Sepupu perempuan tak sabar berkomentar, “Huuu…dasar gembul, hobinya makan mulu ni.”
            Mereka tertawa bersama-sama. Joana menghampiri mereka, penasaran.
            “Kalian lagi ngomongin apa sih?”
            “Ini lho kita lagi ngomongin sekolah sama ngetawain si gembul yang kerjaannya makan terus.” Sepupu tertua menjawab sambil tertawa.
            Respon Joana datar, “Ohh….”
            “Kak Joan suka ngapain kalo jam istirahat sekolah?” si Gembul bertanya polos.
            “Joan kan nggak sekolah gembul…” Sepupu perempuan membantu Joan untuk menjawab pertanyaan tadi.
            “Kenapa ndak sekolah? Kan di sekolah seru. Bisa main, belajar trus jajan di kantin. Hehehe….”
            “Joan…Joan nggak suka sekolah. Joan suka main, belajar, sama makan di rumah aja.”
            Joana lalu pergi. Para sepupu saling pandang, kebingungan. Sepupu perempuan tampak menyalahkan si gembul. Mama Joana memanggilnya untuk sesi buka kado. Wajah Joana tidak seceria tadi. Kado pertama, kedua sampai ke 10 telah dibuka. Ketika mama akan menyerahkan kado istimewa darinya, papa membisikkan sesuatu.
            “Nanti aja ya Ma….” Istrinya pun mengangguk
            Semua tamu sudah pulang, terlihat para pembantu sibuk  berbenah. Mama dan papa Joana mendatangi kamarnya. Joana sedang duduk di kursi santai, pojok kamar bermainnya.
            “Joan…mama papa punya hadiah buat Joan.” Mama menyerahkan kado itu.
            “Hah…hadiah lagi Ma? Joan buka ya.”
            Papa dan Mama saling pandang. Ada raut cemas di wajah mama.
            “Baju seragam? Buat Joan?”
            Papa menjawab ragu-ragu. “Iya…buat Joan. Besok Joan pergi ke sekolah ya. Papa sama mama udah daftarin Joan ke sekolah favorit. Ini kan tahun ajaran baru.”
            “Iya, besok mama sama papa anter Joan ke sekolah.” Mata mama berbinar.
            “Joan nggak mau sekolah. Joan lebih suka di rumah aja. Joan udah bisa baca, nulis jadi untuk apa Joan sekolah lagi Ma. Joan bisa belajar sendiri dari buku-buku yang mama papa beliin.” Seragam itu  dijatuhkan ke lantai dan Joana berbalik menghadap tembok, masih di kursi santainya.
            “Joan sayang…sekolah itu bukan sekedar belajar aja sayang. Di sana kamu bisa dapet pengalaman baru, temen baru dan suasana baru. Pasti seru….percaya sama mama.” Mama memandang papa, Joana masih diam, cemberut.
            “Joan mau apa biar papa beliin. Asal Joan besok mau papa anter ke sekolah ya.”
            Joana adalah satu-satunya putri yang mereka miliki namun tidak bisa mereka beri perhatian sepenuhnya, papa Joan seorang pengusaha yang menghabiskan tiga per empat harinya dengan tumpukan pekerjaan. Sedangkan mamanya yang aktivis perempuan kini disibukkan dengan kewajiban menjaga nenek Joana. Sudah 1,5 tahun belakangan nenek Joana sering masuk rumah sakit karena kompilkasi jantung yang dideritanya. Waktu-waktu Joana dihabiskan di satu sudut rumahnya. Kamar bermain Joana yang lengkap dengan buku-buku ensiklopedia, buku cerita dan mainan-mainan lainnya.
            “Joan…Joan mau…sekolah di sini aja. Joan nggak mau belajar selain di sini.”
            “Kalau Joan sekolah di sini, Joan nggak akan pernah tahu dunia di luar sana. Banyak hal menarik yang belum Joan tahu.”
            “Ya udah ya udah…sekarang Joan tidur dulu aja ya…biar besok bisa bangun pagi. Besok kita liat, apa Joan masih nggak mau sekolah. Main bareng temen-temen, belajar bareng, upacara di sekolah. Itu lho, Ma  kayak yang biasa kita lihat di TV setiap 17 Agustus. Joana kan kepingin jadi pembawa bendera ya, Ma. Tapi Joana harus sekolah dong kalo mau jadi pengibar bendera.” Papa coba mengiming-imingi Joana lewat sindiran halus.
            Papa mengangkat Joana yang masih cemberut dari kursi santainya menuju kamar tidur. Joana hanya diam dalam gendongan papanya. Ia sedang memikirkan cara agar tak perlu ke sekolah.
           
            Pagi pagi sekali Joana sudah bangun, mandi dan langsung menempatkan diri di kursi santainya, kamar bermain. Mama mencari Joana ke kamar, mendapati kamar kosong dan langsung tahu keberadaan Joana. Mama dan papa pergi ke kamar bermain dengan kotak seragam semalam. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk membujuk putrinya agar mau sekolah. Hingga akhirnya papa kehabisan ide.
            “Joan nggak bisa kemana-mana Papa. Pantat Joan nempel di kursi ini.” Lem melekatkan roknya dengan kursi tersebut.
            “Joan…Joan…” Mama melepaskan rok itu, menarik Joan dari kursi lalu memasangkan baju seragam  lengkap.
            Sesekali Joan memberontak. Melepas kembali bajunya, sambil menangis. Mama berusaha sabar. Memasangkan lagi, memelototi Joana dan kembali melembut.
            Joana sesegukan, “Mama…Joan mau sekolah asal bawa kursi itu. Joan mau duduk di kursi itu aja, Mama…” nadanya memohon
            Mama memandang papa. Tidak tega melihat anak kesayangannya menangis. Papa mengernyitkan kening sambil menghela nafas panjang lalu mengangguk lemas.
Pembantu membersihkan bekas lem di kursi Joana kemudian beserta pembantu lainnya mengangkat kursi tersebut ke dalam mobil. Mobil pun membawa keluarga kecil itu menuju sekolah baru Joana.
            Bu Herman memohon kepada kepala sekolah untuk membiarkan putrinya menggunakan kursinya sendiri di sekolah. Kepala sekolah mendengarkan dengan seksama cerita tentang Joana dari kedua orang tuanya tersebut. Beliau memberikan izin untuk beberapa hari saja serta meminta keduanya untuk membantu Joana membiasakan diri dengan suasana barunya.
            Seluruh kelas gaduh ketika petugas kebersihan sekolah menggotong kursi sofa kecil masuk ke dalam kelas. Warna merah cerah membuatnya jadi primadona. Joana masuk ditemani ibu kepala sekolah dan langsung duduk di kursi tersebut. Mama dan papa masih berdiri di depan kelas. Mereka tersenyum pada Joana yang menunduk sedari tadi.
            Semua anak saling berbisik, teman sebangku Joana hanya bisa bengong memandangi kursi merah di sebelahnya itu. Hari itu hanya diisi dengan perkenalan. Saat bel istirahat berbunyi Joana dikerubungi teman sekelas. Mereka bertanya-tanya, ribut sekali. Joana menutup kuping dan memejamkan erat matanya. Teman-temannya pun berjalan keluar kelas sambil mengomel.
            Hari berikutnya seisi kelas tidak lagi meributkan keberadan kursi itu sampai seorang murid laki-laki di belakang Joana yang dari tadi gusar memandangi papan tulis akhirnya berteriak.
            “Bu tulisan yang di bawah tidak kelihatan. Kehalang sama kursi merah di depan saya Bu.”
            Seluruh pandangan seketika tertuju pada kursi tersebut. Joana sibuk sendiri dengan buku gambarnya. Ia tidak memperhatikan pelajaran. Ibu Guru memperhatikan Joana sambil mengernyitkan kening, berpikir sebuah solusi. Ia pun memanggil Joana, satu, dua hingga tiga kali, Joana baru mengangkat dagunya memandang sang guru. Seperti biasa, Joana seakan-akan punya dunia sendiri ketika berada di kursinya. Hal itulah yang bisa membuatnya tenang dalam dua hari ini berada di lingkungan yang benar-benar asing.
            “Joana…kamu pindah ke belakang ya.”
            Joana diam sejenak, kemudian mengangguk. Ia tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Bu guru membantunya mengangkat kursi itu. Ia kembali duduk di singgasana dunianya, sendiri. Sepanjang pelajaran guru Joana terus memperhatikan tingkahnya. Bel istirahat berbunyi, beliau menghampiri Joana.
            “Joana…tidak main sama teman-teman?”
Joana menggeleng.
“Joana kenapa bawa bangku sendiri ke sekolah? Joana cerita saja sama ibu kalau memang ada yang mau Joana ceritakan.”
“Joan…suka Bu duduk di sini.” Ia kembali menunduk seusai menjawab.
“Kalau Joan tetep pakai bangku ini Joan akan duduk di belakang terus. Joan mau? Kan nggak enak sayang. Jauh dari papan tulis. Nanti Joan kesulitan baca tulisan ibu, suara ibu juga nanti nggak kedengaran sama Joan. Besok Joan duduk di depan ya, di bangku itu.” Ibu menunjuk bangku kayu yang berada di barisan paling depan.
Lagi lagi Joana menggelengkan kepalanya.
“Coba lihat itu Rina sama Santi, mereka duduk  sebelahan di bangku sekolah yang tidak ada sandaran tinggi seperti punya Joana. Itu sebabnya mereka bisa mengobrol. Sekarang coba Joan lihat bangkunya Joana. Ada sandaran tingginya. Kalau Joana senderan, udah deh jadi  nggak kelihatan. Padahal dari tadi Ibu liat Desi kepingin ngajak Joana ngobrol tapi nggak bisa sayang… Gara-gara ini” Ibu menunjuk sandaran tinggi bangku Joana yang membuatnya seolah-oleh tertutupi dari dunia di sekitarnya.
Sisa pelajaran diisi Joana dengan memperhatikan teman-teman sekelasnya. Ada yang asyik mengobrol, saling melihat catatan kerena tertinggal saat bu guru mendiktekan materi bahkan bermain hompimpa di bawah meja. Mereka terlihat senang sekali. Joana memajukan sedikit tubuhnya lalu melihat Desi yang sedang mencatat di bangku sebelah. Desi lalu tersenyum lebar kepadanya. Joana membalas senyuman itu.
Esok harinya, setelah mangantarkan Joana ke sekolah supirnya pulang tidak dengan tangan hampa. Sebuah kursi merah ia angkat masuk ke kamar bermain Joana. Hari ini Joana duduk di bangku sekolah kayu yang sama saperti teman-temannya. Joana mulai membuka diri dan mencoba terbiasa dengan suasana barunya. Pulang sekolah ia langsung menuju kamar bermain. Mama mendatanginya di sana.
“Sayang…ada cerita apa hari ini?” Mama mengajukan lagi pertanyaan yang kemarin-kemarin belum dijawab Joana.
Joana tersenyum ceria sekali, Mama membalas senyuman anaknya sembari menghela napas lega.
“Cerita Hari ini, Ma….” Kata demi kata mengalir deras dari bibir mungil Joana.
| http://passionofdream.blogspot.com/2012/03/bangkusekolah-joana-joana-bulan-ini.html

Bangku : Ceritaku

Oleh: @syareetah


Ini adalah tahun ketiga ku menjadi bangku sekolah di sebuah sekolah menengah atas. Aku tidak pernah tahu aku dimana, tapi yang aku tahu rumah tempatku berteduh tidaklah mewah, semuanya diatur dan ditata dengan sangat sederhana dan apa adanya. Aq bersama bangku sekolah yang lain, papan dan kapur-kapur tulis yang habis terkikis, serta lemari-lemari kayu adalah saksi bisu setiap momen yang terjadi di kelas ini. Sekilas adalah penggalan memori yang berkesan sepanjang tiga tahun hidupku.
***

            “Paijo, sebutkan 5 contoh tumbuhan yang bereproduksi dengan spora?” 
            Dan pria muda bernama Paijo yang sedari tadi sibuk ngobrol sendiri dengan teman sebangkunya itupun terkaget-kaget mendengar namanya disebut, “Hmm…” Sambil menoleh kanan kiri melihat bibir teman-temannya, siapa tahu ada yang berbaik hati mau membisikkan jawaban untuknya.
            “Iyaakkk, gak tahu kan!! Makanya jangan ngobrol sendiri kamu!” Sembari merapikan buku-buku yang terbuka di atas meja guru, “Ayo sebelahnya, 5 contoh tumbuhan spora, apa?” Dia menunjuk teman sebangku, yang tadi terlibat obrolan asyik dengan si Paijo.
            “Apa ya?” Garuk-garuk kepala.
            “Gak tahu, idem juga kaya Paijo.” Dia menarik napas dalam-dalam, “Yang lain, siapa yang tahu? Bonus nilai sepuluh nih, buat nambahin nilai ulangan nanti.”
            “Saya pak.”
            “Iya, Sutinem silahkan.”
            “Lumut, jamur, suplir, paku kawat, dan…” Sutinem mengalihkan pandangannya ke arah halaman sekolah, “Dan paku ekor kuda pak.”
            “Yak, sepuluh yah buat kamu Sutinem. Buat yang lain, belajar lagi di rumah. Jangan lupa selasa minggu depan kita ulangan bab ini!” Kemudian si Bapak guru mengemasi buku-bukunya dan beranjak pergi dari ruangan.
***
            Jam istirahat baru berdentang sekitar 5 menit yang lalu, seisi penghuni ruang kelas ini sudah berhamburan keluar. Ada yang berlari-lari pergi ke kantin, berjalan santai ke arah halaman dan lapangan sekolah yang ada ditengah-tengah gedung, sampai hanya duduk-duduk cantik sambil ngemil di depan  kelas. Tapi ada juga sebagian anak yang lebih memilih tetap di dalam kelas. Sundari salahsatunya, dia dan ketiga temannya  duduk asyik menikmati bekal mereka sembari mengobrol tentang apa saja.
            Ketika sedang melahap pisang goreng bikinan emaknya sendiri, tiba-tiba datanglah sesosok pria yang wajah dan perawakannya dia kenal dengan baik, Tarjo.
            “Hei Ndari, sori nih ganggu.” Tarjo agak gugup, “Hmm boleh ngobrol sebentar gak?”
            Sundari yang sedari tadi sejak Tarjo datang belum mengunyah pisang goreng yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya kemudian buru-buru menelan secuil pisang goreng itu demi menjawab ajakan si Tarjo.
            Sundari menelan sambil melotot karena keseretan, “Hmm… I… Iya, boleh kok.” Sundari bahkan tidak berani menatap wajah Tarjo.
            “Kita ngobrol di sana yuk!” Tunjuk Tarjo ke salahsatu bangku urutan kedua dari depan, baris ketiga dari kanan, agak jauh dari tempat Sundari dan teman-temannya berkumpul.
            Sundari dengan sigap mengelap tangannya yang belepotan minyak dengan tisu makan berwarna pink yang dibawanya bersamaan dengan kotak makan berisi pisang goreng, kemudian berdiri, membenarkan rok abu, dan merapikan kemeja putihnya, lalu berjalan di belakang mengikuti langkah Tarjo. Sementara ketiga temannya saling berpandangan, tersenyum-senyum kecil sambil melirik ke arah Sundari dan Tarjo.
            Duduklah mereka bersebelahan, si Tarjo memelankan volume suaranya agar ketiga teman Sundari tidak dapat menguping pembicaraan mereka.
            “Hmm… Sun, aku… Eh… Aduh…” Tarjo gugup, dia menggaruk bagian belakang kepalanya.
            “Hah?? Apa?? Kamu gak sopan!”
            “Bukan. Maksudku Ndari, hmm…” Tarjo memainkan jemari tangannya untuk menghilangkan gugup, “Aku.. Aku…”
            “Aku apa Jo??” Sundari mulai kesal.
            “A… Aku Cuma mau bilang. Hmm…” Tarjo memandang ke wajah Sundari, “Selama ini aku suka… sama kamu.” Tarjo menunduk, mukanya merah malu. Demikian juga dengan Sundari yang mukanya berubah dari kesal menjadi malu. Mereka sama-sama tertunduk, “Kamu mau gak jadi… pacarku…. Ndari?”
“Cciiiiieeeeeee….!!!!” Sorakan dari ketiga teman Sundari dari sudut lain di ruangan itu, “Terima dong Ndari!!”
Sundari bahkan tak berani menengok ke asal suara sorakan itu saking malunya, dia juga tak berani mengangkat kepalanya. Hanya kode anggukanlah yang menjawab pertanyaan si Tarjo
***
            Pukul 7.30 pagi, gemuruh langit hitam menggantung rata bernaung di atap sekolah, keadaan gelap saat itu memaksa lampu-lampu penerangan seisi sekolah bekerja overtime sedari malam tadi. Angin sejuk pagi hari bercampur dengan angin dingin mendung berhembus masuk ke dalam kelas, meniupkan segala yang dilewatinya. Spontan para murid menindih kertas ulangan dan soal ujian tengah semester Geografi mereka beradu dengan meja, takut-takut kalau terbang berhamburan. Optimis, putus asa, gugup dan ngantuk adalah ekspresi-ekspresi yang bisa dibaca di wajah murid-murid kelas 1C pagi ini.
            “Kerjakan mulai sekarang!” Ibu Endang memberi perintah sambil terus keliling berpatroli seisi kelas. Ketukan suara hak sepatu Ibu Endang yang beradu dengan ubin lantai menyatu dengan suara gesekan pulpen di atas kertas terdengar berirama, yang kalau seandainya diberi sajak akan membentuk suatu lagu bersyair indah, tak, tuk, tak, tuk, tak tuk.
            “Hoammm….” Jono menguap selebar-lebarnya. Situasi cuaca di luar mendukung matanya untuk terpejam. Pandangannya mulai kabur oleh air mata yang menggenangi kedua bola matanya, membuat dia sulit untuk membaca seluruh kertas soal ujian geografi di meja yang ditindih dengan siku tangan kanannya. Dia mengucek kedua matanya, dan keadaan pun kembali normal.
            “Se… Sebut dan jelaskan beberapa jenis batuan yang ada di lapisan kerak bumi?” Baca Jono dalam pelan, “ Gambarkan penampang lapisan kerak bumi?” Jono menghela napas panjang, “ Alamak, ini apalagi?!” Gerutunya. Dia menggaruk kepalanya lagi untuk  kesekian kalinya.
            Sejenak kemudian Jono terdiam duduk manis di atas bangkunya, dengan pandangan lurus ke depan, dan kedua tangan terlipat di meja. Tak berapa lama dia lalu menyandarkan punggung bidangnya pada sandaran bangku yang keras. Tapi posisinya agak aneh, yang disandarkannya  hanya bagian atas punggungnya, dengan kedua lutut menempel pada tepian kolong meja, tangannya tidak lagi terlipat rapi di atas meja, melainkan sudah berada di kolong meja. Dengan sigap tangan kanannya menarik buku yang ada di sudut terdalam kolong ke atas paha, dan membukanya. Kini tangan kirinya memegang bagian sampul buku sebelah kiri sedangkan tangan yang lainnya sibuk membolak-balik halaman buku yang sekiranya di halaman itu terdapat jawaban dari salahsatu soal ujian yang dimaksud. Bola matanya bergerak cepat, bergantian melihat ke arah buku di atas pangkuannya dan gerak gerik Ibu Endang yang sedari tadi duduk manis di bangku depan sambil jemarinya memainkan tombol-tombol telepon selularnya.
            “Aman.” Ucap Jono pelan. Dia pun melanjutkan aksi curangnya, tangan kanannya dengan lancar menyalin kata demi kata dari buku Geografi ke dalam kertas jawaban sementara jemari telunjuk tangan kirinya menunjuk kalimat jawaban yang akan disalin. Singkat kata, Jono sedang asyik menyalin. Sudah empat soal dari total sepuluh soal sudah dilaluinya dengan mulus, sekarang giliran soal kelima yang akan dicari jawabannya.
            Jidatnya mengerutnya, kemudian dia menutup buku yang sedari tadi dibukanya dan menaruhnya jauh di posisi sudut terdalam kolong meja. Semuanya dia lakukan dengan halus dan perlahan, sehingga meminimalisir terjadinya suara-suara gedubrakan. Dadanya menempel tegak di ujung meja, sementara tangan kanannya merogoh bagian dalam kolong mencari buku yang lainnya. Raut mukanya berubah senang seketika. Dia mengulangi keadaan posisi badannya seperti tadi dia menjalankan rencananya.
            Rupanya Jono tidak sadar sedari tadi teman-teman sekitarnya memperhatikannya sedari tadi. Si Cepi, teman yang duduk sebangku dengannya juga turut asyik menyalin jawaban dari kertas jawaban Jono. Adi, Widodo, Tri, Seno, Budi, dan Sugeng, teman-teman se-geng Jono yang duduk di sekitaran Jono juga turut menginginkan jawaban dari kertas jawabannya.    
            “Cep… Cep…” Panggil Sugeng yang duduk di sebelah kanan paling dekat dengan Cepi, “Oper Cep, cepetan!!”
            “Jon nomer 3, Jon??” Tanya Widodo dengan muka yang terus menatap ke arah Jono.
            Ibu Endang kembali melakukan patroli menyusuri barisan-barisan bangku dan meja seisi kelas. Tanpa Jono sadari, teman-teman gengnya yang sedari tadi memanggil dan tidak dihiraukannya telah berhenti bersahut. Posisi duduk mereka mendadak manis dan rapi dengan kepala menunduk ke bawah seolah-olah sedang membaca soal ujian. Tetapi Jono dan Cepi yang sedang asyik dengan kegiatan masing-masing tidak mengetahui kalau Ibu Endang ternyata sudah tidak lagi duduk manis dan berkutat dengan telepon selularnya.
            Lalu mendadak…
            Sesosok tangan halus Ibu Endang sudah mendarat di kuping kirinya dan menjewernya, “Jono… Apa yang kamu lakukan?!!!” Tanyanya lantang. Spontan seisi kelas langsung menoleh ke arah Jono.
            Dia ketahuan berbuat ngebet alias curang.
***
           
             Berat tubuhku tidak lebih dari 5 kilogram,  berkulit coklat mengkilat, dan terekuk sempurna 90 derajat. Mulanya aku hanya potongan-potongan, namun kemudian disatukan sampai membentuk sebuah bangku yang terdiri dari empat kaki, sebuah dudukan dan sandaran. Bentuk ku memang jauh dari nyaman dan mewah bila dibandingkan dengan sebuah sofa dengan dudukan dan sandaran yang empuk terbuat dari busa. Aku dan pasanganku meja, serta bersama kawanan bangku sekolah yang lain, kami bersama-sama setiap pagi punya andil besar dalam program pemerintah dalam mencerdaskan anak negeri. Dan itu kami lakukan dengan ikhlas dan suka cita setia hari. :D
Wahai kalian anak negeri, jangan pernah bepikir dangkal tentang aku dan kawananku, karena tanpa kami kalian tidak akan nyaman menuntut ilmu.
*FIN*

| http://gingerose.tumblr.com/post/20159901333/bangku-ceritaku

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan