Showing posts with label #CeritaHariIni. Show all posts
Showing posts with label #CeritaHariIni. Show all posts

Friday, December 28, 2012

Storytelling dalam Komik



Simak tutor yang diberikan oleh Sheila Rooswitha (@sheilaro2105) , creator/artist dari "Curhat Lala"! :)
 
BAGAIMANA MELATIH STORYTELLING?

1 . Dalam membuat cerita, pilihlah tema yang paling anda kuasai. 
2.  Kebetulan, tema yang paling saya kuasai adalah tema tentang keluarga dan kehidupan sehari-hari.
3. Sering disebut 'slice of life'.
4. Intinya, mencoba menjadikan kejadian sehari hari yang remeh temeh menjadi cerita yang menarik.
5. Sebuah cerita menjadi menarik karena cerita tersebut dekat dengan pembaca.
6. Misalnya cerita tentang kucing piaraan yang senang mencakar-cakar sofa.
7. Atau tentang rute perjalanan dari rumah ke tempat kerja, dan obyek-objek menarik yg dilewati.
7a. Seperti yang pernah mbak @Larasatita buat di komik yang berjudul Going Campus and Back.
8. Semakin pembaca bisa mengkaitkan cerita yg dibaca dengan diri mereka, semakin tinggi tingkat keberhasilan cerita itu.
9. Tema yang menarik juga didukung dengan penokohan yang kuat.
10. Misalnya karakter si kucing itu pemalas, suka mencuri ikan, dan super nakal.
11. Langsung terbayang, kan, bentuk kucing tersebut, yg lucu dan juga menyebalkan.
12. Penambahan detail gambar juga diperlukan agar pembaca bisa semakin masuk ke cerita yang kita buat.
13. Misalnya adegan kucing mencuri ikan di meja makan, sertakan juga tudung nasi yang terbuka, mangkuk yang porak poranda, atau bekas2 cakaran pada taplak meja.
14. Untuk latihan, bisa mulai menggambar kejadian sehari-hari yang Anda alami.
15. Tak perlu menunggu ada kejadian yg spektakuler, karena hanya akan menjadi beban.
16. Mulailah dengan pertanyaan sederhana, apa saja yang aku kerjakan hari ini?
17. Selamat mencoba!

Tuesday, May 1, 2012

Bayangan Sepanjang Jalan

Kemanapun aku pergi
Bayang bayangmu mengejar
Bersembunyi dimanapun
Selalu engkau temukan
Aku merasa letih dan ingin sendiri *)



Aku ingat pada senyuman itu. Senyum merekah menyambut pagi yang tak pernah ramah. Senyumnya selalu ada disitu, menunggu bus kota lewat dan berhenti di halte. Aku selalu ingat pada senyuman itu. Rupa berseri dalam balutan senyum itu mengingatkanku pada perempuan itu. Perempuan yang pernah ada mengisi hari-hari sepi. Perempuan yang selalu membuatku hilang dari sadarku. Perempuan yang tiba-tiba menghilang bagai mimpi-mimpi malam.

Pemilik senyum tadi rupanya naik bus kota setiap hari. Berdesakan dengan penumpang lainnya yang sama memburu mimpi di Jakarta. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia harus berlarian mengejar bis kota. Mereka berlomba dan saling berebutan hanya untuk sekedar mendapatkan bangku kosong yang ada.

Aku pun pernah mengalaminya. Betapa tidak menyenangkannya saat-saat itu. Saat peluh bercampur dengan berbagai macam aroma dan itu selalu membuat kepalaku pusing. Aku tidak bisa membayangkan bahwa ia harus hidup dengan kenyataan itu setiap hari. Aku tidak bisa membayangkan apa yang telah dialaminya dan tiba-tiba saja dalam sekejap ia sudah kembali menata penampilannya. Membereskan letak leher kamejanya, mengikat rambut serupa buntut kuda, tak lupa menambal perona wajah sekenanya. Dengan demikian, ia telah siap untuk menjalani hari-hari yang akan selalu seperti itu.
*
Ibu Guru Tati mengawali harinya dengan menyapa orang tua murid yang kebetulan bisa mengantar anak-anak mereka pergi sekolah satu persatu. Setiap pagi ia akan selalu menemuiku. Dengan wajah berseri sambil menyapa hangat "Selamat pagi..."  sembari ditemani dua murid kecilnya yang sudah menunggu. Tidak pernah nampak bekas keringatnya yang meleleh sewaktu di dalam bus. Tidak ada juga wajah lelah dan bosan.

Ibu Guru Tati selalu tersenyum manis setiap menghadapi murid-muridnya. Tidak jarang, mereka sudah menyambutnya sejak gerbang sekolah. Kemudian, ia akan selalu menggandeng tangan Prita. Membawanya masuk kelas dan meninggalkanku. Aku masih ingat wangi parfumnya. Aku perlahan tersenyum sendirian. Sialan. Memori itu masih ada dibenakku.

Sekali waktu, sengaja aku menunggunya. Usai dentang bel sekolah, aku menemuinya dan mulai berbasa-basi. Aku ingin mengantarkannya pulang. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena telah mau menjadi ‘teman’ untuk Prita. Prita selalu bercerita bahwa Ibu Guru Tati selalu mengajarinya membaca buku #Cerita Hari Ini dari seorang penulis tanpa nama. Buku cerita favorit muridnya. Buku itu tidak lebih dari sekumpulan cerita anak berjumlah tiga puluhan cerita pendek yang berisi pelajaran-pelajaran dasar kehidupan. Misalnya, budi pekerti.

Semenjak perceraianku dengan Anita, sudah jadi kewajibanku untuk mengantar-jemput Prita. Makanya, aku selalu punya kesempatan untuk bertemu dengan Ibu Guru Tati. Kesempatan yang tidak akan pernah aku lewatkan begitu saja. 

“Mari, saya antar pulang.”
“Maaf. Terima kasih. Saya naik bus saja.”

Begitu katanya, sambil pergi berlalu begitu saja bagai pesawat tempur.

Aku memang kehilangan kesempatan itu. Aku tidak tahu mengapa tetapi yang jelas ia punya seribu alasan untuk tidak menerima tawaranku. Aku bisa mengerti itu. Dengan statusku yang seperti ini tentu Ibu Guru Tati lebih cerdas dalam bertindak. Tentu ia tidak ingin menampakkan sesuatu yang sangat sulit untuk dijelaskan. Ibu Guru Tati tidak ingin pandangan orang lain merusak reputasinya. Apalagi, ia menjadi figur pengganti para orang tua di sekolah.

Aku melihatnya berlalu begitu saja. Berjalan cepat sambil sesekali menutupi wajahnya karena silau matahari siang. Aku bisa melihat butir keringat yang perlahan muncul di dahinya. Seketika pula ia akan menyekanya dengan sapu tangan berwarna merah jambu. Sapu tangan pemberian Anita, sebulan sebelum kami bercerai. Aku lihat Ibu Guru Tati melambaikan tangan. Bis kota yang sudah terlalu tua dan badannya dipenuhi iklan itu menepi. 

Tidak kulihat lagi Ibu Guru Tati. Ia kembali melebur jadi warga ibu kota yang selalu jadi korban kebijakan. Betapa kota ini tidak pernah ramah bagi warganya sendiri. Pengguna angkutan umum adalah contohnya. Pemerintah telah berkhianat pada mereka. Satu sisi, Pemerintah mengharapkan warganya untuk beralih menggunakan sarana transportasi publik. Namun, disisi lain Pemerintah tidak menyediakan sarana transportasi yang layak dan memadai. Ibu Guru Tati hanyalah bagian kecil dari siklus perkeliruan itu.
*
Aku kini sedang berada dalam bus malam yang akan membawaku ke Surabaya. Malam mulai meninggi. Jalanan sudah sepi. Hanya keremangan malam yang menemaniku. Aku lihat tidak banyak penumpang yang masih terjaga. Kecuali aku dan seorang yang duduk di dekat toilet. Kondektur dan sopir pun seakan khusyuk sekali memandang jalanan di depan.

Kepergianku ke Surabaya bukan untuk sekedar perjalanan biasa. Aku telah memutuskan untuk pindah ke Surabaya. Aku terima tawaran pekerjaan disana. Aku butuh pengalaman dalam hidupku yang semakin terasa datar ini. Aku tidak pernah tahu kemana sungai kehidupan membawaku. Aku hanya tahu bahwa aku harus melanjutkan hidup, itu saja.

Aku terlalu banyak mengkhayal tentang Ibu Guru Tati. Semenjak kepindahanku ini, aku tentu tidak akan bisa menemuinya lagi. Menatapi senyum ramahnya dan merasakan aroma parfum yang dikenakannya. Tidak pula kutemui lagi sapaan hangat yang selalu membuat Prita begitu riang.

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa tertegun bila mengingatnya. Entah darimana datangnya. Bayangan tentangnya masih saja menemuiku. Raungan mesin diesel Hino masih memecah kebisuan di sepanjang jalanan yang masih juga sepi. Aku masih melamun. Aku hanya memandangi jendela saja.

Dalam gelap malam yang semakin pekat. Bayangan itu nampak jelas dan seakan hidup. Aku hanya melihat bayangan wajahnya saja. Bukan Anita, sosok perempuan rendah hati yang telah kusakiti hatinya. Bukan pula Prita, buah cinta kesayanganku satu-satunya, yang selalu membuatku punya alasan untuk tetap hidup. Aku hanya melihat bayangan Ibu Guru Tati. Bayangannya saja.

Beginilah keadaannya. Aku tidak pernah merasa berat hati untuk meninggalkan apapun yang telah kulalui. Aku tidak pernah merasa menyesal atas apapun. Sejenak masih melamun. Bayangan Ibu Guru Tati datang lagi ketika aku mengingat kembali senyumannya. Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Aku memanggil namanya kembali. Dalam hati saja. Begitu lekatnya hingga tak ingin pergi.

Semuanya masih gelap. Hanya keremangan lampu jalanan saja yang menemani. Aku masih menatap jendela. Aku merasa sangat lelah. Perlahan bayangan tentangnya muncul kembali. Bagai hujan di musim badai seperti ini yang tak pernah berucap kapan waktunya tiba. Bagus. Sementara perjalanan masih lumayan jauh, aku hanya berkutat dengan bayangannya saja. Pegulatan dengan bayangan yang semakin menyiksaku. Kenapa hal seperti ini muncul pada saat-saat seperti ini? Aku sedang tidak melarikan diri tapi kenapa bayangnya masih selalu ada. Senyumnya selalu mengikuti. Bagaikan bus kota yang mengikuti kehendak sang supir.

Ia bukan siapa-siapa. Maksudku, ia hanya seorang guru, dan hanya itu saja. Kita dipertemukan oleh takdir yang sudah seharusnya terjadi. Aku mengenalnya karena sering bertemu saja. Lainnya, tidak ada. Tapi mengapa saat ini seakan aku merasa dekat sekali dengannya. Aku bisa rasakan hembusan nafasnya dibelakang tengkuk leher ini. Hmm, aku jadi merinding.

Lewat dini hari aku tidak tahu sudah sampai mana. Aku merasa ia sedang duduk di sebelahku. Sama-sama memandang sayu pada jendela yang bertuliskan Jakarta-Surabaya. Aku merasa ia disana dan sedang memegangi tanganku dengan dingin yang mengalir dari sela jari-jarinya.

Aku segera tersadar bahwa aku hanya tertidur sesaat. Itu pun kalau bukan karena klakson bus malam lainnya yang berpapasan. Aku menghela nafas panjang. Aku lihat disekelilingku hanya aku saja yang masih terjaga. Ada sesuatu menganggu. Aku ingin terus terjaga.
*
Aku bersandar pada jok. Mengambil nafas panjang dan keluarkan perlahan sambil memejamkan mata. Aku merasa lebih tenang sekarang. Aku merasa sendirian. Sendirian saja di dalam bus malam yang penumpangnya penuh. Aku melihat titik-titik berwarna putih. Perlahan semakin banyak dan menutupiku.
Paninggilan, 26 April 2012.

*) dari lirik lagu “Aku Ingin Pulang” dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade
| http://selendangwarna.blogspot.com/2012/04/bayangan-sepanjang-jalan.html

Dalam Bus Kota Kenangan

Aku ingin mengatakan hidup ini indah. Seandainya saat ini aku berada di tempat yang berbeda. Bukan disini. Di dalam sebuah bus kota. Sendiri. Udara lembab yang sebentar lagi menghantarkan hujan menambah sendu suasana hatiku. Mungkinkah tetesan hujan yang akan turun sebentar lagi berniat mengejekku? Sudahlah, semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Aku akan memulai langkah baru. Disertai doa semoga tubuh ini tidak keburu melapuk diterjang air. Awan hitam makin berat menggantung di langit. Aku menanti hujan sambil menghitung mundur mulai dari dua puluh hingga nol, berharap tiap angka yang terucap dari bibirku mengantarku menuju hari-hari yang telah berlalu. Dan segera merangkainya menjadi Cerita Hari Ini.
*
“Buruan, Om. Nanti kita kesiangan sampai Stasiun Kota,” teriakan salah satu keponakanku terdengar nyaring dari teras.
“Iya, iya, sabar sedikit kenapa? Memang yang lain sudah siap?” jawabku sekenanya. Sebagai lelaki yang belum menikah di awal usia 40, aku lebih banyak, bahkan terlalu banyak meluangkan waktu untuk ‘me time’. Bergelut dengan pekerjaan kantor yang kerap aku bawa ke rumah, hang out dengan teman-teman kerja di waktu luang, dan membaca buku sambil tiduran di hari libur. Libur agak panjang biasanya aku gunakan untuk kegiatan traveling. Lebih sering sendiri ketimbang bersama rombongan. Mengatur urutan tempat-tempat yang ingin kukunjungi sendiri sangat berbeda dengan mengandalkan jasa biro. Meski demikian, hari-hari yang semula terasa istimewa bagiku itu tak urung lambat laun membuatku bosan. Pertanyaan klise seperti ‘kapan menikah’ mulai kuberi porsi perhatian sekian persen. Tidak banyak, tapi setidaknya tidak lagi berlalu dari telinga kanan ke telinga kiri dan akhirnya keluar dari kepala tanpa permisi.
Aku juga mencoba untuk membuka lebih banyak peluang atas hadirnya orang lain dalam jadwal hidupku sehari-hari. Seperti misalnya, mengajak tiga orang keponakanku untuk berkeliling kota Jakarta dengan bus TransJakarta. Riuhnya persiapan bepergian dengan tiga orang keponakan yang semuanya masih sekolah dasar tidak lagi kujadikan beban. Meski kadang telinga ini masih saja terganggu mendengar celoteh mereka yang belum mampu memahami kesendirian pamannya.
“Om, mau nggak aku kenalin sama guru Bahasa Indonesiaku. Namanya Bu Wati. Cakep deh orangnya. Baik hati lagi…” keponakanku yang paling sulung memulai percakapan selagi kami berempat menempatkan dirinya masing-masing di kursi bus TransJakarta.
Aku hanya tersenyum sambil menjawab,”Boleh aja, om suka kok kenalan.”
“Guruku juga ada yang cakep, Om, tapi kemarin aku lihat ke sekolah udah gandeng anak kecil. Aku tanyain dulu ya, Om, siapa tau bukan anaknya…,” adiknya menimpali.
Penumpang di kanan kiri mulai tersenyum-senyum mendengar percakapan kami. Aku jengah dengan senyum yang tertangkap oleh mataku sebagai kebahagiaan dalam iba. Untuk menutupi rasa canggung yang menyergap, aku segera mengeluarkan sunglasses dari saku dan mulai memakainya. Beruntung siang itu cahaya matahari begitu terik.
Mencoba menikmati traveling dalam kota kali ini, aku memasang headset ke telingaku sambil perlahan merebahkan kepala pada sandaran kursi. Aku berharap kiranya apa yang kulakukan ini dapat mengurangi tingkat keberisikan ketiga keponakanku. Setidaknya sebagai pengganti kalimat, ”Tolong simpan dulu pertanyaan kalian untuk di rumah nanti ya.”
Bila kemudian istirahatku menjadi terganggu setelahnya, itu bukanlah disebabkan oleh celoteh tiga makhluk kecil di sebelahku. Itu adalah akibat dari sudut mata lelaki yang telah berkompromi dengan hatinya untuk meninggalkan masa lajangnya di usia yang tidak muda lagi ini bertemu dengan sosok lembut namun bercahaya. Feminin tapi tegas. Tangguh, tapi tak kehilangan senyum manisnya.
Marni namanya, sebagaimana yang tertulis pada seragam yang dikenakannya. Sopir bus TransJakarta yang aku tumpangi bersama ketiga keponakanku. Beruntung aku menyadari keberadaannya saat bus belum lagi menyentuh halte Bundaran Hotel Indonesia. Masih tersisa sekitar 30 hingga 40 menit bagiku untuk menatap wajahnya, mungkin memasang senyum sepantasnya, kemudian mengajaknya berkenalan.
Takdir berpihak padaku dengan caranya sendiri. Beberapa penumpang yang duduk di kursi paling dekat dengan supir turun satu per satu. Dengan gaya menyediakan tempat duduk agar mudah dijangkau oleh penumpang baru, aku menggeser dudukku hingga ke kursi yang paling ujung. Tepat di belakang supir wanita bernama Marni ini. Kini, kaca spion memantulkan bayangan wajahnya lebih jelas. Sejelas gundahnya perasaanku yang datang kali ini.
“Halte Stasiun Kota masih jauh ya?” pertanyaan bodohku mengalun perlahan. Tak ada jawaban. Aku melongokkan kepala melampaui pembatas fiber glass yang memisahkan kursi penumpang dengan supir dan mengulang pertanyaanku. Beruntung ketiga keponakanku kelelahan dan tak lagi menghiraukan tingkah aneh pamannya.
“Eh, iya, Pak, masih enam pemberhentian lagi. Maaf tadi tidak dengar,” sahutnya memperlihatkan senyum manisnya yang lagi-lagi tertangkap oleh kaca spion. Tubuhku serasa diguyur air es di tengah padang pasir demi memandangnya. Tak kusia-siakan waktu yang tersisa sebelum perjalanan ini berakhir dan aku harus berpisah dengannya. Lama Marni bekerja sebagai supir, usia, latar belakang pendidikan, dan keinginan-keinginannya aku rekam dengan baik dalam ingatanku. Tak ketinggalan jadwal kerjanya yang diawali dari Stasiun Blok M.
*
“Pak Bowo, berkas tentang pencabutan izin bus kota yang dirapatkan kemarin sudah ditandatangani?”
“Sudah, Sur. Ambil aja di atas meja, dalam map kuning,” jawabku singkat.
“Bapak cuti sampai kapan?”
“Cuma tiga hari. Jumat pagi aku sudah di kantor lagi”
“Baik, Pak”
Aku menutup pembicaraan telpon dengan bagian tata usaha kantor tempatku bekerja. Mengambil cuti tiga hari saja untuk melepas lelah ternyata hampir tidak ada bedanya dengan masuk kerja seperti biasa. Telpon genggam berdering-dering menanyakan ini itu. Ada baiknya aku matikan sejenak agar hidup ini sedikit seimbang. Desas desus pencabutan izin beberapa jalur bus kota yang dikeluarkan kantor memang cukup meresahkan. Tak pelak demonstrasi kerap terjadi. Tapi yang akan kulakukan tiga hari kedepan ini tidak kalah pentingnya. Jatuh cinta tidak pernah tidak penting. Terutama bagi sebagian kecil yang sedikit terlambat merasakannya.
Aku dan Marni menghabiskan waktu hampir seharian penuh dengan berjalan menyusuri pertokoan di wilayah Blok M. Marni yang sedang mendapat giliran libur memang ada keperluan untuk membeli pakaian anak-anak titipan kakaknya. Dan aku tentunya juga mempunyai keperluan yang tak kalah pentingnya. Mengenal Marni lebih jauh.
Sejak hari itu, aku lebih sering tersenyum. Di rumah, di kamar, di tempat kerja. Meski yang menjadi penyebab senyumanku itu tidak nampak oleh orang di sekitarku. Namun gejala yang terjadi pada diriku sudah langsung diindikasikan sebagai penyakit umum pria lajang yang sudah mapan oleh orang-orang disekitarku.
“Kayaknya sebentar lagi ada yang sebar undangan nih,” Arman, teman sekantorku, berkata sambil berjalan melewatiku. Aku pura-pura tak mendengar. Sudah lebih dari lima orang yang melontarkan pernyataan serupa sambil cengar-cengir semenjak aku masuk kerja lagi dua hari yang lalu.
*
Aku memperbaiki dudukku di dalam bus kota yang bentuknya sudah lebih mirip rongsokan besi tua itu. Mengusir semut-semut yang berbaris di pinggiran jendela. Mereka mengganggu pandanganku. Meski sejujurnya merekalah yang lebih dulu ada di sana. Bukan aku. Aku hanyalah sosok yang terpaku pada kenangan akan perasaan. Perasaan yang pernah ada, yang begitu indah dan seolah minta dipupuk setiap hari.
*
“Mas Bowo, Marni mau pamit,” ucapnya malam itu.
“Pamit?” aku tersedak selagi menghirup teh panas yang disediakan Marni untukku.
“Iya, Mas, mau menemani bapak pindah ke Palembang…”
Aku merasa kehilangan akal waktu itu. Tak tahu pertanyaan apa yang sebaiknya kulontarkan padanya. Mana yang lebih dulu harus kuketahui. Segalanya terasa begitu cepat. Tidak! Tidak mungkin aku melepaskannya!
“Kamu bercanda, kan?” aku mulai dikuasai halusinasiku sendiri.
“Nggak bercanda, Mas. Kami berangkat Senin depan, tiga hari lagi. Bapak ditawari pekerjaan di lahan sawit adiknya”
“Kok… kamu… baru bilang…” aku gugup. Sangat gugup.
“Marni nggak mengira bapak sedemikian kecewa dengan pencabutan izin bus kota yang biasa disupirinya, Mas. Sementara bapak sudah tua dan sakit-sakitan, Marni harus menemani bapak pindah ke mana bapak mau. Tidak mungkin Marni membiarkan bapak sendiri. Kakak Marni kan sudah berkeluarga semua. Marni-lah satu-satunya harapan keluarga untuk menemani bapak semenjak ibu meninggal. Di tempat baru nanti, Marni akan mengikuti tes masuk pegawai administrasi Pupuk Sriwijaya. Doakan ya, Mas, Marni betah tinggal di sana dan dapat pekerjaan yang baik”
Lidahku makin kelu.
Tanpa menunggu pertanyaan lanjutan dariku, Marni melanjutkan ceritanya,”Jadi, bapak dan teman-temannya itu sudah berkali-kali demo di depan kantor Departemen Perhubungan, Mas…”
Deg! Kantorku. Aku memang belum pernah bercerita pada Marni kantor tempatku bekerja. Tidak penting bagiku. Toh, jabatan dan tanggung jawab yang aku emban bukanlah sesuatu yang penting untuk dibanggakan. Aku ingin Marni mengenalku sebagai Bowo saja. Bukan kepala bagian perizinan jalur bus kota.
“Tetapi tidak diperhatikan. Bapak tahu kalau bus kota jalur tersebut dikurangi dengan tujuan untuk membuat lalu lintas Jakarta lebih teratur. Tapi tidak bisa begitu saja kan, Mas. Bagaimana nasib supir dan keluarganya? Itu alasan bapak berdemo pada awalnya. Tetapi kemudian bapak dan teman-temannya juga mendengar kalau jalur tersebut ternyata akan diisi dengan bus kota lain. Lebih bagus dan baru busnya. Bapak jadi curiga, pencabutan izin ini hanya akal-akalan sebagian pihak yang memenangkan tender pengadaan bus kota baru…”
Kepalaku berdenyut makin kencang.
“Bapak muak, Mas, tinggal di sini. Udah habis badan, habis pula hati…”
*
Akhirnya aku membiarkan deretan semut yang semula mengganggu pandanganku itu tetap dengan aktivitasnya. Mereka hanya kubelokkan untuk menempuh arah yang berbeda. Yang semula beriringan melintas di jendela, kini mereka ku arahkan sedikit ke bawah. Aku meletakkan jariku di jalur awal yang mereka tempuh. Mereka mengerti, kemudian berbelok sedikit dan terus membentuk deretan dengan arah sejajar jalur awal tadi. Sebuah lubang kecil menjadi tujuan mereka. Tempat sisa-sisa makanan mereka timbun.
Setahun telah berlalu semenjak kepergian Marni. Sejak itu pula hampir setiap bulan aku rutin menyambangi sebuah lapangan tempat di mana sebagian bus kota yang telah dicabut izinnya teronggok tidak berdaya. Kemudian duduk di salah satu kursinya yang mulai dimakan rayap. Mencoba merasakan kembali makna keadilan di dalamnya.

| http://wordsondesert.wordpress.com/2012/04/26/dalam-bus-kota-kenangan/

Kisah Penulis Tua

Tubuh tua itu membungkuk berusaha membuka jendela yang engselnya terlalu lama tak terlumas minyak.  Bunyi derit beriring dengan tiupan angin malam yang dingin menerobos masuk kedalam kamarnya yang sempit. Penulis tua itu terbatuk sebentar kaget oleh serbuan dingin yang berebut menyiumi pipinya yang keriput. Ia tersenyum kecil melongokkan kepalanya keluar jendela. Menatap serius pada ujung jalan dikejauhan, lalu menghela nafas. Berat.
Perlahan ia menghampiri  meja kerjanya. Menyalakan  komputer  tua miliknya. Kekasihnya yang setia. Tentu saja selain gadis manis berambut ikal yang dulu pernah bersamanya selama nyaris tujuh tahun. Gadis yang pernah dicintainya dengan sepenuh seluruh namun pergi begitu saja demi lelaki pilihan  ayahnya. Kebersamaan yang manis dan kepergian yang pahit. Keduanya  kemudian menghambur menjadi kumpulan  kata membius yang diketiknya dari komputer tuanya.
Cerita hari ini dimulai ketika gadisnya pada suatu sore yang hangat memaksanya meninggalkan meja tulis dan tumpukan buku referensi yang tengah dibacanya dengan asyik.
“Keluarlah sebentar, cuaca sangat bersahabat hari ini,”bujuk gadisnya. Ia menggeleng. Buku-buku di depannya  terlalu menggoda untuk ditinggalkan.
Gadisnya cemberut. Merajuk.
Gadisnya itu sangat manis. Mungkin yang termanis di kota mereka. Pipinya bulat kemerahan di kulitnya yang seputih susu. Bibirnya yang ranum mengerucut mungil. Menggemaskan. Akhirnya ia mengalah. Berdiri beranjak meninggalkan meja tulisnya lalu membiarkan lengan gadisnya itu melingkar manja di pinggangnya .
Gadisnya benar. Senja itu sangat cantik.
Ia tak pernah melihat cakrawala begitu merona saat matahari mengecupnya seperti sore ini. Dan gadisnya begitu bersemangat menceritakan banyak hal. Tentang toko topi baru di ujung jalan, tentang kue jahe buatan tukang masak tuanya, Dorothy yang tak lagi garing bahkan juga tentang kucing siam milik tetangganya yang mendadak hilang siang tadi. Sesekali ia menimpali cerita kekasihnya. Hanya untuk basa-basi. Karena sebenarnya ia lebih suka menikmati sepasang biru jernih yang menari lincah mengikuti liukan intonasi suara  pemiliknya. Hingga cerita terakhir dari gadisnya yang  membuatnya sungguh-sungguh terdiam.
Cerita tentang bus kota.
“Bus kota itu berwarna keperakan. Kau tahu, perak yang berkilauan. Yang meninggalkan semburat cahaya setiap kali bus itu melaju,” Jemari gadisnya yang gemuk dan lembut itu bergerak melukiskan kecepatan.
“Bus itu akan muncul di ujung jalan. Mereka akan menjemput ruh-ruh untuk pulang. Itu sebabnya bus kota ini sangat ditakuti. Mereka menyebutnya, Bus Hantu. “ Mata biru gadisnya membola. Ia mengerinyitkan kening. Tentu saja ia pernah mendengar kisah Bus Hantu dari ibu dan neneknya sebelumnya.
Tiba-tiba gadisnya tertawa. Tergelak-gelak sembari memegangi perutnya.
“Kau tampak ketakutan, Sayang. Sudahlah itu cuma omong kosong.”
“Orang-orang dewasa tak pernah sungguh-sungguh melihatnya. Tapi aku pernah. Yah tentu saja saat aku masih kanak-kanak. Bus itu berhenti di depan rumah akan menjemput nenek yang berminggu-minggu sakit keras. Isi bus itu sangat penuh.”
“Apakah penumpangnya sangat mengerikan?” tanyanya ingin tahu. Gadisnya menggelengkan kepala dengan cepat.
“Tidak sama sekali. Mereka semua sangat cantik dan tampan. Beberapa tampak seperti peri dan orang kerdil. Tapi kesemuanya ramah dan menyenangkan. Mereka bilang mereka hanya ingin mengajak nenek untuk pulang dan kembali bermain bersama mereka.” Gadisnya meletakkan cangkir teh ditangannya dengan hati-hati ke meja. Mengambil nafas sejenak sebelum berkata,”Untuk bisa melihat yang tak terlihat kita harus bermain seperti kanak-kanak.”
Ia tercengang.
Gadisnya bukan seorang yang cerdas jika tak ingin disebut bodoh. Lebih suka melompat-lompat di padang rumput daridapada menghabiskan waktu berjam-jam bersama sebuah buku. Namun hari ini dengan keluguan pikirannya gadisnya melahirkan sebuah kebijaksanaan.
Seperti kanak-kanak. Bermain. Melihat yang tak terlihat.
Bertahun kemudian setelah gadisnya memilih menikahi pria pilihan ayahnya, penulis  itu menghasilkan beratus puisi dan puluhan roman yang mengharu biru. Pembaca fanatiknya berkata ia adalah contoh keberhasilan sastrawan yang mampu mengubah energi patah hati.  Penulis itu hanya tertawa. Gadis itu memang meninggalkan luka yang bertahun-tahun tak kunjung sembuh. Namun cintanya terlalu besar untuk bisa membencinya. Terlebih lagi gadis itu telah meninggalkan sesuatu yang terus dikenangnya sepanjang hidup. Kisah tentang bus kota yang berwarna keperakan.
Lelaki tua itu membaca kembali semua tulisan miliknya yang tersimpan di komputer tua. Sesekali ia menoleh ke arah jendela. Dadanya berdegup riang. Tak sabar menanti petualangan yang akan  menghampirinya.
Jam berdentang pukul 3 pagi, ketika angin malam  bergerak sejurus begitu cepat. Diiringi keriuhan dari halaman depan rumahnya. Lelaki tua bergerak bergegas ke arah jendela. Senyumnya terkembang lebar. Sebuah bis berwarna perak berkilauan berhenti tepat di depan rumah.
Ia melambai dari loteng kamar kerjanya. Semua penumpang membalas lambaiannya. Ia melihat wajah manis yang sangat dikenalnya berada diantara mereka.
“Kemari dan bermainlah, Sayang,” Angin mengantarkan panggilan kekasihnya.
Lelaki tua itu mengangguk penuh semangat.
Pukul 8.00 pagi
Gadis muda pengurus rumah tangga yang bernama Anne itu terisak pelan. Di dekatnya dua polisi dan petugas medis sibuk melakukan tugasnya.
“Kalian lihat senyumnya? Dia mati dengan bahagia,”ujarnya setengah terisak.
Polisi yang membuat catatan mengangkat wajah dari notes kecil yang dipegangnya.
“Kau benar. Ia mati seorang diri namun sepertinya ia cukup puas melihat karya-karya yang ditulisnya sepanjang hidupnya.”
Semua orang di ruangan itu menganggukkan kepala menyetujuinya.
Di sebuah tempat tak bernama, ruh penulis tua itu sibuk bermain.

Dunia Lirang, 25/4/2012

| http://akusanglirang.wordpress.com/2012/04/25/kisah-penulis-tua/

Abaikan Cerita Hari Ini

Tak ada yang lebih oke dibandingkan dengan ini; duduk membaca di beranda atas dengan bir, kopi atau apa saja yang bisa bikin tetap terjaga. Membaca.


Kalau iya ada yang lebih indah, pasti tak ada yang lebih indah dari ini; duduk bersila sambil menulis di beranda atas dengan bir, kopi atau apa saja yang bisa bikin tetap terjaga. Kalaupun ada yang lebih indah dari itu, abaikan. Menulis, dan abaikan komentar dari luar.

Seandainya ada seorang perempuan, duduk di beranda atas ditemani bir murahan dan makanan ringan juga asap rokok terlihat menyelimuti cahaya dari laptop yang terus saja menyanyikan lagu sementara perempuan itu sibuk memainkan pena di jarinya sambil matanya tak lepas dari layar komputer jinjing. Membaca apa-apa yang telah diketiknya beberapa menit lalu sambil sesekali melirik buku kecilnya, kemudian mengetik lagi, membaca lagi, dan seterusnya. Dan seterusnya. Dan kamu, ya, kamu adalah satpam komplek yang hobi memainkan alat musik pukul setinggi lebih dari dua meter dan hanya mengenal satu nada tak jelas dasarnya apa ‘teng, teng, teng…’ begitu . tepat ketika jam di tanganmu menunjukkan pukul tiga dini hari. Entah bagaimana otakmu mengirimkan perintah untuk melihat beranda atas tempat di mana perempuan sinting itu masih bertengger dengan kaki melipat persis seperti dukun merapal mantra santet. Apapun yang kamu pikirkan, abaikan. Sebab matamu belum rabun; dia perempuan dan memang dia sinting tiada tara. Coba sisipkan sebuah pemikiran di kepalamu; resistensi terbaik adalah mengabaikan. Maka, abaikan saja lah.

“Belum tidur, neng Kiri?!” Itu kamu bertanya, ada tanda seru di belakang tanda tanya. Artinya di baca agak berseru. Setuju saja lah, meski itu bukan kamu.
“Belum, Bang! Lagi tanggung nih, sebentar lagi.” Itu suara perempuan, menjawab dengan di akhiri tanda titik. Artinya, tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Itu artinya tak ada lagi harapan akan ada obrolan panjangmu bersama gadis cantik itu. Tak ada. Kamu harus merasa puas dengan jawaban yang ia berikan meski kamu masih ingin berkomentar macam nenek-nenek bawel yang tinggal bersama perempuan itu. Nek Juni. Namanya Juni. Mendapat gelar ‘Nek’ setelah usianya mencapai lebih dari enampuluh. Dan Nek Juni dilahirkan di bulan November, tetapi, sebab di dukun beranak tempatnya dilahirkan kalender masehi hanya sebatas Juni (Itu pun kalender tiga tahun lewat) diberilah beliau nama Juni oleh ibu bapaknya yang sudah di perut bumi. Begitu cerita Nek Juni pada suatu hari kepada cucu perempuannya, Kiri.

***

“Bangun, nduk! sudah sore!” Haruskah ku bilang itu seruan Nek Juni? Tentu saja harus, agar kamu tahu. Dan seruan itu terus berulang sampai terdengar suara kecibak-kecibuk di kamar mandi. Sore yang majas hiperbola, sebenarnya ini baru pukul tiga, lagipula Kiri sudah bangun. Tepatnya, ia belum tidur. Mengurung diri di dalam kamar supaya Nek Juni kira ia tidur. Ini sudah hari ke enam ia tidak tidur. Seperti Tuhan, ia berencana untuk istirahat di hari ke tujuh setelah mencipta. Jika Tuhan mencipta semesta, maka ia mencipta apa? Entah. Tiada yang tahu kecuali Tuhan dan kamu barangkali.

Terdengar suara dentingan gelas di dapur. Nek Juni mungkin tak mendengarnya meski beliaulah yang sedang mengaduk segelas kopi untuk cucunya, namun Kiri dianugerahi pendengaran yang lebih baik dari neneknya. Ia bisa mendengar dentingan gelas. Sendok. Bau kopi tak mampu menyaingi bau shampo yang memang dia tak pakai, lagipula ia tak benar-benar mandi  sedari tadi ia hanya mengguyurkan air ke kakinya. Dibuatnya berisik dan lama. Hanya untuk meyakinkan Nek Juni. Ya. Cucu kesayangannya sedang mandi.

Selesai mandi, seperti biasa, keduanya duduk di balai bambu depan rumah. Nek Juni dengan teh pahitnya, dan Kiri dengan kopi tidak manisnya. Nek Juni dengan ceritanya dan Kiri dengan telinganya. Cerita lama yang terus diulang. Kiri tidak bosan. Bukan karena ceritanya. Melainkan karenan Nek Juni masih begitu semangat menceritakannya. Bayangkan, seorang nenek usia di atas enampuluh dengan KTP tertulis unlimited seperti iklan provider alias seumur hidup (Mungkin maksudnya jika aku sudah tak hidup, maka sudah tak berlaku lagi, ujar Nek Juni sambil terkekeh ketika mengomentari KTP-nya) masih lihai memanjat pohon kelapa untuk mengambil kelapa tua. Diparutnya sendiri. Dijadikan beraneka macam makanan. Untuk dimakannya sendiri. Kadang Kiri iri dengan nenek satu ini. Sementara dirinya, yang mengenal emansipasi, masih saja senang makan di McD dan bahkan tak pandai meracik kopi.

Keduanya duduk di balai bambu, Kiri sudah bisa menebak dari awal. Akan ada obrolan sinting lagi. Jika sinting adalah penyakit, mungkin ia adalah sejenis penyakit keturunan.

“Nenek tahu, nduk. Pasti kamu pikir nenek ini cerewet…” Ujar Nek Juni, membuka percakapan. Tepat sekali, nek. Jawab Kiri, cukup di hati, “itu karena nenek ndak punya warisan apa-apa yang bisa nenek wariskan selain cerita.”
Deg. Sesuatu mengganjal, lebih padat dari batu. Merayap malu. Tak cukup lah kopi seteguk untuk mengusirnya dari kerongkongan. Abaikan.
“Kamu lihat, nduk?” telunjuknya mengarah ke sebuah mobil pick up merah marun terparkir di sebelah masjid depan rumah, di mana terdapat sekumpulan orang-orang berbaju putih. Sorban. Beberapa memelihara jenggot. Bendera dengan simbol dan tulisan bahasa asing, “dulu, orang-orang seperti itu ndak banyak jumlahnya. Wajahnya berseri, tuturnya halus, santun dan suka bantu warga kampung. Ya bersihin selokan, bagi sembako atau ngajar ngaji anak-anak…. Walaupun sedikit jumlahnya, tapi bermakna.”

Mata Kiri mengerjap. Ia belum tahu, akan dibawa kemana obrolan sinting ini.

“Sekarang aku justru takut ketemu orang seperti mereka, jumlahnya banyak tapi, ya…. Memang ndak baik ngomongin keburukan orang. Aku tahu, nduk, niat mereka baik dan ya… setiap orang berhak membela apa yang mereka yakini, tho? Tapi, ku pikir mengayomi warga akan lebih bermakna, iya tho?” bibir tuanya mengecup tepi gelas teh, Nek Juni membakar rokok kreteknya. Menyita sepersekian detik untuk Kiri merenungi setiap kalimat sintingnya. Tajam. Masih sama tajam sejak kali pertama mereka bertemu.

“Dulu sekali, nduk. Menjelang magrib kayak gini, anak-anak main uler naga panjangnya, main lompat tali, petak umpet atau nyanyi-nyanyi di pelataran masjid sambil nunggu adzan magrib. Sekarang? Si Itok kemarin cerita, anaknya di warnet lagi nonton film porno. Edan!”

Kiri takjub. Tanpa disadarinya, ia memutar kembali pita memori perjumpaannya dengan Nek Juni. Hari itu usianya delapan. Kiri dan kedua orang tuanya sedang di dalam bus kota. Tiba-tiba saja nenek itu muncul. Dulu, Nek Juni belum setua ini. Ia mengangkat kopernya sendiri. Ibu Kiri bertanya, mau kemana? Nek Juni menjawab, tidak tahu. Ayah dan Ibu saling bertatapan. Heran. Daripada aku tinggal di Panti Jompo, lebih baik aku pergi saja, apa bedanya tho? Sama-sama dibuang, kutuknya. Tak jelas untuk dirinya sendiri atau untuk ayah dan ibu Kiri. Ibu memegang tangan ayah erat sekali. Ayah mengerti. Entah obrolan apa yang terjadi saat itu, tiba-tiba ayah menawarkan tempat tinggal untuk Nek Juni dan Nek Juni setuju. Sejak saat itu, Nek Juni lah yang mengasuh Kiri, Nek Juni sangat menyayangi Kiri seperti cucunya sendiri. Hingga hari itu tiba. Di usia Kiri yang baru limabelas. Suatu sore, sebuah bus kota yang akan mengantarkan ayah dan ibunya dari kantor untuk pulang ke rumah, benar-benar mengantarkan keduanya pulang ke rumah. Rumah Tuhan. Sebuah kalimat dari Nek Juni masih terngiang di telinga Kiri, “Ayah dan ibu Cuma mampir sebentar ke surga, Nduk. Nanti mereka pasti kembali.”
Bagaimanapun hidup tetap berjalan, Nek Juni mulai berjualan nasi uduk, segala macam gorengan, dan segala rupa kue dari kelapa. Sebab, uang warisan ayah dan ibu Kiri dikhususkan untuk pendidikan Kiri, kalau bisa sampai sarjana. Dan memang ia kini sudah sarjana. Ia seorang sarjana yang banyak bertemu dengan orang pintar namun tak ada yang menandingi kepintaran Nek Juni mengolah kelapa menjadi makanan super enak. Kiri juga banyak bertemu orang bijak, namun juga tak ada yang menandingi kearifan Nek Juni yang meski cerewet, Nek Juni adalah perempuan yang luar biasa kuat, cerdas, cekatan dan rendah hati. Entah mukjizat atau apapun kamu menyebutnya jika ada seorang nenek mampu menghidupi cucu tirinya dengan hanya bermodalkan warung yang lebih banyak jadi lahan hutang. Entah memang benar mukjizat, di usia senjanya, ia masih mampu memanjat pohon kelapa setinggi lima meter lebih.
Air mata Kiri berhasil mengembalikan fokusnya ke masa kini, di mana Nek Juni masih meracau di sisinya. Asap mengepul dari mulut dan hidungnya, dan kaki yang dibiarkan tanpa alas menapak tanah basah.

“Aku tahu, Nduk… banyak orang berpikir, kamu ini sarjana apa? Kerja ndak jelas, keluyuran malam, begadang. Tapi aku tahu, Nduk. Kamu sedang berusaha menjadi dirimu sendiri. Aku sering bilang sama mbak Ratmi kalau dia menyinggung pekerjaanmu, sanadyan setri piyambake wantun dewean….” Ujar Nek Juni, yang artinya kira-kira kalau diterjemahkan ke bahasamu: Walaupun dia perempuan, dia berani melakukannya seorang diri. Dari mulutnya mengepulkan asap, seperti kereta api. Kamu seharusnya bergidik mendengar kalimat tadi, sebagaimana Kiri juga bergidik mendengarnya. Kalimat yang seolah menamparnya, yang bukan untuk menyadarkannya bahwa ia harus menyudahi mimpi-mimpinya, melainkan semakin yakin untuk memberinya nyawa; menulis.

Kamu wis waleh ngrungokne critaku, Nduk?” tanya Nek Juni, artinya mungkin ‘kamu sudah bosan mendengarkan ceritaku, nak?’ Berujar begitu sambil matanya menatap langit seolah ada sesuatu yang lebih menarik di sana dibanding gelengan kepalanya Kiri.

“Kamu mau jadi penulis, ya, itu cita-citamu. Orang mau ngomong apa, ya biar saja. Selama yang kamu lakukan menjadikanmu manusia, bukan budak. Lakukan saja, Nduk. Orang komentar ini itu, abaikan. Apa yang lebih hebat selain menjadi manusia, Nduk?” lanjutnya, seolah ia tahu apa yang ada di dalam kepala Kiri; tetap menulis atau memilih bekerja apa saja agar Nek Juni tak perlu lagi berjualan, tak perlu lagi memanjat pohon kelapa.

“Hobiku ya naik pohon, Nduk, jangan dipikirkan. Aku ndak akan berhenti naik pohon sekalipun kamu jadi kaya raya.” Sekali lagi, Kiri merasa ditampar tanpa mau balas menampar, “orang-orang bersorban tadi, anak-anak yang dewasa sebelum waktunya, mbak Ratmi… ya, mereka kan Cuma kehilangan tempat bermain, jadi berhenti tumbuh. Membosankan, tho? Dewasa itu sikap, Nduk, bukan jabatan.”

Kamu, kini adalah hujan yang jatuh di pundak Nek Juni. Hujan yang mengingatkan Nek Juni tentang jemuran yang masih bertengger di beranda atas. Atau, kamu mau jadi daun teh yang kini melayang-layang di dalam gelas dan sedang diperhatikan Kiri. Entah ia menunggu kapan daun itu jatuh atau ia sedang berusaha menangkap inti dari percakapan sintingnya sore ini. Percakapan sepihak. Sekaligus mengingatkannya tentang masa depan. Tiga empatpuluh tahun lagi, ia melihat dirinya sendiri masih dibiarkan menggendong cucunya, melihat cucunya tumbuh besar. Dan, muncul ingatan baru tentang masa depan, tiga empatpuluh tahun lagi, ia berada di Panti Jompo lalu mati sambil merajut kain kafan sambil berpikir, apakah anaknya sendiri akan datang atau tidak untuk memandikan jasadnya? Di panti jompo rumahnya nanti. Paling sial, Kiri bisa memilih mati di pasar, atau di mana saja asal tidak sepi. Kenangan dari masa depan itu memburam secepat air memenuhi kelopak matanya.

“Nulis itu kan kayak bus kota, Nduk.  Kamu supirnya, dan tulisanmu itu penumpangnya. Kamu tahu, setelah melakukan perjalanan panjang. Kamu punya kewajiban untuk membawa penumpangmu ke tempat tujuan mereka. Selesaikanlah tugasmu. Mungkin ada beberapa yang ikut kamu ke terminal terakhir, Nduk… bawa juga mereka itu ikut serta ke pembaringanmu,” Nek Juni menepuk bahu Kiri, “kalau mau nulis ya jangan setengah-setengah tho, selesaikan. Tapi jangan lupa terus bermain, karena dengan bermain kamu bisa jadi sepintar sekarang. Bermain lho, Nduk. Bukan main-main.”

Ia bangkit. Ada pakaian kering menunggu, harus diangkat sebelum basah lagi. Meninggalkan Kiri yang masih sibuk mengatur file memori otaknya. Lagi-lagi ia ingin menyimpan obrolan sinting dari nenek sinting itu. Nenek yang lebih kuat dari seluruh karakter Marvel dijadikan satu. Tak ada arah yang jelas dari racauan Nek Juni, namun bagi Kiri, ketidak-jelasan justru mengantarnya pada kejelasan; ya, saya ini mau jadi penulis. Lantas kamu mau jadi apa? Apapun mau kamu, saya ini tidak mau jadi apa yang kamu mau. Abaikan.

Dan kamu, kamu adalah hujan yang menempel di bahu Nek Juni. Dekat dengan mulut tuanya yang berbicara:
Hyang, ing kahyangan
Ingsun ing dunyo... kedah damai
(Tuhan, di nirwana. Kami di dunia… seharusnya damai/tenteram)

***

Demi bau karat dan titik-titik hujan yang menetes dari atasku, tubuh renta yang ku kenali ini, tak lelah bermain di wahana pusing sekaligus kelak ku rindukan bernama ibu kota. Aku bersumpah atas bau keringat orang-orang kantoran, pengamen, dan seorang remaja tersesat di dalamku. Remaja lelaki yang sedari tadi menceritakan tentang Kiri dan Nek Juni sambil matanya tak lepas dari fenomena sekitarnya; seorang nenek dengan tas besar yang menangis di kanannya, lelaki bertubuh tegap mengenakan seragam satpam yang berdiri mematung di depan pintu. Juga tak melepas matanya dari seorang gadis yang memegang buku kecil di tangan kirinya,yang tadi sibuk menulis kemudian berhenti ketika nenek menangis itu masuk dan tidak mendapatkan kursi kosong. Aku bersaksi atas kisah 5 menit yang terjadi dalam kepala remaja lelaki itu, kisah tentang Nek Juni dan Kiri, yang terlintas begitu saja di kepalanya. Mengaitkan semua cerita yang dibacanya di koran yang dibelinya di terminal tadi. Berita dengan lagu dan lirik yang sama dengan kemarin. Ia begitu hafal; penyerangan, kejahatan, perampokan, kemerosotan moral, apa lagi? Cinta. Ya, hujan mengantarkan gadis dengan buku kecil di tangan kirinya bersama semangkuk cinta hangat ke dalamku. Aku ini apa? Hanya bus tua yang nanti pun akan dilupakan.

Remaja lelaki itu tertegun memandangi gadis yang berdiri di sebelahnya, gadis yang tadi masuk dalam cerita hasil lamunannya. Gadis yang suka menulis. Tak kuasa ia menahan bokongnya untuk segera minggat dari kursiku. Lelaki itu berdiri. Memberikan kursinya pada gadis itu. Gadis tak menolak. Duduk seraya mengembangkan senyuman, juga memberikan tangan kanannya,
“Halo, namaku Kiri…..”
***
Ah, cerita hari ini sederhana. Hambar nampaknya. Mungkin kamu biasa melihatnya di sinetron televisi. Tentang cinta yang tak habis-habis. Ah, aku ini apa? Hanya bus kota yang mungkin hanya kebetulan mengantarkan kebetulan-kebetulan, mempertemukan dua manusia untuk kemudian melakoni kisah mereka tentang cinta yang takkan juga habis-habis. Biarkan saja tak berbentuk. Kenapa harus dipertanyakan bentuknya? Seperti udara. Kamu hanya perlu merasakannya. Seperti menulis, kamu hanya perlu menuliskannya. Lalu, abaikan. Kamu, iya kamu, ku pikir kamu hanya supir yang berhak menentukan mau di bawa kemana bus bernama ‘hidup’ yang penumpangnya bernama cita-cita, doa, dan apapun kamu menyebut hal yang menjadi alasan kamu hidup. Mau di akhiri di mana kisahmu sendiri, sampai ke tempat tujuan atau kamu ceburkan saja bus kamu ke jurang? Biar mati, dan kalau beruntung kamu masih hidup, kamu hanya perlu mencari alasan-alasan untuk merasionalkan kegagalan, bukan?
 
Serigala dan Bus Kota Pencerita
@sbdrmnd | http://manuskriphujan.blogspot.com/2012/04/abaikan-cerita-hari-ini.html

INDAH PADA WAKTUNYA

“Ibu, saya pergi ke Kampung Rambutan ya…”
“Hati-hati ya, nak.”
“Ya, bu.”
Deden masih kecil, kira-kira berumur delapan tahun. Karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, ia pun tidak bisa bersekolah sejak kecil. Ayahnya hanyalah seorang buruh bangunan dan ibunya adalah seorang kuli cuci bagi tetangga-tetangganya. Hasil jerih payah mereka hanya bisa untuk membeli makanan untuk penyambung hidup beberapa minggu atau bahkan beberapa hari. Mereka memang buta huruf, tapi kalau urusan uang, mereka masih dapat menghitung bilangannya.
Saat Deden berumur tujuh tahun ia menemani ayahnya saat menjadi buruh bangunan panggilan di dekat Kampung Rambutan. Karena ia jenuh hanya melihat-lihat saja, akhirnya ia pun berjalan-jalan ke arah terminal bus kota. Saat itu masih pagi hari, tapi sudah banyak orang yang hilir mudik menggunakan jasa bus kota di sini.
“Hey, Den! Sedang apa kau di sini?”
“Udin? Saya sedang menunggu ayah bekerja di sekitar sini, kamu sedang apa?”
“Saya mau bekerja.”
“Bekerja apa?”
“Kamu mau kerja juga, Den?”
Setelah berpikir sejenak, Deden pun menganggukkan kepalanya.
“Ayo, ikuti aku!”
Tempat Udin bekerja tidak terlalu dari situ, masih di terminal Kampung Rambutan, tepatnya di pinggir jalannya. Udin adalah teman sekampung Deden. Saat tiba di tempat yang dituju, ternyata di situ juga ada beberapa anak seumuran mereka juga dari kampung lain ditemani beberapa ember.
“Pak, saya ajak teman saya ya, hasilnya dilebihkan dikit boleh ya, Pak.”
Deden meminta dengan muka memelas. Pak Sukro yang awalnya ingin marah itu tidak jadi karena muka-muka anak ini yang minta dikasihani begitu menyentuh hati Pak Sukro. Ia hanya bisa menggeleng-geleng kepala dengan berkata, “Ya, ya… tapi hanya sedikit ya, sekarang kalian mulai mencuci.” Meskipun jawabannya seperti tidak peduli, tapi sebenarnya ia masih menyimpan rasa iba pada anak-anak ini.
“Terima kasih banyak, Pak,” kata Deden dan Udin hampir berbarengan dan mencium tangan Pak Sukro. Mereka dan anak-anak lain pun mulai mencuci bus kota yang dari tadi sudah nangkring minta untuk dimandikan. Ya, pekerjaan mereka adalah mencuci bus kota yang mampir maupun yang menginap di  terminal itu.
Yah, itulah asal mula pekerjaan Deden selama sekitar satu tahun itu. Orang tuanya tentu tidak memarahinya karena mereka merasa Deden telah meringankan beban hidup mereka meskipun tidak begitu seberapa menutupi kekurangan yang ada. Cukup makan. Dua kata itulah merupakan slogan hidup mereka.
Pagi ini ada kejutan besar sedang menanti Deden. Siapapun tak akan ada yang menduganya. Diawali dari Udin yang mengajaknya menjadi kenek bus kota setelah mencuci bus di pagi hari. Tentu saja Deden menerima ajakannya kembali.
Di dalam penuh sesak dengan orang dari berbagai jenis kelamin dan berbagai posisi pekerjaan. Ada yang duduk, ada juga yang berpegangan pada pegangan di bagian atas bus. Deden dan Udin harus berdesakan untuk melewati mereka dan mengambil ongkos para penumpang. Lembaran demi lembaran ribuan rupiah pun diterima Deden dan Udin untuk diberikan pada supir.
Mereka tak tahu ada sepasang mata yang menatap mereka sejak pemilik sepasang mata itu menaiki bus. Melalui jendela di sebelah tempat duduknya, sekali-sekali ia melihat ke arah luar bus, merenung tindakan selanjutnya terhadap kedua anak laki-laki itu.
Beberapa menit kemudian, tibalah sang pemilik sepasang mata itu tiba di tempat tujuan. Namun, tunggu. Dia tidak turun. Dia terus berada di dalam bus kota hingga bus itu kembali lagi ke terminal Kampung Rambutan, yang berarti hari sudah menjelang sore. Sebenarnya dia sendiri masih penasaran apakah tindakannya itu dapat berdampak baik bagi kedua anak tersebut.
“Mmm… De?” akhirnya saat turun di terminal Kampung Rambutan itu, sang pemilik sepasang mata itu pun membuka suaranya pada Deden.
“Ya, Pak? Ada apa?” telisik Deden saat berbalik dan seperti menyelidiki pemilik sepasang mata itu yang masih berpikir apakah langkah yang ia ambil itu akan tercapai.
“Apa kalian ada waktu? Saya ingin berbicara dengan kalian,” katanya sambil berjongkok di depan mereka tanda ingin menyejajarkan diri dengan Deden dan Udin.
Deden dan Udin saling bertatapan, berpikir sebentar, lalu mengangguk berbarengan meskipun pemikirannya masih berkecamuk beribu-ribu pertanyaan. Pria ini mengajak mereka ke warung terdekat untuk makan siang sekaligus mengobrol. Tentu saja Deden dan Udin menyantap makanannya dengan asyik.
“Kenalkan, saya Brendan, panggil saja saya om Brendan,” katanya sambil menjabat tangan Deden dan Udin. Om Brendan yang kira-kira berumur tiga puluhan ini berperawakan tinggi, tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus, berkulit agak coklat karena sering tertempa matahari saat menunggu bus kota.
“Apakah kalian bersekolah?”
Lagi-lagi Deden dan Udin tidak bersuara dan hanya menggelengkan kepala.
“Pernah bersekolah?”
Dijawab lagi dengan gelengan kepala.
“Apakah kalian mau bersekolah?”
Kali ini Deden dan Udin mengangguk dengan semangat dan senyuman menghiasi wajahnya. Om Brendan pun ikut tersenyum.
“Mau saya biayai kalian sekolah?”
“Hmmm… boleh saya tanya orang tua saya dulu, Om??” tanya Deden.
“Apa orang tua kalian ada di rumah? Sekalian saya juga ingin berbicara langsung dengan mereka,” om Brendan berharap banyak kerja sama dari orang tua mereka.
“Kalau ibu saya sudah pasti ada di rumah, Om. Ayah saya belum tentu ada di rumah,” jelas Deden.
“Saya hanya punya ibu di rumah, om,” kata Udin dengan sedih.
“Tidak apa-apa,” kata om Brendan sambil menepuk pundak Udin sambil tersenyum untuk menyemangati.
Akhirnya om Brendan bertemu ibu dari kedua anak tersebut. Awalnya tentu saja para ibu itu curiga dengan maksud kedatangannya. Namun, setelah dijelaskan bahwa ia merupakan anggota dari Gerakan Orang Tua Asuh dan diperlihatkan bukti keanggotaannya, maka para ibu pun mempercayakan semuanya kepada om Brendan.
Malam hari saat keluarga Deden makan malam bersama, ibu deden memulai percakapan tentang pertemuannya dengan om Brendan tadi siang. Ternyata perihal Deden sekolah memang keinginan ayahnya sejak dahulu, tentu saja beliau mengizinkan Deden bersekolah.
Setelah mengurus surat-suratnya, om Brendan memasukkan Deden dan Udin ke sekolah elit. Sekolah yang menjunjung tinggi tingkat kedisiplinan dan kemoralan yang baik itu membuat mereka betah bersekolah di sana. Meskipun mereka telat masuk sekolah yang menyebabkan mereka di kelas 1 SD berumur lebih tua dari teman sekelasnya, tapi tidak ada perlakuan diskriminasi dari berbagai pihak sekolah.
Hingga lulus kuliah, nilai-nilai yang dihasilkan mereka pun tergolong baik. Om Brendan menyerahkan sisanya pada Deden dan Udin yang sudah bisa bekerja di beberapa perusahaan mobil.
Suatu saat om Brendan yang sudah mulai uzur tidak kuat lagi menjalani anggotanya sebagai orang tua asuh, giliran Deden yang meneruskan keanggotaannya sebagai tanda terima kasih atas usahanya selama ini. Sedangkan Udin tetap berkonsentrasi pada perusahaan yang diminatinya.
Tidak disangka, Deden dan Udin yang saat ini sudah berumur 30 tahun ini sudah mempunyai rumah kecil dan sebuah kendaraan bermotor yang sederhana bagi keluarga kecilnya, orang tua dan mereka sendiri. Untuk urusan jodoh masih bisa menunggu sampai pada waktunya, kata mereka. Hanya kerja keras untuk membahagiakan orang tuanyalah di pikiran mereka saat ini.
Kerja keras mereka ini sampailah pada saat yang tidak diduga oleh penghuni terminal Kampung Rambutan termasuk Pak Sukro. Deden dan Udin bersepakat untuk mendedikasikan pada tempat kerja masa kecilnya dulu. Mereka membenahi terminal Kampung Rambutan dari tempat cuci hingga fasilitas bus-bus kota itu sendiri. Pak Sukro sangat berterima kasih pada mereka. Anak-anak kampung yang bertugas mencuci pun diangkat sebagai anak asuh oleh Deden. Mereka masih boleh bertugas mencuci bus kota saat siang hari setelah selesai sekolah.
Akhirnya suatu saat Deden harus berpisah dengan Udin yang dipindahtugaskan keluar pulau. Deden mengantarkan kepergian Udin di stasiun kereta api. Mereka berpelukan lama dan saling menyemangati satu sama lain.
“Jaga ibuku ya,” kata Udin dengan mata sendu.
“Pasti, Din,” kata Deden meyakinkan.
Tiba-tiba ponsel Deden berbunyi, ia mendapat kabar dari ibunya kalau om Brendan terserang penyakin jantung. Udin menunda kepergiannya, bersama Deden pergi ke Rumah Sakit di mana om Brendan dirujuk.
Setelah menunggu om Brendan siuman dari operasi seharian, Deden dan Udin dipersilakan masuk dan dibiarkan bertiga oleh keluarganya.
“Deden, Udin, selamat kalian telah menempuh perjalanan panjang dan menerima permohonanku sebagai anak asuh serta menjalankan pendidikan dan pekerjaan dengan sangat baik. Sekaranglah waktunya kalian ikut dalam menyebarkan kebaikan di sekitar kalian agar semakin banyak orang yang berhasil seperti kalian.”
“Baik, om. Terima kasih juga telah membimbing kami selama ini,” kata Deden sambil menahan tangisnya.
Om Brendan hanya tersenyum dan meninggalkan mereka selamanya.
Ya, sekaranglah giliran mereka menyebarkan berkat, berkat yang tidak hanya dititipkan om Brendan pada mereka, tetapi berkat dari Tuhan yang diturunkan pada mereka. Tidak ada yang tidak mungkin jika disertai niat yang baik dan tulus dan segalanya pasti indah pada waktunya.
Deden membuktikan bahwa bus kota bukanlah tempat ia bekerja sebagai kenek saja, tapi tempat awal mula keajaiban terjadi.

 @D3pzBelle | (via email)

Sembilan

Matanya terus menerus menatap pada satu titik, tanpa menghiraukan percakapan dua ibu-ibu paruh baya di sampingnya. Matanya terus menerus menatap pada satu titik, meski bau menyengat keluar dari ketiak-ketiak yang bergelantungan. Matanya terus menerus menatap pada satu titik, walau #Bus Kota yang ia tumpangi hampir oleng karena terlalu sesak oleh penumpang. Sedangkan pikirannya  terdesak oleh uang setoran yang harus ia berikan sore ini. Tidak ada cara lain pikirnya. Usianya baru sembilan tahun saat itu. Ia mengintip sedikit ke wajah si pemilik dompet yang terlihat sedang memandang ke arah luar. Perlahan ia berusaha mengeluarkan dompet yang memang sudah menyembul dari balik kantong celana. Dengan satu tarikan, dompet itu kini telah berpindah tempat. Segera ia masukan ke dalam celana. Celana yang sudah berlubang di sana sini. Tapi si pemilik celana sama sekali belum berniat menggantinya. Ia melipat tangannya dan berjalan mundur menembus kumpulan manusia yang sedang berdiri di dalam #Bus Kota. Begitu melihat perempatan lampu merah, ia segera turun dan berlari. Kakinya baru berhenti berlari saat ia merasa aman untuk memeriksa dompet tadi. Ada beberapa lembar uang segar, kartu identitas penduduk, kartu nama, dan sebuah foto keluarga. Ia memutuskan untuk membakar kartu-kartu dan foto itu, sedangkan dompetnya ia ambil beserta uang di dalamnya. Bodoh juga pria tadi, uang segitu cukup untuk naik taksi pikirnya sambil memasukkan  uang tadi ke dalam ke sakunya. Tapi uang tadi tidak bertahan lama di sakunya. Adalah Bang Eno, preman terminal dan para anak buahnya yang mengambilnya.
“Lumayan untuk uang keamanan tiga hari!” kata salah satu anak buah Bang Eno sambil tertawa puas.
Anak laki-laki itu mengerang, memberontak, mengigit dan apa saja yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan sisa-sisa jerih payahnya. Tapi semakin keras ia memberontak, semakin keras juga pukulan yang ia terima. Saat itu cita-citanya adalah menjadi preman ketika ia dewasa nanti. Berkuasa.

***

Umurnya sembilan belas ketika ia mengganti cita-citanya. Tak ada lagi terminal, Bang Eno atau #Bus kota tempat ia mencopet dulu. Sekarang tempat itu telah rata oleh gedung perkantoran bertingkat. Hanya faktor keberuntungan yang membuat ia ddapat bekerja di dalamnya. Sebagai tukang suruh, atau bahasa kerennya Office Boy. Berhubung ada dua orang yang bernama sama dengannya, maka mereka menjulukinya Robin si OB. Pekerjaan itu tidaklah menjanjikan. Gajinya juga tidak sebanding dengan hasil copetannya dulu. Tapi satu hal, ia tidak perlu membagi gajinya kepada siapapun lagi. Dan para pegawai serta bos-bos di kantor sering memuji kopi dan indomie buatannya.
“Kamu harus buka kedai kopi, Bin.” puji Neina sekertaris Manager Personalia, ketika ia mencicipi kopi buatan Robin.
“Dan warung Indomie Kornet” tambah Robin, Staff Administrasi yang namanya sama dengan dirinya.
Berawal dari pujian-pujian itu, Robin si OB memiliki cita-cita baru. Membuka kedai kopi.

***

Usianya dua puluh sembilan ketika ia berhasil membuka Kedai Kopi Robin Hut, di salah satu kawasan perkantoran elite di ibu kota. Setahun setelah ia memutuskan cita-cita terakhirnya, Robin segera berupaya untuk mewujudkannya. Ia keluar dari pekerjaannya dan berangkat ke negeri tetangga menjadi TKW. Dengan janji bayaran dan fasilitas yang lebih tinggi, Robin mulai menyisihkan sedikit demi sedikit hasil jerih payahnya. Sewaktu libur, ia tidak pulang ke Indonesia. Toh aku juga tidak punya keluarga pikirnya. Waktu kosong itu, dimanfaatkan dengan bekerja paruh waktu di kedai kopi. Jika sebelumnya ia hanya memikirkan keinginan-keinginan, kali ini ia berusaha mencapainya. Setelah delapan tahun bekerja siang malam, jerih payahnya terbayar dengan berdirinya Kedai Kopi miliknya. Dan dari sana juga ia bertemu Sandra, seorang Banker muda yang sering datang ngopi di kedai. Sandra memang lebih dewasa lima tahun dari Robin, tapi perbedaan itu yang justru membuat Robin memikirkan cita-cita lainnya. Meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

***

Wajah Robin terlihat seperti orang yang berusia empat puluh sembilan tahun, padahal usia ia seseungguhnya adalah tiga puluh sembilan tahun. Ia mengalami penuaan dini karena rasa bersalah yang terus menghantuinya. Bagaimana tidak, tepat di hari ia melamar Sandra di rumahnya, ia bertemu dengan orang yang ia copet pertama kalinya di dalam #Bus Kota dua puluh tahun yang lalu. Orang itu adalah ayah kandung Sandra. Tentu saja calon mertuanya itu tidak dapat mengenali dirinya, berbeda dengan dirinya yang akan terus mengingat hari itu. Dan dari Sandra ia mendengar sebuah cerita. Cerita yang akan menggenapi #Cerita hari ini. Bahwa, di hari ibu kandungnya meninggal, ayahnya menarik sejumlah uang di bank untuk membeli darah. Tetapi siapa sangka, di tengah perjalanan kembali ke rumah sakit, ayahnya dicopet. Seluruh isi dompet, kartu identitas lenyap dalam sekejap. Akhirnya ibunya kehabisan darah dan meninggal. Sejak mendengar cerita itu, Robin selalu dihantui perasaan bersalah. Ia tidak percaya diri untuk mewujudkan cita-cita terakhirnya, yaitu menikahi Sandra.

  | http://sylvanawijaya.blogspot.com/2012/04/sembilan.html?spref=tw

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan