Tuesday, May 1, 2012

Kisah Penulis Tua

Tubuh tua itu membungkuk berusaha membuka jendela yang engselnya terlalu lama tak terlumas minyak.  Bunyi derit beriring dengan tiupan angin malam yang dingin menerobos masuk kedalam kamarnya yang sempit. Penulis tua itu terbatuk sebentar kaget oleh serbuan dingin yang berebut menyiumi pipinya yang keriput. Ia tersenyum kecil melongokkan kepalanya keluar jendela. Menatap serius pada ujung jalan dikejauhan, lalu menghela nafas. Berat.
Perlahan ia menghampiri  meja kerjanya. Menyalakan  komputer  tua miliknya. Kekasihnya yang setia. Tentu saja selain gadis manis berambut ikal yang dulu pernah bersamanya selama nyaris tujuh tahun. Gadis yang pernah dicintainya dengan sepenuh seluruh namun pergi begitu saja demi lelaki pilihan  ayahnya. Kebersamaan yang manis dan kepergian yang pahit. Keduanya  kemudian menghambur menjadi kumpulan  kata membius yang diketiknya dari komputer tuanya.
Cerita hari ini dimulai ketika gadisnya pada suatu sore yang hangat memaksanya meninggalkan meja tulis dan tumpukan buku referensi yang tengah dibacanya dengan asyik.
“Keluarlah sebentar, cuaca sangat bersahabat hari ini,”bujuk gadisnya. Ia menggeleng. Buku-buku di depannya  terlalu menggoda untuk ditinggalkan.
Gadisnya cemberut. Merajuk.
Gadisnya itu sangat manis. Mungkin yang termanis di kota mereka. Pipinya bulat kemerahan di kulitnya yang seputih susu. Bibirnya yang ranum mengerucut mungil. Menggemaskan. Akhirnya ia mengalah. Berdiri beranjak meninggalkan meja tulisnya lalu membiarkan lengan gadisnya itu melingkar manja di pinggangnya .
Gadisnya benar. Senja itu sangat cantik.
Ia tak pernah melihat cakrawala begitu merona saat matahari mengecupnya seperti sore ini. Dan gadisnya begitu bersemangat menceritakan banyak hal. Tentang toko topi baru di ujung jalan, tentang kue jahe buatan tukang masak tuanya, Dorothy yang tak lagi garing bahkan juga tentang kucing siam milik tetangganya yang mendadak hilang siang tadi. Sesekali ia menimpali cerita kekasihnya. Hanya untuk basa-basi. Karena sebenarnya ia lebih suka menikmati sepasang biru jernih yang menari lincah mengikuti liukan intonasi suara  pemiliknya. Hingga cerita terakhir dari gadisnya yang  membuatnya sungguh-sungguh terdiam.
Cerita tentang bus kota.
“Bus kota itu berwarna keperakan. Kau tahu, perak yang berkilauan. Yang meninggalkan semburat cahaya setiap kali bus itu melaju,” Jemari gadisnya yang gemuk dan lembut itu bergerak melukiskan kecepatan.
“Bus itu akan muncul di ujung jalan. Mereka akan menjemput ruh-ruh untuk pulang. Itu sebabnya bus kota ini sangat ditakuti. Mereka menyebutnya, Bus Hantu. “ Mata biru gadisnya membola. Ia mengerinyitkan kening. Tentu saja ia pernah mendengar kisah Bus Hantu dari ibu dan neneknya sebelumnya.
Tiba-tiba gadisnya tertawa. Tergelak-gelak sembari memegangi perutnya.
“Kau tampak ketakutan, Sayang. Sudahlah itu cuma omong kosong.”
“Orang-orang dewasa tak pernah sungguh-sungguh melihatnya. Tapi aku pernah. Yah tentu saja saat aku masih kanak-kanak. Bus itu berhenti di depan rumah akan menjemput nenek yang berminggu-minggu sakit keras. Isi bus itu sangat penuh.”
“Apakah penumpangnya sangat mengerikan?” tanyanya ingin tahu. Gadisnya menggelengkan kepala dengan cepat.
“Tidak sama sekali. Mereka semua sangat cantik dan tampan. Beberapa tampak seperti peri dan orang kerdil. Tapi kesemuanya ramah dan menyenangkan. Mereka bilang mereka hanya ingin mengajak nenek untuk pulang dan kembali bermain bersama mereka.” Gadisnya meletakkan cangkir teh ditangannya dengan hati-hati ke meja. Mengambil nafas sejenak sebelum berkata,”Untuk bisa melihat yang tak terlihat kita harus bermain seperti kanak-kanak.”
Ia tercengang.
Gadisnya bukan seorang yang cerdas jika tak ingin disebut bodoh. Lebih suka melompat-lompat di padang rumput daridapada menghabiskan waktu berjam-jam bersama sebuah buku. Namun hari ini dengan keluguan pikirannya gadisnya melahirkan sebuah kebijaksanaan.
Seperti kanak-kanak. Bermain. Melihat yang tak terlihat.
Bertahun kemudian setelah gadisnya memilih menikahi pria pilihan ayahnya, penulis  itu menghasilkan beratus puisi dan puluhan roman yang mengharu biru. Pembaca fanatiknya berkata ia adalah contoh keberhasilan sastrawan yang mampu mengubah energi patah hati.  Penulis itu hanya tertawa. Gadis itu memang meninggalkan luka yang bertahun-tahun tak kunjung sembuh. Namun cintanya terlalu besar untuk bisa membencinya. Terlebih lagi gadis itu telah meninggalkan sesuatu yang terus dikenangnya sepanjang hidup. Kisah tentang bus kota yang berwarna keperakan.
Lelaki tua itu membaca kembali semua tulisan miliknya yang tersimpan di komputer tua. Sesekali ia menoleh ke arah jendela. Dadanya berdegup riang. Tak sabar menanti petualangan yang akan  menghampirinya.
Jam berdentang pukul 3 pagi, ketika angin malam  bergerak sejurus begitu cepat. Diiringi keriuhan dari halaman depan rumahnya. Lelaki tua bergerak bergegas ke arah jendela. Senyumnya terkembang lebar. Sebuah bis berwarna perak berkilauan berhenti tepat di depan rumah.
Ia melambai dari loteng kamar kerjanya. Semua penumpang membalas lambaiannya. Ia melihat wajah manis yang sangat dikenalnya berada diantara mereka.
“Kemari dan bermainlah, Sayang,” Angin mengantarkan panggilan kekasihnya.
Lelaki tua itu mengangguk penuh semangat.
Pukul 8.00 pagi
Gadis muda pengurus rumah tangga yang bernama Anne itu terisak pelan. Di dekatnya dua polisi dan petugas medis sibuk melakukan tugasnya.
“Kalian lihat senyumnya? Dia mati dengan bahagia,”ujarnya setengah terisak.
Polisi yang membuat catatan mengangkat wajah dari notes kecil yang dipegangnya.
“Kau benar. Ia mati seorang diri namun sepertinya ia cukup puas melihat karya-karya yang ditulisnya sepanjang hidupnya.”
Semua orang di ruangan itu menganggukkan kepala menyetujuinya.
Di sebuah tempat tak bernama, ruh penulis tua itu sibuk bermain.

Dunia Lirang, 25/4/2012

| http://akusanglirang.wordpress.com/2012/04/25/kisah-penulis-tua/

No comments:

Post a Comment

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan