Tuesday, May 1, 2012

Abaikan Cerita Hari Ini

Tak ada yang lebih oke dibandingkan dengan ini; duduk membaca di beranda atas dengan bir, kopi atau apa saja yang bisa bikin tetap terjaga. Membaca.


Kalau iya ada yang lebih indah, pasti tak ada yang lebih indah dari ini; duduk bersila sambil menulis di beranda atas dengan bir, kopi atau apa saja yang bisa bikin tetap terjaga. Kalaupun ada yang lebih indah dari itu, abaikan. Menulis, dan abaikan komentar dari luar.

Seandainya ada seorang perempuan, duduk di beranda atas ditemani bir murahan dan makanan ringan juga asap rokok terlihat menyelimuti cahaya dari laptop yang terus saja menyanyikan lagu sementara perempuan itu sibuk memainkan pena di jarinya sambil matanya tak lepas dari layar komputer jinjing. Membaca apa-apa yang telah diketiknya beberapa menit lalu sambil sesekali melirik buku kecilnya, kemudian mengetik lagi, membaca lagi, dan seterusnya. Dan seterusnya. Dan kamu, ya, kamu adalah satpam komplek yang hobi memainkan alat musik pukul setinggi lebih dari dua meter dan hanya mengenal satu nada tak jelas dasarnya apa ‘teng, teng, teng…’ begitu . tepat ketika jam di tanganmu menunjukkan pukul tiga dini hari. Entah bagaimana otakmu mengirimkan perintah untuk melihat beranda atas tempat di mana perempuan sinting itu masih bertengger dengan kaki melipat persis seperti dukun merapal mantra santet. Apapun yang kamu pikirkan, abaikan. Sebab matamu belum rabun; dia perempuan dan memang dia sinting tiada tara. Coba sisipkan sebuah pemikiran di kepalamu; resistensi terbaik adalah mengabaikan. Maka, abaikan saja lah.

“Belum tidur, neng Kiri?!” Itu kamu bertanya, ada tanda seru di belakang tanda tanya. Artinya di baca agak berseru. Setuju saja lah, meski itu bukan kamu.
“Belum, Bang! Lagi tanggung nih, sebentar lagi.” Itu suara perempuan, menjawab dengan di akhiri tanda titik. Artinya, tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Itu artinya tak ada lagi harapan akan ada obrolan panjangmu bersama gadis cantik itu. Tak ada. Kamu harus merasa puas dengan jawaban yang ia berikan meski kamu masih ingin berkomentar macam nenek-nenek bawel yang tinggal bersama perempuan itu. Nek Juni. Namanya Juni. Mendapat gelar ‘Nek’ setelah usianya mencapai lebih dari enampuluh. Dan Nek Juni dilahirkan di bulan November, tetapi, sebab di dukun beranak tempatnya dilahirkan kalender masehi hanya sebatas Juni (Itu pun kalender tiga tahun lewat) diberilah beliau nama Juni oleh ibu bapaknya yang sudah di perut bumi. Begitu cerita Nek Juni pada suatu hari kepada cucu perempuannya, Kiri.

***

“Bangun, nduk! sudah sore!” Haruskah ku bilang itu seruan Nek Juni? Tentu saja harus, agar kamu tahu. Dan seruan itu terus berulang sampai terdengar suara kecibak-kecibuk di kamar mandi. Sore yang majas hiperbola, sebenarnya ini baru pukul tiga, lagipula Kiri sudah bangun. Tepatnya, ia belum tidur. Mengurung diri di dalam kamar supaya Nek Juni kira ia tidur. Ini sudah hari ke enam ia tidak tidur. Seperti Tuhan, ia berencana untuk istirahat di hari ke tujuh setelah mencipta. Jika Tuhan mencipta semesta, maka ia mencipta apa? Entah. Tiada yang tahu kecuali Tuhan dan kamu barangkali.

Terdengar suara dentingan gelas di dapur. Nek Juni mungkin tak mendengarnya meski beliaulah yang sedang mengaduk segelas kopi untuk cucunya, namun Kiri dianugerahi pendengaran yang lebih baik dari neneknya. Ia bisa mendengar dentingan gelas. Sendok. Bau kopi tak mampu menyaingi bau shampo yang memang dia tak pakai, lagipula ia tak benar-benar mandi  sedari tadi ia hanya mengguyurkan air ke kakinya. Dibuatnya berisik dan lama. Hanya untuk meyakinkan Nek Juni. Ya. Cucu kesayangannya sedang mandi.

Selesai mandi, seperti biasa, keduanya duduk di balai bambu depan rumah. Nek Juni dengan teh pahitnya, dan Kiri dengan kopi tidak manisnya. Nek Juni dengan ceritanya dan Kiri dengan telinganya. Cerita lama yang terus diulang. Kiri tidak bosan. Bukan karena ceritanya. Melainkan karenan Nek Juni masih begitu semangat menceritakannya. Bayangkan, seorang nenek usia di atas enampuluh dengan KTP tertulis unlimited seperti iklan provider alias seumur hidup (Mungkin maksudnya jika aku sudah tak hidup, maka sudah tak berlaku lagi, ujar Nek Juni sambil terkekeh ketika mengomentari KTP-nya) masih lihai memanjat pohon kelapa untuk mengambil kelapa tua. Diparutnya sendiri. Dijadikan beraneka macam makanan. Untuk dimakannya sendiri. Kadang Kiri iri dengan nenek satu ini. Sementara dirinya, yang mengenal emansipasi, masih saja senang makan di McD dan bahkan tak pandai meracik kopi.

Keduanya duduk di balai bambu, Kiri sudah bisa menebak dari awal. Akan ada obrolan sinting lagi. Jika sinting adalah penyakit, mungkin ia adalah sejenis penyakit keturunan.

“Nenek tahu, nduk. Pasti kamu pikir nenek ini cerewet…” Ujar Nek Juni, membuka percakapan. Tepat sekali, nek. Jawab Kiri, cukup di hati, “itu karena nenek ndak punya warisan apa-apa yang bisa nenek wariskan selain cerita.”
Deg. Sesuatu mengganjal, lebih padat dari batu. Merayap malu. Tak cukup lah kopi seteguk untuk mengusirnya dari kerongkongan. Abaikan.
“Kamu lihat, nduk?” telunjuknya mengarah ke sebuah mobil pick up merah marun terparkir di sebelah masjid depan rumah, di mana terdapat sekumpulan orang-orang berbaju putih. Sorban. Beberapa memelihara jenggot. Bendera dengan simbol dan tulisan bahasa asing, “dulu, orang-orang seperti itu ndak banyak jumlahnya. Wajahnya berseri, tuturnya halus, santun dan suka bantu warga kampung. Ya bersihin selokan, bagi sembako atau ngajar ngaji anak-anak…. Walaupun sedikit jumlahnya, tapi bermakna.”

Mata Kiri mengerjap. Ia belum tahu, akan dibawa kemana obrolan sinting ini.

“Sekarang aku justru takut ketemu orang seperti mereka, jumlahnya banyak tapi, ya…. Memang ndak baik ngomongin keburukan orang. Aku tahu, nduk, niat mereka baik dan ya… setiap orang berhak membela apa yang mereka yakini, tho? Tapi, ku pikir mengayomi warga akan lebih bermakna, iya tho?” bibir tuanya mengecup tepi gelas teh, Nek Juni membakar rokok kreteknya. Menyita sepersekian detik untuk Kiri merenungi setiap kalimat sintingnya. Tajam. Masih sama tajam sejak kali pertama mereka bertemu.

“Dulu sekali, nduk. Menjelang magrib kayak gini, anak-anak main uler naga panjangnya, main lompat tali, petak umpet atau nyanyi-nyanyi di pelataran masjid sambil nunggu adzan magrib. Sekarang? Si Itok kemarin cerita, anaknya di warnet lagi nonton film porno. Edan!”

Kiri takjub. Tanpa disadarinya, ia memutar kembali pita memori perjumpaannya dengan Nek Juni. Hari itu usianya delapan. Kiri dan kedua orang tuanya sedang di dalam bus kota. Tiba-tiba saja nenek itu muncul. Dulu, Nek Juni belum setua ini. Ia mengangkat kopernya sendiri. Ibu Kiri bertanya, mau kemana? Nek Juni menjawab, tidak tahu. Ayah dan Ibu saling bertatapan. Heran. Daripada aku tinggal di Panti Jompo, lebih baik aku pergi saja, apa bedanya tho? Sama-sama dibuang, kutuknya. Tak jelas untuk dirinya sendiri atau untuk ayah dan ibu Kiri. Ibu memegang tangan ayah erat sekali. Ayah mengerti. Entah obrolan apa yang terjadi saat itu, tiba-tiba ayah menawarkan tempat tinggal untuk Nek Juni dan Nek Juni setuju. Sejak saat itu, Nek Juni lah yang mengasuh Kiri, Nek Juni sangat menyayangi Kiri seperti cucunya sendiri. Hingga hari itu tiba. Di usia Kiri yang baru limabelas. Suatu sore, sebuah bus kota yang akan mengantarkan ayah dan ibunya dari kantor untuk pulang ke rumah, benar-benar mengantarkan keduanya pulang ke rumah. Rumah Tuhan. Sebuah kalimat dari Nek Juni masih terngiang di telinga Kiri, “Ayah dan ibu Cuma mampir sebentar ke surga, Nduk. Nanti mereka pasti kembali.”
Bagaimanapun hidup tetap berjalan, Nek Juni mulai berjualan nasi uduk, segala macam gorengan, dan segala rupa kue dari kelapa. Sebab, uang warisan ayah dan ibu Kiri dikhususkan untuk pendidikan Kiri, kalau bisa sampai sarjana. Dan memang ia kini sudah sarjana. Ia seorang sarjana yang banyak bertemu dengan orang pintar namun tak ada yang menandingi kepintaran Nek Juni mengolah kelapa menjadi makanan super enak. Kiri juga banyak bertemu orang bijak, namun juga tak ada yang menandingi kearifan Nek Juni yang meski cerewet, Nek Juni adalah perempuan yang luar biasa kuat, cerdas, cekatan dan rendah hati. Entah mukjizat atau apapun kamu menyebutnya jika ada seorang nenek mampu menghidupi cucu tirinya dengan hanya bermodalkan warung yang lebih banyak jadi lahan hutang. Entah memang benar mukjizat, di usia senjanya, ia masih mampu memanjat pohon kelapa setinggi lima meter lebih.
Air mata Kiri berhasil mengembalikan fokusnya ke masa kini, di mana Nek Juni masih meracau di sisinya. Asap mengepul dari mulut dan hidungnya, dan kaki yang dibiarkan tanpa alas menapak tanah basah.

“Aku tahu, Nduk… banyak orang berpikir, kamu ini sarjana apa? Kerja ndak jelas, keluyuran malam, begadang. Tapi aku tahu, Nduk. Kamu sedang berusaha menjadi dirimu sendiri. Aku sering bilang sama mbak Ratmi kalau dia menyinggung pekerjaanmu, sanadyan setri piyambake wantun dewean….” Ujar Nek Juni, yang artinya kira-kira kalau diterjemahkan ke bahasamu: Walaupun dia perempuan, dia berani melakukannya seorang diri. Dari mulutnya mengepulkan asap, seperti kereta api. Kamu seharusnya bergidik mendengar kalimat tadi, sebagaimana Kiri juga bergidik mendengarnya. Kalimat yang seolah menamparnya, yang bukan untuk menyadarkannya bahwa ia harus menyudahi mimpi-mimpinya, melainkan semakin yakin untuk memberinya nyawa; menulis.

Kamu wis waleh ngrungokne critaku, Nduk?” tanya Nek Juni, artinya mungkin ‘kamu sudah bosan mendengarkan ceritaku, nak?’ Berujar begitu sambil matanya menatap langit seolah ada sesuatu yang lebih menarik di sana dibanding gelengan kepalanya Kiri.

“Kamu mau jadi penulis, ya, itu cita-citamu. Orang mau ngomong apa, ya biar saja. Selama yang kamu lakukan menjadikanmu manusia, bukan budak. Lakukan saja, Nduk. Orang komentar ini itu, abaikan. Apa yang lebih hebat selain menjadi manusia, Nduk?” lanjutnya, seolah ia tahu apa yang ada di dalam kepala Kiri; tetap menulis atau memilih bekerja apa saja agar Nek Juni tak perlu lagi berjualan, tak perlu lagi memanjat pohon kelapa.

“Hobiku ya naik pohon, Nduk, jangan dipikirkan. Aku ndak akan berhenti naik pohon sekalipun kamu jadi kaya raya.” Sekali lagi, Kiri merasa ditampar tanpa mau balas menampar, “orang-orang bersorban tadi, anak-anak yang dewasa sebelum waktunya, mbak Ratmi… ya, mereka kan Cuma kehilangan tempat bermain, jadi berhenti tumbuh. Membosankan, tho? Dewasa itu sikap, Nduk, bukan jabatan.”

Kamu, kini adalah hujan yang jatuh di pundak Nek Juni. Hujan yang mengingatkan Nek Juni tentang jemuran yang masih bertengger di beranda atas. Atau, kamu mau jadi daun teh yang kini melayang-layang di dalam gelas dan sedang diperhatikan Kiri. Entah ia menunggu kapan daun itu jatuh atau ia sedang berusaha menangkap inti dari percakapan sintingnya sore ini. Percakapan sepihak. Sekaligus mengingatkannya tentang masa depan. Tiga empatpuluh tahun lagi, ia melihat dirinya sendiri masih dibiarkan menggendong cucunya, melihat cucunya tumbuh besar. Dan, muncul ingatan baru tentang masa depan, tiga empatpuluh tahun lagi, ia berada di Panti Jompo lalu mati sambil merajut kain kafan sambil berpikir, apakah anaknya sendiri akan datang atau tidak untuk memandikan jasadnya? Di panti jompo rumahnya nanti. Paling sial, Kiri bisa memilih mati di pasar, atau di mana saja asal tidak sepi. Kenangan dari masa depan itu memburam secepat air memenuhi kelopak matanya.

“Nulis itu kan kayak bus kota, Nduk.  Kamu supirnya, dan tulisanmu itu penumpangnya. Kamu tahu, setelah melakukan perjalanan panjang. Kamu punya kewajiban untuk membawa penumpangmu ke tempat tujuan mereka. Selesaikanlah tugasmu. Mungkin ada beberapa yang ikut kamu ke terminal terakhir, Nduk… bawa juga mereka itu ikut serta ke pembaringanmu,” Nek Juni menepuk bahu Kiri, “kalau mau nulis ya jangan setengah-setengah tho, selesaikan. Tapi jangan lupa terus bermain, karena dengan bermain kamu bisa jadi sepintar sekarang. Bermain lho, Nduk. Bukan main-main.”

Ia bangkit. Ada pakaian kering menunggu, harus diangkat sebelum basah lagi. Meninggalkan Kiri yang masih sibuk mengatur file memori otaknya. Lagi-lagi ia ingin menyimpan obrolan sinting dari nenek sinting itu. Nenek yang lebih kuat dari seluruh karakter Marvel dijadikan satu. Tak ada arah yang jelas dari racauan Nek Juni, namun bagi Kiri, ketidak-jelasan justru mengantarnya pada kejelasan; ya, saya ini mau jadi penulis. Lantas kamu mau jadi apa? Apapun mau kamu, saya ini tidak mau jadi apa yang kamu mau. Abaikan.

Dan kamu, kamu adalah hujan yang menempel di bahu Nek Juni. Dekat dengan mulut tuanya yang berbicara:
Hyang, ing kahyangan
Ingsun ing dunyo... kedah damai
(Tuhan, di nirwana. Kami di dunia… seharusnya damai/tenteram)

***

Demi bau karat dan titik-titik hujan yang menetes dari atasku, tubuh renta yang ku kenali ini, tak lelah bermain di wahana pusing sekaligus kelak ku rindukan bernama ibu kota. Aku bersumpah atas bau keringat orang-orang kantoran, pengamen, dan seorang remaja tersesat di dalamku. Remaja lelaki yang sedari tadi menceritakan tentang Kiri dan Nek Juni sambil matanya tak lepas dari fenomena sekitarnya; seorang nenek dengan tas besar yang menangis di kanannya, lelaki bertubuh tegap mengenakan seragam satpam yang berdiri mematung di depan pintu. Juga tak melepas matanya dari seorang gadis yang memegang buku kecil di tangan kirinya,yang tadi sibuk menulis kemudian berhenti ketika nenek menangis itu masuk dan tidak mendapatkan kursi kosong. Aku bersaksi atas kisah 5 menit yang terjadi dalam kepala remaja lelaki itu, kisah tentang Nek Juni dan Kiri, yang terlintas begitu saja di kepalanya. Mengaitkan semua cerita yang dibacanya di koran yang dibelinya di terminal tadi. Berita dengan lagu dan lirik yang sama dengan kemarin. Ia begitu hafal; penyerangan, kejahatan, perampokan, kemerosotan moral, apa lagi? Cinta. Ya, hujan mengantarkan gadis dengan buku kecil di tangan kirinya bersama semangkuk cinta hangat ke dalamku. Aku ini apa? Hanya bus tua yang nanti pun akan dilupakan.

Remaja lelaki itu tertegun memandangi gadis yang berdiri di sebelahnya, gadis yang tadi masuk dalam cerita hasil lamunannya. Gadis yang suka menulis. Tak kuasa ia menahan bokongnya untuk segera minggat dari kursiku. Lelaki itu berdiri. Memberikan kursinya pada gadis itu. Gadis tak menolak. Duduk seraya mengembangkan senyuman, juga memberikan tangan kanannya,
“Halo, namaku Kiri…..”
***
Ah, cerita hari ini sederhana. Hambar nampaknya. Mungkin kamu biasa melihatnya di sinetron televisi. Tentang cinta yang tak habis-habis. Ah, aku ini apa? Hanya bus kota yang mungkin hanya kebetulan mengantarkan kebetulan-kebetulan, mempertemukan dua manusia untuk kemudian melakoni kisah mereka tentang cinta yang takkan juga habis-habis. Biarkan saja tak berbentuk. Kenapa harus dipertanyakan bentuknya? Seperti udara. Kamu hanya perlu merasakannya. Seperti menulis, kamu hanya perlu menuliskannya. Lalu, abaikan. Kamu, iya kamu, ku pikir kamu hanya supir yang berhak menentukan mau di bawa kemana bus bernama ‘hidup’ yang penumpangnya bernama cita-cita, doa, dan apapun kamu menyebut hal yang menjadi alasan kamu hidup. Mau di akhiri di mana kisahmu sendiri, sampai ke tempat tujuan atau kamu ceburkan saja bus kamu ke jurang? Biar mati, dan kalau beruntung kamu masih hidup, kamu hanya perlu mencari alasan-alasan untuk merasionalkan kegagalan, bukan?
 
Serigala dan Bus Kota Pencerita
@sbdrmnd | http://manuskriphujan.blogspot.com/2012/04/abaikan-cerita-hari-ini.html

No comments:

Post a Comment

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan