Showing posts with label Penulis Terpilih. Show all posts
Showing posts with label Penulis Terpilih. Show all posts

Monday, June 18, 2012

My Dream Job

#MyLifeAs a "writer" sangat menyenangkan namun terkadang melelahkan. Tepatnya sih sebagai freelance writer. Karena dalam perspektifku menjadi seorang freelance writer belum menjadi writer yang "seutuhnya". Oleh sebab itu aku menggunakan tanda petik pada tulisan writer di atas.

Beginilah keadaan meja belajarku di pagi hari setiap hari :D
Menjadi seorang writer merupakan salah satu impian terbesarku, pekerjaan impianku. Layaknya impian yang lain, menjadi seorang writer pun tak mudah. Memang kerjaannya hanya menulis sahaja, tapi menulis yang dimaksud adalah menulis yang tak hanya sekadar menulis.


Nah lho, bingung kan? :-D Maksudku begini, menulis bukan cuma kegiatan seorang writer. Semua orang bisa menulis, benar kan? Bedanya, menurutku kalau seorang writer harus bisa membuat sebuah tulisan yang bagus, enak dibaca, menarik dan sesuai dengan EYD. Selain itu, juga harus bisa menulis semua jenis tulisan.

Telah banyak yang kulakukan demi mencapai mimpiku. Mulai dari mengikuti sekolah menulis online di Writers Academy (sekarang berubah menjadi Sekolah Menulis Online), PlotPoint, menjadi freelance writer, dan lain-lain. Namun bagiku, semua hal tersebut belum cukup untuk memperdalam ilmuku dalam dunia penulisan. Oleh sebab itu, sampai saat ini pun aku masih terus belajar.

Saat ini aku bangga dan senang sekali bisa menjadi seorang freelance writer (lagi). Ya, ini kali kedua aku menjadi seorang freelance writer. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang aku peroleh selama kurang lebih empat bulan terakhir ini. Pengalaman tak mengenakkan sebagai freelance writer pun pernah kualami.

Di saat proyeknya belum mulai, banyak hal yang sangat aku rindukan. Misalnya, mencari bahan di internet, membuat outline, menunggu revisi, sampai dengan nulis di mana pun dan kapan pun. Meski upah yang aku peroleh dari menulis tak seberapa bila dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja di kantoran apalagi seorang wirausaha, namun aku amat senang.

Kenapa? Karena menulis adalah passion-ku. Bisa ikut menyumbangkan sebuah tulisan merupakan kebanggaan tersendiri buatku. Selain bisa menuangkan pikiran dan pendapatku, juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Bagiku menjadi seorang freelance writer tak seperti bekerja. Malah aku menganggap pekerjaan ini sebagai sebuah latihan. Latihan memperbanyak diksi, membuat tulisan yang bagus dan enak dibaca, dan lain-lain. Di sisi lain dan yang terpenting, karena aku melakukan hal yang aku suka. Itu saja sudah cukup, bagiku.

Coba bayangkan, bila kita memiliki sebuah pekerjaan yang tak kita sukai, apa yang akan terjadi? Sudah pasti di bahu kita seolah terdapat batu besar sehingga bahu kita terasa berat. Dengan kata lain, beban yang kita pikul sangat berat.

Berbeda dengan bila kita bekerja sesuai passion. Meski pendapatan yang diperoleh tak begitu banyak, tapi kepuasan dan kesenangan hati yang diperoleh tak bisa diungkapkan, juga tak bisa digantikan dengan suatu apapun.

Aku sadar perjuanganku masih panjang. Aku bersyukur, seengganya salah satu resolusiku di tahun ini sudah tercapai. Alhamdulillaah.... Aku akan terus berjuang dan melakukan segala usaha yang mendekatkanku pada my dream job, agar aku bisa mencapai mimpi besarku. Fighting! ^.^

| http://scribblelauna.blogspot.com/2012/06/mydream-job.html

Tuesday, June 5, 2012

Seseorang yang Ingin Menjadi Penulis

Cita-citaku! Setiap kali mendengar, lebih-lebih membicarakannya, pikiranmu melayang entah kemana. Tatapan matamu pun menerawang melayang ke langit seakan mengejar sebaris kata cita-cita yang kamupun tidak pernah tahu apa tepatnya bentukan sebaris kata tersebut.
Sudah menjadi kebiasaanku, bahwa setiap pagi selalu mengawali hari di teras belakang rumah. Sebuah halaman belakang yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman. Pada salah satu sudut halaman terdapat kolam ikan kecil dengan air mancur yang menggericik perlahan. Satu hal lagi, segelas kopi hitam selalu setia menemani setiap pagiku. Aku selalu menikmati uapnya yang menjilat wajah dengan aromanya yang khas, yang selalu membawa ketenangan bagiku. Demikian juga pagi ini, saat aku mulai membaca sebuah catatan seorang kawan, tentang cita-cita dan impiannya. Kawanku mengawali catatannya dengan sebuah angan.
***
Anganmu kembali melayang jauh, mencoba melanjutkan gambar citamu yang belum usai. Setiap kali kau menggoreskan tinta di langit anganmu, setiap kali pula tergambar keinginanmu untuk menjadi seorang penulis. Setiap kali pula gambaran itu tak pernah mampu kau selesaikan. Demikian yang terjadi, berulang kali, dan selalu terulang. Anehnya, kau selalu bisa menikmati saat-saat yang tak usai itu.
Terlalu seringnya hal itu terjadi, membuatmu tak ingat sejak kapan hal itu menjadi kebiasaanmu. Tapi, pernah ingatanmu membawamu ke masa-masa saat kau masih duduk di sekolah dasar di sebuah desa. Beberapa muridnya mengenakan sepatu yang berlubang di bagian ibu jari kakinya. Bahkan ada satu temanmu yang bersekolah tanpa alas kaki. Di sekolah itulah kau pernah menulis sebuah skenario drama yang mengambil seting cerita persidangan, dan mendapatkan nilai terbaik. Jika mengingat hal itu, kau sering tersenyum sendiri dan berkata dalam hati, “Ah, anak SD”.
Mengenang kembali masa kecil, selain kenangan semasa duduk di bangku sekolah dasar, sepertinya tidak ada hal menarik yang berkaitan dengan menulis. Semuanya terjadi dan berlalu biasa-biasa saja, bermain dan belajar.
Sampai pada suatu hari saat kau sudah duduk di bangku sekolah menengah atas, kau mengenal seorang wanita yang telah menyita waktu dan perhatianmu. Dia telah mempesonamu, tetapi kau tak punya keberanian untuk mengungkapkan apalagi menyampaikan kekagumanmu itu kepadanya.
Saat itulah kau menyadari bahwa menulis adalah satu cara yang bisa kau gunakan untuk mencurahkan rasa hatimu, walau hanya satu paragraf. Tidak jarang kau memerlukan waktu satu jam hanya untuk menuliskan sebuah kalimat, karena lamunanmu bekerja lebih dahsyat daripada tanganmu. Sehingga sebenarnya tidak banyak tulisanmu dalam sebuah diary. Tidak pula setiap hari kau menulis dalam diarymu. Hanya saat kau merasa senang, kecewa atau marah.
Kebiasaanmu menulis dalam sebuah diary berlanjut hingga kau di perguruan tinggi. Tulisanmu pun tidak hanya bercerita tentang kisah romantis, tetapi juga tentang segala kegiatan yang kau alami. Itupun tidak banyak.
Sering sekali kau berpikir bahwa menulis diary itu adalah kebiasaan kaum perempuan, sedangkan kamu adalah seorang laki-laki. Apa kata teman-temanmu, sesama kaum pria bila mereka tahu kau menulis dalam sebuah diary. Kau pun menjaga diary itu dari sesama kaum pria agar mereka tidak mengetahuinya.
Bahkan kau menulis catatan demi catatan dalam sebuah agenda kerja agar tersamarkan dan tak seorang pun menyangka bahwa kau menulis sebuah diary. Kau pun lebih senang menyebutnya sebagai sebuah catatan harian daripada sebuah diary.
Kebiasaanmu menulis catatan harian, walau tidak setiap hari, terhenti saat kau harus menyelesaikan tugas akhirmu sebagai mahasiswa arsitektur. Berhenti sama sekali, dan tidak pernah ada catatan harian lagi.
***
Menjelang subuh. Hari ini, jam tiga pagi dini hari, aku mencoba melanjutkan membuka buku catatan harianmu. Sebenarnya kedua kelopak mataku sudah ingin terkatup, tetapi mengingat janjiku padamu untuk membaca catatanmu, maka kupaksakan untuk tetap terbuka.
Selama beberapa waktu kau bekerja setelah lulus perguruan tinggi, sama sekali kau tidak pernah membuat catatan sama sekali. Juga saat kau merasakan sebuah cinta yang lain, yang pernah kau ceritakan padaku, kau tak menuliskan apa pun. Bahkan ketika ternyata cinta itupun melukaimu, kau sama sekali tidak meninggalkan sebaris kata pun dalam catatanmu. Kau hanya mencurahkannya saat kita menghabiskan waktu dengan menikmati segelas kopi hitam di warung-warung lesehan, di pinggir jalan.
Sampai sebuah halaman membuat mataku yang tadi sudah hampir tertidur, kini membuka sedikit lebih lebar. Kau mulai mencatat lagi, walau sepertinya masih terbata. Kau sudah berpindah ke kota lain. Sebuah kota dimana kau pernah tumbuh dewasa dan juga merasakan indahnya cinta pertama, cinta yang membuatmu mulai menulis catatan kecil di harianmu. Sebuah kota kecil yang sejuk walau sekarang sudah menjadi lebih padat penduduknya, juga kendaraan dan pembangunan fasilitas-fasilitas publik. Di kota ini kau bekerja di sebuah usaha buku. Tak ingin dikatakan gagal dalam pendidikan arsitektur, walau kau mengakui bahwa dirimu adalah arsitek yang gagal, kau mengaplikasikan kaidah-kaidah seni dan desain dalam sebuah sampul buku. Walau tidak besar upah yang kau dapatkan namun kau menikmati sekali pekerjaan ini. Kau senang dan bangga saat buku yang kau rancang sampulnya terpajang dalam sebuah rak di toko buku. Hanya sebuah kebanggaan yang kau nikmati sendiri. Kau tak tahu harus menunjukkan kepada siapa bahwa buku yang terpajang itu, sampulnya adalah rancanganmu. Konyol kalau tiba-tiba kau mendekati salah seorang karyawan toko, atau pengunjung toko, kemudian mengatakan bahwa sampul buku itu kau yang membuatnya.
Pekerjaanmu yang baru sebagai freelance desainer sampul buku membuatmu dekat dengan dunia buku. Hanya saja kamu lebih sering merancang sampul buku untuk buku-buku perguruan tinggi. Sedangkan kamu sangat ingin membuat sampul buku-buku seni, sastra dan budaya, termasuk novel.
Pernah suatu saat ketika kau menyerahkan rancangan sebuah sampul buku, secara kebetulan almarhum Rendra sedang berbincang dengan pemilik perusahaan. Bertemu Rendra dan melihat dari dekat saja sudah beruntung, apalagi jika diberi kepercayaan membuat sampul bukunya. Kamu pernah juga bertemu dengan Mas Didik Nini Towok, tapi sayang dua bukunya dikerjakan oleh desainer internal perusahaan itu sendiri. Pada akhirnya, kamu bertemu dengan seseorang bernama Herlinatiens, seorang penulis dari Yogyakarta. Kamu belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, lepas dari nama itu barangkali adalah nama samaran. Kali ini kamu beruntung karena dipercaya untuk membuat rancangan sampul bukunya yang berjudul Yang Pertama. Sayang sekali penjualan buku ini tidak seperti yang kamu bayangkan.
Kedekatan dan keterlibatanmu di dunia buku tanpa kau sadari membangkitkan kembali keinginanmu untuk menulis. Semuanya begitu mengusik hati dan pikiranmu, hingga muncul sebuah cita-cita yang lebih dari sebuah keinginan dalam hatimu bahwa suatu hari kamu akan menulis sebuah buku dan menerbitkannya.
***
Pagi hari berikutnya. Seperti pagi-pagi sebelumnya, segelas kopi panas menemaniku membuka hari. Tetapi ada yang spesial hari ini. Karena persediaan gula habis, maka bukan kopi hitam seperti biasanya melainkan cappucino instan. Itupun diperoleh setelah mengaduk-aduk isi laci. Tradisi akhir bulan yang sering aku lakukan, sehingga hampir menjadi semacam ritual. Apakah ada hal-hal spesial yang aku peroleh dari catatan harianmu di pagi hari ini?
Setelah beberapa lama, dan sepertinya itu cukup lama, bekerja dekat dengan dunia buku, kau pun mulai merasakan kejenuhan. Lebih-lebih hal itu kau rasakan karena tidak terwujudnya harapan-harapan kecilmu dalam pekerjaanmu di dunia buku sementara kau merasa begitu dekat dengannya. Situasinya mirip saat kau berada di tepi sebuah jurang dan begitu dekat dengan tepi yang lain, tapi untuk ke sana kau harus berjalan memutar, menuruni lereng di salah satu sisinya dan menaiki bukit di sisi yang lain. Sementara saat kau utarakan maksudmu untuk membuat jembatan gantung yang menghubungkan kedua tepi jurang itu hingga lebih mudah mencapainya, kau pun tidak diperbolehkan. Kau pun kesal dan geram dibuatnya, tapi tak seorang pun mendengar. Kau tak tahu kepada siapa harus mengadu atau berbagi cerita sekadar mencari kelegaan hati. Situasi inilah yang kemudian menjadi pemicu bagimu untuk menulis catatan demi catatan, umpatan, maupun kisah-kisah penghiburan diri sendiri.
Gairah menulismu yang sedang memuncak saat itu membutuhkan tempat untuk dituangkan ke dalamnya. Media blogging gratisan menjadi salah satu pilihan yang kau sukai sebagai sebuah cara sekaligus media baru penulisan. Beberapa tulisan masih kau simpan dalam hard disk komputer lamamu. Bahkan ada pula dalam lembaran kertas. Media blogging benar-benar menjadi jendela bagimu untuk melihat keluar dari dalam ruang jenuhmu, mencari udara segar yang kau dambakan. Impian menjadi penulis semakin sering hadir dalam tidur malammu.
Seiring berjalannya waktu, kamu menyadari bahwa keinginanmu menulis tidak hanya sekadar karena ingin dan suka. Ada beberapa hal lain yang semakin meyakinkanmu bahwa kamu harus menulis. Sebagian karena kekecewaanmu terhadap beberapa harapan dalam hidupmu yang bertepuk sebelah tangan. Sebagian lagi karena kau merasa dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Tetapi di atas semua itu ada sebuah keyakinan baru bahwa kau harus menulis untuk hidup.
Pergeseran-pergeseran pemikiranmu tentang untuk apa kau menulis semakin mengerucutkan pandanganmu pada bidang datar yang lebih sempit. Di atas bidang datar itu kau pun sadar bahwa harus segera ada langkah nyata yang terencana dan terstrukur agar kau dapat menulis, membuat buku, dan menerbitkannya untuk hidup. Hidupmu, hidup istrimu, dan hidup anak-anakmu kelak.
***
Cappucino dalam gelasku telah habis. Matahari sudah lebih besar, pertanda hari sudah lebih siang. Hanya gemericik air mancur di kolam teras belakang rumahku saja yang tak berubah. Waktu sudah bergeser. Catatan kawanku pun selesai aku baca. Saatnya beranjak berdiri dan mengambil langkah berikutnya.
Kawanku pun sudah menentukan pilihannya, dan memulai langkah barunya, meski masih tertatih dan tak jarang terantuk kerikil ketidaktahuan bagaimana menjadi penulis. Aku menunggu catatanmu berikutnya kawan.

| http://secangkirkopihitamku.wordpress.com/2012/06/02/10/

Bloody Love Story Teller

Keningmu berkerut membaca judul diatas? Bagaimana kalau itu merupakan cita-citaku? Bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh. Terlintas pikiran kalau aku agak psycho. Tapi membuat cerita suspense merupakan hobi dan keahlianku. Dan aku ingin dikenal sebagai bloody love story teller. Apa bedanya dengan writer? Aku tidak hanya ingin menulis, tapi menyampaikan isi pikiranku bahwa cinta memiliki sisi mata uang lain yang bernama tragedi. Meski aku menyampaikannya lewat tulisan.
Minat menulisku muncul saat Gramedia mulai menerbitkan teenlit. Saat itu aku berusia 10 tahun. Aku tahu itu dari newsletter Gramedia yang dikirimkan ke alamat tanteku tiap tiga bulan sekali. Aku cukup puas hanya dengan membaca sinopsisnya. Mengapa? Karena saat itu mustahil untuk meminta ibuku membelikan satu novel teenlit. Ibuku tidak suka dengan keinginanku membeli buku karena memang saat itu perekonomian keluarga kami sedang jatuh. Sementara tanteku takkan melirik teenlit. Tak ada yang bisa menggantikan Sandra Brown sebagai penulis favoritnya. Lagipula, jika aku bilang ingin membeli buku itu, mereka mungkin akan memarahi aku yang membeli buku cinta-cintaan. DI umur yang ke-18 ini, aku selalu tertawa mengingat hal itu. Betapa ibuku masih menganggapku putri kecil saat itu. Padahal imajinasiku sudah ratusan langkah ke depan. Hanya dengan membaca sinopsis novel-novel teenlit, aku dapat membentuk plot teenlit di otakku.  Untuk anak seusia itu, plot seperti itu merupakan plot yang sangat complicated. Tidak mampu membeli novel teenlit, aku menulis novel teenlit sendiri.
Saat novel yang akuketik sudah mencapai 10 halaman (saat itu aku bangga pada diriku sendiri), aku merasa butuh feedback. Akhirnya aku meminta teman ibuku yang saat itu sedang bertamu ke rumah, untuk menilai tulisanku. Kata ibuku, temannya itu bergerak di dunia penulisan. Dengan bangga aku mempersembahkan tulisanku. Aku ceritakan bagaimana pendapatku akan cerita itu. Dan apa yang aku dapatkan diluar dugaan. Teman ibukuberjengit jijik melihat tulisanku. Ia takut dengan jalan pikiranku yang sudah mampu membayangkan kisah intrik keluarga yang dibumbui dengan pengkhianatan, masa lalu, dan tragedi berdarah. Mungkin dikira teman ibuku, cerita yang kubuat adalah cerita dengan tokoh anak-anak yang menceritakan persahabatan dan kekeluargaan serta mengandung pesan moral di akhir cerita. Aku tidak tahu bagaimana membuat cerita seperti itu. Saat itu aku bahkan tidak punya novel! Jadi aku tidak tahu darimana pengaruh itu dan darimana datangnya ide gila seperti itu.
Selama tujuh tahun, aku tidak menyentuh keyboard atau pena dan kertas. Semangat menulisku mati suri. Aku mencoba mencari bagaimana membuat cerita yang ideal sesuai umur yang menceritakan persahabatan dan mengandung moral. Dalam kesepian karena kehilangan passion, aku mencoba menafsirkan lirik lagu favoritku, The Black Rose yang dinyanyikan oleh L’arc-en-Ciel, menjadi bentuk tulisan. Cerita 10 halaman saja diselesaikan dalam seminggu. Sulitnya seperti mencairkan gunung es. Tapi aku menikmatinya, menikmati lirik yang penuh dengan ketegangan. Setelah tujuh tahun vakum menulis, aku kembali menemukan kepuasan dari cerita yang kubuat. Sesuai harapanku, mencekam. Setelah itu, perlahan aku menumbuhkan kembali semangat menulisku. Kubuka kembali tulisanku yang tetap 10 halaman. Dalam hati aku berjanji akan menggarap novel ini sebagai masterpiece-ku. Aku tidak mau peduli dengan pendapat orang atau menunggu orang menerima karyaku. Aku berkarya karena aku menikmatinya. Aku percaya suatu hari orang akan mencari karyaku.
Untuk kembali memunculkan ide menulis, aku mulai dari menafsirkan arti lagu. Juga mencari beberapa music video yang bercerita tentang tragedi. Beberapa video yang memunculkan ide di otakku adalah Be Mine – Infinite, Tell Me Goodbye – Bigbang, It’s War – MBLAQ.Meski akhirnya ceritaku cenderung menjadi songfic dan fanfic. Tapi itu ampuh untuk memanaskan oven ide di otakku. Beberapa karya yang kubuat dari lirik lagu antara lain berjudul The Black Rose, Be Mine, Red Farewell Poison, I’m Screamin, dan yang terbaru Missing Attack. Semua karya itu bisa dibaca di blogku http://alovealivealove.wordpress.com. Semuanya selalu berakhir dengan tragedi. Teman-temanku bergidik saat membacanya. Tapi aku tidak peduli. Aku tak akan membiarkan passion-ku mati lagi.
Akhir tahun 2011, aku kembali menemukan semangat menulisku secara utuh. Aku dengan percaya diri mengikuti lomba Bentang Belia. Meski gagal, itu merupakan langkah awal menuju kesempatan berbagai kompetisi menulis. Selanjutnya aku ikut serta dalam beberapa proyek menulis, seperti :
  1. #15haringeblogFF meski hanya tiga hari pertama karena keterbatasan waktu dimana waktuku habis untuk kegiatan sekolah. Tapi proyek ini yang pertama kali membuatku menulis sesuai tema.
  2. #DearMama. Aku turut berkontribusi dengan mengirimkan surat untuk ibu, untuk dibukukan. Lebih tepatnya, perasaan yang kupendam selama ini untuk ibu. Meski mengalami kesulitan untuk menulis bentuk surat, bukan fiksi tragedi, nyatanya aku bisa.
  3. #CeritaHariIni. Dari enam minggu diselenggarakan, aku hanya mampu membuat dua karya :’( Lagi-lagi karena keterbatasan waktu, meski seharusnya aku tidak menggunakan waktu sebagai excuse. Sama seperti poin 1, tema yang diberikan cukup menantang. Sejak mengikutinya, tema satu kata dengan mudah muncul di kepalaku J
Aku lebih banyak memuat karyaku di blog. Rupanya aku perlu membuat 30 karya fiksi untuk membuatku pede dan berencana untuk serius menekuni dunia menulis ini, untuk mengirimkan cerpen ke media cetak atau mengirimkan naskah novelku ke penerbit. Saat ini aku sedang dalam proses editing naskah yang sempat kukirim dalam lomba Bentang Belia dan sedang menggarap sebuah novel yang bercerita mengenai skandal seorang artis. Kurencanakan salah satu novelku rampung akhir Juni sebelum aku sibuk dengan masa perkuliahan. Cerpen-cerpenku sedang kusunting ulang agar layak terbit di media. Selain itu dalam saat yang sama dengan deadline akhir bulan, aku sedang mengerjakan tulisan untuk #MyLifeAs, #Ruang, #MembunuhRindu, serta #KoreanStoryContest. Aku menjaga ritme menulisku dengan menulis fiksi tiga halaman tiap harinya.
Sejujurnya, aku sedikit menyesal dulu langsung ciut hanya karena kata-kata teman ibuku. Padahal jika aku menekuninya, mungkin dalam usia 12 tahun aku sudah menulis novel metropop sekelas Sidnye Sheldon. Hehe. Tapi saat itu memang tidak ada fasilitas seperti internet untuk meriset kelengkapan cerita. Jadi aku tidak bisa menyalahkan waktu. Kalau ada yang harus dipersalahkan, adalah aku jika tidak juga merampungkan novel sebulan setelah membuat tulisan ini. Yang berarti aku menyia-nyiakan fasilitas era modern ini.
Sepertinya aku sudah tenggelam dalam candu untuk berkontribusi dalam proyek tulisan. Mimpiku tampil memberi tanda tangan dalam acara fansigning book, yang kubayangkan sejak SD, kini terbayang jelas. Padahal aku baru mengambil langkah pertama. Kali ini aku tidak akan mundur karena apapun, apalagi hanya karena aku gagal dalam kompetisi menulis atau tulisanku ditolak media. Seorang bloody love storyteller tidak pantas menyerah begitu saja. Bukankah ia memang menyukai suspense, ketegangan, tragedi, dan twist?

| http://alovealivealove.wordpress.com/2012/05/25/bloody-love-story-teller/

Monday, May 21, 2012

Berlayar



Langit gelap. Laut bergolak. Angin kencang mengangkat air laut menjadi gelombang setinggi bukit. Hujan semakin deras seakan tak ada yang mampu menahan kejatuhannya. Satu kapal perang bergerak lambat. Haluan kapal mengangguk-angguk diangkat ombak. Gelombang laut menghempas hingga ke geladak. Di atas anjungan yang terbuka, seorang perwira berusaha berdiri tegak. Tangan kiri memegang erat besi pagar, tangan kanan menggenggam teleskop yang menempel di matanya. Wajah basah kuyub tak dihiraukan. Di tengah badai yang kelabu, mata sang perwira berusaha menangkap bayangan di depan. Di dalam hati ia terus berdoa agar kapal tak tenggelam gara-gara lambung kapal bocor dirobek karang yang luput dari pandangannya.


Di dalam ruang kelas TK yang hangat, seorang guru memberikan pertanyaan ”Kalo udah gede, kalian mau jadi apa? Angkat tangan.”
”Tentara” jawab ku lantang.
”Angkat tangan dulu baru jawab, Aditya” balas guru.
”Iya bu guru” rupanya mulutku lebih cepat menjawab ketimbang gerakan tangan. Mungkin karena dorongan semangat yang meluap dan takut kalah keduluan dengan murid lain.
”Tentara apa?” lanjut guru.
”Angkatan laut.”
Sejak di TK, ketika ditanya apa cita-citaku, aku ingin jadi tentara angkatan laut. Kehebatan tentara angkatan laut aku dapatkan dari gambar kapal perang yang tengah berlayar membelah badai. Gambaran itu aku dapat ketika melihat siaran Dunia Dalam Berita. Entah isi berita tentang apa. Tapi seingatku, ada seorang pelaut yang berdiri tegak, berupaya mengemudikan kapal perang agar tak kandas diterjang gelombang.

Rupanya bu guru menceritakan cita-citaku itu kepada Mami yang menjemput setelah sekolah usai.
Beberapa minggu, selepas Mami terima gaji bulanan PNS, Mami membelikan aku seragam tentara angkatan laut. Waah gagah sekali rasanya. Aku berdiri mematut di depan cermin lemari besar. Seragam angkatan laut warna putih dengan tanda kepangkatan yang tak aku mengerti artinya. Ada peluit kecil yang talinya melingkar di pundak. Topi jenderal nangkring dengan sombongnya diatas kepalaku.

Seragam itu basah kuyub. Bukan karena aku kenakan saat berlayar diatas kapal perang. Namun seragam itu basah oleh keringat ketika aku berjalan diatas aspal panas dibawah terik matahari. Yaa aku berkeringat karena berjalan berkilo-kilo meter menyusuri jalan utama Kabupaten Klaten dalam rangka karnaval agustusan. Tradisi di Klaten, kota kecil diantara Solo-Jogja, memeriahkan hari kemerdekaan dengan mengadakan karnaval yang di tapi ikuti terutama sekolah dari TK sampai SMA. Tentara angkatan laut kecil itu tidak berlayar berjalan di aspal panas.

Mulai SMP, aku senang bergaul dengan alam. Naik gunung, berkemah, panjat dinding dan bermain di pantai. Gara-gara si Nur Muharram alias Mukro yang meracuni untuk naik gunung. Merbabu adalah gunung pertama yang kudaki. Selanjutnya jajaran gunung tinggi di Jawa Tengah yang kami jamah. Merapi, Lawu, Sindoro Sumbing. Hobi berpetualang berlanjut sampai kuliah. Walaupun agak berkurang karena di kampus Universitas Brawijaya aku bertemu dengan baru yang cukup mengasyikan digeluti, dunia aktivis pergerakan.

Alhamdulillah akuu bekerja di ranah yang aku senangi yaitu menjalani profesi jurnalis televisi. Sekarang aku bekerja di tvOne, televisi berita nomor satu di Indonesia. Cita-cita menjadi tentara kandas gara-gara di bangku SMA, penglihatan sudah berkurang karena mata minus dan wajib berkacamata kalo gak pengen nabrak bin nubruk. Menjadi jurnalis apalagi jurnalis televisi adalah salah satu pekerjaan terbaik di dunia. Aku menemukan tantangan yang berbeda setiap hari. Bertemu dengan orang baru. Menjelajahi dunia baru. Mempelajari ilmu baru. Kesenangan akan bergaul dengan alam juga tersalurkan.

Aku pernah bertugas sebagai produser di program Bumi & Manusia dan MutuManikam, program dokumenter yang banyak mengupas hubungan manusia dengan alam.
Meski sebagai produser, aku tak mau berpangku tangan. Hanya duduk manis di belakang meja dan sekadar tandatangan masalah adminitrasi. Aku turun ke lapangan. Memanggul kamera. Berpeluh dan menghadapi tantangan. Bagiku, jurnalis sejati berada di lapangan. Laiknya tentara sejati yang bertarung di medan perang. Tidak duduk jaga markas, menunggui meja kosong.

Sekitar bulan Juni 2010, aku bergabung dan meliput kegiatan Ekspedisi Layar Sabang-Merauke. Ekspedisi dipimpin kapten kapal yang sudah berumur 60 tahun yaitu Capt. Effendy Soleman. Memakai kapal katir kecil, panjang 8 meter, lebar body hanya 1.5 meter, lebar keseluruhan dengan cadik di kanan-kiri tak lebih 6 meter. Ini ekspedisi gila. Banyak orang yang berkomentar begitu setelah melihat kapal begitu kecil haya muat 5 orang dengan catatan berat badan tak boleh lebih 80 kg.

Setelah sebulan berlayar dari Jakarta, Katir Nusantara merapat di pelabuhan Sbang di Pulau Weh. Kami berkunjung ke tugu kilometer Nol. Di tugu ini, tekad mengarungi lautan Sabang-Merauke diperteguh.
Aku bergabung di kapal untuk etape Aceh – Medan yang diperkirakan butuh 6 hari pelayaran. Katir Nusantara mempunyai tiang layar dan dua mesin 15 pk. Bila tak ada angin maka mesin berdengung kelelahan mendorong kapal, membelah selat Malaka.


Katir nusantara begitu mungil. Tak ada ruang. Kami harus rela duduk di atas kapal. Tak ada atap. Panas kepanasan, hujan kehujanan. Bayangkan sejak matahari terbenar sampai matahari tenggelam, sekujur badan disiram garang terik matahari. Tak ada secuil pun yang bisa di pakai untuk berteduh.

Tinggi kapal dari permukaan laut hanya 50 cm atau setengah meter. Kami pun selalu memakai jaket tahan air agar badan tak basah diguyur air laut yang bergelombang.
Tak banyak yang bisa dilakukan diatas kapal ketika sedang berlayar. Hanya duduk. Berusaha tidur. Ambil gambar shooting bila ada moment bagus. Selebihnya melamun. Pernah sekali aku coba membaca majalah Tempo yang sempat aku beli di Banda Aceh. Belum aku buka halaman, air laut sudah terlebih dahulu menjamah setiap helai kertas majalah Tempo. Percuma.

Melamun dibawah terik matahari membuahkan halusinasi tinggi. Aku teringat dengan cita-citaku. Menjadi tentara angkatan laut.

Ketika tengah menunggu kedatangan Cadik Nusantara di pulau Sabang, aku sempat berbincang dengan beberapa bintara TNI AL. Mereka rata-rata mendukung ketika mendengar ada orang yang ingin ekspedisi layar Sabang-Merauke. Beberapa orang diantaranya malah berkeinginan ikut serta bila ditugaskan. Tapi begitu melihat kapal Cadik Nusantara merapat, keinginan para tentara itu buyar. ”Waah iki gendheng” gumam seorang bintara TNI AL yang dari logatnya berasal dari Jawa Timur.
Hahaha.. apakah Tuhan mengabulkan cita-citaku? Berlayar dengan kapal menembus badai? Memang tidak menjadi tentara angkatan laut. Tapi esensi sama. Menguji nyali di lautan berlayar dengan kapal. Mengamalkan lagu ”nenek moyangku orang pelaut….” hayooo masih ingat gak dengan lagu itu?

Kini dibanding naik gunung, aku lebih menikmati bermain di laut, apalagi menyelam. Keindahan surga bawah laut benar-benar membuai. Bila para pendaki gunung punya obsesi mendaki Seven Summits alias 7 puncak tertinggi dunia, maka di dunia selam, Indonesia adalah surga bagi para penyelam.

Ketika meliput ekspedisi Sabang-Merauke, aku sempat menyelam untuk mengambil gambar bawah air di sekitar pantai Iboih. Laut Sabang menyimpan terumbu karang paling bagus diantara titik selam di sepanjang pulau Sumatera.

Sekali lagi Alhamdulillah, menjadi jurnalis televisi seakan membayar lunas cita-citaku sedari kecil.
Benar-benar pekerjaan impian.

Aku berharap suatu ketika, di dalam ruang kelas TK, ada murid yang berteriak ”jadi jurnalis” ketika ditanya cita-citanya oleh si guru.

Tuesday, May 1, 2012

Bayangan Sepanjang Jalan

Kemanapun aku pergi
Bayang bayangmu mengejar
Bersembunyi dimanapun
Selalu engkau temukan
Aku merasa letih dan ingin sendiri *)



Aku ingat pada senyuman itu. Senyum merekah menyambut pagi yang tak pernah ramah. Senyumnya selalu ada disitu, menunggu bus kota lewat dan berhenti di halte. Aku selalu ingat pada senyuman itu. Rupa berseri dalam balutan senyum itu mengingatkanku pada perempuan itu. Perempuan yang pernah ada mengisi hari-hari sepi. Perempuan yang selalu membuatku hilang dari sadarku. Perempuan yang tiba-tiba menghilang bagai mimpi-mimpi malam.

Pemilik senyum tadi rupanya naik bus kota setiap hari. Berdesakan dengan penumpang lainnya yang sama memburu mimpi di Jakarta. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia harus berlarian mengejar bis kota. Mereka berlomba dan saling berebutan hanya untuk sekedar mendapatkan bangku kosong yang ada.

Aku pun pernah mengalaminya. Betapa tidak menyenangkannya saat-saat itu. Saat peluh bercampur dengan berbagai macam aroma dan itu selalu membuat kepalaku pusing. Aku tidak bisa membayangkan bahwa ia harus hidup dengan kenyataan itu setiap hari. Aku tidak bisa membayangkan apa yang telah dialaminya dan tiba-tiba saja dalam sekejap ia sudah kembali menata penampilannya. Membereskan letak leher kamejanya, mengikat rambut serupa buntut kuda, tak lupa menambal perona wajah sekenanya. Dengan demikian, ia telah siap untuk menjalani hari-hari yang akan selalu seperti itu.
*
Ibu Guru Tati mengawali harinya dengan menyapa orang tua murid yang kebetulan bisa mengantar anak-anak mereka pergi sekolah satu persatu. Setiap pagi ia akan selalu menemuiku. Dengan wajah berseri sambil menyapa hangat "Selamat pagi..."  sembari ditemani dua murid kecilnya yang sudah menunggu. Tidak pernah nampak bekas keringatnya yang meleleh sewaktu di dalam bus. Tidak ada juga wajah lelah dan bosan.

Ibu Guru Tati selalu tersenyum manis setiap menghadapi murid-muridnya. Tidak jarang, mereka sudah menyambutnya sejak gerbang sekolah. Kemudian, ia akan selalu menggandeng tangan Prita. Membawanya masuk kelas dan meninggalkanku. Aku masih ingat wangi parfumnya. Aku perlahan tersenyum sendirian. Sialan. Memori itu masih ada dibenakku.

Sekali waktu, sengaja aku menunggunya. Usai dentang bel sekolah, aku menemuinya dan mulai berbasa-basi. Aku ingin mengantarkannya pulang. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena telah mau menjadi ‘teman’ untuk Prita. Prita selalu bercerita bahwa Ibu Guru Tati selalu mengajarinya membaca buku #Cerita Hari Ini dari seorang penulis tanpa nama. Buku cerita favorit muridnya. Buku itu tidak lebih dari sekumpulan cerita anak berjumlah tiga puluhan cerita pendek yang berisi pelajaran-pelajaran dasar kehidupan. Misalnya, budi pekerti.

Semenjak perceraianku dengan Anita, sudah jadi kewajibanku untuk mengantar-jemput Prita. Makanya, aku selalu punya kesempatan untuk bertemu dengan Ibu Guru Tati. Kesempatan yang tidak akan pernah aku lewatkan begitu saja. 

“Mari, saya antar pulang.”
“Maaf. Terima kasih. Saya naik bus saja.”

Begitu katanya, sambil pergi berlalu begitu saja bagai pesawat tempur.

Aku memang kehilangan kesempatan itu. Aku tidak tahu mengapa tetapi yang jelas ia punya seribu alasan untuk tidak menerima tawaranku. Aku bisa mengerti itu. Dengan statusku yang seperti ini tentu Ibu Guru Tati lebih cerdas dalam bertindak. Tentu ia tidak ingin menampakkan sesuatu yang sangat sulit untuk dijelaskan. Ibu Guru Tati tidak ingin pandangan orang lain merusak reputasinya. Apalagi, ia menjadi figur pengganti para orang tua di sekolah.

Aku melihatnya berlalu begitu saja. Berjalan cepat sambil sesekali menutupi wajahnya karena silau matahari siang. Aku bisa melihat butir keringat yang perlahan muncul di dahinya. Seketika pula ia akan menyekanya dengan sapu tangan berwarna merah jambu. Sapu tangan pemberian Anita, sebulan sebelum kami bercerai. Aku lihat Ibu Guru Tati melambaikan tangan. Bis kota yang sudah terlalu tua dan badannya dipenuhi iklan itu menepi. 

Tidak kulihat lagi Ibu Guru Tati. Ia kembali melebur jadi warga ibu kota yang selalu jadi korban kebijakan. Betapa kota ini tidak pernah ramah bagi warganya sendiri. Pengguna angkutan umum adalah contohnya. Pemerintah telah berkhianat pada mereka. Satu sisi, Pemerintah mengharapkan warganya untuk beralih menggunakan sarana transportasi publik. Namun, disisi lain Pemerintah tidak menyediakan sarana transportasi yang layak dan memadai. Ibu Guru Tati hanyalah bagian kecil dari siklus perkeliruan itu.
*
Aku kini sedang berada dalam bus malam yang akan membawaku ke Surabaya. Malam mulai meninggi. Jalanan sudah sepi. Hanya keremangan malam yang menemaniku. Aku lihat tidak banyak penumpang yang masih terjaga. Kecuali aku dan seorang yang duduk di dekat toilet. Kondektur dan sopir pun seakan khusyuk sekali memandang jalanan di depan.

Kepergianku ke Surabaya bukan untuk sekedar perjalanan biasa. Aku telah memutuskan untuk pindah ke Surabaya. Aku terima tawaran pekerjaan disana. Aku butuh pengalaman dalam hidupku yang semakin terasa datar ini. Aku tidak pernah tahu kemana sungai kehidupan membawaku. Aku hanya tahu bahwa aku harus melanjutkan hidup, itu saja.

Aku terlalu banyak mengkhayal tentang Ibu Guru Tati. Semenjak kepindahanku ini, aku tentu tidak akan bisa menemuinya lagi. Menatapi senyum ramahnya dan merasakan aroma parfum yang dikenakannya. Tidak pula kutemui lagi sapaan hangat yang selalu membuat Prita begitu riang.

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa tertegun bila mengingatnya. Entah darimana datangnya. Bayangan tentangnya masih saja menemuiku. Raungan mesin diesel Hino masih memecah kebisuan di sepanjang jalanan yang masih juga sepi. Aku masih melamun. Aku hanya memandangi jendela saja.

Dalam gelap malam yang semakin pekat. Bayangan itu nampak jelas dan seakan hidup. Aku hanya melihat bayangan wajahnya saja. Bukan Anita, sosok perempuan rendah hati yang telah kusakiti hatinya. Bukan pula Prita, buah cinta kesayanganku satu-satunya, yang selalu membuatku punya alasan untuk tetap hidup. Aku hanya melihat bayangan Ibu Guru Tati. Bayangannya saja.

Beginilah keadaannya. Aku tidak pernah merasa berat hati untuk meninggalkan apapun yang telah kulalui. Aku tidak pernah merasa menyesal atas apapun. Sejenak masih melamun. Bayangan Ibu Guru Tati datang lagi ketika aku mengingat kembali senyumannya. Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Aku memanggil namanya kembali. Dalam hati saja. Begitu lekatnya hingga tak ingin pergi.

Semuanya masih gelap. Hanya keremangan lampu jalanan saja yang menemani. Aku masih menatap jendela. Aku merasa sangat lelah. Perlahan bayangan tentangnya muncul kembali. Bagai hujan di musim badai seperti ini yang tak pernah berucap kapan waktunya tiba. Bagus. Sementara perjalanan masih lumayan jauh, aku hanya berkutat dengan bayangannya saja. Pegulatan dengan bayangan yang semakin menyiksaku. Kenapa hal seperti ini muncul pada saat-saat seperti ini? Aku sedang tidak melarikan diri tapi kenapa bayangnya masih selalu ada. Senyumnya selalu mengikuti. Bagaikan bus kota yang mengikuti kehendak sang supir.

Ia bukan siapa-siapa. Maksudku, ia hanya seorang guru, dan hanya itu saja. Kita dipertemukan oleh takdir yang sudah seharusnya terjadi. Aku mengenalnya karena sering bertemu saja. Lainnya, tidak ada. Tapi mengapa saat ini seakan aku merasa dekat sekali dengannya. Aku bisa rasakan hembusan nafasnya dibelakang tengkuk leher ini. Hmm, aku jadi merinding.

Lewat dini hari aku tidak tahu sudah sampai mana. Aku merasa ia sedang duduk di sebelahku. Sama-sama memandang sayu pada jendela yang bertuliskan Jakarta-Surabaya. Aku merasa ia disana dan sedang memegangi tanganku dengan dingin yang mengalir dari sela jari-jarinya.

Aku segera tersadar bahwa aku hanya tertidur sesaat. Itu pun kalau bukan karena klakson bus malam lainnya yang berpapasan. Aku menghela nafas panjang. Aku lihat disekelilingku hanya aku saja yang masih terjaga. Ada sesuatu menganggu. Aku ingin terus terjaga.
*
Aku bersandar pada jok. Mengambil nafas panjang dan keluarkan perlahan sambil memejamkan mata. Aku merasa lebih tenang sekarang. Aku merasa sendirian. Sendirian saja di dalam bus malam yang penumpangnya penuh. Aku melihat titik-titik berwarna putih. Perlahan semakin banyak dan menutupiku.
Paninggilan, 26 April 2012.

*) dari lirik lagu “Aku Ingin Pulang” dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade
| http://selendangwarna.blogspot.com/2012/04/bayangan-sepanjang-jalan.html

Monday, April 23, 2012

Pernah Menjadi Matahari


Ia pernah menjadi matahari. Pada sebuah hari di mana malam begitu terang benderang karena kekuasaannya. Mengisap sari pati hidup untuk diturunkan kembali dalam bentuk hujan. Sejenak menguasai hakikatnya sebagai makhluk yang berkuasa. Menikmati setiap langkah yang dijejakkannya di muka bumi untuk dijadikan Cerita Hari Ini.
Silau. Demikian yang diungkapkan sekian banyak mata yang memandang wajah dan tubuhnya. Kehadirannya kala itu begitu utuh. Setiap bagian tubuhnya memancarkan kilauan. Sejak saat itu ia lebih sering berandai-andai di depan cermin. Mengharapkan sosok pangeran tampan mengalungkan seuntai kalung berlian di leher jenjangnya. Bukan seekor tikus werog yang gemar lalu lalang di ruangan sempit yang kini didiaminya bersama ibu dan adiknya. Ia bernama Sari. Namun, bagi setiap pria yang mengharapkan senyumnya mengembang lebih banyak, sebaiknya memanggilnya dengan sebutan Sabrina. Sebuah nama yang telah tersemat di lubuk hatinya semenjak sebuah film serial tv kegemarannya mengukuhkan nama Sabrina sebagai tokoh utama. Sabrina yang anggun, bergelimang harta dan memiliki kehidupan yang begitu mudah. Ia menatap Sabrina dengan kekaguman tanpa batas. Meski harus memungkiri dinding tempatnya tinggal yang separuh tembok separuh triplek dan berteman dengan makhluk penghuni selokan mampet yang menguarkan aroma tak sedap.
Panas. Kali pertama ia merasakan aliran darahnya terpompa begitu cepat sehingga hampir mendidihkan isi kepala adalah ketika menandatangani sebuah kontrak sinetron di usianya yang baru menginjak 20 tahun. Ia tak hanya memiliki aura matahari yang menyilaukan dari paras ayunya, tetapi juga kemampuan berakting yang mengundang decak kagum. Ternyata hidup tidaklah sesulit yang ia duga. “Siapa bilang aku hanya bisa menjadi Sari yang setiap hari harus mengais rezeki sebagai pegawai salon murahan untuk membiayai ibu yang sakit-sakitan dan adik yang tak henti berteriak minta uang jajan…,”sapanya lembut pada cermin di kamar tidurnya.
Ia menyadari jati dirinya yang telah berubah satu tahun belakangan ini. Kini dirinya bukanlah obyek yang hanya menanti kedatangan pelanggan-pelanggan salon Jennifer dan mengerjakan apa yang mereka minta. Ia adalah Sari yang baru. Subyek yang dinantikan kehadirannya oleh entah berapa juta pasang mata pemirsa televisi. Sari yang menjelma menjadi Sabrina yang dikaguminya.
Ia hampir menjadi matahari. Kala bunyi mesin mobil mewah lebih sering terdengar berhenti di depan rumah mungil nan asri yang dibelinya dari honor main sinetron. Ia banyak menghabiskan waktu dengan pemilik mobil tersebut. Di bar, di café, juga di kamar hotel.
“Kapan kamu akan menandatanganinya?” sahut sang pemilik mobil mewah datar.
“Apa yang aku dapat nantinya? Sesungguhnya waktuku dalam sehari tak banyak lagi. Sebagian besar nyaris habis di tempat syuting,” jawabnya lemas sambil menyibakkan selimut yang menutup tubuhnya. Di atas tempat tidur sebuah kamar mewah di hotel itu dirinya berkali-kali harus menerima kenyataan bahwa ketenarannya bukanlah sebuah kenikmatan tak berbayar.
“Berapa kali lagi harus aku ulangi? Suatu saat kamu akan mempunyai keturunan. Mereka membutuhkan biaya untuk hidup. Kamu pikir ada rumah produksi yang mau memberi pekerjaan padamu sepuluh dua puluh tahun lagi?”
“Keturunan? Maksudmu anak?”
“Ya! Apalagi?”
Ah, bahkan lelaki dengan mobil mewahnya itu tidak punya sedikitpun keinginan untuk melengkapi hidupnya, menjadi ayah dari anak-anak yang kelak dikandungnya, setelah apa yang telah mereka lakukan bersama. Ia hanya memikirkan kepentingan pribadinya. Keinginan kelompoknya untuk makin dekat dengan pusat kekuasaan di negeri ini.
“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?” ia meminta ketegasan dari sang pemilik mobil mewah.
“Pekerjaanmu tidak sulit, Sayang,” suaranya melunak, memohon dalam kejengkelan yang tertahan.”Setelah menandatangani surat persetujuan, kami akan mengadakan semacam upacara pengangkatan. Setelahnya, kamu dapat mengikuti ke mana kami pergi. Membantu kampanye yang kami lakukan. Jangan khawatir mengenai akomodasi dan lain-lainnya. Semua terjamin. Kami ingin kamu punya keyakinan yang kuat untuk menjadi anggota kami. Dan setelahnya, kehidupanmu hingga lebih dari 20 tahun mendatang akan terjamin.”
“Apa ia pikir aku begitu mudah diberi janji,” bisik Sari dalam hati. Namun, Sari menyadari sepenuhnya bahwa karirnya di sinetron pun akan terancam seandainya ia tidak menyetujui ajakan tersebut. Kesempatannya mengulur-ngulur waktu pun sudah habis. Keputusannya tak dapat lagi ditangguhkan.
”Huh, manusia-manusia gila kuasa itu!” seringkali Sari mengumpat dalam hati. Ia tak lagi ingat betapa keinginan kuat untuk berkuasa pulalah yang telah menyeretnya ke situasi ini. Keinginan untuk menjadi matahari.
Di luar dugaan, keputusannya untuk mengikuti ajakan lelaki dengan mobil mewah memberinya kenyamanan hidup yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Mobil dan rumah mewah hanyalah pembuka. Menu dessert, kata orang-orang kaya. Setelahnya, segenap isi bumi seolah tunduk padanya. “Akulah matahari!” ucapnya pada semesta.
Ia memang pernah menjadi matahari. Setidaknya, bila dilihat dari kesungguhannya meningkatkan kehidupan ibu, adik-adik dan sanak keluarganya. Kesetiaannya mengunjungi panti asuhan dan rumah-rumah perawatan anak dengan kelainan tubuh ataupun mental. Mereka mendoakannya. Tanpa tahu untuk kepentingan siapa sesungguhnya sang matahari datang dan menengok mereka. Mereka adalah planet-planet mungil yang menanti kado apa yang di bawa untuknya. Kehangatan saja tidak cukup bagi mereka. Dan sang matahari selalu berhasil membelikan apa saja yang mereka inginkan. Ia tahu jumlah yang ia keluarkan akan kembali padanya dalam jumlah yang lebih besar. Cukup dengan keyakinan tersebut ia terus melangkahkan kakinya dari kecamatan ke kecamatan, kabupaten ke kabupaten dan bila perlu dari pulau ke pulau untuk berkampanye di bawah nama sebuah partai. Semua ia lakukan atas nama kesejahteraan. Seluruh bangsa… kalau ia tak salah menghafal.
Semestinya matahari tidak pernah takluk di bawah telapak kaki bumi. Karena seluruh penghuni di muka bumi menggantungkan hidupnya pada matahari. Bahkan khayalanpun tak akan mampir di kepala orang waras manapun tentang kemungkinan matahari yang bertekuk lutut itu. Namun, rupanya sinar yang menghidupkan segenap makhluk itu tak akan pernah mampu diwujudkan dalam lembaran kertas yang menyebutkan sejumlah nilai. Matahari sejatinya tak pernah menuntut apa yang telah diberikannya pada semesta. Oleh karenanya, hanya kesetiaanlah yang diperoleh matahari dari bumi dan planet lain yang menemani.
*
Hingga suatu saat, langkahnya melambat. Kiranya waktu telah memakan usia tanpa ampun. Sari, Sabrina, atau siapa pun ia, yang pernah menjadi matahari itu, ingin menghentikan langkahnya sejenak. Lebih dekat pada sang penguasa semesta. Bukan penguasa negara saja.
“Kita sudah menyiapkan pengacara”
“Lalu?”
“Juga dana yang lebih dari cukup untuk dibagikan ke seluruh staf kantor pengadilan”
“Aku tidak yakin kita dapat melewati ini semua begitu saja. Tahulah, harus selalu ada yang berkorban untuk menuntaskan kasus ini. Setidaknya untuk sementara waktu”
“Maksudmu?”
Sari mendengar suara tombol ditekan. Lalu seketika percakapan itu berhenti. Di hadapannya kini seorang lelaki bersahaja duduk. Sari hanya diberi waktu tak lebih dari 2 jam untuk berbincang dengannya. Ia perwakilan dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat. Seorang utusan teman baiknya kala masih sekolah. Teman yang tak pernah lagi diingatnya semenjak kesibukannya di sinetron dan berkampanye meningkat.
Lelaki bersahaja itu menyerahkan secarik surat yang berisi tulisan tangan teman sekolah Sari itu. Sari tak ingin waktu terbuang terlalu banyak. Ia segera membuka surat tersebut dan menelaah isinya.
Sari yang aku hormati,

Tanpa terasa waktu telah menyeret kita pada arus yang berbeda. Waktu kudengar kau memutuskan untuk membagi waktumu di sinetron dengan kegiatan kampanye, terus terang aku dihinggapi kekhawatiran yang sangat. Berpolitik tidaklah menyenangkan, Sari. Setidaknya, untuk sebagian orang seperti kita ini. Seperti aku dan kamu. Kamu yang aku kenal dahulu. Entah kalau sekarang. Harapanku kita masih sama.
Bersama surat ini adalah seorang pengacara yang dengannya kubawakan sebuah bukti tentang percakapan orang-orang yang mungkin kamu pikir pada awalnya mereka adalah dewa penolongmu. Penjamin kehidupanmu kelak. Banyak hal dalam hidup ini tidak lah seperti yang terlihat, Sari. Aku yakin kehidupan di dalam penjara banyak memberitahumu perihal itu. Sungguh aku tak pernah menginginkan kenyataan yang saat ini sedang kau pikul.
Aku tak dapat menebak bagaimana akhir dari kisah yang menimpamu. Yang aku tahu, seseorang telah menjebakmu dan menempatkanmu pada posisi sulit seperti sekarang ini. Siapa yang sesungguhnya bersalah, begitu kabur. Hanya karena aku mengenalmu lebih daripada yang lain aku menduga kau tidak melakukan kesalahan.
Berceritalah tentang segala hal yang kau tahu sejujur-jujurnya pada lelaki di hadapanmu kini. Aku berharap ia dapat membantumu.
Oya, selepas kuliah, lebih tepatnya setelah kau menolak pinanganku, aku mengejar bea siswa S2 ke luar negri. Aku sangat bersyukur akhirnya dapat melanjutkan kuliah di Amerika. Aku berangkat ke Amerika dengan hati yang tersisa dari lara membayangkan akan berada jauh darimu. Tapi Sari, tak ada yang perlu disesali dalam hidup ini. Tugas manusia di muka bumi ini adalah melangkahkan kakinya. Itu saja.
Salam hangat,
Bima

Sari menutup surat itu dengan mata berkaca-kaca. Ia menyesal telah menukar silau dan panas yang dimilikinya dengan helaian kertas bernilai nominal. Ia lupa akan tugasnya sebagai makhluk Tuhan di muka bumi ini. Makhluk Tuhan yang hanya diminta melangkahkan kakinya dengan hati dan nurani yang dimilikinya. Semudah itu.
Ia kembali ke dalam sel tahanan tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada lelaki bersahaja yang menanti kalimat-kalimat pembelaannya.
(Ditulis untuk #CeritaHariIni yang diselenggarakan oleh @_PlotPoint)

Monday, April 16, 2012

Selatan

Kita ini satu bagai magnet. Satu, sama, namun berbeda haluan. Kamu utara, aku selatan, dan kita bisa saja menarik semua besi-besi dan serpihan logam, tapi tetap, aku utara dan kamu selatan. Dua kutub yang berbeda. Mungkin kalau kita terpecah, kita bisa bergabung, menyatu dan berhadapan. Tapi kita tetap, aku utara dan kamu selatan.”
“Bukan,” dipikiranku berbisik menggelitik: “Kutub utara dan selatan itu adalah kau dan ego-mu. Dan aku hanyalah besi rongsokan yang selalu tertarik dengan gaya dan medanmu. Kau adalah magnet, yang selalu menarikku untuk pulang ke rumah.”
***
#CeritaHariIni diawali dengan serpih serpih logam yang jatuh diambang batas pintu sebuah pabrik senjata Israel di wilayah Tel Aviv. Namaku Herlz. Aku adalah orang Israel yang bekerja di persenjataan Israel sebagai buruh biasa yang kadang ikut berperang meskipun hatiku terluka.
Ya, aku terluka saat melawan Palestina demi kedudukan Israel di tanah ini. Luka batin yang akan terus menganga dan menimbulkan penyakit baru. Peduli setan lah dengan negaraku atau apapun yang terjadi pada rezim ini. Mereka, para petinggi itu, tak akan pernah mencoba menyelesaikan perang, sampai kapanpun. Mereka hanya mengikuti apa yang sejarah ramalkan. Lucunya, namaku Herlz, sama seperti penggagas Negara Yahudi pada zaman dahulu, Theodor Herlz, dan yang lebih lucu lagi, aku bekerja di pabrik persenjataan Israel yang langsung ataupun tak langsung menyatakan aku membela Israel.
Semua itu demi lebih banyak roti untuk aku dan istriku, Aliyah, seorang wanita cantik keturunan Palestina-Arab.
Jika aku punya uang lebih, aku akan pindah dari Negara ini. Pindah ke Amerika dan hidup lebih lama dan bahagia dari sekarang.
“Ayo kita pulang!” Ajak Ben yang baik hati sekaligus sahabatku. Aku mengembangkan senyumku dan mengangguk. Kami pun pulang ke rumah kami dengan berjalan kaki dan melewati daerah-daerah dan gua terpencil yang menyeramkan. Banyak sekali risiko yang harus ku tanggung dalam menyambung hidup bahkan untuk perjalanan dari rumah ke tempatku bekerja dan sebaliknya. Dari mulai invasi dari pihak musuh ataupun dari binatang buas yang bisa saja menyantap kami kapan saja.
“Ben, apakah kau percaya jika perang ini selesai maka dunia akan kiamat?” Tanyaku dalam perjalanan pulang sambil mengendap-endap dibawah lorong jalan raya perang yang bau, yang kemudian akan tembus kehutan.
Ben berjalan lebih dulu sambil merunduk. “Kurasa.” Jawabnya tenang.
“Lalu mengapa kita tidak membunuh diri kita sendiri saja supaya ketika kiamat itu datang, kita tidak perlu risau lagi?! Percuma bukan perang ini ada, siapapun yang menang atau kalah, mereka hanya menghadapi kematian.” Argumenku.
Ben sudah sampai di ujung lorong dan serta merta menghidup udara segar dan meregangkan badan. Ben menatapku lekat-lekat.
“Masih banyak yang harus diperjuangkan, Herlz.” Katanya dalam.
“Perjuangan apa lagi? Apa yang diperjuangkan?” Tanyaku sambil melanjutkan perjalanan. Ben lebih veteran daripadaku, itu sebabnya ia sangat bijaksana. Namun sekarang ia diam.
Booom! Duaaaar!
Suara itu seperti granat yang menyalak tak jauh dari tempat kami. Aku dan Ben terhuyung huyung mencari perlindungan. Kemudian berlarilah kami kesebuah goa yang kecil cukup untuk kami berdua. Kami berlindung dibawah goa itu selama berjam-jam menunggu sampai serangan itu selesai.
Saat berlindung bersama Ben, dikepalaku muncul seorang wanita cantik, berhidung rungi, bermata cokelat dan berambut cokelat yang panjang. Orang yang sangat kucintai sepanjang hidupku, Aliyah. Aku sangat merindukan wanita itu.
Sekelebat bayangan muncul satu persatu dari awal pertemuanku dengannya. Saat itu aku masih berumur 20 tahun, usia wajib militer, dan sedang berperang melawan Palestina di jalur Gaza. Aku menemukannya hampir mati disebuah gedung bekas apartemen yang rusak karena perang. Aku menolongnya, dia adalah korban perang, semua keluarganya sudah meninggal karena perang.
Awalnya ia takut denganku. Mungkin trauma. Aku tidak tega dan menolongnya, menyeludupkannya diam-diam dan mengaku ia adalah orang Israel sampai akhirnya membawa Aliyah ke rumahku di Tel Aviv untuk perlindungan. Saat itu usianya masih 17. Akupun membantu mencarikan keluarganya yang lain selama bertahun-tahun, namun hasilnya nihil.
Aku sadar bahwa aku mencintainya, akulah keluarganya, dan kemudian aku menikahinya saat usiaku genap 24 tahun dan Aliyah 21 tahun. Hal itu terjadi lebih daripada 10 tahun yang lalu dan aku hidup di realita yang sekarang.
Hari sudah malam, bintangpun bermunculan. Suara ledakan itu seakan menjauh. Aku dan Ben bergegas untuk melanjutkan perjalanan pulang. Aku tahu Aliyah pasti telah menungguku.
***
Aku tidak dikaruniai anak. Oleh karena itu, aku tinggal hanya berdua bersama Aliyah dan satu penjaga, Bruno, seekor anjing gembala berwarna cokelat keemasan. Mungkin Aliyah terkena radiasi saat perang atau penyakit yang lain.
Aku tiba dirumah dan rumah terkesan sepi dan gelap. Lampu di depan rumah menyala namun tidak ada tanda kehidupan, sampai akhirnya anjingku, Bruno menarik narik celanaku yang compang camping memintaku untuk masuk ke dalam rumah. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Aku masuk kedalam rumah dan mendapati seluruh isinya berantakan. Aliyah pun tidak ada dirumah. Aku mencari-cari dimanapun tapi tidak ada. Sampai pada akhirnya aku menemukan kertas terlipat dua diatas meja makan. Tulisan tangan Aliyah tergores disitu.
Kepada Suami ku yang ku cintai sepanjang hayat, Herzl,
Jangan mencariku lagi. Setelah sepuluh tahun, akhirnya pemerintah Israel pun tahu aku bukan penduduk mereka dan merekapun memutuskan mengembalikan aku kepada Pemiliknya. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sedang menangis karena aku kehilangan orang yang paling kusayangi selama ini. Tapi aku akan selalu hidup di sisimu dan menemani setiap langkah-langkahmu.
Ini mungkin surat terakhirku padamu, dan akupun juga pernah bilang bahwa sampai selama lamanya kita ini bagai magnet yang sama. Kita menjadi satu namun tidak berhadapan. Kita adalah dua kutub yang berbeda, kau utara dan aku selatan. Meskipun kita mampu menarik besi secara bersamaan, tapi kita merupakan dua bagian yang berbeda.
Kita tidak pernah berpandangan sama, hanya saja kita satu. Mungkin suatu hari nanti akan ada yang mampu memecah kita, dan kita mampu membuat daya untuk menarik setiap perbedaan kita. Supaya dua menjadi satu, bukan satu menjadi dua.Tapi itu nanti, di kehidupan kita yang berikutnya.
Terimakasih atas segala cinta yang telah kita ukir selama satu dekade yang terasa sangat singkat. Selamat tinggal. Aku mencintaimu,
Aliyah
Dadaku serasa bergetar. Apalagi yang dilakukan orang Israel gila itu? Aku segera keluar mencari informasi yang lebih pasti tentang keberadaan istriku. Aku mendatangi rumah Ben untuk meminta bantuan. Namun Ben menolak untuk membantu mencarinya hari itu karena suasana sedang genting.
Namun Soraya, istri Ben mengatakan bahwa Aliyah dibawa oleh para serdadu pemerintah ke ibukota untuk dihukum pancung karena identitas palsu selama bertahun-tahun ditambah lagi ia adalah orang Palestina.
Akupun segera pamit pergi dan mencari segala akses untuk tiba di ibukota saat itu juga. Segala hal aku upayakan untuk menghentikan kendaraan yang lewat sampai akhirnya aku menghentikan sebuah truk makanan untuk suplai para tentara di ibukota.
Akhirnya aku tiba di ibukota dan mulai mencari tempat pengadilan dimana istriku berada. Aku tidak memikirkan apa-apa, aku hanya ingin melihat istriku. Namun aku tidak menemukannya. Hari sudah sangat larut, kuperkirakan saat itu sudah pukul dua dinihari.
Aku bertanya kepada para penjaga dan mereka bersikap acuh tak acuh. Sampai akhirnya ada satu orang penjaga yang menceritakan bahwa tadi siang ada wanita Palestina yang memalsukan data kependudukan dihukum pancung. Diduga wanita itu adalah mata-mata. Jenazah wanita itupun dibakar setelahnya.
Akupun mendatangi ruang bekas kremasi tadi siang diantar oleh si Sipir yang baik hati. Aku menangis sejadi jadinya diatas tumpukan arang-arang dan abu. Tak lama aku langsung mengumpulkan abunya dan memasukan kedalam kaleng bekas. Hatiku hancur.
***
Hari-hari berikutnya aku hidup diantara bayang-bayang Istriku. Kadang kala aku sering berharap membuka mata di sampingnya atau dapat melihatnya berjalan dan memberi makan Bruno. Tapi semua hanya khayalanku, jauh di dasar benakku.
Kiranya aku semakin membenci peragai pemerintahan Israel. Aku membenci segala tabiat mereka dan terutama aku benci perang. Aku terluka parah oleh perbuatan keji mereka tapi aku juga merasa salah saat aku sadar selama ini aku memang membahayakan Aliyah di negaraku.
Aku berjanji akan menebus kesalahanku, segala kerisauan dan kerinduanku pada Aliyah.
Pagi itu aku berangkat bekerja seperti biasa bersama Ben. Sejak kepergian Aliyah, aku tidak banyak bicara. Ben mengerti betul apa yang aku rasakan.
“Ben, pulanglah!” Pintaku.
“Ha? Kau bercanda? Mau makan apa anak dan istriku kalau aku pulang?”
“Pulang, Ben! Ku minta kau pulang sekarang juga!”
“Kau tidak menggajiku, orang gila!” Katanya.
Aku meninju wajahnya. “Pulang keparat!” Seruku.
Ben menatapku serius namun tidak berusaha membalasnya.
“Aku tahu kau akan melakukan yang terbaik.” Katanya yang lalu berbalik badan dan pulang.
“Bawa pergi jauh dirimu serta anak-anakmu!” Seruku sekali lagi. Dan aku bersumpah aku sangat bangga pada sahabat yang sangat mengerti aku.
Akupun melanjutkan perjalananku. Hari itu.
***
Aku memberanikan diri memasuki ruangan penelitian bom nuklir dengan mengendap-ngendap sehabis mencuri sebuah granat dan pistol kecil dari gudang penyimpanan persiapan perang. Dadaku memukul-mukul. Aku mungkin bersalah namun setidaknya jika pabrik ini hancur Israel akan menghentikan perang ini untuk sementara. Akan ada lebih sedikit orang yang meninggal karenanya.
Bau ruangan itu sangat aneh. Sekilas bau kimia yang sangat menusuk hidung, kemudian bau mercon dan terakhir bau kematian yang tak termaafkan. Aku sendiri dihadapkan pada sebuah bom yang berdaya ledak 0,0005 Megaton TNT yang setidaknya dapat menghancurkan daerah ini sampai radius 2 kilometer. Bom itu hanya sebesar bola basket. Dan hanya ada bom itu di pabrik ini, sebab ini adalah pabrik senjata. Bom ini pun hanya sekedar ada untuk penelitian.
Aku melanglang pikiranku mengingat Aliyah. Aku akan kembali kepelukannya.
Segera saja aku membuka granat dan mengenggamnya dengan tangan kiriku. Seorang penjaga memergokiku, dan segera saja aku mengambil pistol dari sakuku kemudian menarik pelatuknya dan melepaskannya tepat ke dada si penjaga. Aku menatap granat ditanganku dan menghitung mundur.
5… 4… 3… 2… 1…
Aku besi dan kau magnet, yang selalu menarikku untuk tidak jauh darimu.

Jakarta, April 2012

| http://deapeni.blogspot.com/2012/04/selatan.html

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan