Showing posts with label #MyLifeAs. Show all posts
Showing posts with label #MyLifeAs. Show all posts

Monday, April 29, 2013

Penulis Bicara, Haqi Achmad


Halo, guys!

Siapa yang sudah baca #MyLifeAsWriter-nya Haqi Achmad (@haqiachmad)? 



Hari Minggu, tanggal 28 April 2013, Haqi hadir di acara Penulis Bicara 104,6 Sindo Trijaya FM dari pukul 10-11. Haqi membahas mengenai #MyLifeAsWriter. Mulai dari ide menulis, latar belakang menulis, hingga proses terbit. Buat yang kemarin ketinggalan, yuk simak beberapa rangkuman twit ini. :D 


Penulis itu adalah profesi ketika dimana seseorang menjadi dirinya sendiri -
Menulis adalah profesi yg saya inginkan, keahlian yg jarang orang punya, saya syukuri memiliki itu -
Sebaiknya kita bikin kerangka /outline terlebih dahulu agar bisa kembali lagi ke plot yang awal -
Ide ga ilang, tapi kita suka 'centil', saat kita menulis kita harus galak terhadap diri sendiri -
Menulis adalah salah satu cara untuk aktualisasi diri -
Saya senang menulis buku ini, karena saya bisa banyak belajar dari mereka -
Menulis itu keahlian, menulis itu bisa dipelajari dan dilatih. Semua orang itu bisa nulis -
Menulis itu berlatih. Menjadi penulis itu sebenarnya seberapa mau dan seberapa kelasnya lo mau menulis. -
Menulislah apa yg ingin kamu baca, apa yg kamu suka, apa yang kamu tahu -
Membacalah yang banyak, karena dengan membaca yg banyak bisa menulis jg yg banyak -
Profesi penulis adalah profesi yg penuh warna -
menulis tuh menyenangkan tapi tidak semudah itu juga -
menulis ada prosesnya ada proses jatuh bangunnya juga. -  

Haqi Achmad (@haqiachmad) dan Dennis Irawan (@IrawanDennis)
Haqi Achmad (@haqiachmad) bersama tim 104,6 @SindoTrijayaFM



Sampai jumpa di Penulis Bicara berikutnya, ya! ;)

Monday, June 18, 2012

My Dream Job

#MyLifeAs a "writer" sangat menyenangkan namun terkadang melelahkan. Tepatnya sih sebagai freelance writer. Karena dalam perspektifku menjadi seorang freelance writer belum menjadi writer yang "seutuhnya". Oleh sebab itu aku menggunakan tanda petik pada tulisan writer di atas.

Beginilah keadaan meja belajarku di pagi hari setiap hari :D
Menjadi seorang writer merupakan salah satu impian terbesarku, pekerjaan impianku. Layaknya impian yang lain, menjadi seorang writer pun tak mudah. Memang kerjaannya hanya menulis sahaja, tapi menulis yang dimaksud adalah menulis yang tak hanya sekadar menulis.


Nah lho, bingung kan? :-D Maksudku begini, menulis bukan cuma kegiatan seorang writer. Semua orang bisa menulis, benar kan? Bedanya, menurutku kalau seorang writer harus bisa membuat sebuah tulisan yang bagus, enak dibaca, menarik dan sesuai dengan EYD. Selain itu, juga harus bisa menulis semua jenis tulisan.

Telah banyak yang kulakukan demi mencapai mimpiku. Mulai dari mengikuti sekolah menulis online di Writers Academy (sekarang berubah menjadi Sekolah Menulis Online), PlotPoint, menjadi freelance writer, dan lain-lain. Namun bagiku, semua hal tersebut belum cukup untuk memperdalam ilmuku dalam dunia penulisan. Oleh sebab itu, sampai saat ini pun aku masih terus belajar.

Saat ini aku bangga dan senang sekali bisa menjadi seorang freelance writer (lagi). Ya, ini kali kedua aku menjadi seorang freelance writer. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang aku peroleh selama kurang lebih empat bulan terakhir ini. Pengalaman tak mengenakkan sebagai freelance writer pun pernah kualami.

Di saat proyeknya belum mulai, banyak hal yang sangat aku rindukan. Misalnya, mencari bahan di internet, membuat outline, menunggu revisi, sampai dengan nulis di mana pun dan kapan pun. Meski upah yang aku peroleh dari menulis tak seberapa bila dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja di kantoran apalagi seorang wirausaha, namun aku amat senang.

Kenapa? Karena menulis adalah passion-ku. Bisa ikut menyumbangkan sebuah tulisan merupakan kebanggaan tersendiri buatku. Selain bisa menuangkan pikiran dan pendapatku, juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Bagiku menjadi seorang freelance writer tak seperti bekerja. Malah aku menganggap pekerjaan ini sebagai sebuah latihan. Latihan memperbanyak diksi, membuat tulisan yang bagus dan enak dibaca, dan lain-lain. Di sisi lain dan yang terpenting, karena aku melakukan hal yang aku suka. Itu saja sudah cukup, bagiku.

Coba bayangkan, bila kita memiliki sebuah pekerjaan yang tak kita sukai, apa yang akan terjadi? Sudah pasti di bahu kita seolah terdapat batu besar sehingga bahu kita terasa berat. Dengan kata lain, beban yang kita pikul sangat berat.

Berbeda dengan bila kita bekerja sesuai passion. Meski pendapatan yang diperoleh tak begitu banyak, tapi kepuasan dan kesenangan hati yang diperoleh tak bisa diungkapkan, juga tak bisa digantikan dengan suatu apapun.

Aku sadar perjuanganku masih panjang. Aku bersyukur, seengganya salah satu resolusiku di tahun ini sudah tercapai. Alhamdulillaah.... Aku akan terus berjuang dan melakukan segala usaha yang mendekatkanku pada my dream job, agar aku bisa mencapai mimpi besarku. Fighting! ^.^

| http://scribblelauna.blogspot.com/2012/06/mydream-job.html

Tuesday, June 5, 2012

Seseorang yang Ingin Menjadi Penulis

Cita-citaku! Setiap kali mendengar, lebih-lebih membicarakannya, pikiranmu melayang entah kemana. Tatapan matamu pun menerawang melayang ke langit seakan mengejar sebaris kata cita-cita yang kamupun tidak pernah tahu apa tepatnya bentukan sebaris kata tersebut.
Sudah menjadi kebiasaanku, bahwa setiap pagi selalu mengawali hari di teras belakang rumah. Sebuah halaman belakang yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman. Pada salah satu sudut halaman terdapat kolam ikan kecil dengan air mancur yang menggericik perlahan. Satu hal lagi, segelas kopi hitam selalu setia menemani setiap pagiku. Aku selalu menikmati uapnya yang menjilat wajah dengan aromanya yang khas, yang selalu membawa ketenangan bagiku. Demikian juga pagi ini, saat aku mulai membaca sebuah catatan seorang kawan, tentang cita-cita dan impiannya. Kawanku mengawali catatannya dengan sebuah angan.
***
Anganmu kembali melayang jauh, mencoba melanjutkan gambar citamu yang belum usai. Setiap kali kau menggoreskan tinta di langit anganmu, setiap kali pula tergambar keinginanmu untuk menjadi seorang penulis. Setiap kali pula gambaran itu tak pernah mampu kau selesaikan. Demikian yang terjadi, berulang kali, dan selalu terulang. Anehnya, kau selalu bisa menikmati saat-saat yang tak usai itu.
Terlalu seringnya hal itu terjadi, membuatmu tak ingat sejak kapan hal itu menjadi kebiasaanmu. Tapi, pernah ingatanmu membawamu ke masa-masa saat kau masih duduk di sekolah dasar di sebuah desa. Beberapa muridnya mengenakan sepatu yang berlubang di bagian ibu jari kakinya. Bahkan ada satu temanmu yang bersekolah tanpa alas kaki. Di sekolah itulah kau pernah menulis sebuah skenario drama yang mengambil seting cerita persidangan, dan mendapatkan nilai terbaik. Jika mengingat hal itu, kau sering tersenyum sendiri dan berkata dalam hati, “Ah, anak SD”.
Mengenang kembali masa kecil, selain kenangan semasa duduk di bangku sekolah dasar, sepertinya tidak ada hal menarik yang berkaitan dengan menulis. Semuanya terjadi dan berlalu biasa-biasa saja, bermain dan belajar.
Sampai pada suatu hari saat kau sudah duduk di bangku sekolah menengah atas, kau mengenal seorang wanita yang telah menyita waktu dan perhatianmu. Dia telah mempesonamu, tetapi kau tak punya keberanian untuk mengungkapkan apalagi menyampaikan kekagumanmu itu kepadanya.
Saat itulah kau menyadari bahwa menulis adalah satu cara yang bisa kau gunakan untuk mencurahkan rasa hatimu, walau hanya satu paragraf. Tidak jarang kau memerlukan waktu satu jam hanya untuk menuliskan sebuah kalimat, karena lamunanmu bekerja lebih dahsyat daripada tanganmu. Sehingga sebenarnya tidak banyak tulisanmu dalam sebuah diary. Tidak pula setiap hari kau menulis dalam diarymu. Hanya saat kau merasa senang, kecewa atau marah.
Kebiasaanmu menulis dalam sebuah diary berlanjut hingga kau di perguruan tinggi. Tulisanmu pun tidak hanya bercerita tentang kisah romantis, tetapi juga tentang segala kegiatan yang kau alami. Itupun tidak banyak.
Sering sekali kau berpikir bahwa menulis diary itu adalah kebiasaan kaum perempuan, sedangkan kamu adalah seorang laki-laki. Apa kata teman-temanmu, sesama kaum pria bila mereka tahu kau menulis dalam sebuah diary. Kau pun menjaga diary itu dari sesama kaum pria agar mereka tidak mengetahuinya.
Bahkan kau menulis catatan demi catatan dalam sebuah agenda kerja agar tersamarkan dan tak seorang pun menyangka bahwa kau menulis sebuah diary. Kau pun lebih senang menyebutnya sebagai sebuah catatan harian daripada sebuah diary.
Kebiasaanmu menulis catatan harian, walau tidak setiap hari, terhenti saat kau harus menyelesaikan tugas akhirmu sebagai mahasiswa arsitektur. Berhenti sama sekali, dan tidak pernah ada catatan harian lagi.
***
Menjelang subuh. Hari ini, jam tiga pagi dini hari, aku mencoba melanjutkan membuka buku catatan harianmu. Sebenarnya kedua kelopak mataku sudah ingin terkatup, tetapi mengingat janjiku padamu untuk membaca catatanmu, maka kupaksakan untuk tetap terbuka.
Selama beberapa waktu kau bekerja setelah lulus perguruan tinggi, sama sekali kau tidak pernah membuat catatan sama sekali. Juga saat kau merasakan sebuah cinta yang lain, yang pernah kau ceritakan padaku, kau tak menuliskan apa pun. Bahkan ketika ternyata cinta itupun melukaimu, kau sama sekali tidak meninggalkan sebaris kata pun dalam catatanmu. Kau hanya mencurahkannya saat kita menghabiskan waktu dengan menikmati segelas kopi hitam di warung-warung lesehan, di pinggir jalan.
Sampai sebuah halaman membuat mataku yang tadi sudah hampir tertidur, kini membuka sedikit lebih lebar. Kau mulai mencatat lagi, walau sepertinya masih terbata. Kau sudah berpindah ke kota lain. Sebuah kota dimana kau pernah tumbuh dewasa dan juga merasakan indahnya cinta pertama, cinta yang membuatmu mulai menulis catatan kecil di harianmu. Sebuah kota kecil yang sejuk walau sekarang sudah menjadi lebih padat penduduknya, juga kendaraan dan pembangunan fasilitas-fasilitas publik. Di kota ini kau bekerja di sebuah usaha buku. Tak ingin dikatakan gagal dalam pendidikan arsitektur, walau kau mengakui bahwa dirimu adalah arsitek yang gagal, kau mengaplikasikan kaidah-kaidah seni dan desain dalam sebuah sampul buku. Walau tidak besar upah yang kau dapatkan namun kau menikmati sekali pekerjaan ini. Kau senang dan bangga saat buku yang kau rancang sampulnya terpajang dalam sebuah rak di toko buku. Hanya sebuah kebanggaan yang kau nikmati sendiri. Kau tak tahu harus menunjukkan kepada siapa bahwa buku yang terpajang itu, sampulnya adalah rancanganmu. Konyol kalau tiba-tiba kau mendekati salah seorang karyawan toko, atau pengunjung toko, kemudian mengatakan bahwa sampul buku itu kau yang membuatnya.
Pekerjaanmu yang baru sebagai freelance desainer sampul buku membuatmu dekat dengan dunia buku. Hanya saja kamu lebih sering merancang sampul buku untuk buku-buku perguruan tinggi. Sedangkan kamu sangat ingin membuat sampul buku-buku seni, sastra dan budaya, termasuk novel.
Pernah suatu saat ketika kau menyerahkan rancangan sebuah sampul buku, secara kebetulan almarhum Rendra sedang berbincang dengan pemilik perusahaan. Bertemu Rendra dan melihat dari dekat saja sudah beruntung, apalagi jika diberi kepercayaan membuat sampul bukunya. Kamu pernah juga bertemu dengan Mas Didik Nini Towok, tapi sayang dua bukunya dikerjakan oleh desainer internal perusahaan itu sendiri. Pada akhirnya, kamu bertemu dengan seseorang bernama Herlinatiens, seorang penulis dari Yogyakarta. Kamu belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, lepas dari nama itu barangkali adalah nama samaran. Kali ini kamu beruntung karena dipercaya untuk membuat rancangan sampul bukunya yang berjudul Yang Pertama. Sayang sekali penjualan buku ini tidak seperti yang kamu bayangkan.
Kedekatan dan keterlibatanmu di dunia buku tanpa kau sadari membangkitkan kembali keinginanmu untuk menulis. Semuanya begitu mengusik hati dan pikiranmu, hingga muncul sebuah cita-cita yang lebih dari sebuah keinginan dalam hatimu bahwa suatu hari kamu akan menulis sebuah buku dan menerbitkannya.
***
Pagi hari berikutnya. Seperti pagi-pagi sebelumnya, segelas kopi panas menemaniku membuka hari. Tetapi ada yang spesial hari ini. Karena persediaan gula habis, maka bukan kopi hitam seperti biasanya melainkan cappucino instan. Itupun diperoleh setelah mengaduk-aduk isi laci. Tradisi akhir bulan yang sering aku lakukan, sehingga hampir menjadi semacam ritual. Apakah ada hal-hal spesial yang aku peroleh dari catatan harianmu di pagi hari ini?
Setelah beberapa lama, dan sepertinya itu cukup lama, bekerja dekat dengan dunia buku, kau pun mulai merasakan kejenuhan. Lebih-lebih hal itu kau rasakan karena tidak terwujudnya harapan-harapan kecilmu dalam pekerjaanmu di dunia buku sementara kau merasa begitu dekat dengannya. Situasinya mirip saat kau berada di tepi sebuah jurang dan begitu dekat dengan tepi yang lain, tapi untuk ke sana kau harus berjalan memutar, menuruni lereng di salah satu sisinya dan menaiki bukit di sisi yang lain. Sementara saat kau utarakan maksudmu untuk membuat jembatan gantung yang menghubungkan kedua tepi jurang itu hingga lebih mudah mencapainya, kau pun tidak diperbolehkan. Kau pun kesal dan geram dibuatnya, tapi tak seorang pun mendengar. Kau tak tahu kepada siapa harus mengadu atau berbagi cerita sekadar mencari kelegaan hati. Situasi inilah yang kemudian menjadi pemicu bagimu untuk menulis catatan demi catatan, umpatan, maupun kisah-kisah penghiburan diri sendiri.
Gairah menulismu yang sedang memuncak saat itu membutuhkan tempat untuk dituangkan ke dalamnya. Media blogging gratisan menjadi salah satu pilihan yang kau sukai sebagai sebuah cara sekaligus media baru penulisan. Beberapa tulisan masih kau simpan dalam hard disk komputer lamamu. Bahkan ada pula dalam lembaran kertas. Media blogging benar-benar menjadi jendela bagimu untuk melihat keluar dari dalam ruang jenuhmu, mencari udara segar yang kau dambakan. Impian menjadi penulis semakin sering hadir dalam tidur malammu.
Seiring berjalannya waktu, kamu menyadari bahwa keinginanmu menulis tidak hanya sekadar karena ingin dan suka. Ada beberapa hal lain yang semakin meyakinkanmu bahwa kamu harus menulis. Sebagian karena kekecewaanmu terhadap beberapa harapan dalam hidupmu yang bertepuk sebelah tangan. Sebagian lagi karena kau merasa dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Tetapi di atas semua itu ada sebuah keyakinan baru bahwa kau harus menulis untuk hidup.
Pergeseran-pergeseran pemikiranmu tentang untuk apa kau menulis semakin mengerucutkan pandanganmu pada bidang datar yang lebih sempit. Di atas bidang datar itu kau pun sadar bahwa harus segera ada langkah nyata yang terencana dan terstrukur agar kau dapat menulis, membuat buku, dan menerbitkannya untuk hidup. Hidupmu, hidup istrimu, dan hidup anak-anakmu kelak.
***
Cappucino dalam gelasku telah habis. Matahari sudah lebih besar, pertanda hari sudah lebih siang. Hanya gemericik air mancur di kolam teras belakang rumahku saja yang tak berubah. Waktu sudah bergeser. Catatan kawanku pun selesai aku baca. Saatnya beranjak berdiri dan mengambil langkah berikutnya.
Kawanku pun sudah menentukan pilihannya, dan memulai langkah barunya, meski masih tertatih dan tak jarang terantuk kerikil ketidaktahuan bagaimana menjadi penulis. Aku menunggu catatanmu berikutnya kawan.

| http://secangkirkopihitamku.wordpress.com/2012/06/02/10/

Bloody Love Story Teller

Keningmu berkerut membaca judul diatas? Bagaimana kalau itu merupakan cita-citaku? Bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh. Terlintas pikiran kalau aku agak psycho. Tapi membuat cerita suspense merupakan hobi dan keahlianku. Dan aku ingin dikenal sebagai bloody love story teller. Apa bedanya dengan writer? Aku tidak hanya ingin menulis, tapi menyampaikan isi pikiranku bahwa cinta memiliki sisi mata uang lain yang bernama tragedi. Meski aku menyampaikannya lewat tulisan.
Minat menulisku muncul saat Gramedia mulai menerbitkan teenlit. Saat itu aku berusia 10 tahun. Aku tahu itu dari newsletter Gramedia yang dikirimkan ke alamat tanteku tiap tiga bulan sekali. Aku cukup puas hanya dengan membaca sinopsisnya. Mengapa? Karena saat itu mustahil untuk meminta ibuku membelikan satu novel teenlit. Ibuku tidak suka dengan keinginanku membeli buku karena memang saat itu perekonomian keluarga kami sedang jatuh. Sementara tanteku takkan melirik teenlit. Tak ada yang bisa menggantikan Sandra Brown sebagai penulis favoritnya. Lagipula, jika aku bilang ingin membeli buku itu, mereka mungkin akan memarahi aku yang membeli buku cinta-cintaan. DI umur yang ke-18 ini, aku selalu tertawa mengingat hal itu. Betapa ibuku masih menganggapku putri kecil saat itu. Padahal imajinasiku sudah ratusan langkah ke depan. Hanya dengan membaca sinopsis novel-novel teenlit, aku dapat membentuk plot teenlit di otakku.  Untuk anak seusia itu, plot seperti itu merupakan plot yang sangat complicated. Tidak mampu membeli novel teenlit, aku menulis novel teenlit sendiri.
Saat novel yang akuketik sudah mencapai 10 halaman (saat itu aku bangga pada diriku sendiri), aku merasa butuh feedback. Akhirnya aku meminta teman ibuku yang saat itu sedang bertamu ke rumah, untuk menilai tulisanku. Kata ibuku, temannya itu bergerak di dunia penulisan. Dengan bangga aku mempersembahkan tulisanku. Aku ceritakan bagaimana pendapatku akan cerita itu. Dan apa yang aku dapatkan diluar dugaan. Teman ibukuberjengit jijik melihat tulisanku. Ia takut dengan jalan pikiranku yang sudah mampu membayangkan kisah intrik keluarga yang dibumbui dengan pengkhianatan, masa lalu, dan tragedi berdarah. Mungkin dikira teman ibuku, cerita yang kubuat adalah cerita dengan tokoh anak-anak yang menceritakan persahabatan dan kekeluargaan serta mengandung pesan moral di akhir cerita. Aku tidak tahu bagaimana membuat cerita seperti itu. Saat itu aku bahkan tidak punya novel! Jadi aku tidak tahu darimana pengaruh itu dan darimana datangnya ide gila seperti itu.
Selama tujuh tahun, aku tidak menyentuh keyboard atau pena dan kertas. Semangat menulisku mati suri. Aku mencoba mencari bagaimana membuat cerita yang ideal sesuai umur yang menceritakan persahabatan dan mengandung moral. Dalam kesepian karena kehilangan passion, aku mencoba menafsirkan lirik lagu favoritku, The Black Rose yang dinyanyikan oleh L’arc-en-Ciel, menjadi bentuk tulisan. Cerita 10 halaman saja diselesaikan dalam seminggu. Sulitnya seperti mencairkan gunung es. Tapi aku menikmatinya, menikmati lirik yang penuh dengan ketegangan. Setelah tujuh tahun vakum menulis, aku kembali menemukan kepuasan dari cerita yang kubuat. Sesuai harapanku, mencekam. Setelah itu, perlahan aku menumbuhkan kembali semangat menulisku. Kubuka kembali tulisanku yang tetap 10 halaman. Dalam hati aku berjanji akan menggarap novel ini sebagai masterpiece-ku. Aku tidak mau peduli dengan pendapat orang atau menunggu orang menerima karyaku. Aku berkarya karena aku menikmatinya. Aku percaya suatu hari orang akan mencari karyaku.
Untuk kembali memunculkan ide menulis, aku mulai dari menafsirkan arti lagu. Juga mencari beberapa music video yang bercerita tentang tragedi. Beberapa video yang memunculkan ide di otakku adalah Be Mine – Infinite, Tell Me Goodbye – Bigbang, It’s War – MBLAQ.Meski akhirnya ceritaku cenderung menjadi songfic dan fanfic. Tapi itu ampuh untuk memanaskan oven ide di otakku. Beberapa karya yang kubuat dari lirik lagu antara lain berjudul The Black Rose, Be Mine, Red Farewell Poison, I’m Screamin, dan yang terbaru Missing Attack. Semua karya itu bisa dibaca di blogku http://alovealivealove.wordpress.com. Semuanya selalu berakhir dengan tragedi. Teman-temanku bergidik saat membacanya. Tapi aku tidak peduli. Aku tak akan membiarkan passion-ku mati lagi.
Akhir tahun 2011, aku kembali menemukan semangat menulisku secara utuh. Aku dengan percaya diri mengikuti lomba Bentang Belia. Meski gagal, itu merupakan langkah awal menuju kesempatan berbagai kompetisi menulis. Selanjutnya aku ikut serta dalam beberapa proyek menulis, seperti :
  1. #15haringeblogFF meski hanya tiga hari pertama karena keterbatasan waktu dimana waktuku habis untuk kegiatan sekolah. Tapi proyek ini yang pertama kali membuatku menulis sesuai tema.
  2. #DearMama. Aku turut berkontribusi dengan mengirimkan surat untuk ibu, untuk dibukukan. Lebih tepatnya, perasaan yang kupendam selama ini untuk ibu. Meski mengalami kesulitan untuk menulis bentuk surat, bukan fiksi tragedi, nyatanya aku bisa.
  3. #CeritaHariIni. Dari enam minggu diselenggarakan, aku hanya mampu membuat dua karya :’( Lagi-lagi karena keterbatasan waktu, meski seharusnya aku tidak menggunakan waktu sebagai excuse. Sama seperti poin 1, tema yang diberikan cukup menantang. Sejak mengikutinya, tema satu kata dengan mudah muncul di kepalaku J
Aku lebih banyak memuat karyaku di blog. Rupanya aku perlu membuat 30 karya fiksi untuk membuatku pede dan berencana untuk serius menekuni dunia menulis ini, untuk mengirimkan cerpen ke media cetak atau mengirimkan naskah novelku ke penerbit. Saat ini aku sedang dalam proses editing naskah yang sempat kukirim dalam lomba Bentang Belia dan sedang menggarap sebuah novel yang bercerita mengenai skandal seorang artis. Kurencanakan salah satu novelku rampung akhir Juni sebelum aku sibuk dengan masa perkuliahan. Cerpen-cerpenku sedang kusunting ulang agar layak terbit di media. Selain itu dalam saat yang sama dengan deadline akhir bulan, aku sedang mengerjakan tulisan untuk #MyLifeAs, #Ruang, #MembunuhRindu, serta #KoreanStoryContest. Aku menjaga ritme menulisku dengan menulis fiksi tiga halaman tiap harinya.
Sejujurnya, aku sedikit menyesal dulu langsung ciut hanya karena kata-kata teman ibuku. Padahal jika aku menekuninya, mungkin dalam usia 12 tahun aku sudah menulis novel metropop sekelas Sidnye Sheldon. Hehe. Tapi saat itu memang tidak ada fasilitas seperti internet untuk meriset kelengkapan cerita. Jadi aku tidak bisa menyalahkan waktu. Kalau ada yang harus dipersalahkan, adalah aku jika tidak juga merampungkan novel sebulan setelah membuat tulisan ini. Yang berarti aku menyia-nyiakan fasilitas era modern ini.
Sepertinya aku sudah tenggelam dalam candu untuk berkontribusi dalam proyek tulisan. Mimpiku tampil memberi tanda tangan dalam acara fansigning book, yang kubayangkan sejak SD, kini terbayang jelas. Padahal aku baru mengambil langkah pertama. Kali ini aku tidak akan mundur karena apapun, apalagi hanya karena aku gagal dalam kompetisi menulis atau tulisanku ditolak media. Seorang bloody love storyteller tidak pantas menyerah begitu saja. Bukankah ia memang menyukai suspense, ketegangan, tragedi, dan twist?

| http://alovealivealove.wordpress.com/2012/05/25/bloody-love-story-teller/

Menjadi Sutradara Film

Setiap orang pasti mempunyai cita-cita. Ketika kita kecil, seringkali kita ditanya oleh orang dewasa, ”Apa cita-cita kamu saat besar nanti?”. Sebagian besar teman-teman saya menjawab ingin jadi dokter, astronot, pilot, guru, dan lain-lain. Diantara sekian banyak jawaban, tidak ada yang menjawab ingin menjadi pembuat film. Hingga pada tahun 2000 (saya masih umur 10 tahun), saya menonton film “Petualangan Sherina”. Film inilah yang membuat saya mengatakan bahwa cita-cita saya adalah ingin membuat film seperti itu! 
Setelah film “Petualangan Sherina”, tidak lama kemudian tayang film “Jalangkung”, “AADC”, “Eiffel I’m in Love” yang mendapat perhatian besar dari penonton film Indonesia. Film-film tersebutlah yang membuat saya semakin tertarik akan dunia film. Ketika itu, saya berpikir betapa hebatnya sebuah film hingga bisa membawa saya terhanyut ke dalam dunia orang lain yang saya engga kenal! Saya bisa ikut merasakan kesal, sedih, kecewa, bahagia, tertawa, dan sebagainya terhadap cerita yang dialami sang tokoh.


Perjalanan saya untuk masuk ke dunia film Indonesia tidaklah mudah. Sejak lahir hingga SMA saya tinggal di Bogor. Tentunya kota ini bukanlah seperti Jakarta yang semuanya serba ada. Di kota kecil ini, orang tidak begitu akrab dengan film (ketika zaman saya tidak ada komunitas film seperti sekarang dan workshop film). Kala itu, bagi saya pergi atau tinggal di Jakarta sendirian hal yang asing dan menakutkan (apalagi untuk perempuan). Selain itu orang tua pun tidak mengizinkan untuk pergi ke Jakarta sendirian. Maka saya pun hanya bisa menjadi penikmat film ketika itu. 
Begitu lulus SMA (tahun 2008), saya berniat untuk masuk sekolah film di IKJ. Namun orang tua saya melarang. Alasannya? Klasik. Kata mereka, ”Mau hidup apa dari seni? Mau jadi gelandangan?”. Saya bingung ketika orang tua saya mengatakan seperti itu. Fyi, saya ini keturunan cina. Keluarga besar saya sama sekali tidak ada yang terjun di dunia seni. Hampir semua keluarga besar saya berjiwa dagang (membuka bisnis sendiri). Mungkin hanya saya di keluarga besar saya yang tertarik terjun ke dunia film. Saya sempat sedih karena tidak mendapat dukungan dari orang tua untuk meraih cita-cita saya. Akhirnya saya mengalah dan memilih untuk masuk ke salah satu sekolah tinggi ilmu komunikasi yang berada di kawasan Jakarta Pusat.
”Banyak jalan menuju Roma”.....
Jika waktu kecil saya masih bingung mau jadi produserkah, sutradarakah, pemainkah, dan sebagainya, masuk dunia kuliah saya sudah yakin bahwa cita-cita saya adalah menjadi sutradara film seperti Upi (30 Hari Mencari Cinta, Realita Cinta dan Rock n Roll, Radit dan Jani, Red Cobex, Belenggu). Meskipun engga bisa kuliah di IKJ, saya masih mencoba untuk masuk ke dunia film. Di kampus saya, ada sebuah klub namanya Film and Television Club (FTVC). Wah saya pikir akhirnya bisa belajar tentang film juga. Daftarlah saya menjadi anggota FTVC ini. Ketika sudah melewati beberapa tes, saya pun diterima menjadi anggota FTVC. Seiring berjalannya waktu, saya baru tahu bahwa klub ini tidak pernah memproduksi film sama sekali. Yang sering diproduksi hanyalah program TV. Meski begitu, saya tetap aktif di klub ini selama satu tahun penuh (2008 – 2009). Saya pikir, mungkin belum saatnya waktu memihak pada saya.
Di tahun 2009, FTVC berganti nama menjadi LSPR TV. Seiring pergantian nama, diadakanlah pemilihan presiden baru dan program TV baru yang idenya berasal dari para anggota LSPR TV. Saat itu, setiap anak dibagi ke dalam kelompok. Saya sendiri mempunyai ide untuk untuk membuat program TV tentang film seperti Cinema Cinema di RCTI atau Show Biz di Metro TV. Ketika saya menceritakan ide saya kepada anggota kelompok saya, mereka semua setuju. Puji Tuhan, ketika saya mempresentasikan ide ini kepada presiden baru LSPR TV, dia menerima ide saya!!! I’m very happy!!! Apalagi ketika presiden baru tersebut mengatakan bahwa kita bikin film beneran! Engga usah bikin program TV tentang film. Dia pun mempercayakan saya untuk menjadi ketua dan mengelola klub film ini yang diberi nama PREMIERE.
”Dimana ada kemauan, disitu ada jalan” .....
Dengan berdirinya PREMIERE, saya mempunyai visi untuk membuat generasi muda lebih mengenal dunia film, terutama film Indonesia. Selain itu, saya berharap hal ini dapat membuka jalan untuk saya belajar lebih dalam tentang dunia film dan menambah koneksi saya dengan orang-orang film. Saya pun mulai membuat beberapa daftar hal yang saya lakukan untuk menggapai tujuan saya. 
     Ketika membuat daftar tersebut, saya nampak agak ragu. Apakah saya mampu melakukannya? Mengingat saya belum pernah sama sekali terjun ke dunia film dan tidak ada kenalan orang film sama sekali. Tapi, saya menjadikan ini sebagai tantangan. Saya yakin dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Contohnya, salah satu daftar yang saya buat adalah mengadakan meet and greet dengan pemain dan pekerja film. Ketika itu film Indonesia yang akan tayang di bioskop adalah film “Serigala Terakhir”. Kebetulan pula tim promo "Serigala Terakhir" sedang mencari sekolah-sekolah yang akan dikunjungi. Saat itu saya merasa keberuntungan sedang berpihak pada saya (saat itu saya berpikir betapa senangnya bisa bertemu dengan mba Upi pula!). Maka melalui Facebook, saya mulai mencari-cari siapa publicist film ini. Setelah dapat, saya pun mulai mengirimkan proposal. Akhirnya, publicist “Serigala Terakhir” pun mengabarkan saya bahwa tim mereka siap berkunjung ke kampus saya! Yihhhaaa!!!
Anggota PREMIERE dengan para pemain film Serigala Terakhir.
Lalu, daftar kegiatan PREMIERE lainnya adalah memproduksi film pendek. Untuk pertama kalinya saya menjadi sutradara dan penulis skenario di film pendek pertama saya yang berjudul “(Jangan) Katakan Cinta!”. Saya mulai membaca buku tentang film dan kadang bertanya-tanya kepada teman yang kuliah di IKJ. Film ini memberikan banyak pembelajaran untuk saya tentang bagaimana cara menyutradarai dan menulis skenario dengan baik. Saya juga tidak menyangka ketika film pendek “(Jangan) Katakan Cinta!” berhasil masuk 10 besar Short Story Love Movie Competition 2012. Sungguh kebahagian yang tak ternilai…
Film (Jangan) Katakan Cinta! di Short Story Love Movie Competition 2012
Oh ya, di zaman yang serba canggih ini saya sangat berterima kasih dengan pencipta Facebook dan Twitter. Saya bisa berkenalan lebih dekat dengan para film maker. Bahkan saya bisa ikutan magang di produksi layar lebar dan berkenalan dengan teman-teman IKJ serta movie blogger berkat sosial media tersebut. Hahahaha. Modalnya sih cuman usaha dan nekat aja. Yang penting dimana ada kemauan, disitu ada jalan

“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”….
Di samping PREMIERE, saya juga melakukan berbagai cara untuk terjun ke dunia film komersil dan mempersiapkan diri saya untuk menjadi sutradara film kedepannya. Diantaranya:
1. Magang di layar lebar (Desember 2010 saya memulai magang di film ”Oh Tidaakkk!” karya Ardy Octaviand sebagai Assistant Talent Coordinator, Febuari 2011 saya magang di film “The Perfect House” karya Affandi Abdul Rachman sebagai Assistant Director 3, Oktober 2012 saya magang di film ”Modus Anomali”  karya Joko Anwar sebagai Assistant Producer).  
Ketika magang menjadi AD3 di film "The Perfect House"
2. Menjadi finalis LA Indie Movie 2011.

3. Foto bareng mba Upi (yang ini tujuannya untuk memotivasi saya. Hahahaha).
          Sekarang saya sedang menyelesaikan film pendek kedua saya yang berjudul “Invitation” dan sedang menunggu sidang kelulusan. Bekerja dengan passion mengajarkan saya apa yang tidak mungkin menjadi mungkin untuk dicapai. Ketika saya merasa lagi down, saya selalu ingat dengan kalimat ini: “If you don’t stand for something, you will fall for anything”. Semoga suatu hari nanti saya bisa mewujudkan cita-cita saya menjadi sutradara film… Amin…
 
| http://blognyalady.blogspot.com/2012/05/menjadi-sutradara-film.html

#MyLifeAs [pop] physicist

Berkarir dalam bidang sains adalah keinginan saya sejak kecil. Lebih tepatnya menjadi seorang ilmuwan. Bahkan waktu berada di bangku SMP, secara spesifik dan dengan rasa penuh percaya diri saya mendeklarasikan bahwa saya ingin menjadi ahli fisika, physicist, atau fisikawati (karena saya perempuan! hehe). Iya, fisika yang sering kali ter-mindset sebagai pelajaran yang susah banget itu loh :D
Namun ketika kelas 2 SMA, saya lupa dengan cita-cita yang satu ini karena fokus ke tujuan saya yang baru kala itu: jadi insinyur lulusan suatu institut teknologi ternama di kota Bandung. Nyatanya walaupun udah berusaha semaksimal mungkin, Yang Maha Kuasa tidak menghendaki saya kuliah di sana. Atas permintaan kedua orang tua, maka saya ikut ujian masuk ke kampus saya sekarang. Hingga kini tercatatlah saya sebagai mahasiswa fisika sebuah universitas negri di kota Depok.
Saat menjadi maba (mahasiswa baru), saya sempat mengalami masa-masa sulit lantaran masih menyimpan rasa kecewa karena ditolak menjadi mahasiswa di kampus ‘tetangga sebelah’. Hehe. Tetapi ketika secara tidak sengaja menemukan diary jaman SMP, akhirnya saya sadar bahwa Tuhan tetap mengabulkan salah satu cita-cita terbesar saya di masa lalu: menjadi seorang ilmuwan. Dalam diary tersebut tertulis dengan bahasa Inggris yang acak-kadut, “I wish I could be a scientist”.
So I’m still living on the main dream of mine right now. Lantas kenapa saya ingin menjadi seorang ilmuwan di saat buanyak sekali teman yang ingin menjadi seorang dokter? Terlebih dalam bidang fisika yang selalu menjadi musuh bebuyutan anak sekolah di tingkat SMP dan SMA.
Bagi saya, ilmuwan juga tidak kalah berjasa dibandingkan dengan dokter. Kehidupan manusia tidak akan semudah dan senyaman sekarang jika saja tidak ada perkembangan di bidang sains sebelum diaplikasikan ke dalam dunia teknologi. Sepak terjang para ilmuwan yang saya baca dalam komik Seri Tokoh Dunia waktu masih SD menjadi inspirasi tersendiri kala itu. Tanpa penemuan brilian mereka, mungkin kita masih menggunakan lilin sebagai sumber penerangan dan masih mempercayai jasa merpati pos untuk bertukar kabar dengan kerabat jauh. Ga bakal ada deh tuh yang namanya narsis-narsisan di fitur BBM :p
Memang saya sempat ‘kelabakan’ saat berkenalan dengan fisika di bangku SMP. Jika digambarkan, kondisi saya saat belajar fisika di bangku sekolah, yaaa tidak beda jauh dengan yang dialami anak-anak sekolah pada umumnya. Namun begitu, saya tetap menaruh perhatian lebih terhadap fisika karena basically saya suka dengan bidang ini. Hingga ia juga tertulis dalam diary sebagai salah satu mata pelajaran yang saya sukai ketika SMP. Hahaa!
Suka dan minat. Hanya itu modal dan nyali saya untuk menekuni bidang ini di bangku kuliah. Selama dua tahun pertama, mahasiswa fisika harus bergelut dengan sekian banyak mata kuliah wajib. Ya, dua tahun. Fisika memiliki banyak ‘cabang’ sehingga tidak sedikit materi fisika umum yang harus dikuasai oleh setiap mahasiswanya.
Di tahun ketiga, mahasiswa akan diberi kebebasan untuk memilih satu di antara enam konsentrasi ilmu fisika. Ada fisika instrumentasi yang didominasi dengan mata kuliah elektronika. Fisika medis yang mempelajari aplikasi ilmu fisika dalam dunia kedokteran. Geofisika, cabang yang mempelajari ilmu kebumian dan cara pencarian ‘harta karun’ dalam perut bumi. Kemudian ada fisika material dan material zat mampat yang secara khusus meneliti sifat bahan-bahan material. Kelima cabang tersebut banyak melakukan eksperimen dalam laboratorium.
Namun ada satu konsentrasi yang secara pragmatis hanya membutuhkan kertas, pensil, dan program komputer. Konsentrasi tersebut adalah fisika teori. Inilah yang menjadi pilihan saya karena dari sini saya bisa mempelajari topik yang lebih spesifik lagi, yaitu kosmologi dimana struktur dan sejarah dari alam semesta menjadi objeknya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan ruang angkasa atau alam semesta selalu memiliki daya tarik tersendiri di mata saya.
Ialah Michio Kaku, seorang kosmolog asal Amerika yang menjadi role model saya saat ini. Tidak hanya banyak menerbitkan karya dan temuannya dalam jurnal fisika internasional, ia juga turut mempopulerkan sains lewat buku, siaran radio, televisi, dan juga film. Kepiawaiannya dalam berdongeng sains mampu membuat masyarakat awam mudah memahami sains dengan mudah dan fun.
Kemampuan ini pula yang ingin saya miliki ketika menjadi seorang ilmuwan. Memang medali emas dalam olimpiade sains internasional sering kali sukses disabet oleh para delegasi Indonesia. Namun sebetulnya tingkat literasi sains (atau gampangnya, melek sains) masyarakat Indonesia secara umum masih sangat jauh tertinggal. Bisa jadi hal ini dikarenakan adanya mindset awal pada anak sekolah yang menyatakan bahwa sains itu sulit. Ditambah tidak adanya media pengenalan dan pembelajaran sains dengan cara yang menyenangkan.
Sebagai mahasiswa fisika, saya harus bergelut dan bermalam dengan paper dan buku-buku teks yang tebalnya bisa melebihi high heels setinggi 10 cm. Apalagi jika mengambil kelas praktikum, harus kuat dan siap sedia begadang ketika menyelesaikan laporan. Di konsentrasi fisika teori sendiri, saya harus bersahabat dengan teori dan logika fisis hingga model matematika yang tidak simpel. Memang tidak jarang saya menemui kesulitan dan kena tegur dosen pembimbing karena melupakan hal-hal basic.
Namun demi terwujudnya cita-cita menjadi seorang ilmuwan, saya harus pantang mundur, berusaha keras, dan punya mental baja seribu lapis. Ingin sekali mengikuti jejak dosen dan senior-senior saya terdahulu: berkontribusi dalam pengembangan disiplin ilmu dan berkarir sebagai ilmuwan yang seutuhnya.
Kegemaran dalam menulis saya jadikan salah satu modal untuk bergelut dalam bidang ini. Jika seorang ilmuwan hendak menulis paper atau buku teks, maka ia harus cakap dalam menulis toh? Terlebih lagi dalam mempopulerkan sains. Saat ini saya memulai dari hal-hal simpel dalam mempopulerkan sains, seperti membuat postingan berbau sains popular dalam blog dan juga memasukkan unsur sains sederhana dalam setiap obrolan saya bersama teman-teman. Just FYI, konsep fisika bisa dihubungkan dengan permasalahan sehari-hari loh! Bahkan dalam urusan asmara. Hihii
Secara perlahan dan berproses , saya terus mempelajari tentang bagaimana negara-negara barat bisa menciptakan industri sains populer yang bisa diterima masyarakat awam. Tokoh popular sains seperti Michio Kaku belum ada di Indonesia, maka dalam hal ini pula saya harus kembali berkiblat ke negara-negara maju yang tingkat literasi sainsnya sudah tinggi.
Yah, seperti itu lah cita-cita dan misi saya dalam bidang sains, khususnya fisika. Semoga segala usaha, kerja keras dan kesabaran saya dalam melewati proses ini bisa berbuah manis di akhir, hingga terwujud cita-cita saya menjadi [pop] physicist. Aamiin..
Dan tentunya dalam tenggat waktu ini saya ingin lekas menyelesaikan skripsi dengan mulus dan sesuai rencana. Udah tingkat akhir loh! Hehee..Wish me luck yaaa :’)

| http://sarashanti.tumblr.com/post/24249689912/mylifeas-pop-physicist

Monday, May 21, 2012

Berlayar



Langit gelap. Laut bergolak. Angin kencang mengangkat air laut menjadi gelombang setinggi bukit. Hujan semakin deras seakan tak ada yang mampu menahan kejatuhannya. Satu kapal perang bergerak lambat. Haluan kapal mengangguk-angguk diangkat ombak. Gelombang laut menghempas hingga ke geladak. Di atas anjungan yang terbuka, seorang perwira berusaha berdiri tegak. Tangan kiri memegang erat besi pagar, tangan kanan menggenggam teleskop yang menempel di matanya. Wajah basah kuyub tak dihiraukan. Di tengah badai yang kelabu, mata sang perwira berusaha menangkap bayangan di depan. Di dalam hati ia terus berdoa agar kapal tak tenggelam gara-gara lambung kapal bocor dirobek karang yang luput dari pandangannya.


Di dalam ruang kelas TK yang hangat, seorang guru memberikan pertanyaan ”Kalo udah gede, kalian mau jadi apa? Angkat tangan.”
”Tentara” jawab ku lantang.
”Angkat tangan dulu baru jawab, Aditya” balas guru.
”Iya bu guru” rupanya mulutku lebih cepat menjawab ketimbang gerakan tangan. Mungkin karena dorongan semangat yang meluap dan takut kalah keduluan dengan murid lain.
”Tentara apa?” lanjut guru.
”Angkatan laut.”
Sejak di TK, ketika ditanya apa cita-citaku, aku ingin jadi tentara angkatan laut. Kehebatan tentara angkatan laut aku dapatkan dari gambar kapal perang yang tengah berlayar membelah badai. Gambaran itu aku dapat ketika melihat siaran Dunia Dalam Berita. Entah isi berita tentang apa. Tapi seingatku, ada seorang pelaut yang berdiri tegak, berupaya mengemudikan kapal perang agar tak kandas diterjang gelombang.

Rupanya bu guru menceritakan cita-citaku itu kepada Mami yang menjemput setelah sekolah usai.
Beberapa minggu, selepas Mami terima gaji bulanan PNS, Mami membelikan aku seragam tentara angkatan laut. Waah gagah sekali rasanya. Aku berdiri mematut di depan cermin lemari besar. Seragam angkatan laut warna putih dengan tanda kepangkatan yang tak aku mengerti artinya. Ada peluit kecil yang talinya melingkar di pundak. Topi jenderal nangkring dengan sombongnya diatas kepalaku.

Seragam itu basah kuyub. Bukan karena aku kenakan saat berlayar diatas kapal perang. Namun seragam itu basah oleh keringat ketika aku berjalan diatas aspal panas dibawah terik matahari. Yaa aku berkeringat karena berjalan berkilo-kilo meter menyusuri jalan utama Kabupaten Klaten dalam rangka karnaval agustusan. Tradisi di Klaten, kota kecil diantara Solo-Jogja, memeriahkan hari kemerdekaan dengan mengadakan karnaval yang di tapi ikuti terutama sekolah dari TK sampai SMA. Tentara angkatan laut kecil itu tidak berlayar berjalan di aspal panas.

Mulai SMP, aku senang bergaul dengan alam. Naik gunung, berkemah, panjat dinding dan bermain di pantai. Gara-gara si Nur Muharram alias Mukro yang meracuni untuk naik gunung. Merbabu adalah gunung pertama yang kudaki. Selanjutnya jajaran gunung tinggi di Jawa Tengah yang kami jamah. Merapi, Lawu, Sindoro Sumbing. Hobi berpetualang berlanjut sampai kuliah. Walaupun agak berkurang karena di kampus Universitas Brawijaya aku bertemu dengan baru yang cukup mengasyikan digeluti, dunia aktivis pergerakan.

Alhamdulillah akuu bekerja di ranah yang aku senangi yaitu menjalani profesi jurnalis televisi. Sekarang aku bekerja di tvOne, televisi berita nomor satu di Indonesia. Cita-cita menjadi tentara kandas gara-gara di bangku SMA, penglihatan sudah berkurang karena mata minus dan wajib berkacamata kalo gak pengen nabrak bin nubruk. Menjadi jurnalis apalagi jurnalis televisi adalah salah satu pekerjaan terbaik di dunia. Aku menemukan tantangan yang berbeda setiap hari. Bertemu dengan orang baru. Menjelajahi dunia baru. Mempelajari ilmu baru. Kesenangan akan bergaul dengan alam juga tersalurkan.

Aku pernah bertugas sebagai produser di program Bumi & Manusia dan MutuManikam, program dokumenter yang banyak mengupas hubungan manusia dengan alam.
Meski sebagai produser, aku tak mau berpangku tangan. Hanya duduk manis di belakang meja dan sekadar tandatangan masalah adminitrasi. Aku turun ke lapangan. Memanggul kamera. Berpeluh dan menghadapi tantangan. Bagiku, jurnalis sejati berada di lapangan. Laiknya tentara sejati yang bertarung di medan perang. Tidak duduk jaga markas, menunggui meja kosong.

Sekitar bulan Juni 2010, aku bergabung dan meliput kegiatan Ekspedisi Layar Sabang-Merauke. Ekspedisi dipimpin kapten kapal yang sudah berumur 60 tahun yaitu Capt. Effendy Soleman. Memakai kapal katir kecil, panjang 8 meter, lebar body hanya 1.5 meter, lebar keseluruhan dengan cadik di kanan-kiri tak lebih 6 meter. Ini ekspedisi gila. Banyak orang yang berkomentar begitu setelah melihat kapal begitu kecil haya muat 5 orang dengan catatan berat badan tak boleh lebih 80 kg.

Setelah sebulan berlayar dari Jakarta, Katir Nusantara merapat di pelabuhan Sbang di Pulau Weh. Kami berkunjung ke tugu kilometer Nol. Di tugu ini, tekad mengarungi lautan Sabang-Merauke diperteguh.
Aku bergabung di kapal untuk etape Aceh – Medan yang diperkirakan butuh 6 hari pelayaran. Katir Nusantara mempunyai tiang layar dan dua mesin 15 pk. Bila tak ada angin maka mesin berdengung kelelahan mendorong kapal, membelah selat Malaka.


Katir nusantara begitu mungil. Tak ada ruang. Kami harus rela duduk di atas kapal. Tak ada atap. Panas kepanasan, hujan kehujanan. Bayangkan sejak matahari terbenar sampai matahari tenggelam, sekujur badan disiram garang terik matahari. Tak ada secuil pun yang bisa di pakai untuk berteduh.

Tinggi kapal dari permukaan laut hanya 50 cm atau setengah meter. Kami pun selalu memakai jaket tahan air agar badan tak basah diguyur air laut yang bergelombang.
Tak banyak yang bisa dilakukan diatas kapal ketika sedang berlayar. Hanya duduk. Berusaha tidur. Ambil gambar shooting bila ada moment bagus. Selebihnya melamun. Pernah sekali aku coba membaca majalah Tempo yang sempat aku beli di Banda Aceh. Belum aku buka halaman, air laut sudah terlebih dahulu menjamah setiap helai kertas majalah Tempo. Percuma.

Melamun dibawah terik matahari membuahkan halusinasi tinggi. Aku teringat dengan cita-citaku. Menjadi tentara angkatan laut.

Ketika tengah menunggu kedatangan Cadik Nusantara di pulau Sabang, aku sempat berbincang dengan beberapa bintara TNI AL. Mereka rata-rata mendukung ketika mendengar ada orang yang ingin ekspedisi layar Sabang-Merauke. Beberapa orang diantaranya malah berkeinginan ikut serta bila ditugaskan. Tapi begitu melihat kapal Cadik Nusantara merapat, keinginan para tentara itu buyar. ”Waah iki gendheng” gumam seorang bintara TNI AL yang dari logatnya berasal dari Jawa Timur.
Hahaha.. apakah Tuhan mengabulkan cita-citaku? Berlayar dengan kapal menembus badai? Memang tidak menjadi tentara angkatan laut. Tapi esensi sama. Menguji nyali di lautan berlayar dengan kapal. Mengamalkan lagu ”nenek moyangku orang pelaut….” hayooo masih ingat gak dengan lagu itu?

Kini dibanding naik gunung, aku lebih menikmati bermain di laut, apalagi menyelam. Keindahan surga bawah laut benar-benar membuai. Bila para pendaki gunung punya obsesi mendaki Seven Summits alias 7 puncak tertinggi dunia, maka di dunia selam, Indonesia adalah surga bagi para penyelam.

Ketika meliput ekspedisi Sabang-Merauke, aku sempat menyelam untuk mengambil gambar bawah air di sekitar pantai Iboih. Laut Sabang menyimpan terumbu karang paling bagus diantara titik selam di sepanjang pulau Sumatera.

Sekali lagi Alhamdulillah, menjadi jurnalis televisi seakan membayar lunas cita-citaku sedari kecil.
Benar-benar pekerjaan impian.

Aku berharap suatu ketika, di dalam ruang kelas TK, ada murid yang berteriak ”jadi jurnalis” ketika ditanya cita-citanya oleh si guru.

My Life As “A Researcher”


#MyLifeAs #SpecialMention

Kenapa ada tanda kutip disana? Karena saya masih doctoral student yang melakukan riset, alias belum jadi researcher beneran. Kenapa juga saya tidak menulis “as a doctoral student”, karena nanti ceritanya bakal kemana-mana termasuk sesi jalan-jalan dan makan-makan dan menjadi seratus halaman. Hehe.

Oke. Sebagai mahasiswa doktoral, kegiatan utama sama memang riset. Riset di sini mulai dari membaca materi (ratusan paper yang abstraknya saja sudah membuat eneg), merencanakan dan melakukan eksperimen, berdiskusi dengan adviser dan kolega, memublikasikan hasil riset, lalu lulus (bila sudah direlakan lulus oleh adviser). Di sela-sela semua hal itu, tentu saja ada waktunya saya menangis sesenggukan tidak jelas karena mumet menyelesaikan persamaan yang tidak selesai-selesai, atau tertawa ngakak karena salah membuat larutan sewaktu eksperimen.

Oh ya, saya kuliah di jurusan teknik kimia, FYI. Topik penelitian saya: wastewater treatment. Tidak usah dibahas panjang, ntar pada males baca. Hihi.

Karena harus melakukan eksperimen, saya harus “tinggal” di lab. Lab saya ini memiliki 3 ruangan: kantor (office), ruang instrumen (isinya alat-alat mahal yang memakainya mesti ekstra hati-hati), dan lab sebenarnya (bingung kan). Lab sebenarnya adalah ruangan yang memang digunakan untuk eksperimen saja, tidak untuk menulis laporan, tidak untuk makan, tidak untuk main petak umpet. Setiap hari (itu termasuk Sabtu dan Minggu), saya ke lab. Membaca paper atau menulis laporan di office, mengerjakan eksperimen di lab sebenarnya, dan ya begitulah, hidup saya aslinya hanya mbulet di dua tempat: kamar (dorm) dan lab.

Pagi datang (jam 10), membuat kopi (oh yeah, kita punya coffee maker, kulkas, dan microwave), membaca paper sebentar atau mereview eksperimen kemarin, lalu mengerjakan eksperimen. Sepatu dan celana panjang wajib hukumnya, karena banyak bersentuhan dengan bahan kimia, jangan sampai kena kulit (I work with dangerous chemicals! Stay away!). Kalau summer, sungguh sangat dilematis soal baju. Paling enak menggunakan short pants, tapi tetap harus pake celana panjang supaya aman. Masker juga penting, apalagi kalau bermain dengan asam-asaman. Iya sih senyawa seperti ester ada yang baunya seperti buah-buahan, tapi bahan kimia yang saya gunakan baunya seperti ikan busuk. Hueh. Saluran pernapasan perlu dilindungi, man! Safety first, no matter what! (kok jadi kayak iklan kondom). Kacamata segede gambreng ini juga perlu, kalau berurusan dengan senyawa yang cepat menguap dan membahayakan mata, atau bekerja dengan kemungkinan ada cipratan. Sarung tangan juga harus dipakai, tapi hanya di lab sebenarnya, di kantor, sarung tangan harus dilepas. Dan beginilah penampilan Citraningrum, PhD Candidate saat memakai full armour. Yosh! Cantik kan? Kan? Kan?

me!
Yang namanya eksperimen, pastilah memakan waktu. Mesti sabar, teliti, dan kreatif. Mesti bertahan tidur di lab jika eksperimen belum selesai. Tidur di meja, kepala nunduk, dan bangun pegal-pegal semua. Mesti rela nambah minus karena harus banyak membaca paper yang tulisannya bukan Arial dengan ukuran 12. Sering pulang di atas jam 12 malam. Nggak apa-apa, yang penting jaga kesehatan dan tetap optimis untuk menyelesaikan studi dan beneran jadi researcher (jeng jeng! Perlu intro musik yang membangkitkan semangat nih!).
Nggak eksperimen pun (sekarang saya hanya sesekali eksperimen, kalau perlu), harus tetap datang ke lab dan menganalisa hasil eksperimen tadi. Lebih susah menganalisanya. Harus bisa menjelaskan kenapa hasilnya bisa begini, kok hasilnya bukan begitu, mana data pendukung dari paper sebelumnya, dan sebagainya dan sebagainya. Kalau sudah stuck di tengah malam biasanya saya keluyuran ke kampus sebelah, mencari udara segar. Taipei aman sih, jadi mau pergi dini hari sendiri juga saya cuek-cuek bebek. Balik ke lab, ya kerja lagi dong. Laporan harus diberikan mingguan ke adviser minimal seminggu sekali (padahal belum tentu ada data baru *huiks). Laporan tidak melulu data, melainkan juga apa maksudnya. Kalau tidak ada data baru, isi paper yang dibaca yang dilaporkan. Dan jangan sampai hanya satu atau dua paper. Minimal lima deh.

Kalau ditanya berat atau tidak, ya berat lah. Apalagi dengan gender saya yang wanita. Bukan apa-apa, selama ini bidang science/technology/math/engineering itu masih belum sepenuhnya gender-neutral. Di lab, mahasiswa doktoral yang cewek hanya dua (dari lima sih), tapi cewek yang satunya pun ber-background chemistry (bukan chemical engineering) dan masih gres (baru masuk satu semester), jadi kalau ada apa-apa, pasti saya yang dijadikan rujukan para junior atau kalau ada kesalahan, saya yang dimarahi adviser. Dan perlu waktu lama bagi saya untuk meyakinkan kolega-kolega cowok (sesama mahasiswa doktoral) bahwa saya memang mampu. Baru setelah tiga tahun kolega saya mengatakan “you are indeed smart”. Doeng. Tiga tahun, man.  

Tapi memang menjadi mahasiswa doktoral itu membuat saya senang. Passion saya ada dua: riset dan menulis. Menjadi mahasiswa doktoral itu menggabungkan keduanya, karena saya harus riset dan juga harus menuliskan hasilnya. Tapi adviser saya sering mengatakan tulisan saya terlalu “colloquial”, alias kurang konservatif ketika menyampaikan laporan (hasil keseringan ngeblog, kayaknya). Mesti nulis paper lebih sering nih (yuuukk!).

Jadi begitulah, kegiatan harian saya yang seems boring dan monoton untuk bisa menghilangkan kata ‘candidate’. Semoga cepat selesai risetnya dan menjadi Citraningrum, PhD ya. Doakan. Mohon dukungannya. Dikirimi makanan juga saya nggak nolak kok. Haish.
Sekian dan sampai jumpa di kesempatan curhat berikutnya. Daaaaa.


PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan