Tuesday, June 5, 2012

Bloody Love Story Teller

Keningmu berkerut membaca judul diatas? Bagaimana kalau itu merupakan cita-citaku? Bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh. Terlintas pikiran kalau aku agak psycho. Tapi membuat cerita suspense merupakan hobi dan keahlianku. Dan aku ingin dikenal sebagai bloody love story teller. Apa bedanya dengan writer? Aku tidak hanya ingin menulis, tapi menyampaikan isi pikiranku bahwa cinta memiliki sisi mata uang lain yang bernama tragedi. Meski aku menyampaikannya lewat tulisan.
Minat menulisku muncul saat Gramedia mulai menerbitkan teenlit. Saat itu aku berusia 10 tahun. Aku tahu itu dari newsletter Gramedia yang dikirimkan ke alamat tanteku tiap tiga bulan sekali. Aku cukup puas hanya dengan membaca sinopsisnya. Mengapa? Karena saat itu mustahil untuk meminta ibuku membelikan satu novel teenlit. Ibuku tidak suka dengan keinginanku membeli buku karena memang saat itu perekonomian keluarga kami sedang jatuh. Sementara tanteku takkan melirik teenlit. Tak ada yang bisa menggantikan Sandra Brown sebagai penulis favoritnya. Lagipula, jika aku bilang ingin membeli buku itu, mereka mungkin akan memarahi aku yang membeli buku cinta-cintaan. DI umur yang ke-18 ini, aku selalu tertawa mengingat hal itu. Betapa ibuku masih menganggapku putri kecil saat itu. Padahal imajinasiku sudah ratusan langkah ke depan. Hanya dengan membaca sinopsis novel-novel teenlit, aku dapat membentuk plot teenlit di otakku.  Untuk anak seusia itu, plot seperti itu merupakan plot yang sangat complicated. Tidak mampu membeli novel teenlit, aku menulis novel teenlit sendiri.
Saat novel yang akuketik sudah mencapai 10 halaman (saat itu aku bangga pada diriku sendiri), aku merasa butuh feedback. Akhirnya aku meminta teman ibuku yang saat itu sedang bertamu ke rumah, untuk menilai tulisanku. Kata ibuku, temannya itu bergerak di dunia penulisan. Dengan bangga aku mempersembahkan tulisanku. Aku ceritakan bagaimana pendapatku akan cerita itu. Dan apa yang aku dapatkan diluar dugaan. Teman ibukuberjengit jijik melihat tulisanku. Ia takut dengan jalan pikiranku yang sudah mampu membayangkan kisah intrik keluarga yang dibumbui dengan pengkhianatan, masa lalu, dan tragedi berdarah. Mungkin dikira teman ibuku, cerita yang kubuat adalah cerita dengan tokoh anak-anak yang menceritakan persahabatan dan kekeluargaan serta mengandung pesan moral di akhir cerita. Aku tidak tahu bagaimana membuat cerita seperti itu. Saat itu aku bahkan tidak punya novel! Jadi aku tidak tahu darimana pengaruh itu dan darimana datangnya ide gila seperti itu.
Selama tujuh tahun, aku tidak menyentuh keyboard atau pena dan kertas. Semangat menulisku mati suri. Aku mencoba mencari bagaimana membuat cerita yang ideal sesuai umur yang menceritakan persahabatan dan mengandung moral. Dalam kesepian karena kehilangan passion, aku mencoba menafsirkan lirik lagu favoritku, The Black Rose yang dinyanyikan oleh L’arc-en-Ciel, menjadi bentuk tulisan. Cerita 10 halaman saja diselesaikan dalam seminggu. Sulitnya seperti mencairkan gunung es. Tapi aku menikmatinya, menikmati lirik yang penuh dengan ketegangan. Setelah tujuh tahun vakum menulis, aku kembali menemukan kepuasan dari cerita yang kubuat. Sesuai harapanku, mencekam. Setelah itu, perlahan aku menumbuhkan kembali semangat menulisku. Kubuka kembali tulisanku yang tetap 10 halaman. Dalam hati aku berjanji akan menggarap novel ini sebagai masterpiece-ku. Aku tidak mau peduli dengan pendapat orang atau menunggu orang menerima karyaku. Aku berkarya karena aku menikmatinya. Aku percaya suatu hari orang akan mencari karyaku.
Untuk kembali memunculkan ide menulis, aku mulai dari menafsirkan arti lagu. Juga mencari beberapa music video yang bercerita tentang tragedi. Beberapa video yang memunculkan ide di otakku adalah Be Mine – Infinite, Tell Me Goodbye – Bigbang, It’s War – MBLAQ.Meski akhirnya ceritaku cenderung menjadi songfic dan fanfic. Tapi itu ampuh untuk memanaskan oven ide di otakku. Beberapa karya yang kubuat dari lirik lagu antara lain berjudul The Black Rose, Be Mine, Red Farewell Poison, I’m Screamin, dan yang terbaru Missing Attack. Semua karya itu bisa dibaca di blogku http://alovealivealove.wordpress.com. Semuanya selalu berakhir dengan tragedi. Teman-temanku bergidik saat membacanya. Tapi aku tidak peduli. Aku tak akan membiarkan passion-ku mati lagi.
Akhir tahun 2011, aku kembali menemukan semangat menulisku secara utuh. Aku dengan percaya diri mengikuti lomba Bentang Belia. Meski gagal, itu merupakan langkah awal menuju kesempatan berbagai kompetisi menulis. Selanjutnya aku ikut serta dalam beberapa proyek menulis, seperti :
  1. #15haringeblogFF meski hanya tiga hari pertama karena keterbatasan waktu dimana waktuku habis untuk kegiatan sekolah. Tapi proyek ini yang pertama kali membuatku menulis sesuai tema.
  2. #DearMama. Aku turut berkontribusi dengan mengirimkan surat untuk ibu, untuk dibukukan. Lebih tepatnya, perasaan yang kupendam selama ini untuk ibu. Meski mengalami kesulitan untuk menulis bentuk surat, bukan fiksi tragedi, nyatanya aku bisa.
  3. #CeritaHariIni. Dari enam minggu diselenggarakan, aku hanya mampu membuat dua karya :’( Lagi-lagi karena keterbatasan waktu, meski seharusnya aku tidak menggunakan waktu sebagai excuse. Sama seperti poin 1, tema yang diberikan cukup menantang. Sejak mengikutinya, tema satu kata dengan mudah muncul di kepalaku J
Aku lebih banyak memuat karyaku di blog. Rupanya aku perlu membuat 30 karya fiksi untuk membuatku pede dan berencana untuk serius menekuni dunia menulis ini, untuk mengirimkan cerpen ke media cetak atau mengirimkan naskah novelku ke penerbit. Saat ini aku sedang dalam proses editing naskah yang sempat kukirim dalam lomba Bentang Belia dan sedang menggarap sebuah novel yang bercerita mengenai skandal seorang artis. Kurencanakan salah satu novelku rampung akhir Juni sebelum aku sibuk dengan masa perkuliahan. Cerpen-cerpenku sedang kusunting ulang agar layak terbit di media. Selain itu dalam saat yang sama dengan deadline akhir bulan, aku sedang mengerjakan tulisan untuk #MyLifeAs, #Ruang, #MembunuhRindu, serta #KoreanStoryContest. Aku menjaga ritme menulisku dengan menulis fiksi tiga halaman tiap harinya.
Sejujurnya, aku sedikit menyesal dulu langsung ciut hanya karena kata-kata teman ibuku. Padahal jika aku menekuninya, mungkin dalam usia 12 tahun aku sudah menulis novel metropop sekelas Sidnye Sheldon. Hehe. Tapi saat itu memang tidak ada fasilitas seperti internet untuk meriset kelengkapan cerita. Jadi aku tidak bisa menyalahkan waktu. Kalau ada yang harus dipersalahkan, adalah aku jika tidak juga merampungkan novel sebulan setelah membuat tulisan ini. Yang berarti aku menyia-nyiakan fasilitas era modern ini.
Sepertinya aku sudah tenggelam dalam candu untuk berkontribusi dalam proyek tulisan. Mimpiku tampil memberi tanda tangan dalam acara fansigning book, yang kubayangkan sejak SD, kini terbayang jelas. Padahal aku baru mengambil langkah pertama. Kali ini aku tidak akan mundur karena apapun, apalagi hanya karena aku gagal dalam kompetisi menulis atau tulisanku ditolak media. Seorang bloody love storyteller tidak pantas menyerah begitu saja. Bukankah ia memang menyukai suspense, ketegangan, tragedi, dan twist?

| http://alovealivealove.wordpress.com/2012/05/25/bloody-love-story-teller/

No comments:

Post a Comment

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan