Showing posts with label MAGNETOR. Show all posts
Showing posts with label MAGNETOR. Show all posts

Monday, April 16, 2012

Selatan

Kita ini satu bagai magnet. Satu, sama, namun berbeda haluan. Kamu utara, aku selatan, dan kita bisa saja menarik semua besi-besi dan serpihan logam, tapi tetap, aku utara dan kamu selatan. Dua kutub yang berbeda. Mungkin kalau kita terpecah, kita bisa bergabung, menyatu dan berhadapan. Tapi kita tetap, aku utara dan kamu selatan.”
“Bukan,” dipikiranku berbisik menggelitik: “Kutub utara dan selatan itu adalah kau dan ego-mu. Dan aku hanyalah besi rongsokan yang selalu tertarik dengan gaya dan medanmu. Kau adalah magnet, yang selalu menarikku untuk pulang ke rumah.”
***
#CeritaHariIni diawali dengan serpih serpih logam yang jatuh diambang batas pintu sebuah pabrik senjata Israel di wilayah Tel Aviv. Namaku Herlz. Aku adalah orang Israel yang bekerja di persenjataan Israel sebagai buruh biasa yang kadang ikut berperang meskipun hatiku terluka.
Ya, aku terluka saat melawan Palestina demi kedudukan Israel di tanah ini. Luka batin yang akan terus menganga dan menimbulkan penyakit baru. Peduli setan lah dengan negaraku atau apapun yang terjadi pada rezim ini. Mereka, para petinggi itu, tak akan pernah mencoba menyelesaikan perang, sampai kapanpun. Mereka hanya mengikuti apa yang sejarah ramalkan. Lucunya, namaku Herlz, sama seperti penggagas Negara Yahudi pada zaman dahulu, Theodor Herlz, dan yang lebih lucu lagi, aku bekerja di pabrik persenjataan Israel yang langsung ataupun tak langsung menyatakan aku membela Israel.
Semua itu demi lebih banyak roti untuk aku dan istriku, Aliyah, seorang wanita cantik keturunan Palestina-Arab.
Jika aku punya uang lebih, aku akan pindah dari Negara ini. Pindah ke Amerika dan hidup lebih lama dan bahagia dari sekarang.
“Ayo kita pulang!” Ajak Ben yang baik hati sekaligus sahabatku. Aku mengembangkan senyumku dan mengangguk. Kami pun pulang ke rumah kami dengan berjalan kaki dan melewati daerah-daerah dan gua terpencil yang menyeramkan. Banyak sekali risiko yang harus ku tanggung dalam menyambung hidup bahkan untuk perjalanan dari rumah ke tempatku bekerja dan sebaliknya. Dari mulai invasi dari pihak musuh ataupun dari binatang buas yang bisa saja menyantap kami kapan saja.
“Ben, apakah kau percaya jika perang ini selesai maka dunia akan kiamat?” Tanyaku dalam perjalanan pulang sambil mengendap-endap dibawah lorong jalan raya perang yang bau, yang kemudian akan tembus kehutan.
Ben berjalan lebih dulu sambil merunduk. “Kurasa.” Jawabnya tenang.
“Lalu mengapa kita tidak membunuh diri kita sendiri saja supaya ketika kiamat itu datang, kita tidak perlu risau lagi?! Percuma bukan perang ini ada, siapapun yang menang atau kalah, mereka hanya menghadapi kematian.” Argumenku.
Ben sudah sampai di ujung lorong dan serta merta menghidup udara segar dan meregangkan badan. Ben menatapku lekat-lekat.
“Masih banyak yang harus diperjuangkan, Herlz.” Katanya dalam.
“Perjuangan apa lagi? Apa yang diperjuangkan?” Tanyaku sambil melanjutkan perjalanan. Ben lebih veteran daripadaku, itu sebabnya ia sangat bijaksana. Namun sekarang ia diam.
Booom! Duaaaar!
Suara itu seperti granat yang menyalak tak jauh dari tempat kami. Aku dan Ben terhuyung huyung mencari perlindungan. Kemudian berlarilah kami kesebuah goa yang kecil cukup untuk kami berdua. Kami berlindung dibawah goa itu selama berjam-jam menunggu sampai serangan itu selesai.
Saat berlindung bersama Ben, dikepalaku muncul seorang wanita cantik, berhidung rungi, bermata cokelat dan berambut cokelat yang panjang. Orang yang sangat kucintai sepanjang hidupku, Aliyah. Aku sangat merindukan wanita itu.
Sekelebat bayangan muncul satu persatu dari awal pertemuanku dengannya. Saat itu aku masih berumur 20 tahun, usia wajib militer, dan sedang berperang melawan Palestina di jalur Gaza. Aku menemukannya hampir mati disebuah gedung bekas apartemen yang rusak karena perang. Aku menolongnya, dia adalah korban perang, semua keluarganya sudah meninggal karena perang.
Awalnya ia takut denganku. Mungkin trauma. Aku tidak tega dan menolongnya, menyeludupkannya diam-diam dan mengaku ia adalah orang Israel sampai akhirnya membawa Aliyah ke rumahku di Tel Aviv untuk perlindungan. Saat itu usianya masih 17. Akupun membantu mencarikan keluarganya yang lain selama bertahun-tahun, namun hasilnya nihil.
Aku sadar bahwa aku mencintainya, akulah keluarganya, dan kemudian aku menikahinya saat usiaku genap 24 tahun dan Aliyah 21 tahun. Hal itu terjadi lebih daripada 10 tahun yang lalu dan aku hidup di realita yang sekarang.
Hari sudah malam, bintangpun bermunculan. Suara ledakan itu seakan menjauh. Aku dan Ben bergegas untuk melanjutkan perjalanan pulang. Aku tahu Aliyah pasti telah menungguku.
***
Aku tidak dikaruniai anak. Oleh karena itu, aku tinggal hanya berdua bersama Aliyah dan satu penjaga, Bruno, seekor anjing gembala berwarna cokelat keemasan. Mungkin Aliyah terkena radiasi saat perang atau penyakit yang lain.
Aku tiba dirumah dan rumah terkesan sepi dan gelap. Lampu di depan rumah menyala namun tidak ada tanda kehidupan, sampai akhirnya anjingku, Bruno menarik narik celanaku yang compang camping memintaku untuk masuk ke dalam rumah. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Aku masuk kedalam rumah dan mendapati seluruh isinya berantakan. Aliyah pun tidak ada dirumah. Aku mencari-cari dimanapun tapi tidak ada. Sampai pada akhirnya aku menemukan kertas terlipat dua diatas meja makan. Tulisan tangan Aliyah tergores disitu.
Kepada Suami ku yang ku cintai sepanjang hayat, Herzl,
Jangan mencariku lagi. Setelah sepuluh tahun, akhirnya pemerintah Israel pun tahu aku bukan penduduk mereka dan merekapun memutuskan mengembalikan aku kepada Pemiliknya. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sedang menangis karena aku kehilangan orang yang paling kusayangi selama ini. Tapi aku akan selalu hidup di sisimu dan menemani setiap langkah-langkahmu.
Ini mungkin surat terakhirku padamu, dan akupun juga pernah bilang bahwa sampai selama lamanya kita ini bagai magnet yang sama. Kita menjadi satu namun tidak berhadapan. Kita adalah dua kutub yang berbeda, kau utara dan aku selatan. Meskipun kita mampu menarik besi secara bersamaan, tapi kita merupakan dua bagian yang berbeda.
Kita tidak pernah berpandangan sama, hanya saja kita satu. Mungkin suatu hari nanti akan ada yang mampu memecah kita, dan kita mampu membuat daya untuk menarik setiap perbedaan kita. Supaya dua menjadi satu, bukan satu menjadi dua.Tapi itu nanti, di kehidupan kita yang berikutnya.
Terimakasih atas segala cinta yang telah kita ukir selama satu dekade yang terasa sangat singkat. Selamat tinggal. Aku mencintaimu,
Aliyah
Dadaku serasa bergetar. Apalagi yang dilakukan orang Israel gila itu? Aku segera keluar mencari informasi yang lebih pasti tentang keberadaan istriku. Aku mendatangi rumah Ben untuk meminta bantuan. Namun Ben menolak untuk membantu mencarinya hari itu karena suasana sedang genting.
Namun Soraya, istri Ben mengatakan bahwa Aliyah dibawa oleh para serdadu pemerintah ke ibukota untuk dihukum pancung karena identitas palsu selama bertahun-tahun ditambah lagi ia adalah orang Palestina.
Akupun segera pamit pergi dan mencari segala akses untuk tiba di ibukota saat itu juga. Segala hal aku upayakan untuk menghentikan kendaraan yang lewat sampai akhirnya aku menghentikan sebuah truk makanan untuk suplai para tentara di ibukota.
Akhirnya aku tiba di ibukota dan mulai mencari tempat pengadilan dimana istriku berada. Aku tidak memikirkan apa-apa, aku hanya ingin melihat istriku. Namun aku tidak menemukannya. Hari sudah sangat larut, kuperkirakan saat itu sudah pukul dua dinihari.
Aku bertanya kepada para penjaga dan mereka bersikap acuh tak acuh. Sampai akhirnya ada satu orang penjaga yang menceritakan bahwa tadi siang ada wanita Palestina yang memalsukan data kependudukan dihukum pancung. Diduga wanita itu adalah mata-mata. Jenazah wanita itupun dibakar setelahnya.
Akupun mendatangi ruang bekas kremasi tadi siang diantar oleh si Sipir yang baik hati. Aku menangis sejadi jadinya diatas tumpukan arang-arang dan abu. Tak lama aku langsung mengumpulkan abunya dan memasukan kedalam kaleng bekas. Hatiku hancur.
***
Hari-hari berikutnya aku hidup diantara bayang-bayang Istriku. Kadang kala aku sering berharap membuka mata di sampingnya atau dapat melihatnya berjalan dan memberi makan Bruno. Tapi semua hanya khayalanku, jauh di dasar benakku.
Kiranya aku semakin membenci peragai pemerintahan Israel. Aku membenci segala tabiat mereka dan terutama aku benci perang. Aku terluka parah oleh perbuatan keji mereka tapi aku juga merasa salah saat aku sadar selama ini aku memang membahayakan Aliyah di negaraku.
Aku berjanji akan menebus kesalahanku, segala kerisauan dan kerinduanku pada Aliyah.
Pagi itu aku berangkat bekerja seperti biasa bersama Ben. Sejak kepergian Aliyah, aku tidak banyak bicara. Ben mengerti betul apa yang aku rasakan.
“Ben, pulanglah!” Pintaku.
“Ha? Kau bercanda? Mau makan apa anak dan istriku kalau aku pulang?”
“Pulang, Ben! Ku minta kau pulang sekarang juga!”
“Kau tidak menggajiku, orang gila!” Katanya.
Aku meninju wajahnya. “Pulang keparat!” Seruku.
Ben menatapku serius namun tidak berusaha membalasnya.
“Aku tahu kau akan melakukan yang terbaik.” Katanya yang lalu berbalik badan dan pulang.
“Bawa pergi jauh dirimu serta anak-anakmu!” Seruku sekali lagi. Dan aku bersumpah aku sangat bangga pada sahabat yang sangat mengerti aku.
Akupun melanjutkan perjalananku. Hari itu.
***
Aku memberanikan diri memasuki ruangan penelitian bom nuklir dengan mengendap-ngendap sehabis mencuri sebuah granat dan pistol kecil dari gudang penyimpanan persiapan perang. Dadaku memukul-mukul. Aku mungkin bersalah namun setidaknya jika pabrik ini hancur Israel akan menghentikan perang ini untuk sementara. Akan ada lebih sedikit orang yang meninggal karenanya.
Bau ruangan itu sangat aneh. Sekilas bau kimia yang sangat menusuk hidung, kemudian bau mercon dan terakhir bau kematian yang tak termaafkan. Aku sendiri dihadapkan pada sebuah bom yang berdaya ledak 0,0005 Megaton TNT yang setidaknya dapat menghancurkan daerah ini sampai radius 2 kilometer. Bom itu hanya sebesar bola basket. Dan hanya ada bom itu di pabrik ini, sebab ini adalah pabrik senjata. Bom ini pun hanya sekedar ada untuk penelitian.
Aku melanglang pikiranku mengingat Aliyah. Aku akan kembali kepelukannya.
Segera saja aku membuka granat dan mengenggamnya dengan tangan kiriku. Seorang penjaga memergokiku, dan segera saja aku mengambil pistol dari sakuku kemudian menarik pelatuknya dan melepaskannya tepat ke dada si penjaga. Aku menatap granat ditanganku dan menghitung mundur.
5… 4… 3… 2… 1…
Aku besi dan kau magnet, yang selalu menarikku untuk tidak jauh darimu.

Jakarta, April 2012

| http://deapeni.blogspot.com/2012/04/selatan.html

Pepat Dalam Empat: Ma Ma Magnet!

Semacam encore dari sebuah dongeng empat babak:

Ini, sesuatu yang konon. Anggap saja ini dongeng. Dongeng tak memiliki kedudukan yang jelas benar  atau tidaknya, ia hanya ada saja. Dengarkan. Jangan terlalu dipikirkan, bukan tugasmu. Dengarkan sajalah.

Nanas. Na-nas. N-a-nas. Nas. Na-na-s.
Ada satu jam aku duduk, dan selama itu aku yakin, aku duduk di tempat yang benar. Aku lapar. Bukan lapar yang ingin makan, ini lapar sebab tak sabar menunggu diisi informasi. Sebuah kabar. Kabar besar, lebih besar dari perhelatan akbar, aku yakin tidak sehambar  berita surat kabar yang seolah ingin menyaingi rasa teh tawar. Politis memang selalu magis. Selalu ada motif di dalam kata politis, motif-motif eksotis yang membuatnya jadi begitu menhipnotis. Hingga membuat semua pelakunya tak sadar jika mereka sedang membawakan lawakan yang satire, miris, ironis, sakastis dalam satu wacana yang tak terlalu bombastis. Magis. Sekutu terdekat politik adalah kepentingan. Apa lagi?

Sudahlah, bukan soal itu yang ku tunggu. Surat kabar di atas meja sengaja ku letakkan di situ. Biar terkesan berilmu. Meski sebenarnya kepalaku sekosong perut bambu. Aku sedang menunggu agen rahasiaku. Pastilah ia bekerja ekstra, sudah satu jam, dan aku belum mendapat kabar darinya. Sialan. Aku mengutuk. Entah mengutuk suntuk, atau hanya untuk mengusir rasa kantuk. Padahal ini masih sore. Sore bersama rindu yang membusuk.

Agen rahasiaku yang pertama datang. Namanya Gaia. Datang bersama deru angin, duduk di kursi kosong di hadapanku. Seperti hari sebelumnya, ia selalu datang dan duduk di situ.

“Sore, Bos! Maaf agak lama, tempatnya lumayan jauh dan foto yang dikasih juga tidak jelas. Gua jadi repot cari dia di antara orang banyak.” Ia mengelap dahinya, meski tak ada keringat di sana. Dibuat seolah ada, agar terkesan dramatis saja.
“Jadi, sudah lo tanam?” Tanyaku sambil membakar rokok, lagi-lagi agar kesan dramatis cerita ini keluar. Sama saja.
“Sudah, Bos! Di tempat yang tepat,” Ujarnya, matanya menatapku tajam, “dan tak seorang pun tahu, bahkan dia sendiri gak akan tahu.”
“Oke, gua percaya, terima kasih, Gai!”

Aku bersiul, bukan sembarang siul. Ini siulan untuk memanggil. Aku mempelajari teknik ini sejak kecil, sejak aku sering bermain layang-layang bersama ayah. Dulu ayah bilang, bila aku ingin menerbangkan layang-layang, aku membutuhkan angin yang cukup kuat. Lantas aku bertanya, bagaimana jika angin tak terlalu kuat? Ayah menjawab, bersiul saja lah. Aku pun bersiul. Gali pun datang. Gali Agen keduaku.

“Gali, siap bertugas?!” Aku bertanya sambil menghembuskan asap rokok, membiarkannya melayang-layang di depan wajahku. Seketika wajahku seperti hutan kebakaran.
“Siap, Bos!” Gali menjawab tegas, lantas pergi lekas-lekas.

Nanas. Na-nas. N-a-nas. Nas. Na-na-s.
Perempuan itu lelah, wajahnya dicumbui debu. Rambutnya pendek, liar, sepertinya ia tak pernah mengenal teknologi kecantikan bernama sisir. Kaca mata yang ia gunakan gagal menutupi mata lelahnya, gagal sama sekali. hanya sesekali dering telepon genggam yang mampu membuka matanya lebar-lebar. Semringah. Padahal, itu hanya pesan singkat dari seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Matanya menatap layar telepon selular sementara ibu jarinya menari lincah di atas tombol alfabet. Membalas pesan singkat menjadi begitu penting. Pesan singkat dariku, yang kini sedang menyaksikannya melalui sebuah televisi ajaib di depan mataku. Televisi yang sama sekali berbeda dengan televisi di rumahmu. Ini televisi super, sulit lah di jelaskan dengan kata-kata. bayangkan saja semaumu. Televisi ini berguna melaporkan hasil liputan Gali di sana.

Perempuan itu tak sadar. Ada yang memperhatikan.
Ia menaiki salah satu bus, tujuannya adalah Bekasi. Ia yakin tidak salah naik, dilihatnya ke arah kaca depan. Terbaca. …si. Akhirannya –si. Ya, Bekasi. Huruf di belakangnya tidak terbaca. Terhalang kepala-kepala.

“Hi hi hi, dia gak tahu bos!” Gaia terkekeh senang, sejauh ini tugasnya berjalanlancar.
“Ssst…jangan berisik!”
“Sorry bos.”

Aku sibuk membalas pesan singkat yang dikirim olehnya. Pesan singkat yang sebenarnya panjang sekali. kemudian, mataku tertuju lagi pada layar di hadapanku. Melihat keadaan perempuan yang baru ku kenali beberapa hari yang lalu.

Sambil menunggu pesan balasan, perempuan itu menerawang ke sekitar bus. Dari raut wajahnya, ia merasa ada yang tidak beres. Dilihatnya sekali lagi tulisan di kaca depan bus. Terbaca. …si. Akhirannya –si. Ya, Bekasi. Huruf di belakangnya tidak terbaca. Masih terhalang kepala-kepala. Tak lama pesan singkat dariku masuk, telepon selularnya bergetar. Perempuan itu tersenyum kecil dan mulai mengetik pesan balasan.

“Bos…” Gaia menegurku ragu
“Hemm?” Itu aku menjawab malas-malasan. Masih ingin memperhatikan layar di depan.
“Bos?”
“Apa sih?!”
“Enggak deh, gak jadi…”
“Labil lo, ah… lo kan udah tua, Gai. Sadar umur lah!”

Dan Bogor, hari ini dingin. Percayalah. Atau, kalau kamu tidak percaya silakan duduk di sini bersamaku. Di sini, di hari ke empat di bulan April tahun 2012.

Perempuan dalam bus itu menerima telepon dari seseorang, entah dari siapa. Matanya sibuk mengamati jalanan. Mulai menampakkan wajah cemas. Tapi, ya begitu lagunya. Masih sok tidak terjadi apa-apa. Matanya kembali memastikan ke kaca depan bus. Terbaca. …si. Akhirannya –si. Ya, Bekasi. Huruf di belakangnya tidak terbaca. Lagi-lagi terhalang kepala-kepala. Besok, perempuan ini lah yang akan ku jumpai. Berkenalan secara formal danselanjutnya, dan selanjutnya.

“Bos, Gali melapor!” Gaia berseru. Secarik kertas muncul begitu saja dari dalam televisi ajaib ini.

Lapor Bos! Nenek pengendali hujan sudah bersiap menurunkan hujan nih, gawatnya si Krip Krip juga mau main petir. Terpaksa, gambar agak terganggu deh. Maaf ya, Bos.

Jleb! 
Televisi mati.

“Ah!”
“Santai, Bos… kopi dulu, kopi.”
“Lo yakin, Gai udah diletakkan di tempat strategis?”
“Yakin lah, Bos! Kalau enggak, mana mungkin dia…hi hi hi….”
“Jantung gua kok deg-degan ya, Gai?”
“Efek samping, Bos.”
Tak lama, ada pesan masuk ke telepon selularku. Pesan dari perempuan itu.
Kamu tahu Cileungsi di mana?
Aku membalsa singkat.
Tahu, itu kan di Bogor. Kenapa? Kamu mau ke rumahku?
Aku tersenyum kecil, Gai terkekeh.
“Tuh kan, Bos! Gua berhasil…”
“Iya, iya… kerja bagus, Gai!”
“Tapi, Bos…”
“Tapi apa?”
“Tuan Takdir, Bos… dari tadi gua mau bilangin, lo udah hubungi dia atau belum. tapi gua takut, muka lo serem sih Bos,”
“ASTAGA!” Aku jadi memukul keningku sendiri, “lupa…”
“Yaaah…”

Dari dalam televisi, secarik kertas muncul lagi.

Lapor Bos! Nenek hujan membatalkan penyerangan di kawasan ini, dia bergerak ke arah rumah Bos. Siaran sudah bisa di nikmati lagi.

Klik! Televisi menyala.
Perempuan itu kini ada di… TEPI JALAN TOL! Gila! Aku sudah mengantisipasi kejadian ini, menurut prediksiku ketika ia sadar salah naik bus. Ia akan meneruskan perjalanan ke Cileungsi. Bukannya berhenti di tengah tol begini. Aku jadi merasa bersalah.
“Kerjaan Tuan Takdir nih, Bos….” Gaia berbicara dengan pose yang mengingatkan kita pada pemikir-pemikir Yunani.
“Sialan!” Kutukku, “lo kesana Gai, pastikan dia selamat!”
“Mana bisa? Lo kan tahu sendiri Tuan Takdir gimana.”
“Ah!”
“Sudahlah… berdoa saja, Bos!”

Perempuan itu memutuskan berjalan kaki, Tamini malam hari memang ramai, tetapi di pinggir tol, mana ada manusia? Kecuali, ya, kecuali perempuan nekat itu. Gila!

Huh, saya salah naik bus. Harusnya ke Bekasi malah ke Cileungsi. Akibat senang bermain rima, skrg malah dipermainkan rima jurusan bus.

Begitu bunyi pesan darinya. Aku agak heran juga, perempuan ini, sudah tahu salah jalan masih saja kegirangan. Saya balas pesannya, lalu, ia membalas lagi.

Pesan terakhir dari pak kondektur “tanya aja orang ke kampung rambutan lewat mana!” Iya, mudah. Kalau ada orang. Sayang, disini semua mobil berlalu lalang dengan cepat! Aaa, salam metal untuk pecel lele Bogornya. Kabarin, saya gak jadi nyasar sampe sana. \m/

Aku memperhatikannya dari televisi, rasa cemas menjalari. Tapi aku isa apa? Ah, andai saja perempuan itu tidak nekat berhenti di tengah tol. Tentu semua misiku akan berjalan dengan lancar. Tanpa perlu ia berjalan sendiri dengan pemandangan semak belukar di sebelah kiri. Tak lama kemudian, terlihat mobil polisi dari kejauhan. Aku agak lega melihatnya. Meski aku tak terlalu percaya pada polisi. Sama saja. Kita serahkan pada Tuan Takdir.

Saya ketemu orang! Yeah :D *sujud sukur di pinggir jalan tol* Terima kasih, saya jagoan kok. Otak dan mulut masih bisa jadi senjata.

Perempuan itu naik mobil polisi. Aku sedikit lega. Aku  sedang berusaha memberi polisi itu percaya. Televisi ku padamkan. Aku masih berusaha mengusir rasa bersalahku. Jika saja…

Saya sedang dalam perjalanan menuju kampung rambutan diantar pak polisi! Hahaha  ini pertama kalinya, dan WOW! Mobil polisi tuh memang aslinya keren ya! :D

Aku bingung, antara mau tertawa dan kesal sulit ditemukan garis batasnya. Akhirnya ku balas saja seadanya, tak lama ia membalas lagi.

Kalau malam ini tidak salah naik bus dan diturunkan di depan tamini, saya jg gak akanpernah punya pengalaman naik mobil polisi. Hahaha.

Perempuan itu gila. Sudah tahu salah jalan, masih saja kegirangan.

Gali tiba.
“Liputan yang bagus, Gal!” Aku memberi selamat.
“Ah, padahal gua mau ngeliput dia sampai rumah, Bos….” Gali membanting kameranya, mau dibanting sekeras apapun kamera itu tak akan rusak. Sebab kameranya terbuat dari lapisan udara.
“Brengsek ya si Tuan Takdir, gak bisaaa gitu liat orang senang! Huh!” Ujar Gaia sebal.
“Biarin deh. Lebih dari itu semua, kerja kalian bagus, teman-teman!”
“terima kasih, Bos. Senang bisa membantu…” Gaia tersenyum. Keduanya berpamitan. Aku meraih telepon selular. Ya. Aku akan menelepon perempuan itu.

“Halo?”
“Ya, nanasnya sudah dicuci bersih…mau disajikan dalam bentuk apa?” Jawab perempuan itu, baru selesai mandi rupanya.

Dan aku mendengarkan segala ceritanya hari ini, petualangan tersesat –yang merupaka hasil pekerjaanku. Hingga cerita lain yang tak kalah seru. Meski aku tak mengerti apa yang diceritakannya. Aku juga tak kenal siapa tokoh-tokoh dalam ceritanya. Itu bukan masalah besar, karena yang perlu ku lakukan hanya mendengar. Set a chair, set a table. Set a good conversation. Set my eyes, set my ears to hear you now, set yourself out to believe. It’s my feeling for you now, complete. Lebih dari seratusduapuluhmenit, tak terasa sudah pukul dua dini hari. Saatnya tidur.

Kalimat terakhirnya masih terngiang.
“Aku kayak ditarik kamu deh, sampai gak sadar salah naik bus yang justru menuju ke kotamu, kebetulankah? Ha ha ha…”

Ah andai ia tahu, itu bukan kebetulan. Sebab Gaia tadi kuberi tugas untuk menanamkan bongkahan magnet di tempat paling strategis di tubuh perempuan itu. Tak akan terjangkau oleh siapapun. Kecuali Tuan Takdir. Ia pun tak akan menyadarinya. Magnet itu tertanam di jantungnya. Sementara magnet pasangannya tertanam di jantungku. Itulah kenapa ia ‘ditarik’ ke kotaku malam ini. Itulah kenapa beberapa kali ia bilang ‘deg-degan’ dalam percakapan kami tadi. Aku. Perempuan itu, Nanas. Kita terhubung. Love is a magnet. It will pull to it and hold only material nature has designed it to attract.

Nanas. Na-nas. N-a-nas. Nas. Na-na-s.
Pesan terakhir dari perempuan itu, sebelum aku berpetualang ke alam mimpi:

Tolong jangan jadikan cerita saya malam ini untuk cerpenmu. Memalukan!

Tenang, tentu saja tidak. Itulah kenapa aku akhiri cerita hari ini dengan sebuah pesan:

Cerita ini, sesuatu yang konon. Anggap saja ini dongeng. Dongeng tak memiliki kedudukan yang jelas benar atau tidaknya, ia hanya ada saja. Dengarkan. Jangan terlalu dipikirkan, bukan tugasmu. Dengarkan sajalah.
Serigala Pencerita.

*Gaia: diambil dari kata Gaea, Dewi Bumi, Ibu dari Cronus dan para Titan (Mitologi Yunani)
*Gali: Bahasa Telugu, గాలి, Gāli. Artinya Udara.
| http://manuskriphujan.blogspot.com/2012/04/pepat-dalam-empat-ma-ma-magnet.html

Teh Manis

Matahari masih bersembunyi malu-malu di balik awan tebal berlatar langit biru. Segerombolan burung tampak menari-nari riang, berlarian ke satu arah seolah ingin turut serta menghiasi kanvas pemandangan di pagi hari yang cerah ini. Kicauannya terdengar bersahutan di kejauhan, seiring berhembusnya udara sejuk yang dingin. Di balik dinding balkon, Nira membentangkan tangannya lebar-lebar. Memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Senyum lebar mengembang di wajahnya. Perasaan damai kemudian turut menyeruak dalam hatinya.
Sudah hampir sepuluh tahun Nira menanti dirinya kembali berdiri di situ, di rumah tempat ia dibesarkan, tenggelam menikmati suasana pagi hari persis seperti kebiasaannya semasa kecil dulu. Hari ini akan berjalan sesuai harapannya. Pertemuan itu akan segera terjadi. Layaknya dua orang yang terpisah bertahun-tahun, pertemuan itu akan menjadi pertemuan yang mengharukan.
***
Ruangan ini memang tidak seperti café pada umumnya, namun lebih terlihat seperti rumah kecil lengkap dengan dapur modern masa kini. Di dalamnya terdapat satu meja panjang a la meja bar dan beberapa sofa di sisi kanan dan kiri pintu masuk. Nira terkagum, café ini rupanya masih konsisten dengan konsep pembentukan awalnya. Konsep homy inilah yang membuat Nira kecil betah berlama-lama di sana, hingga menjadi begitu akrab dengan Chef Hans. Terkadang ia juga ikut membantu Chef Hans menghidangkan makanan yang ia pesan sendiri.
Nira masih memandangi detail ruangan. Di balik meja dapur, dilihatnya bukan Chef Hans lagi yang berdiri di sana. Sosok berseragam putih itu terlihat lebih muda dari Chef Hans. Nira menyandarkan badan di punggung sofa, melirik jam tangannya. Tak biasanya Banyu terlambat, Nira mengernyitkan keningnya.
Sudah hampir satu jam Nira duduk di sofa itu, menatap kosong ke piring datar di hadapannya yang kini tinggal menyisakan remah roti dan sedikit mayonaise. Nira meraih lemon tea-nya, mengaduk-aduknya dengan sedotan, namun pikirannya masih tertuju pada Banyu yang tak kunjung datang.
Nira mencoba untuk bersabar lagi. Meredam emosinya, lantaran ia tak mau merusak hari itu. Mungkin jalanan macet, mungkin Banyu harus menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu, mungkin Banyu lupa rute jalan ke sini atau mungkin Banyu tak menganggap pertemuan ini penting? Kemungkinan terakhir itu tak pernah ada dalam benak Nira. Suara Banyu di ujung telepon tadi pagi mengisyaratkan bahwa ia juga sangat antusias menanti pertemuannya dengan teman semasa kecilnya ini.
Dua jam berlalu, Nira tak cukup sabar lagi. Ia pun bangkit beranjak pergi. Wajahnya tampak sedih dan kecewa. Ia hanya berjalan tertunduk. Pintu masuk tiba-tiba terbuka sebelum ia sempat meraih pegangannya.
“Nira?” Seseorang tahu-tahu menyebut namanya. Nira mendongakkan kepala, menatap lurus-lurus mata itu. Dagunya mendadak bergetar. Ia hampir menangis begitu mengenali wajah itu. Wajah itu masih tampak seperti sepuluh tahun yang lalu, namun tulang rahang itu terlihat lebih keras. Nira masih bisa mengenalinya dengan jelas.
“Banyu?” Kata Nira pelan. Pria di hadapannya itu mengangguk. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Banyu menarik pipi Nira sementara Nira mengaduh kesakitan. “Hai pipi bakpao!”
Tawa keduanya pun menyembur. Rasa rindu Nira sekejap terobati. Kejengkelan menunggu selama dua jam tadi pun mendadak sirna. Namun kebahagiaan kecil Nira tiba-tiba hilang begitu disadarinya ada seorang perempuan cantik yang berdiri di belakang Banyu, memperhatikan mereka dengan seksama.
***
Sewaktu masih sama-sama duduk di bangku Sekolah Dasar, Banyu paling senang belajar pengetahuan alam. Buku Fisika kakaknya sering dipinjamnya diam-diam lalu dilahapnya habis. Nira masih teringat dengan lincahnya mulut kecil itu berbicara tentang magnet yang ada di buku, sesuatu yang tak dimengertinya ketika itu. Namun Banyu terus mengoceh, seolah ia sangat mendewakan kehebatan magnet.
“Magnet itu bisa menarik benda lain. Beberapa benda bahkan tertarik lebih kuat dari pada yang lain, misalnya benda logam. Benda-benda itu tertarik karena terdapat perbedaan dua kutub.”
“Semua benda bisa ditarik ya sama dia?” Tanya Nira ketika itu, ikut berpikir keras. Banyu menggeleng. “Tentu tidak. Contohnya aku.”
“Kok kamu?”
Banyu terkekeh. “Iya. Banyu kan berarti air. Magnet tak mampu menarik air.”
“Kok bisa nggak bisa?”
“Karena air tak mempunyai kutub seperti magnet dan logam. Jadi dia tidak bisa menyatu dengan magnet, namun hebatnya dia bisa menyatu dengan nira.”
Nira melihat ke atas, berpikir sejenak dan kemudian tertawa kecil. “Menyatu jadi air gula kan? Kalau ditambah teh, jadi teh manis!”
Malam itu Nira masih memutar kenangannya kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu. Andaikan kalimat-kalimat itu terucap di masa kini, tentu akan menjadi hal yang sangat membahagiakan untuknya.
Tiba-tiba saja bayangan perempuan yang tadi siang datang bersama Banyu juga ikut merasuk ke dalam benaknya, kontan membuatnya murung kembali. Perempuan itu tampak manja pada Banyu. Tangannya tak lepas dari lengan Banyu. Dia juga berusaha memonopoli pembicaraan. Nira bahkan hampir tak punya kesempatan untuk bernostalgia tentang masa kecilnya bersama Banyu.
Pertemuan itu harusnya menjadi pertemuan yang sempurna, tapi nyatanya berujung kegagalan total. Lana terlalu cantik untuk dijadikan saingan. Tanpa harus bertanya pada Banyu ditambah dengan bahasa tubuh Banyu yang tidak merasa risi dengan tingkah Lana, sudah dapat dipastikan kalau mereka kini sedang berpacaran. Banyu memang tak pernah bercerita sedikitpun mengenai Lana. Tapi hanya pria tolol yang tidak tertarik pada perempuan cantik macam Lana.
Nira menarik selimutnya. Akhirnya ia benar-benar telah menemukan dirinya hampir tenggelam dalam kolam kecemburuan. Seolah ia memang harus segera mundur dari medan pertempuran yang bahkan belum dimulainya.
***
Hari ini adalah hari ke tujuh Nira berada di kota hujan itu. Selama itulah, ia telah mengabaikan belasan telepon ditambah lima kali ajakan Banyu untuk berjalan-jalan keliling kota. Nira terlalu khawatir pertemuan nanti tak jauh berbeda dengan pertemuan seminggu yang lalu. Lebih-lebih jika Lana terus membuntuti Banyu. Nira merasa tak cukup hebat bersaing soal cinta. Perasaanya selama ini pun kini terpaksa harus tetap tersimpan rapat-rapat.
Minggu pagi begini, Nira hanya menghabiskan waktu dengan bersantai di kebun depan rumah, sambil menikmati biskuit coklat kesukaannya. Ia juga tengah disibukkan dengan obsesi untuk mengkhatamkan novel berhalaman tebal yang belum tuntas dibacanya semenjak beberapa hari yang lalu.
Bunyi knalpot mendadak membuyarkan penghayatan Nira yang tengah tenggelam melakoni nasib sang tokoh utama di novel itu. Beberapa saat kemudian, Banyu muncul menaiki undakan dan langsung mengambil posisi duduk di sebelah Nira. “Jadi, hari ini pun kamu hanya ingin berleha-leha di kebun?”
“Nggak lihat nih, aku lagi sibuk?” Nira menyunggingkan senyumnya cepat-cepat dan kembali pada sang tokoh utama.
“Ra, ayo doooong. Jalan yuk! Pertemuan kemarin kan sebentar banget.”
“Loh memangnya hari libur begini kamu nggak jalan sama Lana?” Kata Nira datar.
“Lana? Nggak.”
“Memangnya dia nggak bakalan marah kalau pacarnya jalan sama cewek lain?”
Banyu tertawa ringan. “Siapa bilang dia pacarku Ra?”
Nira menatap Banyu. “Tapi kamu pasti suka kan sama dia? Kemarin mesra gitu.”
Banyu berhenti tertawa, balik menatap Nira. Ia berusaha mencari tahu apa yang sedang dipikirkan Nira tentangnya dan Lana.
“Lana itu memang cantik dan pintar. Aku mengaguminya. Dia bagaikan magnet bagi setiap pria. Medan magnet yang dia punya kuat layaknya magnet sungguhan. Semua yang memiliki kutub berlawanan dengannya pasti akan tertarik. Mereka akan menghubungkan garis-garis medan magnet dari kutub yang mereka punya ke kutub berlawanan yang dimiliki Lana. Begitu pula sebaliknya.
Tapi si air ini tak punya kutub. Ia tak punya kemampuan untuk menarik si magnet ataupun sebaliknya. Ia hanya senang menjadi air walau tak berkutub. Ia hanya mudah menyatu dengan gula. Ia merasa memiliki kecocokan dengan si gula yang berasal dari cairan bernama nira yang disadap dari bunga jantan pohon aren. Ya, dengan nira itulah si air ini ingin menyatu.”
Banyu menatapnya dengan serius. Nira terkesiap sejenak. Bayangan sang tokoh utama menghilang terbang ketika napasnya tertahan untuk beberapa detik. Baru semalam ia memimpikan Banyu kembali menjabarkan soal magnet, lalu berharap  merembet ke cerita air dan gula. Bagian yang ingin didengarnya tiba-tiba saja pagi itu terkabul. Dengan nira itulah si air ingin menyatu. Pipi Nira merona merah. Si air memang mengagumi si magnet tapi rupanya si air jauh lebih menyukai si gula. Senyum Nira kembali mengembang. 
| http://akanboobaby.blogspot.com/2012/04/teh-manis.html

Gadis Berpayung Oranye

Cerita hari ini tentang seorang gadis berpayung oranye. Dari mama aku tahu kalau rumah di ujung jalan itu telah ditempati keluarga baru. Keluarga gadis itu. Kesempatan berkenalan kudapat dari tempat les piano, Madam Irama. Pemiliknya seorang wanita tengah baya bernama Irama, dia terkenal akan kedisiplinannya dalam berlatih dan mengajar. Gadis itu seorang pianis yang berbakat. Lewat jadwal latihan yang ketat, dia selalu berhasil mendapat peringkat pertama. Karena tempat les Madam Irama berada di dalam komplek perumahan kami, setiap pulang les kami selalu berjalan pulang. Dia di depan dengan payung oranyenya dan aku di belakang memandanginya. Selalu begitu, meski tidak ada hujan dia tetap dengan payung oranyenya. Dua hari dalam seminggu kami bertemu dan hanya melontarkan senyum kecil. Begitu seterusnya hingga suatu hari di musim hujan.
Dia dengan payung oranyenya telah bersiap pulang sementara aku duduk melamun diiringi tumpahan hujan.
“Mau bareng?” tanya gadis itu lembut.
Aku menengadah memandang wajahnya yang sedang tersenyum lalu beralih ke arah langit. Sudah setengah jam dan belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Pandanganku terhenti pada payung oranye itu.
“Payungku cukup lebar untuk kita berdua” katanya lagi seolah dapat membaca pikiranku.
Buru-buru aku tersenyum “Aku mau. Makasih, sebelumnya....”
Gadis itu balas tersenyum “Risna, namaku Risna.”
“Namaku, Jingga” jawabku. Sebenarnya aku sudah tahu nama gadis itu. Cuma rasanya kurang pas jika aku langsung menyebut namanya karena kami belum pernah berkenalan resmi.
Sejak saat itu kami jadi akrab. Risna, gadis yang menyenangkan dan tidak pelit ilmu. Kadang, aku diajak bertandang ke rumahnya yang bekas rumah Bu Cokro. Rumah itu tidak terlalu banyak mengalami perubahan, hanya beberapa perabot yang letaknya diubah dan warna dinding yang dicat baru. Ibunya Risna, tante Eni adalah orang yang pendiam. Tapi pandai memasak. Dia tidak bisa membiarkan tamu pulang dengan perut kosong. Risna, punya saudara kembar. Namanya Risma.
“Kalian seperti pinang dibelah dua” komentarku usai berkenalan dengan Risma.
Risna tersenyum seperti biasa. “Ibuku kadang tidak bisa membedakan kami”
Aku tidak terkejut. Memang mereka terlampau mirip. Mulai dari wajah, potongan rambut, bahkan belahan rambut semua persis. Secara fisik mereka persis. Tapi dari segi sifat jelas berlawanan. Seperti kedua ujung #Magnet yang saling bertolak belakang. Itu kusadari setelah beberapa kali main ke rumah Risna. Jika Risna kelihatan lemah, justru Risma sebaliknya. Dari mata dan gerak-geriknya, Risma terlihat sangat.... liar. Pulang ke rumah selalu bersama segerombolan teman lelaki dan itu pun hanya untuk mengisi perut dengan masakan tante Eni. Risna kelihatan takut dengan adik kembarnya itu.
“Apa rasanya punya saudara kembar?” tanyaku suatu ketika.
Risna berhenti memainkan piano. Wajahnya balik memandangku. “Sama seperti mempunyai saudara lelaki”
Pikiranku melayang pada, Biru. Abang lelakiku.
“Aku punya seorang abang, tapi kami berbeda 10 tahun. Dan dia sudah lama merantau” kataku.
“Risma itu orangnya nekad dan temannya semua laki-laki. Sepertinya dia mempunyai sebuah geng dan dia punya kuasa yang cukup tinggi di sana”
“Dari mana kamu tahu?”
Risna mengangkat bahu “Entah. Perasaanku bilang seperti itu”
Kata orang, saudara kembar memiliki kontak batin. Mungkin sama seperti hubungan Risna dan Risma.
“Aku beri tahu satu rahasia” kata Risna tiba-tiba.
“Tentang?” tanyaku heran.
Risna menjulurkan tangan kanannya, perlahan ia membuka telapak tangannya “Lihat, tahi lalat ini punyaku. Punya Risma ada di sebelah kiri telapak tangannya. Itu cara membedakan kami”
Kami bertatapan lama. “Aku juga punya rahasia” kataku pada akhirnya. Aku menceritakan tabungan yang rutin dikirim kak Biru, tabungan itu sengaja dikirim oleh kak Biru untuk biaya pendidikanku kelak. Dan aku menceritakan itu pada Risna, karena dia mempercayaiku.
*****
Sehari sebelum ujian piano Grade 8 dimulai, Risna tiba-tiba mendatangiku. Tepat dua bulan setelah aku menceritakan soal tabungan yang dikirim kak Biru.
“Jingga, kamu percaya padaku kan?” tanya Risna.
Aku mengangguk mantap.
“Pinjami aku uang”
Jeda sesaat sebelum Risna melanjutkan “Mama sakit dan itu semua gara-gara Risma. Dia ketahuan menunggak uang sekolah selama tiga bulan. Dan sering mencuri uang mama”. Sebulir air mata mengalir di pipinya.
“Kamu butuh berapa?” tanyaku.
Tangan kanan Risna membentuk angka lima “Lima juta. Untuk membayar uang sekolah dan membawa mama berobat”
Tidak ada tahi lalat di sana. Mendadak wajahku kaku. “Kamu bukan Risna” kataku dingin.
“Apa maksudmu?” tanya Risma.
Kuambil telapak tangan kirinya dan menunjukkan tahi lalat itu. Sontak Risma menarik tangannya kembali. “Brengsek, jadi Risna memberitahu rahasia kami” Risma mendengus marah. Tanpa banyak bicara, dia langsung berjalan keluar rumah. Tentu saja tanpa payung oranye.
*****  
Ruang meeting hotel berbintang sekarang beralih fungsi menjadi tempat ujian piano Grade 8. Aku mendapat giliran ketiga untuk tampil. Madam Irama telah sibuk mendata murid dan mendampingi mereka. Kegugupan membanjiri kami dan aku yakin itu juga yang dirasakan Madam Irama. Aku sukses memainkan 3 lagu yang menjadi materi ujian sekaligus bernyanyi solfegio. Madam Irama menyambutku dengan penuh senyuman usai tampil.
“Bagus, Jingga” pujinya. Aku tersenyum. Dari sudut mataku, aku menangkap sosok Risna sedang duduk menanti antrian. Kalau tidak salah dia mendapat giliran ketujuh untuk tampil. Perlahan aku menghampirinya, di luar hujan mulai turun. Risna terlihat pucat dan terkejut ketika aku berada di sisinya.
“Ris, kamu baik-baik aja”
“Risma dalam bahaya, Jingga. Aku harus pergi menolongnya” katanya sambil bangkit dari kursinya. Madam Irama tampaknya tidak memperhatikan kami.
“Tenang dulu, Ris. Memangnya kamu tahu Risma dimana?” cegatku.
“Aku nggak tahu. Tapi aku harus pergi. Perasaanku benar-benar nggak enak” katanya sambil berlari meninggalkanku.
Dua kali aku berteriak memanggilnya, namun ia terus berlari. Payung oranye tertinggal di kursi Risna. Segera aku menyambarnya dan berlari menyusul. Di luar hujan turun sangat lebat, aku membuka payung oranye itu dan mencari Risna. Terlihat beberapa satpam berkumpul mengerubungi sesuatu. Penasaran aku mendekat, dan betapa paniknya aku saat mendapati tubuh Risna bersimbah darah dan tergeletak di aspal.
*****
Tahi lalat itu kini sepasang. Aneh memang. Tapi itulah yang kulihat ketika Risma menaburkan bunga di makam Risna. Baru kali itu aku melihat Risma menangis tersedu-sedu. Sedangkan tante Eni lebih terlihat seperti orang linglung. Raganya berada di pemakaman tetapi jiwanya mati bersama Risna. Dan baru kali itu, aku melihat sosok ayah kandung Risna-Risma. Menurut tetannga, tante Eni adalah istri simpanan yang rutin mendapat nafkah dari suaminya.
Di ujung jalan terlihat mobil polisi yang sedang menanti. Menanti Risma, tepatnya. Dia menjadi saksi dari kasus penusukkan yang dialami Risna. Sebenarnya sasarannya adalah Risma, tapi mereka salah mengenali orang. Motifnya untuk sementara karena balas dendam antar geng. Semua dia yang memulai, tapi kakaknya yang mengakhiri. Apapun itu, tak ada lagi gadis berpayung oranye.
| http://sylvanawijaya.blogspot.com/?spref=tw

Ah, Seandainya…

Aku hanya memintanya untuk membeli magnet. Tugas yang sangat ringan, menurutku. Entah menurutnya. Rambut hitam panjangnya yang semula dibiarkan tergerai kini terikat dengan karet gelang yang diambil dari dalam tasnya. Dari kejauhan kulihat beberapa hasil karya yang sudah siap untuk dipajang. Beragam artikel dengan tema Cerita Hari Ini.
Aku memandang matanya sambil menerima sejumlah magnet berbentuk bulat dari telapak tangannya. “Lama sekali,” ujarku spontan. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa aku kecewa dengan caranya membantuku. Sama sekali tidak. Tapi rupanya ia salah sangka.”Maaf, Kak, angkot yang biasa mangkal di depan tidak ada. Saya tadi jalan kaki ke toko buku terdekat. Juga tidak ada. Penjaga toko memberi tahu saya kalau magnet semacam ini bisa dibeli di pasar. Ada toko aksesoris yang menjualnya di sana. Jadi…” Kisahnya panjang dan detil. Sampai-sampai ia ceritakan juga ekspresi wajah penjaga toko-toko yang disebutnya. Kesalku berubah jadi tawa. Tawa kami berdua.
Lama kuperhatikan gerak tubuhnya tiap kali ia berusaha membantuku menuntaskan pekerjaan menyusun artikel yang akan menghias majalah dinding sekolah kami. Wajahnya yang begitu sederhana dan kulit coklatnya yang dibiarkan terpanggang sinar matahari setiap hari. Tas sekolah yang terlihat ketinggalan zaman itu juga hanya berisi barang-barang sederhana. Ia pernah memperlihatkan padaku. Tanpa ada maksud apapun kecuali memenuhi persyaratan sebagai anggota tim penyusun majalah sekolah. Perpeloncoan kecil memintanya untuk menuliskan apa saja yang mengisi tas sekolahnya dan untuk apa benda-benda tersebut dibawa ke sekolah. Ia bercerita sedikit tentang buku paket yang tidak lengkap, pensil dan bolpoin murah pemberian tetangga di hari ulang tahunnya dan tak ketinggalan majalah bekas yang dibelinya di toko loak. “Tidak bisa beli yang baru,” katanya. “Yang penting ada bacaan,” lanjutnya.
Aku tahu sepulang sekolah ia selalu membantu ibunya berkeliling kampung menjajakan gorengan hangat dari rumah ke rumah. Sementara pagi hari sebelum berangkat sekolah, tugas berbelanja ke pasar menanti untuk dikerjakan. Mungkinkah ia ikhlas melakukan itu semua? Tidakkah ia menginginkan kehidupan glamor nan santai teman-teman satu sekolahnya? Aku sering dibuatnya bertanya dalam hati. Aku tahu seandainya tugas membeli magnet itu aku serahkan ke Ratri, gadis populer di kelasku yang hanya mengikuti kegiatan ini agar bisa terlihat rajin menulis di mata Rendra, kakak kelas yang dipujanya, pasti lain ceritanya. Mana mau Ratri berlari-lari ke toko buku yang terdekat sekalipun. Atau juga seandainya tugas tadi aku serahkan ke…ah, sebenarnya aku tak ingin membandingkannya dengan Nina, kekasihku. Kami telah berpacaran selama 2 tahun. Segala kekurangan yang ada pada Nina telah mampu aku terima sebagaimana ia menerima kekurangan pada diriku.
“Siapa sih namanya?”
“Murti…Murtiningsih lengkapnya”
“Udah, segitu aja?”
“Iya, emang kenapa?”
“Ya nggak kenapa-kenapa sih… Bener ya dia jualan gorengan kalau sore?”
“Katanya begitu. Bantuin ibunya”
“Hebat juga ya dengan jualan gorengan bisa sekolahin anaknya sampai SMU”
“Namanya juga buat anak, Nin. Apa sih yang nggak dilakukan orang tua?”
Nina kerap mengajakku membicarakan Murti. Semula aku pikir ia merasa tersaingi dengan kehadiran Murti di sisiku. Semenjak Murti bergabung dengan tim redaksi majalah sekolah, ia kerap mengunjungi kelasku untuk berbagai hal. Ketangkasannya mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus mulai dari menulis artikel hingga pekerjaan kasar yang dihindari banyak teman membuat ia menjadi daya tarik tersendiri di sekolah. ‘Coba kalau tidak ada Murti waktu itu’,’Untung deh Murti cepet bikinnya’ atau ‘Murti lagi dimana ya enak tuh kalo dibantuin dia’ adalah sederetan kalimat yang sangat lazim terdengar di telingaku terhitung enam bulan ia bergabung di tim yang aku pimpin. Meski berbagai cemooh juga singgah dalam waktu bersamaan seperti ‘Gimana nggak rajin wong kalau malas nggak bisa makan’ dan lain sebagainya. Aku tahu Murti tak pernah menanggapi, meski ia sempat menggoreskan pedih hatinya lewat puisi-puisinya. Puisi yang justru makin mendongkrak eksistensinya di komunitas majalah sekolah.
Murti telah menjelma menjadi magnet yang dapat menarik sekian banyak kekaguman yang berakhir pada tumbuhnya inspirasi-inspirasi kami dalam menulis. Magnet bukan sekedar benda yang harus ia dapatkan pada hari pertama dirinya bergabung. Magnet adalah eksistensi dirinya sendiri.
“Kamu kenapa, Andre? Kok pucat?” Nina memperhatikan wajahku yang kurang tidur dengan cemas.
“Nggak apa-apa, nanti kalau udah istirahat cukup juga biasa lagi. Semalam…”
“Semalam begadang susun artikel yang mau dimuat buat majalah bulan ini ya? Sama siapa? Murti lagi? Kan dia andalanmu, andalan semua orang!” Nina memotong kalimatku dan menyerocos tanpa mau disela. Pada akhirnya dugaanku benar. Magnet yang dimiliki Murti berhasil menumbuhsuburkan rasa iri pada beberapa orang, tak terkecuali Nina. Nina yang awalnya menerima Murti sebagai perpanjangan tangan dalam membantu semua kegiatanku sekarang merasakan kehadiran Murti sebagai benalu yang menghambat pertumbuhan hubunganku dengannya.
“Aku cuma kurang istirahat Nina. Biasa kok begini. Lagian semalam udah sempat dibuatin wedang jahe anget,” sengaja kucukupkan kalimatku. Melanjutkannya sedikit saja dengan menyebutkan nama pembuat wedang jahe itu berarti memukul genderang perang dengan Nina.
Sudah lebih dari seminggu Nina menolak aku ajak pulang sama-sama. Saat pulang sekolah tanpa Nina terasa janggal bagiku. Celotehnya mengisi kekosongan waktuku. Namun, menanyakan sebab keengganannya pulang bersamaku terasa begitu ironis. Nina dengan protes-protesnya tentang kehadiran Murti di kehidupanku tak pernah aku tanggapi. Aku mencintai Nina dengan caraku sendiri.
“Mau aku traktir makan siang?” kataku suatu hari pada Nina yang entah bagaimana berada tepat di depanku di sebuah siang yang terik di kantin sekolah yang hampir kosong. Seolah ada yang mengatur kehadirannya di dekatku, aku memupuk rasa percaya diri untuk memulai pembicaraan. Kebekuan antara aku dan Nina harus segera kuakhiri. Tekadku sudah bulat.
Nina belum ingin bicara denganku rupanya. Ia berlalu dari hadapanku sebelum akhirnya langkahnya terhenti karena sentuhan tanganku di bahunya.
“Sebentar saja. Aku mau bicara,” ucapku lirih.
Nina masih saja membisu meski tubuhnya kini menghadap padaku. Matanya enggan menatapku. Aku mulai merasakan hawa dingin merasuki tubuh. Meski pada kenyataannya telapak tanganku begitu berkeringat. Aku menggeser sebuah bangku untuk Nina dan mematut bangku yang lain lagi di dekatnya untuk kududuki. Suhu udara yang kian tinggi mengalirkan peluh di keningku.
“Mau bicara apa sih? Buruan, aku udah ditunggu jemputan nih!” kalimat yang keluar dari mulutnya begitu singkat dan tidak bersahabat.
“Aku mau…minta maaf”
“Minta maaf untuk apa?” pertanyaannya begitu menusuk perasaanku. Nina rupanya meminta aku membunuh ego seorang laki-laki yang hampir tidak pernah mengakui kesalahannya ini. Mungkin yang ingin dikatakan sesungguhnya adalah,”Akhirnya kamu bisa melihat kesalahan di pelupuk matamu, Andre.”
“Oke. Begini. Maaf untuk tidak mengejarmu dan memohon-mohon padamu untuk pulang bersamaku dua minggu terakhir ini,” ucapku tegas dengan mengandalkan ego yang masih tersisa.”Kalau kedekatanku dengan Murti selama ini mengganggumu, aku punya alasan untuk itu. Ibu Murti, Nin. Ia-lah alasan utamanya.”
Nina memperlihatkan gesture tubuh yang berbeda. Ia terlihat melepas urat kaku di wajahnya.
“Ibu Murti menitipkan anaknya padaku untuk dijaga…”
Tanpa dapat kuduga sebelumnya, Nina bukannya makin menginginkan kelanjutan kata-kataku tapi malah berbalik memunggungiku dan berlari menjauh.
“Nina! Aku belum selesai bicara!”
Tak ada pilihan kecuali berlari mencoba menggapainya kembali. Sebelum sempat meraihnya, aku melihatnya menutup hidung dengan sapu tangan. Nina menahan tangis. Aku seolah lebur dalam kesedihan yang dirasakannya.
Aku tidak ingin meninggalkanmu, Nina. Sungguh. Tugasku menjaga Murti bukan berarti menyisihkanmu dari hidupku. Sampai kapan hatimu mampu menerima kelemahan seorang Andre yang keras hati, yang hidupnya terlalu jauh dari sempurna? Yang memiliki ayah yang tega meninggalkan istri sirinya hidup dari berjualan gorengan? Ibu Murti memintaku untuk menjaga adikku sendiri. Darah daging ayahku juga. Ia adalah magnet yang mendekatkanku pada kewajiban yang telah sekian lama ditinggalkan oleh ayahku, Nin.
Ah, seandainya…
(Ditulis untuk #CeritaHariIni yang diselenggarakan oleh @_PlotPoint) 

| http://wordsondesert.wordpress.com/2012/04/12/ah-seandainya/

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan