Sunday, March 25, 2012

Sugali


Oleh: @sbdrmnd


Cerita hari ini adalah cerita biasa tentang hari tuanya Sugali, orang kampung biasa memanggilnya Gali. Kek Gali. Kakekku. Lebih tepatnya kakek tiriku, dan lupakan soal gelar tiri dibelakangnya. Itu tidaklah penting.

Seperti senja kemarin, kek Gali ajak aku duduk di serambi depan. Ada tiga cangkir di atas meja yang sama tuanya dengan usia kek Gali. Satu untuknya, satu untukku (meski ia tahu, aku tak akan meminumnya) dan satu untuk lukisan perempuan cantik di sisinya. Perempuan yang menurutku aneh, terlalu bersahaja. Tanpa kalung emas menjuntai, tanpa gelang perak merambat di lingkar tangannya, tanpa gincu, bedak dan segala benda yang biasa di pakai mpok Sirem, rentenir tua di kampungku. Tidak seperti mpok Sirem yang gemar mengeksploitasi tubuhnya sendiri agar terlihat cukup, perempuan dalam lukisan itu sepertinya memang sudah cukup seperti itu. Cukup tersenyum seperti itu. Dan seperti kebanyakan lukisan lainnya, lukisan perempuan itu pun tidak minum teh. Namun tetap saja kek Gali meletakkan secangkir teh dihadapannya. Lukisan perempuan itu adalah nenekku. 

Kek Gali mengangkat secangkir teh hangat. Keriput tangannya bergetar seiring dengan laju gelas menuju tepi bibirnya. Namun senyumnya merekah; serasa semua melambat dan ratus-titik-kenangan muncul satu persatu. 

Kek Gali membakar rokok kreteknya, ratus-titik-kenangan itu mulai menggagahi wajahnya. Matanya jadi terpejam. Kembali ia pada suatu masa di mana Gali muda adalah seniman terhebat, seniman yang karyanya dibicarakan oleh jutaan orang. Patungnya di buru seperti paus biru. Lukisannya di pajang di istana, di kamar tidur bahkan di kamar mandi raja-raja. Siapa tak kenal Sugali? Bahkan jika kamu bisa bertanya pada seekor semut pun, mungkin semut akan mengenalnya. Sugali si Seniman Istana.

Pada suatu siang, Gali muda yang ingin melukis gunung pergi ke sebuah desa. Desa Althea. Desa terjauh dari kota, desanya para budak. Sesampainya di desa itu, ia langsung menyewa sebuah rumah milik warga yang menghadap gunung. Namun hingga petang menjelang, kanvasnya masih kosong. Pandangannya mulai lelah ketika seorang perempuan masuk membawakan secangkir teh hangat, lengkap dengan asapnya, perempuan berusia dua puluhan itu cantik sekali. Lebih cantik dari lukisan bidadarinya di rumah, lebih cantik dari seluruh objek perempuan yang pernah ia lukis dijadikan satu. Rambutnya yang kecokelatan berpadu dengan oranye senja dan seolah gunung yang akan di belakang kehilangan makna indah.

“Maukah kamu menjadi objek lukisanku?” tawar Gali.
Perempuan itu hanya mengangguk kecil.
“Duduklah di kursi itu….” Perintahnya, perempuan itu pun menurut. Ia berjalan perlahan menuju kursi.
“Tersenyumlah!”

Nampaklah dihadapan Gali muda, senyum terindah yang pernah ia lihat. Senyum tipis, indah, dan misterius, seperti nebula Mata Kucing. Gali memutuskan untuk melukis bibirnya terakhir, karena jujur saja itu bagian tersulit. Ia mulai dari mata, menuju hidung, rambut hingga pakaiannya. Hatinya berkata, ini akan menjadi lukisan terindah yang pernah ia buat. Sesaat sebelum ia menggoreskan cat untuk melukis senyum perempuan itu, perempuan itu mati. Mati tanpa sebab. Matanya terpejam. Perempuan itu terjatuh dari kursi. Anehnya, senyum itu tak berubah. Tidak bergeser sedikitpun. Masih sama indah ketika ia hidup. Mati, dan hanya Gali muda yang ada di situ…

Malam kian menua. Dalam perjalanan menuju kota dengan kereta kuda, Gali muda terus mendekap lukisannya. Rahasiakan. Rahasiakan. Gumamnya pada dirinya sendiri.

Raja Hobes I berkunjung keesokan harinya, tepat ketika Gali muda sedang mengagumi lukisan Perempuan Tersenyum di dinding rumahnya. Tak lama kemudian Raja Hobes I keluar lagi, membawa lukisan Perempuan Tersenyum itu. Ditinggalkannya Gali muda yang nyaris mati dipukuli para pengawal karena bersikeras menolak lukisannya di beli. Sementara itu di desa Althea terjadi peristiwa menggemparkan, tubuh seorang perempuan di temukan mati tergeletak di atas tempat tidur dalam sebuah kamar yang memperlihatkan pemandangan gunung, hal biasa bagi para budak jika mati setelah mendapat kunjungan dari orang lingkungan kerajaan. Yang membuat matinya menjadi luar biasa adalah, bibir perempuan itu hilang. Hilang. Berganti lukisan bibir dari cat minyak. Tak ada yang mengira bibir itu hasil lukisan cat minyak, sampai seorang anak kecil tanpa sengaja menumpahkan minyak ke wajah perempuan malang itu. Anak itu berusaha membersihkan wajah perempuan itu dengan kain, dan terkejutlah ia ketika mengelap bagian bibirnya. Bibir itu luntur.

Kabar menghebohkan itu cepat sekali menyebar sampai lingkungan istana. Raja Hobes I yang ketakutan, menyuruh orang-orang suci untuk segera mengamankan lukisan itu dan memerintahkan pengawal untuk menangkap Gali muda. Seniman itu di tuduh melakukan praktek sihir dan sebagaimana nasib ratusan orang yang di tuduh penyihir, mereka akan di bakar hidup-hidup. Terlambat, Gali muda sudah kabur dari rumahnya. Ia bukan penyihir, dan lukisannya tak mengandung sihir apapun. Hanya sebuah senyuman yang ingin ia abadikan. 

Sekian waktu berlalu, tersiar berita bahwa bibir itu memiliki kekuatan gaib dan bisa membuat si pemiliknya cantik pula hidup abadi. Beberapa kali terjadi percobaan pencurian. Mereka yang terobsesi dengan sihir, tak peduli lukisan itu ada di kamar sang raja atau di sarang piranha, mereka tetap akan mencurinya. 
Kabar itu sampai di telinga Gali. Gali sebenarnya tak kabur terlalu jauh, ia melukis wajahnya sendiri. Menambahkan kumis dan jenggot. Kini, tak satupun orang mengenalinya sebagai Gali si Seniman Istana melainkan Ali si budak pelabuhan. Ia bekerja sebagai budak di pelabuhan kerajaan.

Sejak Gali mendengar kabar bahwa lukisan itu berhasil di curi. Ia gelisah. Berdoa sepanjang malam. Malam itu Gali tak bisa tidur, ia memikirkan lukisan Perempuan Tersenyum miliknya, mulutnya tak henti-hentinya memanjatkan doa. Dan entah Tuhan mengabulkan doanya, kebetulan, atau memang takdir atau apapun kamu menyebutnya, lukisan itu kini berada tepat dihadapannya. Lukisan itu tergeletak begitu saja di tempat sampah pelabuhan. Sungguh heran, hanya bagian bibirnya saja yang hilang, sisanya masih utuh dan masih indah meski ada yang kurang tanpa senyuman itu. Orang gila macam apa yang nekat mencuri di istana hanya untuk mengambil bibir itu? Pikirnya. Gali membawanya pulang. Meletakannya di bawah tempat tidur. Gali berjanji tak akan kehilangan lukisan itu untuk kedua kali....


Kini Gali muda sudah tua, Punggungnya sudah tidak lagi tegap, susah payah pula ia menopang tubuh ringan-kurus itu, benar terasa sudah tidak lagi ringan. Tetapi ajaib, ketika menceritakan kisah itu padaku di temani lukisan Perempuan Tersenyum yang kini bibirnya sudah ada pada tempatnya lagi, ia nampak lebih muda.

“Kau pasti bertanya-tanya, bagaimana bibir yang sedang tersenyum itu kini berada di lukisan ini lagi, bukan? Lukisan perempuan yang bahkan tak ku ketahui namanya ini…” kek Gali seolah mampu membaca pikiranku, ia melanjutkan 

“Pada suatu hari, kapal kami berlayar ke sebuah negeri yang jauh. Sesampainya di sana, entah kenapa aku ingin mengunjungi rumah ibadah. Mungkin rindu, entahlah….aku memasuki rumah ibadah dekat pelabuhan, belum sempat aku berdoa sampai kedua mataku tertuju pada sebuah kotak kaca di sudut ruang peribadahan itu. Terkejutlah aku, di sana, di dalam sebuah kotak kaca, senyum itu mengembang cantik sekali, ditemani ayat-ayat pengusir roh.

“Aku heran, bagaimana mungkin senyum seindah ini di tuduh mengandung roh jahat. Apakah mereka buta? Jadi ku pikir, percuma bila bibir yang sedang tersenyum itu diletakkan di sana hanya untuk ditakuti saja. Mungkin menurut mereka senyum itu misterius dan memiliki maksud tersirat, sebab di atas kotak kaca itu terdapat tulisan 'Senyum Iblis'. Entah bagaimana mereka menafsirkannya, padahal, aku sendiri yang menempelkan senyum itu dulu, tidak bermaksud apa-apa…aku hanya ingin mengabadikannya dan tidak mau senyuman terindah itu lenyap di makan belatung atau cacing tanah.”

Kek Gali menatapku,
“Dan ya, harus ku akui mungkin caraku salah…”

Matanya mendelik. Ia mengambil sebatang rokok lagi, kemudian membakarnya.

“Ku lukis sebuah kotak kaca lengkap dengan ayat-ayat pengusir roh dan bibir yang sedang tersenyum, meski senyum itu tak sama persis, tak memiliki roh, tapi aku yakin tak akan ada yang menyadarinya. Sebab lukisan kotak kaca itu sama persis kecuali bibir yang sedang tersenyum itu. Ah, andai saja aku mampu melukiskan senyum itu dengan baik, tak mungkin aku harus mencuri bibir pemiliknya dulu, dan itu mungkin dosa terbesarku.”

Tehnya sudah tak lagi hangat, asapnya sudah pergi beberapa menit yang lalu. Kek Gali tetap menikmatinya. Sama saja.

“Setelah aku berhasil menyelundupkannya ke kapal, aku kembali lagi ke rumah ibadah itu. Memohon ampun, ah, begitulah manusia bukan? Setelah menyadari kesalahan yang mereka lakukan, mereka mengiba, memohon ampun pada Tuhan. Entah Tuhan mengampuni atau tidak, manusia hanya tahu Tuhan maha pengampun...dan senyuman ini, nak” matanya menatapku tajam, “ia tak memiliki kekuatan sihir. Seperti senyuman yang lain, ia bisa memperkaya orang yang melihatnya tanpa membuat miskin orang yang memberikan senyum.

“Senyuman tak bisa di beli, anakku, meski Raja Hobes I sanggup membeli ratusan budak untuk dijadikan pembantunya, ia tak akan pernah bisa membeli senyuman. Senyuman tak bisa dipinjamkan, apalagi disewakan, senyuman hanya bisa di bagi…”

Rumah ini dibalut penuh oleh udara yang bercampur wangi kayu, juga wangi cat minyak. Aroma yang sama sejak kali pertama kek Gali memutuskan untuk tinggal di sini bertahun-tahun yang lalu, ah tentu saja, sudah sangat kuhapal benar baunya, Tidak hanya aku, patung-patung yang lain juga pastilah sangat hapal benar wangi ini. Wangi yang sejak kami di ciptakan oleh kek Gali sudah seperti ini. Matahari tak akan pernah meninggi, tak akan pula benar-benar tenggelam. Ia akan tetap di sana, antara timbul dan tenggelam. Tertahan di posisi itu. Tak ada yang pernah bilang bahwa lukisan bisa menenggelamkan seseorang.


***

Lukisan Langit....Lukisan Mpok Sirem Si Rentenir. Lukisan Istana Raja Hobes I. Lukisan Raja Hobes I. Lukisan Kereta Kuda. Lukisan Jembatan. Lukisan Desa Althea. Lukisan.... Lukisan.... Lukisan.... 

Mata pemuda itu terbuka, dihadapannya masih terpampang sebuah lukisan cat minyak. Lukisan seorang lelaki tua sedang duduk menikmati senja sambil menikmati teh dan sebatang rokok terselip di jarinya, sebuah patung anak kecil di sebelah kanannya dan lukisan perempuan tersenyum di sebelah kirinya. Si lelaki tua kelihatan sedang berbincang sendiri.  Tiga cangkir teh tersaji di atas meja kayu. Wajah lelaki tua itu kelihatan sangat bahagia.  Dan mata patung anak kecil yang melihat ke arahnya...pemuda itu baru menyadari apa yang terjadi barusan, antara mabuk dan sakit jiwa memang sulit dibedakan, tetapi ia sangat yakin. Lukisan itu bercerita padanya.

Dengan ragu, pemuda itu mendekat untuk membaca nama pelukisnya…Sugali.


@sbdrmnd|http://manuskriphujan.blogspot.com/2012/03/sugali.html

No comments:

Post a Comment

PALING BANYAK DIBACA

How To Make Comics oleh Hikmat Darmawan